
Minggu kedua Dea bekerja di perusahaan asuransi itu ia mulai merasa banyak mendapat tekanan. Baik dari segi fisik maupun pisikisnya. Tadi pagi saat ia baru datang, Tika langsung menyuruhnya membeli sarapan. Padahal di kantor itu sudah ada OB yang bertugas. Dea tidak bisa membantah, bagaimana pun ia masih baru bekerja disana.
"Ini kak pesanan kak Tika," Dea menyodorkan sebungkus lotek kehadapan Tika.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Tika mengambil dan berlalu ke pantry. Dea hanya bisa membuang nafas kasar, entah apa yang membuat Tika begitu tak menyukainya.
Dean yang baru datang melihat Dea tengah duduk melamun di kursi kerjanya. Pria itu menghampiri Dea.
" Baaaa,,," Dean mengejutkan Dea. Gadis itu tersentak kaget, ia mendengus kesal dan memukul lengan Dean.
"Apaan sih,"sunggut Dea.
" Kamu itu pagi - pagi udah melamun," Dean bersidekap sambil bersandar ke meja.
Dea menghela nafas pelan, wajahnya tampak murung seketika.
" Kenapa semua tidak berjalan dengan mudah, selalu saja ada cobaannya," keluh Dea mulai curhat.
Dean mengusap dagunya. Ia tersenyum samar.
"Kalau semua berjalan mulus, kita tidak tau bagaimana rasa perjuangan." Dean mencoba menghibur Dea, meskipun ia tidak tau apa yang membuat gadis itu murung se pagi ini.
" Aku itu sudah lelah berjuang, tapi tetap saja takdir selalu mempermainkanku," Dea menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Sudut hati Dean yang paling dalam terasa berdenyut, entah kenapa ia merasa berempati pada Dea. Tapi bukan rasa empati sebagai sesama manusia, ada perasaan lain yang ia rasakan. Namun Dean tidak tau perasaan apa itu. Tangannya terulur untuk menyentuh kepala Dea, namun ketika tangan itu hampir menyentuh pucuk kepala Dea, Dean menarik tangannya kembali. Ia lebih memilih menepuk pelan pundak gadis itu.
" Kamu udah sarapan,?" tanya Dean.
Dea balas mengangguk tanpa suara. Dean melirik jam tanngannya, sudah saatnya mereka keluar untuk mulai bekerja.
" Udah nggak usah murung, semangat dong. Kita jalan sekarang aja, mudah - mudahan hari ini dapat banyak custumer biar dapat bonus," ucap Dean.
Dea menganggak kepalanya.
" Baiklah, tapi aku mau ke toilet dulu."
" Oke, aku tunggu di luar aja ya,"
Dean beranjak pergi, sementara Dea ke toilet lebih dulu. Selesai buang air kecil, mendadak perut Dea menjadi mules. Ia kembali masuk ke dalam bilik closet.
Saat sedang berjuang mengeluarkan sampah dari dalam usus besarnya tiba - tiba Dea mendengar langkah orang memasuki Toilet.
"Eh, aku perhatiin kamu kok galak amat ya sama anak baru itu,"
__ADS_1
" Siapa ,Dea,?"
Dea terkesiap mendengar suara Tika dan Sari mengobrol diluar. Sesuatu yang hampir nonggol di jalannya mendadak surut saat Dea mendengar namanya disebut. Seketika mulesnya jadi hilang, Dea menelan kasar ludahnya.
" Iya, aku sering lihat kamu bentak dia dan nyuruh - nyuruh,"
" Nggak tau, aku kurang srek aja ma tu anak. Yang bikin aku heran, kenapa dia bisa diterima kerja di sini, padahal dia itu lulusan SMA, mana nilainya jelek lagi," ucap Tika tanpa tau orang yang sedang ia bicarakan mendengarnya.
" Kamu tau darimana dia lulusan SMA,?"
" Kemarin aku nggak sengaja melihat berkas lamarannya di ruangan penyimpanan file,"
" Pantas aja tampangnya masih muda, tapi Mas Andra juga lulusan SMA loh,"
" Iya, tapi kan Mas Andra itu pintar, sekarang aja ia ambil kuliah di UT,"
Dada Dea bergemuruh, mungkin ini bukan pertama kalinya ia mendengar orang membicarakannya. Tapi tetap saja ia belum terbiasa. Dea menekan tombol air, lalu kembali membetulkan celananya.
Tika dan Sari saling pandang, mereka pikir hanya mereka berdua yanga ada di toilet. Wajah Tika berubah merah padam, saat Dea muncul dari balik pintu closet.
Dea melempar senyum kaku, kemudian berlalu keluar dari sana dengan perasaan tak karuan.
" Duh, gimana nih," ucap Sari merasa tak enak.
" Biarin aja, toh kita bicara fakta," balas Tika menyembunyikan perasaan cemasnya. Ia takut kalau nanti Dea akan mengadu pada pak Bagas.
" Ayo pergi," Dea langsung naik ke atas motor Dean.
Tanpa banyak tanya Dean mulai menghidupkan motornya.
Setelah melaju menjauh dari gedung kantor, Dean tiba - tiba menepikan motornya di sebuah taman.
" Kok berhenti disini,?" tanya Dea datar.
" Turun dulu," perintah Dean.
Tak mau berdebat, Dea segera turun. Dean juga turun dan melangkah menuju salah satu kursi taman.
" Duduk dulu disini," Dean melambaikan tangannya.
Dea mendekat dan ikut duduk. Ia semakin tidak mengerti dengan sikap Dean.
" Silahkan mulai menangis," ucap Dean.
__ADS_1
Dea mendelik dan menoleh pada Dean.
" Dari tadi kamu berusaha menahan air mata kamu kan,? Aku tidak tau apa yang membuat kamu sedih, tapi akan lebih menyakitkan bila ditahan, jadi keluarkan saja. Aku akan menunggumu sampai selesai,"
Dea tertegun. Dia tidak menyangka Dean akan berkata seperti itu padanya. Mata Dea kembali berkaca - kaca.
Dea segera bangkit dari duduknya, ia sedikit menjauh supaya Dea tidak merasa malu untuk menangis di dekatnya. Ia berdiri memunggungi Dea. Tak lama telinga Dean mulai mendengar isak tangis Dea. Dean sedikit memutar kepalanya untuk melirik Dea.
Gadis itu menangis sesugukan. Dean membuang nafas berat, ia tidak tega melihat Dea menangis seperti itu tapi ia lebih tak tega saat Dea berusaha menahan tangisnya. Dean merogoh sapu tangan dari sakunya, ia berbalik dan mendekati Dea.
Dea tidak sadar kalau ia sudah menangis sampai sesugukan, ia benar - benar mengeluarkan semua sesak di dada lewat air matanya. Tangisnya sedikit terhenti saat Dean menyerahkan sapu tangan padanya.
Tanpa berkata ia mengambil sapu tangan itu dan mengelap air matanya. Tak hanya itu Dea juga membuang ingusnya di sapu tangan Dean.
" Ih ,jorok sekali," gumam Dean menatap jijik sapu tangannya.
Tidak ada lagi air matanya yang keluar. Dea merasa jauh lebih baik. Pikirannya jadi lebih rileks.
" Udah nangisnya,?" tanya Dean.
Dea mengerucutkan bibirnya sambil melayangkan tatapan kesal . Dean mengulas senyum, tanpa sadar ia mengelus pucuk kepala Dea.
" Maaf," ucap Dean sadar dengan sikapnya yang melewati batas.
Dea tidak begitu memperdulikan, justru ia merasa perasaanya tiba - tiba menghangat. Ia jadi teringat saat Dion sering melakukan itu padanya.
" Nih," Dea mengembalikan sapu tangan Dean.
Dean menatap jijik sapu tangan itu sambil mengedikan bahunya.
" Buat kamu aja, udah kena ingus kamu,"
Dea tertawa kecil, terbesit di kepalanya ingin mengerjai Dean. Dea terus menyodorkan sapu tangan itu pada Dean. Pria itu melangkah mundur sampai tubuhnya membentur batang pohon.
" Dea, " bentak Dean saat ia mulai tersudut.
Dea tertawa terpingkal. Melihat Dea tertawa, Dean menarik sudut bibirnya. Namun saat Dea kembali menatapnya ia langsung memasang wajah garang.
...----------------...
Tinggalkan jejak, like dan komentar. Supaya akunya semangat update,, jujurly aku mulai malas nih...
Lope 💓💓buat kalian yang sampai bab ini masih setia membaca cerita recehku...
__ADS_1
Mampir ke karya temanku juga ya..