Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
63. Karena Sebuah Alasan


__ADS_3

Uhuk..uhuk..uhuk…


Aku menepuk - nepuk dada. Dea menuangkan air minum ke gelas dan mengangsurkannya ke depanku.


" Minum dulu,"


Aku meraih gelas itu dan segera meminumnya. Perlahan rasa tak nyaman itu mulai menghilang. Dea menatapku dengan raut wajah cemas.


" Aku baik, baik saja. Lanjutkan saja makannya," ucapku.


" Beneran udah nggak apa - apa,?" tanya Dea.


" Hem," 


Aku melempar senyum tipis. Dea kembali menekuri makanannya. Perasaanku mendadak tak karuan. Apa Dea sudah tahu kalau aku tadi ke rumah Tiara, dan sekarang sedang mengujiku. Entahlah.


" Kok cuma diliatin, "


Aku tersentak," Hah, iya. Ini mau makan lagi," ujarku gugup.


Tidak ada lagi percakapan hingga kami selesai makan. 


" Aku mau langsung pulang aja," ucap Dea ketika kami keluar dari warung pecel.


" Ok, aku antar pulang ya," 


" Nggak usah, aku naik taksi aja," tolak Dea.


" Sama aku aja, aku ambil motor sebentar. Kamu tunggu di sini," kataku. Karena tadi kami kesini jalan kaki.


Dea menahan lenganku ,seraya menggeleng kepalanya. 


" Aku pulang sendiri aja," 


Saat bersamaan, sebuah taksi tampak dari kejauhan. Dea langsung melambaikan tangannya.


" Makasih ya makan siangnya," ucap Dea sebelum menaiki taksi. 


Aku hanya balas tersenyum. Lalu melambaikan tangan. 


" Kenapa Dea mendadak aneh begitu," gumamku.


Sudahlah, aku rasa perasaanku saja. Setelah taksi yang ditumpangi Dea hilang dari jangkauan mataku ,aku pun kembali ke rumah.


Keesokan harinya.


Baru saja aku selesai memarkir motorku, aku melihat mobil Tiara masuk ke parkiran. Aku sengaja menunggunya turun dari mobil. Begitu melihatku ,wajah Tiara langsung berubah keruh. Tidak seperti biasa yang tersenyum centil begitu bertemu denganku.


" Aku pikir kau masih tidak masuk hari ini," ucapku memulai percakapan.


Tiara tersenyum canggung. 


" Aku.. aku akan melakukan seperti katamu. Tapi…" 


" Tapi kenapa lagi Tiara,?" ucapku mulai jengah.


" Jangan hari ini, ya" ucap Tiara memelas.


" Lalu kapan, tunggu kita lulus dulu baru kamu mau bicara," 

__ADS_1


Tiara menggeleng kencang, " Bukan itu maksudku. Hari ini hari ulang tahunku, biarkan hari ini aku bersenang - senang dengan teman - temanku sebelum mereka semua membenciku," 


Aku tertegun, aku tidak ingat sama sekali kalau hari ini ulang tahun Tiara meskipun dulu kami selalu merayakannya bersama. 


" Baiklah," jawabku.


" Besok, aku janji besok akan mengatakan semuanya." Tiara membentuk huruf V dengan jarinya.


Aku mengangguk. Tiara mengulas senyum kemudian berlalu.


" Tiara," aku setengah berlari menyusulnya.


" Ya," Tiara berbalik.


Aku menatapnya sejenak, lalu mengulurkan tanganku. 


" Happy Birthday," ucapku tulus.


Tiara tertegun, matanya tampak berkaca - kaca, lalu kemudian menyambut tanganku.


" Makasih ,Dion. Aku pikir kamu tidak peduli lagi denganku," 


" Bagaimanapun kita tetaplah teman," balasku.


Tiara tersenyum getir. Ia menghapus buliran bening yang tiba - tiba saja lolos dari pelupuk matanya. 


" Teman,? Tiara tertawa sumbang." Sepertinya aku akan selalu ada di friendzone kamu," 


" Semoga harimu menyenangkan," ucapku tidak ingin membahas hal yang tidak penting.  


Aku mengambil langkah panjang meninggalkan Tiara. Kalau saja Tiara tidak melakukan kesalahan, mungkin aku akan memberinya kado. Semoga saja ia menepati janjinya. 


***


Kelas yang tadinya tenang, mendadak riuh. Suara bel seperti penyelamat bagi mereka yang jenuh belajar di kelas. Semuanya mulai berhamburan keluar kelas.


Aku melihat ketua kelas tengah membawa buku tugas untuk diantar ke ruang guru.


" Biar gue saja yang antar," ucapku mengambil alih tumpukan buku di tangannya.


" Serius nih, makasih ya," jawabnya tidak menolak.


" Ya, sama - sama,"


Aku melenggang membawa tumpukan buku itu ke ruang guru. Aku mau melakukan ini bukan sekedar ingin berbuat baik, tapi aku ada tujuan lain. Aku ingin bertemu Pak Reza. Ingin menanyakan masalah kasus video itu yang sepertinya belum ditindaklanjuti.


Begitu sampai di ruang guru, mataku langsung tertuju pada meja pak Reza. Tapi sayangnya beliau tidak ada disana.


" Pak, apa bapak melihat pak Reza,?" tanyaku pada guru biologi yang baru saja selesai mengajar di kelasku tadi.


Matanya menyipit melihatku.


" Kamu anak IPA, ngapain nyari pak Reza. Bukannya guru bahasa indonesia kalian kan Bu Salimah." tutur guru itu.


" Ada perlu pak," jawabku.


" Oh, mungkin masih di kelas," 


Aku mengangguk, perlahan aku beringsut keluar dari ruang guru. Saat mau ke kantin ,aku melihat pak Reza berjalan  tergesa - gesa menuju perpus.

__ADS_1


" Pak Reza," teriakku memanggilnya.


Pak Reza tidak menoleh, terpaksa aku berlari menyusulnya sampai ke dalam perpustakaan.


Aku celingukan mencarinya. Aku bernafas lega begitu melihat pak Reza berdiri di depan rak buku sastra. 


Aku pun mendekat.


" Pak," 


Pak Reza terkejut melihatku. Sejenak ia terdiam.


" Oh, kamu. Ada apa,?" 


" Bisa kita bicara sebentar, pak,"


" Hem, " ia berpikir sejenak." Sebenarnya saya sedang sibuk, tapi kalau itu sangat penting baiklah, kita bicara disini saja," ucapnya kemudian.


Pak Reza menuju salah satu meja setelah mengambil beberapa buku sastra. Aku menyusul dan duduk berseberangan dengannya.


" Ada apa,?"tanyanya sambil membuka salah satu buku.


" Hem, saya mau menanyakan tentang masalah video itu pak. Apa sudah ada perkembangannya," tanyaku hati - hati. 


Tangan pak Reza yang sedang membalik halaman buku terhenti. Ia menatapku kemudian menutup buku itu. Menumpukan kedua sikunya di atas meja dengan jari bertaut.


" Dion," 


" Iya pak," mendadak aku jadi gugup. Entah kenapa aura pak Reza berbeda dari biasanya.


" Lebih baik kamu fokus saja untuk belajar, masalah itu biar kami para guru yang menangani," jawab pak Reza.


" Tapi pak,"


Pak Reza menghela nafas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.


" Saya paham dengan kekhawatiran kamu. Saya pun begitu. Bagaimanapun saya wali kelas Dea. Saya juga ingin kasus itu secepatnya dituntaskan. Tapi mau gimana lagi, sekarang guru - guru sedang sibuk. Kamu tau kan sebentar lagi ujian kenaikan kelas, dan juga kelulusan kelas 12," ujar Pak Reza.


Aku mengepalkan tanganku di bawah meja. Apa pihak sekolah akan mengabaikan saja kasus itu dengan berdalih sedang sibuk.


" Saya mengerti pak, tapi bagaimana kalau kasus itu diserahkan saja pada polisi, biar polisi yang menangani," ujarku memberi saran.


" Tidak semudah itu Dion. Kalau kasus ini dibawa ke polisi, akan jadi lebih rumit lagi. Polisi akan datang ke sekolah dan mengintrogasi siapa saja yang mungkin terlibat dan itu akan mengganggu proses belajar. Dan kalau kasus ini sampai bocor ke media akan berimbas pada sekolah kita. Nama baik sekolah kita dipertaruhkan," 


Aku tersenyum getir. Nama baik sekolah,? Lalu bagaimana dengan nama baik Dea,? Meskipun orang - orang sudah tahu cerita sebenarnya, tapi tidak semua orang akan percaya begitu saja. 


" Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya akan melanjutkan pekerjaan saya," ucap Pak Reza seraya bangkit dari duduknya.


Aku bergeming, membuang pandangan ke arah lain.  Baiklah, kalau begitu besok aku pastikan Tiara mengaku di depan guru BK. Kalau sudah begitu bagaimana sekolah akan mengabaikannya lagi.


Di tengah kemelut pikiranku, ponselku bergetar. Aku merogoh saku untuk mengeceknya.


Senyum terukir di wajahku, begitu melihat pesan masuk dari Dea.


📩Kamu dimana,? Aku tunggu di taman belakang ya aku punya sesuatu buat kamu.


📩Ok sweety, otw ke sana,😘.


Suasana hatiku kembali terkendali. Aku pikir Dea marah karena kejadian aku tidak masuk sekolah kemarin, ternyata itu hanya perasaanku saja. 

__ADS_1


Aku bergegas menuju taman. Begitu sampai di sana, aku melihat Dea sedang tersenyum memandangi sesuatu di tangannya. Karena penasaran aku mendekatinya.


Bersambung...


__ADS_2