Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
70. Ada apa dengan mereka.


__ADS_3

Festival yang diadakan setahun sekali itu sangat meriah. Terakhir aku pergi saat ibu masih ada. Setelah itu, entah kenapa aku tidak pernah ingin lagi pergi ke acara itu. Tapi hari ini aku berada disana, berdesakan dengan pengunjung lainnya. 


5 perahu panjang sekitar 9 meter yang berisikan masing - masing 10 orang pendayung itu siap berlomba. 


Suara tabuhan drum terdengar silih berganti. Seiring dengan itu, belasan orang mengayunkan dayung ke air dari atas perahu. Mereka berbaris ke belakang dengan dua orang berdampingan. Gerakan mendayungnya seragam.Tepuk tangan penonton terdengar riuh


Kami berempat berada di baris paling depan, aku dan Sarah berdiri di tengah sedangkan Dion dan Rey disisi kanan dan kiri.


" Lihat yang paling kiri, mereka memimpin,"teriak Sarah histeris.


" Oh..itu yang tengah menyusul," ucap Rey.


Aku dan Dion hanya menonton tanpa suara. Dion meraih tanganku, menautkan jemari kami. Aku meliriknya, ia mengulas senyum.


Rey dan Sarah begitu antusias, mereka berdebat menentukan perahu mana yang akan menang. Sesekali Sarah merenggut karena Rey yang tak mau kalah.


" Kita tinggalin aja mereka yuk,"bisik Dion di telingaku.


Aku mengangguk setuju. Perlahan kami beranjak tanpa membuat kedua orang yang sedang berdebat itu menyadarinya.


" Hah…." Aku menghembuskan nafas lega. 


Desakan penonton itu sedikit menyulitkan bagi kami untuk keluar dari sana. 


"Nggak apa - apa nih kita tinggalin mereka kayak gitu," Tiba - tiba aku merasa khawatir Sarah akan marah.


"Biarin aja, mereka kan bukan anak kecil," sahut Dion.


Tak hanya dayung perahu, di acara festival itu juga ada wisata kuliner. Berbagai macam makanan tradisional sampai modern ada di sana. Di sepanjang tepian sungai juga banyak pedagang pernak pernik.


Aku dan Dion berjalan sambil melihat - lihat. Aku berhenti di depan penjual pernak - pernik, mataku tertuju pada sebuah gantungan kunci yang unik.


" Dion, lihat ini,"seruku.


Dion yang sedang melihat - lihat gelang yang terbuat dari benang menoleh.


" Lucu kan,?" Aku menunjukan gantungan kunci yang aku pilih.


Dion mengambilnya dari tanganku, kemudian mengembalikan  pada tempatnya.


" Kenapa,?"tanyaku heran.


"Aku punya yang kayak gitu,"ucap Dion.


"Tapi aku nggak ada,"jawabku.


"Ada, aku punya sepasang,tapi aku kelupaan terus buat ngasih ke kamu,"ujar Dion. Ia kembali melihat - lihat yang lain.


Karena tak ada yang menarik lagi, kami pun beranjak dari penjual pernak pernik itu.


Aku kepikiran untuk membelikan Dion sesuatu, selama kami pacaran aku tidak pernah memberinya barang.


" Dion, ayo kesana," Aku menarik tangan Dion menuju kios yang menjual aneka macam topi.


Sampai di sana, aku melihat - lihat topi yang sekiranya cocok untuk Dion. Dion hanya menatapku heran. Pilihanku tertuju pada sebuah topi berwarna hitam dengan bordiran tulisan di bagian depannya. 


"Menunduk,"kataku pada Dion. Tapi ia bergeming, dan terlihat bengong.


Terpaksa aku berjinjit untuk memasangkan topi itu ke kepalanya.


"Cocok sekali denganmu,"ucapku terpesona. Dion terlihat keren memakai topi itu.

__ADS_1


"Ini untukku,?"tanya Dion.


Aku mengangguk.


"Kenapa,?Kamu nggak suka model yang itu, kalau gitu kamu pilih aja sendiri mana yang kamu suka,"ujarku.


Dion menggeleng. 


"Pilihanmu bagus, aku suka. Tapi…"


"Tapi kenapa,?"


"Kamu nggak perlu membelikan aku ini, simpan saja uangmu untuk yang lain,"ucap Dion.


"Tidak ada penolakan,"tegasku.


Aku segera mengeluarkan uang dan membayar sebelum Dion berkata - kata lagi.


Setelah itu aku langsung menarik tangan Dion pergi dari sana.


"Dea," Dion menghentikan langkahnya.


" Hem," Aku menoleh.


Dion tersenyum simpul, kemudian ia meraup kedua pipiku dan berkata.


"Makasih ya sayang,"


Telingaku tersentak mendengar kata sayang. Jantungku berdebar, diiringi wajah yang bersemu. Buru - buru aku menjauhkan tangannya.


"Cuma topi kok, harganya juga nggak mahal. Itu nggak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku,"ujarku tertunduk.


"Tapi aku sangat senang,ini pertama kalinya aku dikasih hadiah sama cewek,"ucap Dion.


"Memang Tiara dulu tidak pernah ngasih kamu hadiah, atau mantan pacar kamu yang lain," ucapku.


"Maksud aku itu sama orang yang aku suka, aku nggak punya mantan. Kamu itu pacar pertamaku,"ucap Dion.


Aku mengulum senyum. Berarti aku cewek yang beruntung bisa menjadi yang pertama. Tapi Dion juga yang pertama untukku.


"Berarti Tiara pernah ngasih kamu hadiah,?"tanyaku mulai kepo.


Dion menarik pelan hidungku.


"Kok jadi ngomongin Tiara,sih,"


Aku mendengus kesal. Bersamaa dengan itu ponselku berdering. Aku merogoh ponsel dalam tas, dan nama Sarah terpampang di layar ponselku. Aku menatap Dion, ia menganggukan kepala menyuruhku mengangkatnya.


"Halo,"sapaku.


"Dea, kamu dimana,?" Suara Sarah terdengar keras diseberang sana, sehingga aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku untuk sesaat.


"Ini lagi lihat - lihat barang di bazar,"jawabku.


"Oh, ya udah, buruan kesini. Kita tunggu dekat taman," 


Belum sempat aku menjawab, Sarah lebih dulu mematikan panggilannya.


"Apa katanya,?"tanya Dion.


"Mereka ada di taman, yuk kita samperin kesana,"

__ADS_1


Aku dan Dion menuju taman dimana Sarah dan Rey menunggu kami. Dari kejauhan aku melihat Sarah dan Rey tampak duduk di sebuah bangku. Mereka terlihat menjaga jarak. Perasaanku mulai tak enak.


Begitu aku dan Dion sampai Sarah langsung melayangkan tatapan tajam padaku. Wajahnya terlihat jutek.


"Maaf ya, tadi pergi nggak bilang - bilang,"


Sarah diam saja, ia melipat tangannya di dada.


"Sarah sorry ya, kita nggak maksud untuk ninggalin kalian,"ucap Dion.


"Bukan karena kalian kok, dia lagi kerasukan penunggu sungai," Rey menimpali.


Sarah mendengus, ia memutar kepala menatap Rey dengan sorot mata tajam.


"Apa?"sembur Rey.


Aku dan Dion saling pandang. Ada apa dengan mereka. Tadi sepertinya baik - baik saja.


"Ck, dasar banci kaleng,"ketus Sarah.


Rey mengeram. Keduanya saling tatap dengan mata membara.


" Eeh, ini ada apa sih. Kok kalian berantem,?" Dion mengambil posisi duduk diantara mereka.


"Tau tuh, cewek. Marah - marah nggak jelas,"ucap Rey.


Aku semakin kebingungan. Dion menggaruk alisnya, ia juga kebingungan dengan sikap kedua orang itu.


" Aku mau pulang aja," Tiba - tiba Sarah bangkit dari duduknya.


" Gue juga mau pulang,"Rey juga ikut berdiri.


"Woi, ini ada apa sih,?"sembur Dion mulai kesal.


"Kalian ada masalah apa,? Kita bicarakan baik - baik ya,"Aku berusaha membujuk.


"Udahlah Dea, aku mau pulang aja. Kamu lanjutin aja sama Dion,"ucap Sarah.


Aku makin bingung. Keduanya tidak ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi. 


"Santai aja, kalian lanjut aja. Gue duluan,"ucap Rey. Kemudian ia mengambil langkah panjang meninggalkan kami.


Belum lama Rey pergi, Sarah juga melakukan hal yang sama.


"Sarah tunggu," Aku mengejar Sarah dan menahan lengannya.


" Ada apa sebenarnya,?"tanyaku cemas.


Sarah tersenyum tipis, ia melepaskan cekalaan tanganku.


"Bukan karena kalian kok, ini hanya masalah kami berdua. Jadi jangan merasa bersalah ataupun terbebani. Nikmati saja waktumu dengan Dion. Aku baik - baik saja,"


Sarah mengulas senyum. Aku tidak bisa lagi menahannya. Ku biarkan Sarah pergi dengan rasa penasaran yang memenuhi kepalaku.


Ada apa dengan mereka,??


Bersambung....


...----------------...


Budayakan untuk memberi like setelah membaca.. Karena itu sangat berarti untukku..

__ADS_1


Sambil nunggu novel ini up, mampir juga ke karya teman author yang satu ini..



__ADS_2