Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
65. Kembali masuk Ruang BK


__ADS_3

DEA


Aku berjalan cepat meninggalkan kerumunan itu. Setelah sampai di ambang pintu kelas, aku menoleh ke belakang. Tidak ada tanda - tanda Dion akan mengejar atau menyusul ku. Mungkin dia masih sibuk dengan Tiara.


" Tu muka kenapa,? kusut amat," tanya Sarah saat aku sudah duduk di bangku.


Aku tidak menggubris dan memilih merebahkan kepala di atas meja.


" Galau lagi,?" tanya Sarah.


Aku membuang nafas berat, sesaat kemudian kembali ke posisi tegak. Aku melirik Sarah dengan tatapan memelas.


" Astaga Dea, kenapa lagi sih. Dion nggak suka sama kue buatan mu,?"


Aku menggeleng lemah.


" Terus kenapa, tau - tau jadi bete gitu. Padahal tadi girang banget,"


Sesaat aku kembali teringat bagaimana Dion yang begitu cemas melihat Tiara sampai mengabaikan ku. Sarah menyentuh lenganku membuatku terkesiap. 


" Ih, ditanya kok malah melamun, ada apa,?" 


" Hem, tadi saat aku dan Dion jalan mau ke kelas. Kami melihat ada kerumunan, pas dilihat eh taunya Tiara lagi nangis." Aku menjelaskan dengan malas.


" Tiara,? Nangis,? Kenapa,?"tanya Sarah keheranan.


Aku hanya mengedikkan bahu karena tidak tahu. Dan malas mencari tahu.


" Terus yang bikin kamu bete dimananya,?"


" Dion kelihatan cemas, terus nyamperin Tiara. Sampai nggak nyadar aku tinggalin." ujarku kesal.


" Ooo," Sarah membulatkan bibirnya." Jadi cemburu ceritanya,"


" Siapa yang cemburu," elakku.


" Itu namanya cemburu Dea," ujar Sarah terkekeh, aku balas melayangkan tatapan tajam padanya.


Sarah melipat bibirnya supaya tidak lagi tertawa. 


" Ah, palingan Tiara lagi drama aja, minta diperhatiin," ucap Sarah.


" Tau ah,, malas kalau udah ngomongin dia," aku menimpali. 


Sebenarnya aku penasaran kenapa Tiara menangis seperti itu, tidak mungkin hanya untuk menarik perhatian orang kan. Aku mencoba menerka - nerka di dalam hati apa jawabannya. Ketika aku kembali tenggelam dengan pikiranku, Sarah kembali menepuk lenganku.


" Dea,, akhir pekan ada festival lomba dayung perahu. Kita pergi lihat yuk," ajak Sarah antusias.


" Hem, gimana ya?" ucapku sembari memikirkannya.


" Ayolah, kapan lagi coba. Itung - itung buat ngilangin stres sebelum ujian. Ya… mau ya,?" Sarah mengedip - ngedipkan matanya.

__ADS_1


" Iya ...iya.." jawabku tak bersemangat. Karena aku memang tak tertarik. Entah apanya yang menarik dari festival itu, kecuali kalau aku bisa ikut naik perahu.


Sarah bersorak girang sembari memelukku. 


Tak lama berselang, guru mapel selanjutnya masuk ke kelas. 


Belum ada sepuluh menit proses belajar itu berjalan, tiba - tiba ada yang mengetuk pintu kelas.


" Iya, masuk" jawab guru menghentikan sejenak proses belajar.


Semua mata langsung tertuju ke pintu. Mataku terbelalak melihat Dion yang muncul dari balik pintu. Kenapa dia ke kelasku saat jam pelajaran,?.


" Ada apa,?" tanya guru.


" Maaf pak, saya mau memanggil Dea. Dia dipanggil ke ruang BK." 


Apa,? Aku dipanggil ke ruang BK. Untuk urusan apa lagi,? Semua mata yang semula menatap ke arah Dion kini beralih padaku. Membuatku menelan ludah.


" Kamu bermasalah lagi,?" bisik Sarah.


" Tidak,"


" Terus kenapa disuruh ke ruang BK,?"


Aku tidak menjawab, karena aku juga bingung kenapa aku dipanggil ke sana. Mataku menatap nanar Dion yang berdiri di ambang pintu.


" Dea, silahkan pergi," guru memberi izin.


" Terima Kasih pak, Maaf sudah mengganggu jam mengajarnya," ucap Dion kemudian menutup kembali pintu kelas.


" Ayo," Dion menarik tanganku.


" Tunggu dulu," kataku menahan langkah.


Dion berbalik dan menatapku, wajahnya terlihat tegang membuat perasaanku jadi tak enak.


" Kenapa aku harus ke ruang BK," tanyaku ingin tahu.


" Nanti kamu juga bakal tahu," jawab Dion kembali menarik tanganku.


Aku terpaksa mengikuti langkahnya dengan hati bertanya - tanya. Begitu sampai di depan pintu ruang BK, Dion menyuruhku untuk masuk lebih dulu. Aku menatap Dion lama, sebelum tanganku menekan handle pintu.


Di dalam ruangan itu tampak bu Yuna, pak Reza, dan Juga pak Yahya. Tapi yang membuatku terkejut disana ada Tiara. Matanya merah, wajahnya juga terlihat kusut. 


" Silahkan duduk," perintah bu Yuna. Aku mengangguk pelan dan duduk di samping Tiara. Sementara Dion hanya berdiri di samping sofa.


Bu Yuna tampak menghela nafas, kemudian ia menatap Tiara. Gadis itu tertunduk begitu bu Yuna melihat ke arahnya. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi.


" Tiara, cepat jelaskan pada Dea kenapa kamu ada disini," ujar Bu Yuna.


Aku melirik Tiara, ia meremas roknya. Tiara menoleh ke arahku, tatapan matanya penuh ketakutan.

__ADS_1


" De..Dea.." ia memanggil namaku dengan suara bergetar.


" Ya, " 


" Aku..aku minta maaf. Se..sebenarnya aku yang membuat kamu malu saat upacara kala itu," ujar Tiara.


Otakku mencerna kata - kata Tiara. Keningku berkerut memikirkan ucapannya. 


" Aku.. aku menyuruh gilang untuk mengerjai kamu. Aku minta maaf soal itu," 


Deg… Saat Tiara menyebut nama Gilang, barulah aku paham maksudnya. Tanganku terkepal geram. Jadi kecurigaanku padanya terbukti benar.


" Jadi, kamu juga yang menyuruh si Gilang itu melecehkan aku, ha," sentakku marah. 


Tiara menggeleng, kali ini ia tertunduk tak berani menatapku.


" Bukan aku, aku tidak tau soal itu. Aku berani sumpah,"


Aku beralih menatap para guru yang dari tadi belum buka suara.


" Karena kasus ini sudah berbuntut panjang, maka kami akan menyerahkannya kepada polisi. Ini tidak bisa ditangani oleh sekolah lagi. Karena sudah ada dua orang yang menjadi korban." ujar pak Yahya.


" Dua korban bagaimana pak,?" tanyaku tak paham.


" Gilang mengancam, memeras dan meneror Tiara. Jadi kami memutuskan untuk melaporkan kasus ini pada polisi," Bu Yuna menimpali.


Jadi itu alasan dia tadi menangis. Aku beralih menatap Dion. Apa Dion sudah tahu masalah Tiara, itu sebabnya tadi ia begitu cemas.


" Jadi, jika nanti polisi datang ke sekolah meminta keterangan dari kalian, tolong jelaskan tanpa ada yang ditutupi," lanjut Bu Yuna.


" Nanti ,saya minta kalian jangan pulang dulu karena polisi akan datang siang ini juga.," ucap Pak Yahya.


Setelah menjelaskan beberapa hal kami pun disuruh kembali ke kelas. Suasana mendadak canggung saat kami bertiga sudah berada di luar. 


Dion yang paling terlihat canggung. Tiara hanya tertunduk. Sementara aku tak tahu akan berkata apa lagi. Semuanya benar - benar mengejutkan.


Karena tak ada yang mau bicara duluan, aku pun memilih untuk pergi. 


" Dea," Tiara memanggilku. Aku menghentikan langkah. 


" Apa kamu mau memaafkan aku,?" 


Aku tersenyum miring mendengar Tiara menyebut aku pada dirinya.


" Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Aku akan mencoba melupakan itu dan memaafkanmu," ucapku tanpa berbalik. 


Kemudian aku mengambil langkah panjang untuk kembali ke kelas. Tiara mungkin sudah sangat keterlaluan, tapi karena dia sudah meminta maaf dan mengakui perbuatannya tidak ada salahnya aku berlapang hati memaafkannya. 


Terus kalau Tiara tidak terlibat dalam kasus pelecehan itu, lalu siapa,? Siapa yang tega melakukan itu padaku,?.


...----------------...

__ADS_1


Tinggalkan jejak, like dan komentar ya..


__ADS_2