
Satu bulan berlalu.
.
.
.
Kedua pupilku bergerak memindai ke sekeliling, saat mobil membawaku keluar dari halaman rumah. Barangkali ada anak buah Beno yang tetap bandel membuntuti. Aku telah minta pada Henry, agar bisa menikmati waktuku dengan normal seperti dulu. Tanpa bayang-bayang pasukan Beno. Aku mau hanya Pak Min saja yang boleh mengantarku.
Pagi sekali, Henry telah berangkat ke Bali, untuk mengikuti rapat pemegang saham di perusahaannya. Aku tak mau ikut. Ada trauma tersendiri bagiku sementara ini pada tempat itu. Masih sulit untuk melupakan kejadian tragis yang pernah kualami si sana. Untunglah Henry mau mengerti.
Waktu berlalu tanpa terasa. Hampir satu bulan sudah, sejak kepulangan kami dari perjalanan bulan madu. Aku dan Henry selalu menghabiskan waktu bersama. Hari ini Henry mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Mumpung suami kerja, aku ingin menikmati waktuku. Wanita butuh 'me time' untuk mengusir kejenuhan. Aku rindu jalan sendirian menyusuri gerai-gerai sale di mall. Berburu baju diskonan. Atau sekadar duduk makan satu cup ice cream, sambil mencuci mata, memperhatikan kesibukan orang yang lalu lalang. Atau numpang baca buku gratis di toko buku Gramedia. Itu aku banget. Aku kangen untuk mengulanginya.
Mobil yang dikemudikan Pak Min bergerak memasuki areal parkir, di basemen mall terbesar di kota kami. Ini pertama kali aku keluar rumah tanpa ditemani Henry.
"Pak Min, tunggu di mobil aja, ya!" ujarku seraya menutup pintu mobil.
"Siap, Nyonya," sahut pria setengah baya itu.
Aku berpikir sesuatu, berpaling lagi ke arahnya.
"Pak, Min."
"Iya?" Kepalanya melongok ke luar pintu mobil.
"Pak Min gak perlu nunggu di dalam mobil. Nunggu di cafe depan aja kalau saya lama."
"Di cafe?" tanyanya dengan raut bingung.
"Iya. Pak Min nunggu saya sambil minum kopi. Nanti saya telepon kalau saya sudah selesai."
Kulempar sekilas senyum untuknya sebelum melanjutkan langkah.
Cling! Baru beberapa ayunan kakiku menjauh dari mobil. Telepon genggam sudah berbunyi. Berhenti melangkah, segera kuraih benda pipih itu dari dalam tas selempang.
( Sudah di mana, Sayang? ) Siapa lagi kalau bukan chat dari suami.
Jari-jariku dengan lincah mengetik balasan ( Baru nyampe mol )
Cling! langsung dibalasnya ( Jangan lama-lama, ya, Non. aku kuatir )
Diiih ... aku memutar bola mata. Kuatir apanya? Isterinya cuman jalan ke mol.
Kuketik balasan lagi ( Tenang aja, Ayang. Di dalam mol aman ada sekuritinya )
Baru tiga langkah.
Nada dering tiba-tiba berbunyi. Nama 'Belahan Jiwa' tertera dengan icon hijau. Henry sendiri yang menamai nomer kontak di hapeku. Dia lucu kan?
"Assalamu' alaikum, Sayang." Suaranya langsung menyambar begitu telepon kuangkat.
"Wa' alaikum salam. Rapatnya sudah selesai?"
"Pak Min sama kamu kan?" Malah balik nanya.
Aku menghela napas pelan. "Ada, lagi nunggu di mobil. Udah dulu, ya Sayang, aku mau naik eskalator. Entar kejengkang. Daaah." Kututup sambungan telepon.
***
Berdiri tegak di hadapan etalase, sebuah gerai under wear brand ternama. Bola mata menatap terpukau pada lingerie yang melekat di salah satu manekin wanita. Warna marun dengan renda lembut menghiasi pinggiran bahan, membuat manekin terlihat sangat seksi.
Hmm ... kuelus dagu dengan telunjuk kanan, sambil membayangkan, jika aku memakainya di depan suami. Bisa-bisa ngeces si pipi tomat. Bibirku tak bisa menahan senyum.
"Mau yang ini, Mbak? Model terbaru. Sepertinya ukuran dan warnanya cocok sama, Mbak. Boleh dicoba. Warna lain juga ada." Seorang SPG cantik dengan tangkas mendekatiku.
"Bentar." Kuraih label harga yang menggantung di bagian bawah lingerie.
What the? Mulutku langsung mencucu. M-muohol banget! Senilai dengan harga laptop pertama yang kubeli waktu kuliah. Gak salah naruh harga? Yang benar saja.
"Banyak banget nolnya, Mbak."
Mataku mendelik ke arah SPG, seolah dialah yang menentukan harga pada label. Padahal aku tahu bukan dia.
Cling! Hapeku bunyi. Pesan dari Henry lagi.
( Jangan lama-lama ke mol nya. Habis meeting aku langsung pulang. Gak sampai sore tiba di rumah. )
Ya, ampun. Nih, suami. Bininya dapat satu barang pun belum.
"Gimana, Mbak? Jadi, ya, Mbak!" rayu SPG itu.
"Enggak, ah, Mbak. Budgetnya gak cukup."
"Beli dua diskon dua puluh persen, lho, Mbak."
Apalagi beli dua. Mending duitnya buat beli cilok satu gerobak. Bisa buat sedekah sama anak tetangga satu komplek.
Kutinggalkan wajah kecewa gadis itu.
****
"Selamat siang, Mbak. Stand kami hari ini mengadakan promo kursus bikin roti gratis. Silakan masuk jika berminat!" Seorang pria ganteng mengenakan apron mencegat langkahku di depan sebuah stand.
Apa tadi kubilang? Ganteng? Ck ... tetap Henry lah yang paling ganteng.
"Gratis?" Alram di otakku segera menyala. Ting!
"Benar, Mbak. Kursus membuat roti gratis," tegasnya lagi.
Wajah Henry tiba-tiba membayang di atas kepala. Henry suka sekali makan roti.
"Mau dong!" sahutku cepat.
"Silakan masuk!" Ia mengayunkan tangan kanan ke arah pintu stand bakery itu, dengan senyum mengembang.
Hmm ... aroma roti panggang yang baru diangkat menari di depan hidungku. Henry akan sangat senang jika isterinya nanti bisa membuat roti yang enak.
Bruk! Tubuhku sedikit limbung berbenturan dengan seorang ibu bertubuh gemuk. Wanita itu menuju ke luar sedangkan aku baru masuk.
"Apa-an gratis! Taunya disuruh beli mixer. Mahal lagi," ujarnya menggebu pada ibu bertubuh lebih kecil di sampingnya, ditanggapi dengan anggukan cepat temannya. Wajah mereka berdua tampak gusar. Keberadaanku seolah tak terlihat.
__ADS_1
Wah ... aku dikacangin.
"Beneran, Mas, yang ibu itu bilang? Habis kursus disuruh beli mixer?" Aku menatap tak percaya pada mas-mas yang memakai apron di sampingku.
"Eng ... itu namanya simbiosis mutualisme, Mbak. Kita saling menguntungkan."
"Iih ... gak jadi ah kalo gitu. Itu namanya modus, Mas!" ujarku sedikit ketus.
"Yah ... si Mbak. Namanya juga usaha, Mbak."
"Enggak ah, saya keluar aja kalau begitu. Makasih."
Heran, usaha sih usaha. Tapi kalau begitu caranya sama aja jebakan betmen.
.
.
.
Wajahku langsung sumringah menatap stand ice cream yang ada di pojok. Pengunjung tidak begitu ramai. Ada tempat duduk dekat dinding kaca dengan view yang bagus.
Belum kakiku mencapai tujuan. Gawai lagi-lagi berdering. Berhenti sejenak. Panggilan masuk dari Belahan Jiwa dengan latar wajah tampan suami.
Ini suami beneran meeting apa enggak, sih? Masa dari tadi telepon melulu. Alisku mulai bertaut.
Kupandangi beberapa jenak wajah Henry yang tersenyum di gawai. Angkat ... enggak? Gak diangkat entar durhaka.
"Udah selesai meetingnya?" Aku bertanya lebih dulu.
"Masih di mol?" Seperti tadi dia malah balik bertanya.
"Masih." Kulanjutkan langkah kaki mendekati stand ice cream.
"Lagi ngapain?"
"Dih ... kepo."
Henry tertawa terkekeh mendengar suaraku yang terdengar gusar.
"Pengen ikutan ngemol," ujarnya lagi.
Mulutku komat kamit tanpa suara, membaca harga menu yang tertera di dinding stand. Satu tangan masih memegang handphone yang menempel di telinga. Harganya mahal-mahal.
"Yang ...."
"Hmm ...?" Mataku masih konsentrasi membanding-bandingkan harga. Mana kira-kira ice cream yang ukuran besar tapi harga lebih murah. Penjaga stand berdiri dengan sabar di depanku.
"Kok gak nyahut, Non?" protes Henry.
"Aku lagi milih menu ice cream, Hen. Udah, ya, sayang. Tutup dulu." Sambungan kumatikan lagi.
"Ada yang lagi promo, gak?"
"Maaf, Mbak. Gak ada."
"Ya udah, beli yang itu aja." Kutunjuk satu menu yang paling murah.
Hmm ... akhirnya bisa juga duduk santai menikmati ice cream rasa cokelat. Mulut mengemut butiran cokelat yang terdapat dalam ice cream. Mataku jelalatan.
Mataku menyipit. Sepertinya aku mengenali pria yang duduk di bangku itu. Wajahnya ditutupi sebuah buku. Orang mata minus aja baca buku gak gitu amat.
Tuh ... dia ngintip lagi. Perawakan besar seperti itu gelagatnya anak buah Beno. Ah ... jangan-jangan Henry yang nyuruh buntutin aku.
Kupilih Belahan Jiwa di daftar kontak hape. Nada sambung dari penggalan lagu 'You' re Still The One' terdengar.
"Kamu nyuruh anak buah Beno ngikutin aku?" tembakku langsung, begitu nada sambung berhenti.
"Apa sih, Sayang?"
"Kan aku udah bilang hari ini gak mau diikutin sama mereka," ujarku. Padahal aku belum yakin kalau itu anak buah Beno. Maksudnya buat mancing Henry untuk jujur.
"Anak buah Beno yang mana ngikutin kamu? Salah liat kali."
"Beneran aku liat. Aku gak tau nama dia siapa. Tapi pernah liat kalau itu anak buah Beno."
"Mungkin kebetulan aja dia pas lagi libur, jalan ke mol juga, terus ketemu kamu di sana."
Ish ... bisa aja. Bola mataku berputar.
"Kan aku sudah bilang. Aku gak suka mereka buntutin aku."
"Entar deh aku bilangin Beno. Supaya dia jauh-jauh dari kamu."
Tuh, kan bener.
***
"Pak Min." Kuhubungi Pak Min lewat telepon.
"Udah selesai belanjanya, Nyonya?"
"Pak Min pulang duluan aja. Gak usah nunggu saya."
"Kenapa, Nyonya?"
"Saya ketemu teman di mol. Nanti pulang sendiri aja."
"Tapi Nyonya ...." Segera kututup sambungan telepon.
Usai makan ice cream, aku bergerak cepat menuju keluar mall. Aku kecewa pada Henry. Ia tak mau mendengar keinginanku untuk menikmati waktu tanpa para body guard itu. Menurutku Henry berlebihan. Padahal Pak Min saja sudah cukup.
Sengaja aku melewati pria yang kucurigai telah membuntuti. Kurekam wajahnya. Mata kami bertabrakan. Sempat kulihat sorot terkejut di mata pria itu. Ia tertangkap basah. Aku mengenalinya sebagai salah satu kroconya Beno.
Sebagai aksi protes aku berusaha agar mereka kehilangan jejakku. Mereka pasti kesulitan mengikuti, jika aku membaur di antara banyak pengunjung wanita. Aku masuk dalam kerumunan wanita yang memenuhi lantai satu, karena sedang ada demo kecantikan di situ. Tubuhku lalu menyusup di antara orang-orang yang keluar dari mall.
Rasain. Siapa suruh jadi penguntil?
***
"Gado-gadonya satu, Pak. Cabe rawitnya lima."
"Geh, Mbak. Ditunggu sebentar, ya, Mbak."
__ADS_1
Aku mengangguk senang, kemudian memilih sebuah bangku panjang menghadap kolam yang ada di dalam taman kota. Dulu aku suka menghabiskan waktu bersama Pipit, duduk di taman kota ini sambil baca novel.
Bahagia itu sederhana. Bisa menikmati waktu di tempat yang tenang seperti ini, rasanya sudah cukup untukku. Di saat jam kerja seperti sekarang. Taman kota sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat lalu lalang.
Hmm ... kuhirup udara segar memenuhi paru-paru. Pohon-pohon kersen rindang, yang banyak terdapat di taman kota ini menghasilkan banyak oksigen. Di depanku ada kolam yang dipenuhi bunga teratai yang bermekaran. Indahnya dunia ini.
"Gado-gadonya, Mbak. Cabe rawitnya lima." Bapak pedagang gado-gado mengantarkan pesananku.
"Makasih."
Perutku sudah sangat lapar. Penampakan gado-gado ini sangat menggiurkan. Aroma bumbu kacang berpadu dengan bau tajam dari cabe rawit begitu menggoda. Apalagi ditaburi krupuk berwarna merah. Sengaja aku pesan agar togenya lebih banyak. Biar suburrr.
Ups! Jadi ingat suami. Suapanku terhenti. Sendok berisi gado-gado melayang di udara. Henry sudah makan belum? Aku enak-enakan menghadapi gado-gado.
Kubuat panggilan untuk Belahan Jiwa.
"Assalamu" alaikum."
"Wa" alaikum salam. Suara kamu bikin aku tambah kangen."
Gombal. Baru setengah hari.
"Udah makan kamu, Yang?"
"Udah, tadi. Di kantor kan ada jamuan makan siang."
"Alhamdulillah."
"Ini sudah depan bandara. Bentar lagi pulang. Kamu di mana, Sayang?"
"Mau makan siang. Makanya ingat sama kamu."
"Makasih, Sayang. Kalau gitu cepetan makan, gih. Entar asam lambung."
"Hmm ... dadah."
"Dadah ... ketemu di rumah. Muah."
Telepon kututup. Acara makan siang pun berlangsung hikmat. Sudah lama aku tidak makan gado-gado kaki lima. Rasanya betul-betul juara.
"Boleh saya duduk di sini?"
Kepalaku sontak mendongak. Seorang pria mengenakan kemeja putih dengan dasi yang terpasang rapi berdiri di sampingku. Baru aku selesai makan. Masih menghabiskan air mineral di botol.
Ini memang tempat umum. Tapi aku keberatan kalau pria ini ingin duduk di sampingku. Rasanya tidak pantas.
"Maaf, kalau Mbak keberatan. Tak apa. Kalau begitu saya hanya perlu sedikit waktu."
"Waktu apa?" Aku mulai was-was. Keadaan taman kota sepi. Yang kulihat hanya bapak penjual gado-gado.
"Pertama-tama, kenalkan nama saya Abdul Kadir." Pria itu menyodorkan tangan, mengajak bersalaman.
Aku mulai gelisah.
"Maaf saya tidak bisa bersalaman dengan laki-laki."
"Astagfirulloh. Maaf, Mbak. Seharusnya saya tahu itu. Karena Mbak berhijab."
"Maaf, Mas. Saya harus segera pulang. Suami saya sudah menunggu."
"Sebentar saja, Mbak. Saya mohon waktunya. Sebentar ... saja!" Ia memohon.
Aku menggeleng. Apalagi kulihat bapak penjual gado-gado mulai mendorong gerobaknya pergi dari situ.
"Maaf tidak bisa. Lain kali saja," jawabku gugup.
"Ayolah, Mbak. Masa sebentar saja tidak bisa." Ia mengikutiku di belakang.
"Heh ... berani kamu mengganggu Nyonya Bos kami!" Tiba-tiba saja tiga orang pria besar mendekat. Mereka anak buah Beno.
Sejak kapan mereka ada di sini?
Brak! Bruk! Brak! Plak! Gubrak! Mereka sekonyong-konyong menyerang pria itu.
"Ampun!!" Pria asing yang dari tadi menggangguku berteriak.
"Sudah ... hentikan!" Aku berusaha melerai.
"Biar kapok Nyonya Bos." Sahut salah satu pria besar itu.
"Kamu juga. Ngapain maksa-maksa tadi?" tanyaku pada pria berkemeja putih.
"Saya cuma nyari rejeki, Mbak. Saya mau nawarin parfum. Saya itu sales parfum," sahutnya sambil memegangi perut.
"Astaga ... kenapa tidak bilang dari tadi? Kamu membuat aku takut."
"Maaf, Mbak."
"Hhh ... ya, sudah. Kalian lepaskan dia," ujarku pada para pria besar.
Mereka menurut. Aku segera berjalan keluar dari taman kota.
"Jangan ikuti aku!" ujarku begitu sadar anak buah Beno mengikuti langkahku.
"Kita mau antar Nyonya Bos, pulang."
Hiiih ... aku risih jalan sama mereka.
"Aku bisa pulang sendiri," sahutku jutek.
Heran ... kupikir mereka telah kehilangan jejakku di mall. Taunya aku masih dibayang-bayangi. Berarti dari tadi mereka sudah mengawasiku. Sia-sia usahaku mengendap-ngendap pergi dari mall. Nyebelin.
Me timeku hari ini ambyar. Aaaargh!
Kuhentikan sebuah mobil taksi yang lewat. Pulang dengan wajah cemberut.
****
Apa ini? Mataku membelalak melihat goody bag berisi lingerie berwarna marun tergeletak di atas tempat tidur.
Ada lagi yang membuat rambutku berdiri. Di atas nakas sebuah kotak besar bergambar mixer tergeletak manis diikat pita.
Apa maksud ini semua?
__ADS_1
"Henryyy!!!!"