Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
EXTRA PART


__ADS_3

Turkey di musim dingin.


Tempat petualangan kami selanjutnya adalah Turkey. Henry ingin mengajakku menikmati dinginnya salju di kota Istanbul. Tapi, kali ini tanpa di dampingi tur guide, karena Henry sudah pernah ke sana. Dan ... tanpa para body guard juga. Kami benar-benar ingin menikmati waktu hanya berdua. Aku sih, terserah Henry saja.


"Musim dingin di Turki biasanya datang sekitar bulan desember hingga pebruari. Seperti sekarang. Nah, saat ini pas banget kita ke sana, Sayang. Turki lagi dingin-dinginnya. Suhu udara mungkin sekitar nol sampai sembilan derajat celcius," terang Henry dengan suara pelan padaku, selama dalam perjalanan di pesawat. Sekarang Henry yang jadi tur guide-ku.


Daguku manggut-manggut mendengar penjelasannya.


Menurut Henry salah satu kegiatan yang menarik untuk dilakukan saat musim dingin di Turki adalah dengan olahraga ski di hamparan salju.


Wow ... aku mendengarkan Henry bicara seraya membayangkan gumpalan kecil salju yang berjatuhan. Pasti sangat indah.


"Kalau kamu? Apa yang ingin kamu lakukan sesampai kita di sana?" Henry menggesekkan ujung hidungnya yang dingin ke pipiku.


Sontak aku melirik ke segala arah. Gak enak banget kalau mesra-mesraan di tempat umum. Kulihat penumpang pesawat yang lain masing-masing tertidur pulas di bangkunya. Aman.


"Aku? Aku sering liat video dokumenter tentang masyarakat Turkey yang suka masak. Masakan tradisional mereka sepertinya sehat-sehat. Mereka selalu memakai minyak zaitun dalam masakannya. Aku pingin makan daun anggur yang di masukin bawang cincang sebagai sayuran. Cara pengolahan makanan benar-banar bersih. Sangat mencerminkan perilaku hidup kaum muslim." Aku pun berusaha bersuara pelan namun penuh semangat, sampai-sampai Henry termangu menatapku.


"Hmm ...?" Henry menyimak penuh perhatian.


"Hmm." Aku mengangguk.


"Jadi kita akan wisata kuliner juga di sana," sahutnya.


"Oh, iya. Aku pernah baca. Di sana ada desa yang terletak di perbukitan yang masyarakatnya berkomunikasi dengan bahasa burung. Kalau gak salah nama desanya Kuskoy. Mereka melakukan itu karena jarak rumah mereka berjauhan. Kalau boleh ... aku ingin ke sana."


"Wauw ... kamu tahu banyak tentang Turkey, Sayang." Kedua alis Henry terangkat ke atas.


Aku tersipu malu. Selama ini aku memang punya banyak impian untuk menjelajah negara-negara di dunia. Termasuk Turkey. Sehingga sering iseng mencari informasi lewat browsing internet. Tak menyangka kalau sekarang aku tengah menuju ke sana.


***


Udara dingin menusuk tulang menyambut kedatangan kami begitu keluar dari Bandara Istanbul Ataturk. Tubuhku menggigil padahal sweater yang kukenakan cukup tebal. Henry menggosok-gosok telapak tanganku, berusaha menghangatkan.


"Mana sarung tangan kamu, Sayang?"


"Ssshhh ... ada," jawabku sambil menggigil merogohkan tangan ke dalam sling bag. Mencari letak sarung tangan.


Henry membantuku memakaikan sarung tangan. Ia tidak seperti aku, Henry telah terbiasa dengan musim salju. Sedang aku mirip ikan air tawar yang jatuh ke air laut. Kesulitan menyesuaikan diri.


Maafkan isterimu yang kampungan ini, Hen!


Seorang pria berpakaian seragam mendekati kami. Ia ternyata supir hotel yang telah dipesan Henry untuk menjemput kami di bandara. Dengan menggunakan bahasa inggris yang agak belepotan pria itu mempersilahkan kami masuk ke mobilnya. Suasana langit malam Istanbul tampak temaram. Lampu-lampu jalan menghiasi kota.


Di dalam mobil Henry terus berusaha membuat tubuhku hangat. Tanganku yang sudah memakai sarung tangan dimasukkan lagi ke dalam saku jasnya. Mirip adegan romantis di film korea. Hihi. Sepanjang jalan Henry menggosok punggungku. Suami yang siaga itu membuat cintaku berlipat ganda.


Sebelum menuju hotel, mobil yang membawa kami singgah ke sebuah restoran Indonesia. Aku dan Henry tentu sangat antusias dengan menu yang disediakan. Beberapa hari kami tidak bertemu nasi Indonesia. Menu berkuah yang hangat jadi pilihan kami. Nasi Rawon. Hmm ... makanan Indonesia memang tak bisa diadu.


Usai makan malam kami menuju hotel yang sudah dipesan Henry. Istanbul di malam hari terlihat indah, dengan lampu berwarna-warni. Jalan-jalan lebar dan gedung-gedung yang tinggi.


***


Begitu tiba di hotel. Malam sudah larut. Usai membersihkan diri, kusempatkan melihat gawai yang sebelumnya offline.


Ternyata ada pesan masuk dari sahabatku Pipit.


( Assalamu' alaikum sahabatku yang cantik ) Aku tersenyum membaca chat dari Pipit. Pesan itu terkirim sejak tadi sore. Segera kuketik balasan sambil rebahan di tempat tidur.


( Alaikum salam. Sahabat yang tak kalah cantik ) Balasku ditambah emoticon smile. Tak lama pesan dariku telah bercentang biru.


( Apa kabar pengantin baru? Lagi ngapain? Lama kita gak chat. Aku kangen ) balasnya.


( Kabar baik. Kami sedang ada di Turki. Kamu sekeluarga apa kabar? )


( Wah bulan madu dong. Aku senang sekali Ken. Kamu dan Henry itu pasangan serasi. Aku sayang banget sama kalian. Cepet punya momongan ya )


( Amin ) Balasku lagi.


Henry tiba-tiba sudah ada di sampingku. Memeluk tubuhku dari belakang.


"Chat sama siapa?" tanyanya.


"Sama Pipit," sahutku sambil senyum-senyum.

__ADS_1


( Udah ah. Di Turki sekarang sudah malam kan. Entar aku mengganggu pengantin baru. Nanti kita sambung lagi. Dadah )


Pipit mengakhiri chat kami.


"Yah ... Pipitnya sudah offline. Aku kan masih kangen sama dia."


"Udah malem, Sayang. Pipit bener tuh." Tengkukku terasa hangat oleh ulah Henry.


"Lucu ya, kalau ingat masa-masa kita waktu sekolah. Gara-gara Pipit naksir Jono, kita jadi dekat."


"Taunya jodoh Pipit malah sama mas Taufik yang di tinggalnya jauh di Selangor."


"Hehe ... iya. Malah kita yang jodoh."


Henry tiba-tiba merubah posisi menjadi duduk di atas tempat tidur, sambil berkacak pinggang.


"Henry ... kan sudah kubilang dari kemaren kalau kita duduknya tukeran." Henry meniru gaya bicara Pipit.


"Kirain kemaren aja, Pit." Sekarang dengan suaranya sendiri.


"Iiih, gak peka banget sih kamu. Mulai sekarang aku duduk sama Jono, kamu sama Niken. Ngerti gak sih?" Meniru suara Pipit lagi.


"I-iya, Pit. Kalem."


Aku terpingkal-pingkal mendengar suara Henry yang berusaha meniru suara cempreng Pipit.


"Pipit gak mau tau kalau aku tuh sebenarnya takut banget duduk dekat kamu, Yang."


"Lho ... kok takut? Aku kan gak galak kayak Pipit," protesku.


"Iya, gak galak. Tapi bikin deg-degan."


"Diiih ... deg-degan gimana? Emangnya aku hantu." Kutoyor gemas pipi tomat Henry.


"Jantungku mirip kuda lari, Non, kalau deket kamu. Keringat dingin, gemeteran. Nerves banget deket cewek cantik. Culun bangetlah, pokoknya." Henry terkekeh panjang menertawakan dirinya sendiri.


Aku senyum-senyum mengingat Henry yang awal kenal tidak berani menatapku. Ia sering gugup membenarkan letak kaca mata tiap aku mengajaknya bicara.


Kami berdua telah bergulung dalam selimut.


"Sayaaang." Henry membentangkan lengan sebagai kode agar aku masuk ke dalam pelukannya. Tidak ada selimut hangat yang mampu mengalahkan hangatnya pelukan suami.


Pikiranku mulai berkelana. Hawa dingin semakin menusuk-nusuk, meskipun di kamar hotel, penghangat ruangan tetap menyala. Dengkuran halus dari mulut Henry mulai kudengar. Seperti alunan musik yang semakin membuatku terbuai. Perlahan mataku pun terpejam menuju alam mimpi.


***


Dadaku berdegup kencang. Netra tiba-tiba berkabut. Pemandangan di depan sungguh menyakitkan. Henry dengan posessiv memeluk mesra wanita itu di ruang kerja kantornya.


Seolah menyadari kehadiranku, Henry menoleh ke arah pintu, tempat aku sedang berdiri mematung.


"Ken?" Ia tampak kaget.


Pegangan tanganku pada kotak bekal untuknya terlepas. Kotak bekal berisi makan siang hasil masakanku, yang sengaja kubuat untuk Henry terhempas ke lantai. Isinya pun berhamburan. Wanita di pelukan Henry kini ikut menoleh ke arahku. Dia ... Agnes. Wanita yang suka pada Henry.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku tercekat.


"Aku ... maafkan aku, Ken." Henry tak jua melepas pegangannya pada wanita itu.


"Jelaskan padaku, Hen! Apa ini?"


"Aku dan dia ...." Henry berhenti sejenak. "Aku akan bertanggung jawab padanya."


Bola mataku membulat. "Maksud kamu?"


"Niken ...." Agnes, wanita cantik itu melangkah mendekatiku. "Apa kabar kamu, isteri mandul?"


Apa? Isteri mandul dia bilang?


"Sebentar lagi aku akan memberikan keturunan untuk Henry. Henry akan menikahi aku. Karena sekarang aku telah mengandung anaknya. Terserah kamu mau terima atau tidak. Henry sangat menginginkan keturunan. Sedangkan kamu ...." Dia mencibir padaku. "Sampai saat ini kamu tidak mampu memenuhi keinginannya."


Pandanganku beralih pada Henry.


"Benarkah yang Agnes katakan?"

__ADS_1


Henry mengangguk pelan. "Maafkan aku, Ken," ucapnya tanpa wajah bersalah.


Tubuhku terasa lemas. Semudah itu cinta Henry padaku menguap.


"Tidaaaak. Huuuhuhu. Kamu jahat, Hen! Kamu jahat! Huuuhuhuu. Cuma segini kekuatan cintamu? Dasar pengkhianat! Huuuhuhuhu ...." Aku terus memakinya dengan tersedu.


Aku kemudian berbalik ke arah pintu. Berlari meninggalkan kedua orang itu.


Henry ... aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini padaku. Begitu mudah kamu mencampakkan aku. Kita baru saja menikah. Tidak bisakah kau bersabar lebih lama lagi menungguku bisa memberikan keturunan untukmu. Kenapa harus ada wanita lain? Kenapa?


Kedua kakiku berlari keluar dari ruangannya. Air mata terus melesak berjatuhan tanpa bisa kutahan. Hatiku nyeri bagai ditusuki ribuan jarum. Tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang di luar padaku.


Terseok-seok kuturuni anak tangga. Pandangan kabur oleh air mata. Tanpa sengaja kakiku tersandung. Tubuhku tersungkur kemudian jatuh berguling tak terkendali. Rasanya sakit dan ngilu.


"Aaaakh!! Henryyy!!" Masih kusebut namanya.


"Astaga ... kamu demam, Sayang!" Kurasakan telapak tangan menyentuh dahi.


"Huuuuhuhuu." Hatiku masih merasa kesal. "Henry kamu jahat! Aku benci kamu, Hen!"


"Niken sayang, kamu demam. Sepertinya kamu kecapean. Aku mau telpon dokter dulu."


"Kamu nyebelin. Uhuk ... uhuk!"


"Kenapa? Kamu mimpi buruk, hmm? Kasian banget isteriku."


Mataku terasa panas, hidung berair. Tenggorokan kering.


"Minum obat pereda demam dulu, Yang!" Henry menarik punggungku sehingga bersandar di depannya.


"Palaku pusing."


"Buka mulutnya!" Henry memasukkan sebiji tablet ke dalam mulutku, lalu menyodorkan gelas berisi air.


"Kamu jahat! Kenapa kamu tega sama aku?" Mulutku masih saja meracau.


Henry mengecup lembut keningku. Kutatap lekat wajah manis itu. Mulai menyadari kalau yang kualami tadi hanyalah mimpi. Mimpi yang mampu menguras energi dan emosiku.


Tak berapa lama kemudian ada sebuah ketukan di pintu. Pelayan hotel datang membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaanku. Menurut dokter itu aku hanya perlu istirahat karena kecapekan dan butuh menyesuaikan diri dengan cuaca yang ada di situ.


***


"Kamu dengarkan tadi apa kata dokter itu? Jadi beberapa hari ke depan kita istirahat saja dulu di hotel. Gak kemana-mana. Sampai kamu benar-benar pulih," Henry mengusap-usap pucuk kepalaku.


Aku mengangguk lemah.


"Gak papa, Sayang. Jadinya kita malas-malasan aja di kamar. Sekarang makan bubur dulu, yuk!" Henry meraih mangkuk yang ada di atas meja makan.


Pria itu menyendok bubur, mencobanya sedikit lalu menyodorkan ke mulutku. Aku membuka mulut sambil terus mengamati wajah bersih itu. Jadi teringat saat aku disuapinya makan pertama, bangun dari koma.


"Ngomong-ngomong tadi kamu mimpi apa? Kok kayaknya sebel banget sama aku?" tanyanya.


"Mimpi buruk," jawabku serak.


"Kalau mimpi buruk berarti gak usah diceritakan. Ucap taawuz lalu meludah ke kiri tiga kali. Biar setan gak bisa bisikin hati."


"Begitu?" tanyaku termangu. Padahal aku pengen cerita sama Henry. Sampai sekarang hatiku masih sakit mengingatnya.


"Rosul kan mengajarinya begitu, Sayang."


Ooh ... baiklah. Aku patuh. Kuucapkan pelan taawuz lalu meludah kecil ke arah kiri tiga kali. Semoga setan tidak bisa masuk lagi ke mimpiku.


Hhh ... acara jalan-jalan kami jadi tertunda karena aku. Sepertinya tubuhku kesulitan menyesuaikan diri dengan cuaca di sini. Padahal aku sangat penasaran ingin melihat salju. Apa aku tidak berbakat jadi orang kaya?


Mulutku menikmati bubur yang terus masuk ke mulut. Sedang mataku terus lekat pada wajah Henry. Dia begitu sabar menghadapiku.


****


"Liat saljunya di sini dulu!" Henry menyodorkan layar gawainya yang memperlihatkan video salju yang berguguran. Aku tertawa kecil memegangi benda persegi itu.


Tangan Henry menyusup masuk ke punggungku yang ada dalam selimut tebal. Jari-jari itu mulai memijat punggungku dengan minyak telon. Rasa linu di punggung menjadi lebih nyaman. Aku merasa lebih baik sekarang.


Tampaknya cuaca di luar bertambah dingin. Kami berdua akhirnya tertidur lagi siang itu. Mirip hewan salju yang sedang hibernasi. Acara bulan madu kami mungkin lebih banyak dihabiskan di kamar hotel.

__ADS_1


__ADS_2