Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 84


__ADS_3

Dion menggeram kesal saat nomor ponsel Dea masih tidak aktif. Ia membanting kasar ponsel ke atas sofa. Kemudian ia mendudukan diri, sambil mengusap gusar wajahnya. Apa Dea sengaja menghindar supaya tidak datang ke rumahnya. Pikir Dion.


Mama Siska yang baru saja selesai memasak hendak pergi ke kamar melihat putra pertamanya itu terlihat gelisah.


"Ada apa, nak,?"tanya mamanya.


Dion yang larut dengan pikirannya sehingga tak mendengar suara sang ibu. Ia baru sadar saat sofa di sebelahnya bergerak. 


"Eh, mama,!"


"Mama tanya, ada apa,?" Mama Siska mengulang pertanyaannya.


Dion menghela nafas berat seraya menyandarkan punggungnya. 


"Sepertinya Dea tidak akan datang hari ini," ucap  Dion kecewa.


" Loh, kenapa,? Bukannya kamu yang bilang kalau dia akan datang hari ini, mana kamu minta mama masak banyak,"


"Aku juga nggak tau ma, dari kemarin ponselnya tidak aktif. Dia juga tidak ada di kosannya."


Mama Siska tersenyum tipis, ia menepuk pelan pundak putranya itu.


"Mungkin dia ada keperluan penting, masih ada hari lain. Coba nanti kamu hubungi lagi,"


Dion hanya mengangguk lemah. Mama Siska kembali menepuk pelan pundak anaknya itu sebelum beranjak pergi.


***


Di rumah sakit, Dea baru selesai mandi. Secara bersamaan Sifa juga datang. Wajah Sifa tampak berseri membuat Dea menatap heran sepupunya.


"Ada hal baik terjadi,?"tanya Dea.


Sifa mengulas senyum sebagai jawabannya.


" Apa,?"tanya Dea.


" Rahasia,"


Dea memutar bola matanya jengah. 


"Hem, oh ya, boleh aku minta nomor ponselnya Mas Dean,?"ucap Sifa malu - malu.


Dea mengernyit, menatap Sifa curiga.


"Untuk apa,?"


"Berikan saja, aku ingin mengenalnya lebih dekat,"sahut Sifa ketus.


Tidak mau ambil pusing, Dea lalu mencari ponselnya. Namun Dea baru ingat jika ia belum mengecas ponselnya.


" Kenapa,?"tanya Sifa.


" Ponselku kehabisan baterai,apa kau membawa charger,?"


Sifa mendengus karena keinginannya untuk memiliki nomor ponsel Dean harus tertunda, ia merogoh charger dari dalam tas kecilnya dan menyerahkan pada Dea.


Tak lama berselang, beberapa orang berjas putih memasuki ruang inap itu dan memeriksa pasien satu persatu. 

__ADS_1


"Bagaimana keadaan nenek saya ,Dok?"tanya Dea saat dokter selesai memeriksa nenek.


"Sudah jauh lebih baik, besok sudah bisa pulang,"


Dea bernafas lega, berarti ia bisa kembali ke kota esok sore. Bagaimana pun ia belum genap sebulan bekerja di perusahaan asuransi itu, dan sangat tidak memungkinkan untuk mengajukan cuti.


Sifa yang tak sabaran ingin memiliki nomor Dean terus mendesak Dea untuk mengaktifkan ponselnya.


" Baru juga setengah jam,"gerutu Dea.


Dengan kesal Dea mencabut kabel charger, dan begitu mengaktifkan ponselnya, mata gadis itu melebar melihat banyak pesan masuk dari Dion.


" Kenapa lagi,?"tanya Sifa mulai kesal melihat gelagat Dea.


" Maaf, tolong jaga nenek, aku akan menelepon di luar sebentar,"ucap Dean dengan langkah tergesa keluar dari kamar itu.


"Deaaa,"teriak Sifa.


Sifa yang kesal tidak sadar meneriaki nama Dea, sehingga aksinya itu mendapat tatapan tajam dari keluarga pasien lain. Sifa tertunduk sambil meminta maaf. Ia lupa dimana sekarang dirinya berada. 


Dea melangkah menuju sudut rumah sakit yang sepi. Ia lalu mengatur nafas sebelum ia menghubungi Dion. Dea menggigit kuku ibu jarinya saat nada sambung terdengar. 


"Kemana saja,?Kenapa baru menghubungiku,? Apa kau tau aku khawatir dari kemarin ponselmu tidak bisa dihubungi,"sembur Dion marah di ujung telepon.


" Maaf, keadaannya sangat mendesak. Kemarin aku,_"


"Apa kau sengaja menghindar,?"potong Dion saat Dea belum selesai menjelaskan.


Mendengar itu Dea terhenyak. Ia terdiam sesaat.


" Halo, Dea," seru Dion karena tak mendengar apapun.


"A..apa,?" ucap Dion tergagap dengan suara lemah. Tidak seperti tadi.


"Maaf,"ucap Dion lirih.


Dea menghela nafas sejenak.


"Bukan salahmu, aku yang lupa memberikan kabar. Soal janjiku, aku minta maaf karena tidak bisa memenuhinya."


"Aku mengerti, bukan salahmu juga. Siapa yang menduga itu akan terjadi. Bagaimana keadaan nenek,?"


"Sudah lebih baik, besok juga sudah bisa pulang,"


"Aku ingin sekali kesana, tapi.."


"Tidak, kau tak perlu ke sini. Semua baik - baik saja."


"Maaf Dea, aku tidak ada disampingmu disaat kau sedang tertimpa musibah dan bodohnya aku malah berpikiran buruk padamu"


"Hem, aku mengerti. Aku juga minta maaf karena seharusnya hari ini aku ada di rumahmu,"


"Jangan khawatirkan soal itu masih ada hari lain, dan titip salam pada nenekmu,"


"Hem iya nanti aku sampaikan,"


Sesaat mereka terdiam dengan telepon masih tersambung.

__ADS_1


"Dea,"panggil Dion.


"Ya,"


"Aku mencintaimu,"


Dea tersenyum simpul seraya memainkan ujung kakinya di lantai. 


" Aku juga mencintaimu,"balas Dea. 


Dea kembali menyimpan ponselnya. Ia tersenyum lega. Saat membalik badan Dea terjingkat melihat Sifa yang berdiri tepat di depannya.


"Astaga, Apa kau menguping,?"


Sifa tak menjawab, ia hanya menatap tajam sepupunya itu.


"Berikan nomor ponsel Dean,"


Dea mendelik, ia menggeleng heran. Kenapa Sifa begitu tak sabar untuk memiliki nomor ponsel pria itu.


"Apa kau menyukainya,?" tebak Dea seraya mengirimkan nomor ponsel Dean pada Sifa.


" Bukan urusanmu,"ketus Sifa. Ia lalu beranjak pergi setelah apa yang diinginkannya ia dapatkan.


Dea memandang jengah Sifa yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.


"Aku rasa dia tidak akan menyukaimu,"gumam Dea. 


Dea kemudian kembali ke kamar inap neneknya.


***


Setelah mengantar Sifa tadi, Dean bingung akan mengarahkan kemana laju motornya. Begitu motornya sudah keluar dari komplek perumahan itu, Dean tiba - tiba memutar balik. Ia sudah tau kemana tujuannya.


Dean menghentikan motornya di depan bangunan bercat kuning kombinasi hijau yang sudah memudar, yang di depannya ada papan bertuliskan " Panti Asuhan Kasih Bunda,"


Ya, tujuannya adalah mendatangi panti asuhan dimana ia pernah melalui masa kecilnya disana. Dean turun dari motornya berjalan perlahan. Suasana panti masih sama dengan kala itu. Bahkan cat bangunan itu masih sama. Tak ada yang berubah, tempat itu terawat dengan baik.


Tiba - tiba sebuah bola menggelinding ke arahnya, Dean menahan bola itu dengan kakinya. Seorang bocah laki - laki berumur sekitar 7 tahun berlari menghampirinya.


"Itu bolaku,"ucap bocah itu menatap Dean sedikit takut.


Dean mengulas senyum. Ia lalu memainkan bola itu dengan kakinya.


"Kalahkan kakak dulu, baru bola ini akan aku berikan,"ucap Dean.


Dean mulai menggiring bola menuju lapangan bermain. Bocah tadi dengan senang mengejarnya, tak hanya dia. Bocah itu juga mengajak teman - temannya untuk mengejar Dean. Alhasil Dean menemani anak - anak itu bermain bola. Mereka tampak senang sambil sesekali tertawa cekikikan. 


Permainan itu terhenti saat seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Tenggorokan Dean tercekat, matanya berkaca melihat wanita yang sangat ia kenali itu. Tak ada yang berubah dari wanita itu, hanya rambutnya yang mulai tampak memutih.


Semakin dekat wanita itu, semakin Dean merasakan sesak di dadanya. Wanita itu hanya menatapnya heran sambil terus mendekat.


"Bunda,"ucap Dean begitu wanita itu berdiri dihadapannya.


Bersambung....


...----------------...

__ADS_1


Seperti biasa like dan komentarnya jangan lupa...


__ADS_2