Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 92


__ADS_3

Dion yang sedang memikirkan alasan untuk menutupi hubungannya dengan pak Bagas tersentak, mendengar pak Bagas memberi tau Dea kebenarannya lebih dulu. Dion menelan kasar ludahnya. Tamatlah riwayatnya, sudah dipastikan Dea akan marah padanya.


" Dea, aku bisa jelaskan," Ia menatap Dea dengan wajah pias.


Sementara Dea, ia hanya diam membeku. Dia tak menyangka hubungan keduanya begitu dekat. Selama ini ia tak pernah berpikir kesana, dan mengira itu sebuah keberuntungannya semata. Tapi nyatanya kesialan itu tak bisa dipisahkan dari hidupnya. 


" Lanjutkan makan kalian, maaf sudah mengganggu,"


Dea berusaha tak menunjukan kemarahannya, ia tetap tersenyum meski sangat dipaksakan.


Dea kembali ke mejanya, dan mengajak Dean untuk segera pergi. 


"Tapi makanan kita belum habis," ucap Dean keheranan. 


"Ya sudah, aku akan duluan,"


Dean terpaksa menghentikan makannya dan memanggil pelayan untuk membayar. Dea lebih dulu keluar dari restoran.


Saat Dean akan keluar dari restoran menyusul Dea, ia berpapasan dengan Dion yang sedang mengejar Dea.


Mereka saling melempar tatapan dingin tanpa berkata apa pun.


" Kenapa ada dia disini,?" benak Dean. 


Dion melangkah lebih dulu keluar restoran, mengacuhkan Dean.


" Dea," Teriak Dion, namun gadis itu tak mengindahkan panggilannya. Hingga akhirnya Dion berhasil meraih pergelangan tangan Dea.


" Aku akan jelaskan,"


Dea menarik kasar tanganya. Ia bahkan tak mau memandang wajah pacarnya itu.


" Tidak ada yang perlu kamu jelaskan," sembur Dea.


" Aku melakukan itu hanya untuk menolong kamu," 


Dea tersenyum sinis. 


"Menolongku,? Apa membuatku tampak bodoh dimata orang itu disebut menolong,?" Dada Dea naik turun menahan amarahnya. Ia menarik nafas sebelum melanjutkan kata - katanya.


"Bahkan karena ulahmu itu, orang lain harus kehilangan kesempatannya. Apa kau tau, betapa aku kesulitan selama ini di tempat kerja. Mengerjakan semua yang diluar batas kemampuanku, aku selalu dicela direndahkan oleh karyawan lain. Seharusnya kamu memikirkan itu. Aku pikir  semua itu karena keberuntunganku semata bisa bekerja disana hanya bermodal ijazah SMA, tapi nyatanya,_" 


Bibir Dea bergetar, ia tak mampu lagi melanjutkan kata - katanya.

__ADS_1


Semburat kemerahan di mata Dea tampak akan memuntahkan lahar beningnya. Dea mengerjapkan matanya agar air matanya tak tumpah. 


Dean yang tak tau apa permasalahanya diam membeku di tempatnya melihat sepasang kekasih itu bertengkar. Ia bingung akan bagaimana, pergi diam - diam atau menunggu mereka selesai berdebat. Bagaimana pun tadi ia pergi bersama Dea.


" Aku minta maaf," lirih Dion. Dion berusaha meraih tangan Dea, tapi ditepis oleh gadis itu.


Dean berdehem keras. Sontak pasangan kekasih itu menoleh padanya. Ia tersenyum kaku sambil mengusap tengkuknya.


" Dean, ayo pergi," Dea melangkah mendekati Dean dan menarik tangan pria itu ke parkiran motor.


Hati Dion memanas, melihat Dea menyentuh pria lain di depan matanya. Tak terima, Dion mengejar Dea dan menarik tangan Dea untuk menjauh dari Dean.


"Aku minta maaf, tapi jangan seperti ini," Dion memohon.


Dea kembali menarik tangannya, dan segera naik ke atas motor Dean. Dea meminta Dean untuk segera meninggalkan tempat itu. 


Tak ada yang bisa dilakukan Dion lagi, selain membiarkan Dea pergi. Ia mengusap kasar wajahnya. 


***


"Apa yang terjadi,?"tanya Dean begitu mereka sampai di kantor.


" Aku akan mengundurkan diri," 


" Iya, tapi kenapa,?" Dean mengikuti kemana langkah Dea. 


Dea tak menjawab, ia menuju meja kerjanya dan langsung menulis surat pengunduran diri. Tak ada yang perlu dipikirkannya lagi, keputusannya sudah bulat. Tidak seharusnya ia ada disini, semua karena Dion yang meminta pak Bagas menerimanya. 


" Dea, tolong jelaskan. Ada apa sebenarnya," Dean menekan tombol power pada monitor menghalangi Dea yang sedang menulis surat pengunduran dirinya.


Dea memejamkan matanya sesaat, meredam emosinya yang hampir membuncah. Ia lalu menceritakan secara ringkas pada Dean.


" Jadi karena itu kalian bertengkar tadi, tapi haruskah kamu berhenti karena itu,?" Ada perasaan tak rela di hati Dean, jika Dea harus berhenti.


" Harus, karena tempatku bukan disini," jawab Dea tegas.


Melihat keseriusan Dea, Dean tak bisa berbuat apa - apa lagi. Dia tidak punya hak untuk melarang Dea melakukan apa yang gadis itu mau.


Saat pak Bagas kembali ke kantor, Dea langsung menyerahkan surat pengunduran dirinya. Pak Bagas cukup terkejut, ia pikir Dea tidak akan melakukan itu. Tapi ia juga tak bisa menutupi selamanya tentang hubungannya dengan Dion. Toh, lambat laun Dea pasti akan tau juga.


"Dion memang meminta saya untuk menerima kamu bekerja disini, tapi saya menerima kamu bukan semata karena dia yang meminta. Tapi karena saya menyukai kegigihan kamu dan saya yakin kamu pasti bisa jika kamu terus belajar. Tolong pertimbangkan lagi keputusanmu untuk berhenti," 


" Maaf pak, saya sangat berterima kasih karena telah mempekerjakan saya. Tapi ini memang bukan bidang saya," Dea tertunduk menatap jari tangannya. 

__ADS_1


" Baiklah, jika itu mau kamu. Tapi jangan terlalu menyalahkan Dion," 


Dea mengulas senyum sebagai jawaban. 


Karena tidak ada hal yang perlu dibicarakannya lagi ,Dea pamit pergi.


Sebenarnya Dea ingin pergi begitu saja tanpa pamit pada semua orang, tapi mengingat bagaimana Tika yang salah paham dan membencinya Dea memutuskan untuk pamit pada Tika. Dea menjelaskan pada Tika apa yang sebenarnya terjadi. 


"Sampaikan maaf saya pada adiknya kak Tika, karena saya dia jadi kehilangan kesempatannya untuk bekerja disini," pungkas Dea.


Tika termangu, ia tak tau akan berkata apa. Disatu sisi ia merasa menyesal dengan perlakuannya pada Dea, tapi ia enggan untuk meminta maaf. 


***


Kini Dea kembali menyandang status pengangguran. Tapi itu dirasa lebih baik daripada dia bertahan disana seperti orang bodoh. Berkali - kali ponselnya berdering tapi diabaikan. Karena ia tau pasti Dion yang meneleponnya. 


"Sekarang aku harus bagaimana,?"


Kakinya terasa berat untuk melangkah. Entah kemana arah dan tujuannya sekarang. Dea menyusuri jalanan kota tanpa arah yang jelas. Ia terus berjalan sampai ia merasa lelah dan berhenti di sebuah taman. Mendudukan dirinya di bangku melepas kepenatan yang mendera.


Secepat itu Tuhan memutar balikan keadaan. Tadi pagi ia begitu bersemangat, dan berusaha menerima kenyataan, tapi siapa sangka ,hari ini justru hari terakhirnya bekerja disana. 


"Apa aku pulang kampung saja,?"


Matahari sudah kembali ke peraduannya. Tapi gadis malang itu masih duduk seorang diri di taman memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Bergelut dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya ia membuang nafas berat dan bangkit dari duduknya. Kembali melangkah untuk pulang ke kosannya karena malam semakin merangkak naik.


Sebelumnya Dea membeli makanan untuk di bawa pulang, seberat apapun masalah hidupnya. Perutnya tetap saja harus diisi.


Sampai di kost ia merebahkan tubuhnya di kasur. Dea memegangi perutnya yang terasa perih. Ia bangkit dan melirik kantong plastik di atas meja. Perutnya minta diisi, tapi ia terlalu malas untuk makan sendiri. 


Dea menyambar kantong plastik itu, dan keluar dari kamarnya. Dilihatnya pintu kamar sebelah tertutup rapat. Niatnya ingin mengajak Tari, teman sebelah kamarnya itu untuk makan bersama.


Perlahan Dea mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam. Lampu kamar itu menyala tanda penghuninya ada di dalam. 


" Kaka Tari, udah tidur,? Aku bawa makanan nih, makan bareng yuk,!" Serunya di depan pintu sambil terus mengetuk. 


Tapi diempunya tak membukakan pintu. Dea mencoba menekan handle pintu, dan ternyata tak dikunci. Ia membuka pintu itu sedikit dan menyembulkan kepalanya. Ia melihat Tari tampak tidur di atas ranjangnya dengan posisi telungkup. Kamar wanita itu terlihat berantakan. Di lantai tampak obat berserakan.


" Kak Tari,?" Dea kembali memanggil nama wanita itu. Tiba - tiba perasaannya tak enak. Dengan ragu Dea mendekat ke tempat tidur.


Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


Kalau masih suka dengan ceritanya, tinggalkan jejak.


__ADS_2