
Kenapa Mister Sam ingin aku menggantikan Selena?
Ini membingungkan. Tanda tanya semakin besar di kepalaku. Tangan kembali membuka lembaran buku yang ternyata adalah diary milik Selena. Dalam buku itu Selena mencurahkan segala isi hatinya.
Begitu banyak kalimat kekecewaan yang ia tulis. Ternyata Selena dan Aris, adalah sepasang kekasih. Namun cinta mereka ditentang habis-habisan. Mereka dipisahkan dan dilarang untuk bertemu. Karena kedua orang tua Selena, Mister Sam dan Madam Alice, menganggap Aris hanya memanfaatkan Selena.
Aku menghela napas panjang. Turut larut dalam kisah sedih yang Selena tulis. Lembar demi lembar buku itu terus kubaca. Selena punya keinginan untuk meninggalkan rumah selamanya demi bisa bersatu dengan Aris.
Usai membaca, kurapikan lagi letak buku di dalam laci. Aku harus segera keluar dari sini. Lampu kamar ini harus kumatikan lagi. Mungkin bolam lampunya korslet hingga bisa menyala sendiri. Mataku berpendar mencari letak saklar lampu. Ada di dekat cermin yang berada di depan wastafel.
Sebelum menekan saklar lampu. Hati tergerak untuk mematikan keran air pada wastafel yang terus menetes. Tangan kananku memutar keran air itu. Posisiku tepat berada di depan cermin yang lebar. Saat mendongak ke arah cermin.
Degh! Aku terperanjat. Jantung terasa mau lepas. Pada bayangan cermin ada seorang gadis yang berdiri di belakang punggungku. Seluruh tubuhku mendadak terasa dingin. Kutelah ludah gugup.
Dia ... Selena!
Matanya menatap kosong ke arah cermin. Ia mengenakan gaun selutut berwarna putih. Rambut tergerai panjang. Wajahnya sangat pucat bagai tak berdarah. Tanpa ekspresi.
Astaga! Apa dia dari tadi ada di sini? Aku telah lancang masuk ke kamarnya.
"M-maaf a-ku ....," ucapku terbata, seraya memutar tubuh ke arahnya. Ingin meminta maaf.
Tapi ... ketika menghadap ke belakang tak ada siapapun di belakangku. Berbalik ke arah cermin lagi ... tak ada juga. Kemana perginya gadis itu? Cepat sekali ia menghilang.
Wuuussshhh ....
Angin tiba-tiba berembus kembali. Daun pintu bergerak-gerak tertiup angin.
Blap! Lampu tiba-tiba padam.
Bulu kuduk seketika berdiri. Aku segera beringsut menuju pintu untuk keluar.
Brak!! Pintu seketika tertutup sendiri begitu tubuhku telah berada di luar kamar. Seakan ada seseorang yang menutupnya dari dalam.
__ADS_1
Astaga! Apa yang kualami barusan? Begitu parahkah kerusakan pada otakku? Hingga berhalusinasi melihat keberadaan Selena?
.
.
Urung kakiku menuju tangga karena mendengar bunyi langkah kaki menuju lantai atas. Aku bersembunyi lagi di balik perabotan.
Mister Sam muncul dari tangga. Ia baru datang dari mengantar dokter Bim tadi. Dokter jiwa yang gila!
Setelah kulihat Mister Sam telah masuk ke dalam kamarnya. Baru aku melangkah hati-hati untuk turun ke lantai satu. Kuturuni anak tangga satu per satu dengan pelan. Berusaha agar tidak menimbulkan suara.
****
Ayolah berpikir ... berpikir!
Aku berjalan mondar mandir di dalam kamar sambil mengacak-acak kepala. Berusaha memeras isi otak buntuku ini. Paling tidak bisa mencari cara yang aman untuk bisa pergi dari kandang harimau ini. Jangan sampai setelah keluar dari kandang harimau kemudian masuk ke kandang macan.
Dengan cara apa aku pergi dari sini?
Kemana tujuanku nanti?
Harus kupikirkan masak-masak!
Sebuah ide tiba-tiba terbersit.Kaki berhenti mondar mandir.
Tobias! Yah Tobias! Tiba-tiba wajah pemuda tanggung berambut keriwil sebahu itu membayang di kepalaku. Aku akan memanfaatkan anak itu.
****
Di tempat lain yang berbeda. Dalam sebuah kamar penginapan.
"Aaaaarg!!!" Henry berteriak frustasi. Tangan pria bertubuh tinggi itu mengepal memukul tembok hingga buku-buku jarinya lebam.
__ADS_1
"Sampai kapan, Ben? Sampai kapan?" ulangnya berteriak di depan wajah Beno. "Aku tidak akan bisa tidur tenang, kalau isteriku belum ditemukan. Aku yakin, dia masih hidup."
"Iya, Bos. Saya mengerti kekalutan Bos. Saya dan anak-anak pun berusaha keras mencari keberadaan Nyonya hingga ke pelosok-pelosok tempat ini." Beno dengan sabar menghadapi Bosnya. "Bahkan Opi dan Panjul saya suruh ke pesisir mencari informasi pada penduduk suku Bajo. Bos Tahu sendiri kalau Panjul salah satu anak buah terbaik saya. Ia punya keahlian melacak jejak."
Henry menghempaskan diri di atas kursi. Kulit wajahnya yang putih tampak kemerahan karena sering terbakar matahari. Setiap hari pria bermata sipit itu tanpa lelah turut mencari keberadaan isterinya ke segala tempat. Namun hingga saat ini nihil. Niken seolah menghilang ditelan bumi.
"Kami tidak akan berhenti Bos. Kami akan terus berusaha mencari Nyonya. Percayalah, Bos! Nyawa saya taruhannya," ujar Beno meyakinkan.
"Bos harus tetap menjaga kesehatan demi Nyonya. Istirahatlah Bos!" tambahnya lagi seraya membungkuk hormat lalu keluar dari kamar.
Beno sangat mengerti kegusaran Bos-nya. Tadi siang Henry sempat sangat marah pada seorang petugas tim-SAR yang membantu pencarian Niken. Ia meminta Henry untuk tidak terlalu berharap, karena ada kemungkinan Niken tenggelam ke laut.
'Dasar bodoh!' umpat Beno dalam hati. Mengingat orang itu. Ia berjalan keluar dari kamar penginapan.
***
POP Henry
"Ken ... kamu dimana? Kita punya ikatan batin yang kuat. Aku yakin kamu masih hidup. Bisakah kamu masuk ke dalam mimpiku? Beritahu aku keberadaanmu lewat mimpi!" Aku berbaring di tempat tidur seraya memandangi langit-langit kamar penginapan.
"Aku kangen kamu, Sayang. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu kangen juga padaku saat ini?" Aku bicara sendiri seolah wajah Niken tepat di depanku.
*Mana mungkin bisa tidur nyaman tanpa memeluk tubuh wangimu, Ken. Biasanya sebelum tidur kita selalu bicara apa saja. Sambil tanganku mengelus pipimu. Sedang tanganmu memeluk pinggangku. Saling menatap penuh cinta.
Aku suka sekali mendengarkan kamu bercerita tentang harimu. Lalu kita sama-sama tertawa bila ada hal yang lucu. Lalu aku mulai usil menggelitiki perutmu. Lalu kita mengakhiri malam dengan saling melepaskan hasrat, menumpahkan rasa cinta. Kemudian terkapar lelah dengan senyum. Kemudian tidur saling memeluk*.
"Aku mohon padamu, Ken. Masuklah dalam mimpi tidurku!"
Seluruh tubuhku saat ini terasa sangat lelah. Sejak pagi hingga menjelang malam aku terus berada di jalanan bersama Beno. Menyusuri semua tempat yang kemungkinan kami bisa menemukan keberadaan isteriku.
Di kepulauan Derawan ini memang banyak tersebar pulau-pulau kecil. Menurut Beno perlu waktu untuk bisa menjelajahi semua pulau. Apalagi tempat ini sangat terpencil. Tidak ada sinyal selular. Itu salah satu hambatan untuk memperoleh informasi. Syukurnya Beno selalu memberiku kemungkinan positif. Tidak seperti petugas Tim SAR brengsek itu. Yang malah memintaku untuk tidak berharap banyak.
Mata kian terasa berat. Kucoba untuk terus mengucap asma Allah hingga mata kian tertutup. Berdoa dalam hati bisa bertemu Niken dalam mimpi malam ini.
__ADS_1
Bersambung