
Sudah seminggu Dea bekerja di toko bakery itu. Tak banyak kendala yang dialaminya. Bahkan sejak Dea bekerja disana, toko itu semakin banyak pelanggan. Dea seperti membawa berkah untuk toko itu. Meylani semakin hari semakin menyukai Dea. Meski ia masih baru, tapi Meylani memperlakukan Dea sangat special. Baru kali ini ia begitu pada karyawan baru. Hingga ia tak ragu untuk memindahkan Dea dari bagian pelayanan ke bagian produksi, yang tentu gajinya lebih besar. Meylani juga tak pelit soal ilmu, apa yang ingin Dea ketahui ia menjelaskan dengan detail.
" Dea, kamu beruntung banget lo," ujar Tiwi rekan kerja Dea saat mereka sedang istirahat makan siang.
Dea hanya mengulas senyum. Apa ia nasibnya sangat beruntung,? Entah kenapa Dea jadi takut, akan ada hal buruk lagi yang terjadi.
" Ce Meylan nggak pernah gitu lo sebelumnya, ia nggak mungkin menaruh orang di bagian dapur, kecuali orang itu punya pengalaman, atau memang orang itu ahli dalam hal membuat kue," Jelas tergambar rasa iri di wajah Tiwi saat mengatakan itu. Ia yang sudah hampir lima tahun bekerja, tak pernah berpindah posisi dari bagian penjualan.
"Justru aku merasa takut, takut aku nanti bakal mengecewakan ce Meylan."ujar Dea.
"Jangan sampai itu terjadi," sahut Tiwi.
Selesai makan siang, mereka kembali bekerja.
"Dea, tolong kamu bikin adonan kue muffins ya," perintah Juni, rekan kerja Dea di bagian dapur.
"Baik mbak,"
Saat sedang membuat adonan kue itu, perasaan Dea tiba - tiba jadi kacau. Sebuah kenangan muncul di kepalanya, ketika dirinya membawakan Dion kue muffins buatannya.
Bicara soal Dion, sudah seminggu lebih pria itu tidak menghubungi Dea. Bahkan ia juga tidak menelepon atau sekedar mengirim pesan. Dea pun juga begitu.
"Apa ini akhir dari hubungan kita,?" Batin Dea.
Tidak ada kata putus, tapi mereka juga tidak saling berkomunikasi lagi. Hubungan itu seperti digantung, tak jelas. Dea ingin Dion menghubunginya lebih dulu, tapi Dion menunggu Dea mengabarinya. Dion berpikir Dea masih marah padanya, sehingga ia memberi waktu sampai Dea bisa memaafkannya.
Sorenya sepulang kerja Dea mendatangi rumah Dion. Ia ingin kejelasan, apa mereka hanya akan berakhir seperti itu. Namun belum juga ia turun dari taksi, mata Dea menangkap sosok Tiara baru saja keluar dari rumah Dion.
Dada Dea terasa sesak, apa karena itu Dion tak menghubunginya selama ini. Dea tak ingin salah paham, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dea kecewa.
" Nggak jadi pak, lanjut aja" ucap Dea saat sopir taksi menanyakan kenapa ia tidak turun.
Sudut matanya mulai menggenang. Dea menengadahkan kepalanya, mengerjapkan mata supaya air matanya tidak tumpah.
Begitu taksi itu berlalu dari sana, teman - teman Dion yang lain baru saja keluar menyusul Tiara yang sudah lebih dulu.
" Makasih ya, udah besuk bokap gue," ucap Dion berdiri di ambang pintu. Dan dibalas anggukan oleh teman - temannya.
__ADS_1
Mereka adalah teman - teman Dion dari UKM mapala yang diikuti Dion di kampus. Solidaritas mereka memang tinggi. Dan Tiara juga mengikuti kegiatan itu.
Dea pulang ke kosannya dengan gundah gulana, tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia jadi semakin enggan untuk menghubungi Dion lebih dulu.
***
Dion duduk melamun di teras rumahnya sore itu selepas kepergian teman kampusnya. Pikirannya menerawang jauh. Apa yang sedang dilakukan Dea, Apakah dia baik - baik saja? Apa dia sudah makan,?. Pertanyaan itu bergelayutan di benaknya. Dion memandang hampa pada layar ponselnya. Gadis itu masih belum menghubunginya. Apa semarah itu Dea padanya, sehingga sudah seminggu tak ada kabar dari pacarnya itu.
Dion mencoba mendial nomor Dea, tapi belum juga tersambung Dion buru - buru membatalkannya. Ia takut Dea akan mengacuhkannya. Ia juga mencoba mengetik pesan, tapi pada akhirnya ia malah menghapusnya.
***
Tak hanya Dion, Dean juga terlihat uring - uringan. Ia tak ingin lagi mengganggu Dea, karena sudah jelas perasaannya tak mungkin terbalas. Tapi Dean tak bisa menahan rasa rindunya pada gadis manis itu. Kenangan terakhir saat Dea menginap di apartemennya begitu melekat di ingatan pria itu. Rasanya ia ingin mengulangi lagi masa itu.
Tak seperti Dion yang ragu - ragu, Dean langsung menyambar jaket dan kunci motornya. Ia akan pergi ke kosan Dea.
Begitu sampai di depan kamar kost Dea, Dean sedikit merapikan rambutnya sebelum ia mengetuk pintu.
Dea yang baru saja selesai mandi, terkejut mendengar ada yang mengetuk pintu kosannya. Ia melirik jam di dinding, waktu menunjukan pukul 8 malam.
" Ya, siapa,?"
Dea menelan kasar ludahnya, seketika bulu kuduknya berdiri. Dea terperanjat ketika pintu kembali diketuk.
" Siapa,? Orang apa hantu,?" Teriak Dea dari dalam.
Dean melipat bibirnya menahan tawa mendengar pertanyaan nyeleneh dari Dea.
Dean kembali mengetuk pintu, tanpa bersuara.
Dea mulai jengah, ia buang jauh - jauh rasa takutnya. Perlahan ia mendekat ke arah pintu. Dea melihat kemoceng tergantung di dekat pintu dan mengambilnya. Dengan jantung berdebar ia membuka pintu.
Tidak ada siapa - siapa, saat ia akan menutupnya kembali, Dean muncul. Sontak Dea memukul Dean dengan kemoceng karena terkejut.
" Hei, hei.. ini aku," Dean menahan tangan Dea yang terus memukulkan kemoceng ke arahnya.
"Dean,?"
__ADS_1
" Iya, aku.. Dean.."
" Astaga, kirain siapa bikin kaget aja," sungut Dea.
Dean terkekeh. Dea mendengus kesal.
" Ada apa malam - malam kesini,?" tanya Dea Ketus. Ia masih kesal karena dikerjain oleh Dean.
" Kangen," jawab Dean menatap dalam netra Dea.
Dea terdiam. Ia membuang pandangan ke arah lain, saat Dean menatap matanya.
"Aku bawa ini, kamu pasti belum makan kan,?" Dean memamerkan kantong plastik bawaannya. Dea merasakan perubahan mimik wajah Dea saat ia mengatakan kalau ia merindukan gadis itu, karena itu ia buru - buru mengalihkan pembicaraan.
" Kok tau,?" jawab Dea, berusaha tak memperdulikan ucapan Dean.
"Tau lah, aku kan malaikat kamu," jawab Dean dengan niat bercanda. Tapi justru kalimat yang baru saja ia lontarkan membuat Dea kembali terdiam. Suasana mendadak canggung.
Dean berdehem menetralkan detak jantungnya. Sementara Dea tersenyum kaku.
"Kamu duduklah, aku akan ambil piring sama sendok dulu ke dalam," ucap Dea berbalik masuk ke dalam kamarnya. Sementara Dean mengambil posisi duduk di bangku diluar kamar kos Dea. Pria itu memegang dadanya, karena jantungnya terus berdebar.
Seminggu tak bertemu membuatnya tak bisa mengontrol ucapannya. Perasaan itu semakin tak bisa ia tahan.
Dea kembali dengan membawa peralatan makan beserta minum. Dea lalu duduk di samping Dean dan membuka makanan yang dibawa Dean yang ternyata isinya nasi goreng. Mereka berdua saling diam, keduanya jadi salah tingkah.
" Ayo makan, ntar keburu dingin lo nasi gorengnya," ucap Dea mulai menyendok nasi goreng ke mulut. Ia tak mau berlama - lama berada di suasana yang tak mengenakan itu.
Dea memejamkan matanya saat ia mengunyah nasi goreng. Entah apa yang terjadi, hari ini banyak hal yang mengingatkannya pada Dion. Kali ini ia ingat saat dirinya kehilangan dompet saat ia makan nasi goreng, waktu pertama kali ia datang ke kota ini.
" Enak banget ya, sampai merem gitu makannya,"
Lamunan Dea buyar saat mendengar suara Dean. Ia tersenyum malu.
" Dion, kamu beli dimana sih nasi goreng ini, rasanya beda dari yang lain." tanya Dea menutupi rasa malunya.
Dean yang akan menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya, tertahan di udara. Pria itu menurunkan tangannya tak jadi menyuap. Perasaanya tiba - tiba jadi kacau.
__ADS_1
" Aku Dean, bukan Dion," jawab Dean dingin.
Bersambung...