Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 83


__ADS_3

Sifa mengerjapkan matanya, ia mengamati sekitar. Ia melihat Dea tertidur di samping tempat tidur nenek. Tapi ia tak melihat Dean, bukannya pria itu tadi bilang akan disini menemani mereka. Saat Sifa akan bangkit untuk mencari Dean keluar kamar, saat bersamaan pintu kamar terbuka. Sifa kembali membaringkan badannya dan pura - pura tidur mengetahui Dean yang masuk, degup jantungnya seketika berubah kencang.


"Kenapa aku berdebar,? Kenapa juga harus pura - pura tidur,?"batin Sifa.


Sifa membuka matanya sedikit untuk mengintip apa yang sedang Dean lakukan. Namun apa yang dilihatnya membuat sudut hatinya ngilu.


Dean perlahan menghampiri Dea yang tengah tertidur lelap sampai tak merasakan kehadirannya. Dean mengamati wajah Dea lekat - lekat. Seulas senyum tergambar di wajahnya yang tampan. Tangan Dean terulur merapikan anak rambut Dea yang berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.


"Kamu pasti capek banget,"gumam Dean.


Melihat apa yang dilakukan Dean membuat Sifa memutar posisi badannya jadi membelakangi. 


"Kenapa aku tidak suka melihatnya,?"batin sifa.


Sejak pertama kali matanya dan Dean beradu pandang saat di IGD, ada getaran halus yang Sifa rasakan untuk pertama kalinya. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan pertama,? Entahlah, dia sendiri tak yakin dengan apa yang dirasakannya.


Sifa tersentak, ketika seseorang menyelimutinya. Ia sampai menahan nafas, takut jika ketahuan kalau ia sebenarnya tak tidur. Beberapa saat kemudian ia kembali mendengar pintu ruangan itu terbuka kemudian tertutup. Sifa membuka matanya, ia menoleh arah tempat tidur nenek. Dea masih terlelap, namun sekarang dengan jaket Dean yang menyelimuti Dea.


Sifa melihat kain yang Dean selimutkan padanya, lalu meremas kain itu.


"Kenapa tidak aku saja yang diselimuti dengan jaket itu. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya dari sana,"gumam Sifa.


Sesaat kemudian ia memicingkan matanya sambil menggeleng lemah. Menyangkal apa yang sedang ia rasakan.


"Tidak benar, ini tidak benar. Bagaimana aku bisa suka dengan orang yang baru aku kenal dalam beberapa jam" Sifa bergumul dengan pikirannya sendiri.


***


Fajar telah menyingsing. Aktivitas di rumah sakit kembali mulai ramai. Beberapa petugas kebersihan mulai memasuki satu per satu kamar pasien untuk menyapu mengepel.


Dea baru saja selesai mengelap tubuh neneknya dan menganti baju.


"Aku mau pulang, disini tidak nyaman,"keluh nenek.


"Iya, kalau nenek sudah sembuh baru pulang"sahut Sifa yang sedang melipat selimut yang semalam ia pakai.


"Aku tidak punya uang untuk membayar rumah sakit, aku baik - baik saja, kalian terlalu berlebihan membawaku kesini,"racau nenek.


Dea dan Sifa saling pandang. Mereka tak lagi menjawab dan membiarkan wanita tua itu berceloteh sendiri.


"Apa kau tak akan pulang? Badanmu bau sekali,"ucap Sifa menatap Dea dengan jijik.


"Aku akan mandi disini saja, aku juga membawa baju ganti. Kalau kau mau pulang, pergilah. Aku yang akan jaga nenek,"ucap Dea.


Dean memasuki kamar nenek Dea. Sifa mendadak salah tingkah, ia merapikan rambutnya yang berantakan.


"Masih belum pulang,?" Dea menatap heran Dean.

__ADS_1


"Iya, aku akan pulang. Aku mau melihat keadaan nenekmu dulu," jawab Dean.


"Siapa pemuda ini,?" tanya nenek.


Dean mendatangi nenek dan menyalami wanita tua itu.


" Saya Dean, teman kerjanya Dea,"


Nenek hanya menganggukan kepalanya.


" Cepat sembuh,nek. Saya izin mau pulang dulu,"


Nenek kembali mengangguk. Dean berlalu meninggalkan kamar inap nenek Dea. 


" Aku juga mau pulang," ucap Sifa menyusul Dean keluar kamar.


Sampai diluar Sifa celingukan mencari Dean. Pria itu sudah tidak tampak.


" Kemana dia, cepat sekali jalannya,"


Sifa mempercepat langkahnya menuju lift. Benar saja, Dean baru saja memasuki benda kotak itu.


" Tunggu, "teriak Sifa. 


Mendengar teriakan seseorang Dean menahan pintu lift, sampai Sifa masuk ke dalam. Berdua dengan Dean di dalam Lift membuat Sifa semakin salah tingkah.


Dean menoleh, ketika matanya bertemu dengan mata Sifa gadis itu buru - buru mengalihkan pandangan.


"Aku hanya kebetulan juga ingin pulang ke kota ini, tidak ada salahnya memberi tumpangan. Dan masalah menemani kalian, aku memang sedang malas pulang ke rumah,"jawab Dean.


" Jadi mas Dean juga berasal dari kota ini,?" tanya Sifa. Entah kenapa ia merasa senang.


" Iya,"


Hening, sampai lift sampai di lantai dasar.


Mereka berpisah, Dean menuju parkiran rumah sakit sementara Sifa menuju keluar pekarangan rumah sakit untuk menunggu taksi.


Tinn...Tinn..


Sifa yang sedang berdiri di pinggir jalan terjingkat mendengar suara klakson motor.


"Mau ku antar,?"tanya Dean setelah membuka kaca helmnya.


Bukan karena apa, Dean melihat berkali - kali Sifa mendengus kesal ketika ia belum mendapatkan taksi. 


Sifa menatap tak percaya, kalau pria itu menawarkan tumpangan padanya. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan itu. Lekas ia menganggukan kepala.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Dean hanya diam dan fokus mengendarai motornya. 


"Kenapa tidak bertanya dimana alamat rumahku,?" Sifa menepuk pundak Dean.


"Benar juga, dimana alamat rumahmu,?"tanya Dean. Sebenarnya ia masih ingat dimana ia menurunkan Dea kala itu, tapi ia tidak tau dimana tempatnya rumah gadis itu.


Sifa menuntun arah perjalanan mereka. Saat memasuki komplek perumahan cempaka perasaan Dean mulai tak karuan.


"Di depan sana, rumah yang pekarangannya luas itu,"


Dean menepikan motornya di depan rumah bercat putih model lama dengan pekarangan luas di depannya.


"Ini rumahmu,?"tanya Dean.


" Iya,"


" Rumah Dea yang mana,?"tanya Dean lagi.


"Maksudmu,?Kita itu tinggal dan besar dibawah atap yang sama. Sepertinya Dea tidak bercerita banyak tentang dirinya,"ujar Sifa melihat kebingungan di wajah Dean.


Dean hanya balas mengangguk. Dia memang tidak tau apa - apa tentang hidup gadis yang mengusik hatinya itu. Yang ia tahu Dia dan Dea berasal dari kota yang sama. Dean teringat ucapan Sifa saat di rumah sakit, yang mengatakan kalau mereka tidak punya siapa - siapa yang bisa diharapkan. Sebenarnya kata itu cukup mengganggu pikirannya, namun ia tidak berani bertanya lebih dalam.


"Mau singgah dulu minum teh,?" Suara Sifa membuyarkan lamunan Dean.


"Hah, tidak terima kasih. Aku akan langsung pergi,"


"Terima kasih sudah mengantarku pulang,"


Dean mengulas senyum, ia kemudian kembali menghidupkan mesin motornya.


Sifa melangkah memasuki pekarangan rumah, ia menoleh lagi kebelakang sebelum ia membuka pintu. Dan Dean masih disana memperhatikannya. Wajah Sifa bersemu, ia bergegas masuk ke dalam rumah dengan jantung berdebar.


Dean menatap rumah di depannya dengan perasaan lain. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


" Ternyata kita pernah tinggal di lingkungan yang sama, tapi saat itu mungkin kamu masih bayi," batin Dean. 


Dean beralih menatap  jalan yang mana tak jauh di belokan di depan sana ada panti asuhan tempat ia dibesarkan sebelum diadopsi oleh keluarga angkatnya.


Jika saja ia tidak diadopsi, apakah takdir akan berkata lain. Apakah dia akan lebih dulu mengenal Dea sebelum laki - laki yang kini menjadi pacar gadis itu. Dean menghela nafas panjang sebelum ia kembali melajukan motornya.


Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak..


Sambil nunggu up, boleh mampir ke novel yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2