
Tak Terasa Fira sudah mau umur empat tahunan. Sesuai janji, pulang dari kantor, aku mau ajak jalan-jalan Fira. Dia itu, meski usianya belum genap empat tahun, tapi tingkah dan gaya bicaranya nyaris seperti orang dewasa.
Dia juga, gadis cilik yang ingatannya kuat banget. Apapun yang didengarnya, selalu diingatnya. Termasuk kalau kita janjikan dia sesuatu, pasti, kalau tak kunjung ditepati, siap-siap ditagih dia. Hahahahah.
Aku jemput Fira di rumah.
''Tunggu ya, aku panggil dia. Biasanya, kalau aku belum balik, dia asik di kamarnya nonton TV.'' sebutku, dan bergegas turun dari mobil, masuk ke rumah. Sedangkan Bos Robert, menunggu di dalam mobil.
''Mama!'' sapanya dengan wajah riang gembira.
''Kata Mama, mau ajak jalan Fira!'' katanya padaku langsung to the point.
''Iya, ini makanya Mama jemput Fira. Ayok, ganti baju dulu, baru kita pergi.'' kataku dan dia terlihat buru-buru ke kamar mandi, tanpa aku minta lebih dulu.
''Pasti, mandi bebek,'' kataku menyindirnya.
Bocah centil itu cuma cengar-cengir. Langsung kupakaikan baju kesukaan dia yang khusus buat jalan-jalan sore. Baju kaos bergambar kuda poni, dan celana jeans panjang warna biru dongker.
''Wehhhh. Anak Mama ini sudah mau gadis aja ya. Sebentar lagi sekolah nih.'' sebut aku.
''Nggak mau Ma. Fira masih kecil. Nanti kalau Fira bodoh di kelas, dijewer sama ibu guru.'' katanya memberi alasan, kenapa dia menolak untuk sekolah.
''Hm....kalau sekolah TK, itu kan kerjanya cuma nyanyi-nyanyi dan menggambar. Kenapa pula dimarah sama bu guru,'' kataku bertanya padanya, pura-pura protes.
Setelah pakai baju kesukaan dia, lengkap dengan celana jeansnya itu, Fira langsung mencari sepatu dia. Dia sudah bisa pakai sepatunya sendiri, meski terkadang suka kebalik. Sepatu kanan, dipasang di kaki kiri dan sepatu kaki kanan, dipasang di kaki kiri. Setelah diprotes, dia pun dengan cepat memperbaikinya.
Kulihat, dia itu seorang gadis cilik yang cerdas dan cepat tanggap. Mungkin, lebih tepatnya bisa dibilang sudah seperti orang dewasa saja, gaya bicara dia.
Kusisir rambut pendeknya itu. Tak sabaran, dia minta cepat-cepat sisir rambutnya.
''Ma, udahan Ma. Ayok, kita jalan.'' pintanya merengek padaku.
''Iya, tunggu. Mama mau pipis sebentar.'' kataku dan dia duduk manis, menunggu di ruang tamu.
Setelah melihat aku keluar dari kamar mandi, dia berdiri dan keluar, menunggu di samping mobil yang aku parkir di depan rumah.
''Yuk Ma, cepatlah. Kita ke tepi laut ya,'' ajaknya.
''Iya, sabar,'' kataku sambil memeriksa ponselku yang dari tadi bergetar. Paling itu telepon dari bos Robert. Tapi, aku tak ingin memeriksanya, dan lebih memilih segera masuk ke mobil. Begitu juga dengan Fira, kuminta dia duduk di jok bagian tengah.
''Hai, cantik!'' sapa Bos Robert.
__ADS_1
Awalnya Fira diam tak merespon panggilan Bos Robert itu. Kubilang sama dia, kalau lelaki di hadapannya itu, Om Obet.
''Salam dulu, Nak, sama Om Obet!'' kataku padanya.
Fira pun mengikuti perintahku. Dia menyalam tangan bos Robert yang sudah mengulurkan tangannya ke Fira.
''Siapa nih namanya. Om pengen tahu,'' kata Bos Robert mencoba mengajaknya bicara.
Fira lagi-lagi diam. Aku langsung mengajari jawabannya.
''Fira Om,'' kataku dan diikuti sama Fira.
''Fira sudah sekolah ya?'' tanya Bos Robert lagi melontarkan pertanyaan ke Fira.
Kali ini, dia menggelengkan kepalanya.
''Coba bilang, belum Om,'' kataku mengajarinya lagi.
''Belum Om,'' katanya menirukan kata-kataku.
''Fira suka jalan-jalan ya?''
Bos Robert pun diam, setelah aku bilang seperti itu.
''Ya udah, kita ke tepi laut. Setelah itu kita beli makanan yuk, atau beli ice cream,'' kata Bos Robert.
Tak sampai setengah jam, kami bertiga sampai di lokasi. Suasana tepi laut sore hari, memang luar biasa ramai banget. Apalagi, banyak orang-orang yang melakukan aktifitas olah raga sore hari. Ditambah para pedagang kaki lima yang mulai bersiap-siap membuka lapaknya.
''Mama, mama...katanya mau beli ice cream,'' katanya tiba-tiba. Tentu saja hal ini membuat aku tertawa lepas mentertawakan Bos Robert.
''Matilah.....anak ayam. Dia nagih janjimu Om,'' kataku nyinyir sembari melihat wajah Bos Robert yang terlihat celingukan, mencari pedagang keliling yang jual ice cream dengan sepeda. Karena, setahu Bos Robert, biasanya disini ada suara klakson sepeda penjual ice cream keliling.
''Om, harus tanggungjawab. Karena Om sudah janji padanya,'' bisikku padanya.
Dia hanya melepas senyum tipisnya. Lalu memintaku naik mobil, cari ice cream.
''Kita cari swalayan yuk, beli ice cream,'' kata Bos Robert dan Fira hanya memandang ke arahku.
Aku pun tanpa basa-basi, langsung mengiyakan kata-kata Bos Robert, demi memenuhi permintaannya.
''Yukk,'' sahut Fira, yang juga tak disangka-sangka Bos Robert.
__ADS_1
''Kasian tahu Om, Fira memang lagi pengen ice cream. Kan tadi dijanjikan mau beli ice cream,'' celetukku santai.
''Iya.....kita ke swalayan ya cari ice cream,'' kata Bos Robert memperjelasnya ke Fira.
Fira terlihat tampak riang gembira, mendengar dia mau dibelikan ice cream. Karena, ice cream itu, makanan kesukaan Fira. Mungkin, bisa saja, bukan hanya Fira, tapi, anak-anak seantero dunia.
''Sebenarnya yang pengen ice cream anaknya atau mamanya ya?'' seloroh Bos Robert.
Tak begitu lama, aku menemukan swalayan yang lumayan ramai. Di sana juga kebetulan aku suka belanja buat kebutuhan bulanan. Seperti minyak goreng, gula, sabun, beras dan lainnya.
''Mamanya nggak sekalian belanja?'' kata Bos Robert.
''Nggak!'' jawab aku singkat.
Dia bilang kalau aku belanja, boleh. Mumpung lagi di swalayan, jadi sekalian.
''Nggak!'' tegasku yang kedua kalinya.
''Nanti nyesel?!" celetuknya.
''Nggak. Ngapain belanjain istri orang.'' celetukku.
Dia hanya senyum-senyum tipis. ''Tapi, apa yang aku katakan , benar kan? Sekali, udah belanja banyak. Terus istri kamu datang, ambil belanjaannya di rumah aku. Kan lucu aja kalau kayak begitu. Hahahahahah!'' kataku, dari tadi asik berseloroh terus.
''Aku cium depan umum juga nanti, Nona cantik satu ini,'' kata Bos Robert mengancam aku dengan gurauannya itu.
''Hahahahah. Aku sudah nyonya. Bukan Nona!'' kataku, protes ke dia.
''Kamu masih terlihat seperti nona, dan Fira, kelihatan seperti adik kamu!'' katanya menggombal.
Aku langsung terkekeh mendengarkan perkataan dia.
Aku bilang sama dia, ''Hati-hati kalau memuji aku, nanti jatuh cinta sama aku, baru tahu.''
''Hahahaha. Pasti ini orang lagi mabok ya!''
''Iya aku mabuk kepayang karena lagi jatuh cinta sama kamu. Kamu aja, nggak punya perasaan!'' sebutnya.
''Tolong jangan ngomong aneh-aneh di depan anak kecil. Nanti dia cerita sama papanya. Tamat riwayat kita.'' kataku protes lagi.
''Hahahahah. Iya. Maaf.'' sahutnya.(***)
__ADS_1