
Dea tersenyum kaku sembari merapikan map - map yang ada di lemari. Dean bersedekap menatap tajam gadis yang ia tahu sedang berpura - pura itu.
"Apa kau bosan karena tidak ada aku,?"tanya Dean.
Dea memutar malas bola matanya.
"Kau kan tidak ada teman selain aku disini,?" ujar Dean menyeringai.
Dea memanyunkan bibirnya. Ia segera keluar dari ruangan itu. Dean mengikutinya dan terus menggoda gadis itu.
Ketika jam pulang tiba, Dean menawarkan tumpangan pada Dea.
"Ayo naik,!"Dean menepuk jok belakang motornya.
"Tidak mau, aku jalan kaki saja,"
"Apa kau yakin, lihatlah langit mulai gelap,"
Dean menunjukan langit dengan dagunya.
Dea mendongak menatap langit. Kemudian ia beralih melihat Dean, pria itu menaik turunkan alis matanya. Dengan malas, Dea mendekat lalu naik ke atas motor Dean.
Baru saja motor Dean berbaur dengan kendaraan lain di badan jalan, tetes air mulai turun dari langit.
"Tuh kan hujan, kita berteduh dulu ya,"ujar Dean.
"Hem,"
Dean menepikan motornya di sebuah cafe tempat ia dan Dion berbincang kemarin. Begitu mereka memasuki cafe itu, hujan turun dengan derasnya.
Sudah hampir setengah jam mereka duduk di cafe itu, tapi hujan tak kunjung reda. Bahkan minuman dan makanan mereka pun sudah habis.
"Sepertinya akan lama," Dean memandang keluar cafe.
"Hem iya,"jawab Dea mulai bosan.
"Kita tunggu 15 menit lagi, kalau masih belum reda kau pulang dengan taksi saja,"ucap Dean.
Kedua kembali diam sambil memperhatikan tetes air hujan yang perlahan mengundang kantuk.
"Apa kau mengantuk,?" Dean melihat gadis di depannya itu menguap.
Dea tersipu malu, ia pikir Dean tak akan melihatnya.
"Sepertinya pengaruh obat yang kuminum,"jawab Dea.
Tiba - tiba Dea teringat percakapan Tika dan Sari saat ia menguping di pantry tadi siang.
"Menurutmu, kenapa pak Bagas menerimaku bekerja disana,?"tanya Dea.
Dean menatap Dea dengan kening berkerut.
"Kenapa kau menanyakannya,?"
Dea menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia kembali membuang pandangan keluar cafe.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan Tika dan Sari di pantry,"ucap Dea.
__ADS_1
"Apa yang kau dengar,"tanya Dean.
Dea menceritakan apa yang ia dengar pada Dean. Termasuk alasannya masuk ke ruang penyimpanan file.
"Menurutmu apa alasan pak Bagas?"tanya Dea meminta pendapat Dean.
Dean tampak berpikir sejenak,kemudian ia menautkan jarinya di atas meja seraya tersenyum.
"Mungkin di saat pak bagas melihat wajahmu tergambar keputusasaan dan penderitaan," jawab Dean asal.
Mendengar itu Dea mendengus kesal dan melempar Dean dengan tissu. Pria itu tertawa kecil sambil memunggut tissu yang terjatuh ke lantai.
"Aku juga tidak tau, anggap saja itu keberuntunganmu. Jangan pikirkan apa kata mereka, toh bukan mereka yang mengajimu,"nasehat Dean.
"Ya tapi…"
"Ssttt," Dean meletakan telunjuk di bibirnya seraya menggelengkan kepala.
"Sepertinya hujan sudah berhenti, ayo pergi,"
Dean segera bangkit dari duduknya dan menuju kasir. Sementara Dea beringsut keluar dari cafe.
Dean mengantar Dea sampai ke kossan gadis itu.
"Terimakasih," ucap Dea ketika turun dari motor Dean.
"Hem, kau tak mengajakku singgah dulu,"
"Tidak,"jawab Dea menyerahkan helm pada Dean.
Dean mencebik membuat Dea tertawa.
"Apa,? Masalah kantor lagi,?"
"Bukan, tapi masalah pribadi,"
"Apa itu,?
"Apa kau sudah punya pacar,?"tanya Dea.
Dean tertegun. Jantungnya berdegup kencang, ia terdiam menatap Dea dengan tatapan sulit diartikan. Menyadari sikap Dean yang seakan salah paham dengan ucapannya ,Dea kembali berujar.
"Maksudku, Sifa bertanya apa kau masih single. Sepertinya dia menyukaimu,"
Dean tersenyum getir, hampir saja ia salah mengartikan pertanyaan Dea.
"Aku belum punya pacar, tapi aku menyukai seseorang dan itu bukan sepupumu,"jawab Dean.
Dea mengangguk mengerti. Namun sejurus kemudian ia salah tingkah sendiri, karena teringat perkataan Dion tempo hari. Apalagi sekarang Dean menatapnya lekat - lekat.
"Aku rasa aku harus masuk,"ujar Dea langsung membalik badan, dengan langkah terburu ia memasuki pekarangan kosannya.
Dean masih di tempatnya, menatap punggung gadis itu sampai hilang dari pandangannya. Ia mendesah berat saat merasakan perasaannya yang tiba - tiba kacau.
***
Sejak kejadian itu, Dea menjadi canggung bila berdekatan dengan Dean. Ia lebih banyak menghindar diluar urusan pekerjaan.
__ADS_1
Dan hari ini tepat ia bekerja sebulan di perusahaan asuransi itu. Dea teramat bersemangat karena ia akan segera menerima gaji pertamanya.
Dengan senyum melengkung di wajahnya, Dea membuka amplop coklat yang baru saja diberikan pak Bagas padanya. Matanya melebar melihat lembaran uang yang diluar dugaannya itu.
"Ini banyak sekali,"gumamnya menghitung uang itu.
Dean yang juga sudah menerima gaji pertamanya melihat Dea sedang duduk sendirian di pantry. Dean melangkah mendekat, namun begitu sampai di pintu pantry langkahnya tertahan. Ia mengurungkan niatnya dan berbalik badan. Dean menyadari perubahan sikap Dea belakangan ini padanya. Apa gadis itu menyadari perasaannya.
Sore sepulang kerja, Dea mengajak Dion bertemu di cafe dekat kantornya. Namun sudah satu jam yang ditunggu tak kunjung datang. Dea kembali menghubungi Dion. Sayangnya panggilannya tidak di jawab oleh pacarnya itu.
Tak berapa lama, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
📩Maaf sayang, aku masih di kampus, acara kegiatan mahasiswa. Aku pikir bisa selesai lebih awal, ternyata sampai sekarang belum usai. Kamu pulang aja dulu, nanti aku jemput je kos aja ya, sekali lagi maaf.
Dea menatap layar ponselnya dengan perasaan kecewa. Ia pikir, kedatangannya ke kota ini bisa membuat mereka semakin dekat. Pada kenyataannya mereka hanya sibuk dengan urusan masing - masing.
"Baiklah, aku saja yang kesana,"batin Dea.
Dea meninggalkan cafe dan menuju kampus Dion. Begitu sampai di depan gedung kampus mendadak ia ragu. Ia merasa tidak percaya diri. Namun karena sudah terlanjur datang. Dea pun memberanikan diri memasuki kawasan kampus itu. Kampus sudah lenggang, hanya ada beberapa mahasiswa yang tampak berlalu lalang.
Karena tidak mungkin ia mencari Dion di gedung yang dua kali lebih besar dari sekolahnya dulu, Dea memutuskan menunggu di taman. Sebelumnya ia mengirim pesan pada Dion kalau ia ada disana.
Sekitar sepuluh menit ia menunggu, dari arah dalam ia melihat Dion tampak berlari menghampirinya. Tapi Dion tak sendiri, ada seorang gadis yang mengekor di belakangnya.
"Tiara,? Kenapa dia ada disini, bukannya dia bilang kuliah di luar negeri,"batin Dea begitu mendapati gadis itu adalah Tiara.
Ketika keduanya sudah ada di hadapannya, Dea bingung akan menyapa siapa lebih dulu.
"Kenapa kesini, aku bilang kan tunggu di kos aja,"ucap Dion melihat Dea terdiam.
"Hai Dea, apa kabar. Lama tak berjumpa,"ucap Tiara dengan senyum manisnya. Gadis itu semakin cantik saja.
Dea tak menjawab sapaan Tiara, ia tertegun memandang gadis itu dengan banyak tanda tanya di kepalanya. Dea beralih menatap Dion, meminta penjelasan tentang itu. Kenapa selama ini Dion tak pernah bercerita kalau Tiara kuliah di kampus yang sama dengannya.
"Kenapa nggak pernah bilang apa - apa padaku?"
"Jangan salah paham, kita memang satu kampus tapi beda falkutas.Jarang ketemu juga, ini juga kebetulan kita mengikuti kegiatan yang sama di kampus,"ujar Dion.
"Ya Ampun Dea, kamu masih cemburu sama aku. Bukannya kita udah jadi teman baik."ucap Tiara mengingatkan kedekatan mereka waktu SMA.
Dea tersenyum tipis,
"Aku pikir kamu kuliah diluar negri,"
"Iya, tapi aku tidak lulus, dan jadinya kuliah disini. Waktu itu aku sempat kirim salam lo sama kamu, apa Dion nggak menyampaikannya,?" Tanya Tiara menatap Dea dan Dion bergantian.
"Aku lupa,"jawab Dion singkat.
Tak mau terus merasa canggung, Dea berusaha terlihat biasa saja. Ia mendekat pada Tiara dan memeluk gadis itu sesaat.
"Lama tak bertemu kamu semakin cantik, aku sampai pangling,"ujar Dea.
"Kamu juga makin cantik. Maaf ya, aku harus kembali ke dalam, lain waktu mungkin kita bisa ngopi bareng sambil mengenang masa SMA,"
Dea mengangguk. Tiara balas tersenyum kemudian berbalik arah. Selepas kepergian Tiara, Dea menatap tajam Dion. Laki - laki itu tersenyum kaku sambil mengusap tengkuknya.
Bersambung...
__ADS_1
...----------------...
Jejaknya jangan lupa..