Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 76


__ADS_3

Dion menatap dalam netra mata Dea, kemudian ia mengecup kening gadis itu dengan sayang. Dea memejamkan matanya meresapi perasaananya yang tiba - tiba membuncah. 


Dea pikir Dion akan melakukan lebih dari sekedar mengecup keningnya, nyatanya laki - laki itu menjatuhkan tangannya yang tadi meraup kedua belah pipi Dea.


"Aku pulang dulu, kalau ada apa - apa hubungi aku," Dion mengusap lembut pipi Dea dengan ibu jarinya.


Gadis itu membalas dengan anggukan kepala. Mulutnya tak mampu lagi berucap. Dion menampilkan senyum terbaiknya sebelum meninggalkan kamar itu.


Dea masih berdiri mematung menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Ia menyesali tindakan gegabahnya. Bagaimana jika tidak ada Dion. Apa yang akan terjadi pada dirinya?. Ia terlalu yakin semua akan berjalan sesuai rencana. Diterima kerja, lalu mendapatkan tempat tinggal dan memulai hidup baru di tempat asing ini. Kenyataannya ia tidak dapat kerja, dompet hilang, dan malah menyusahkan Dion.


Dea terduduk lemas di sisi tempat tidur. Haruskan dia pulang saja dengan muka tebal,? Bagaimana ia akan bertahan tanpa uang sepeser pun,?.


Malam semakin merangkak naik, namun mata Dea enggan terpejam. Jika bisa, ia berharap esok tak pernah datang. Tak satupun rencana yang terlintas di kepalanya. Dea berguling ke kiri dan ke kanan mencari posisi nyaman, namun itu sama sekali tak membantu. Ini bukan perkara tidur di tempat baru, tapi memang hatinya yang sedang nelangsa.


Sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Dea mendesah panjang, ia belum tidur barang sepicing pun. Gadis itu bangkit menuju ke kamar mandi. Membasahi wajahnya dengan air wudhu.


Dea mengeluarkan seperangkat alat sholat dari ranselnya. Ia mulai menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. 


Selesai sholat ia kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Perlahan kantuk itu datang. 


Belum lama ia tertidur, suara ketukan pintu kamarnya membuat gadis itu mengerjapkan mata. 


"Ya,"sahut Dea lemah.


Dea berjalan gontai menuju pintu, begitu pintu terbuka tampak Dion dengan senyum membingkai di wajahnya. Dion mengangkat tinggi sebuah kantong kresek di depan wajah Dea.


"Hai, selamat pagi,"sapa Dion hangat.


Dea menggeser tubuhnya memberi Dion jalan untuk masuk ke dalam kamar.


"Kok lemes, kamu sakit,?" Tangan Dion terulur menyentuh kening Dea.


"Aku baik - baik saja, semalam nggak bisa tidur,"


"Kenapa,? Kamu nggak nyaman dengan kamarnya,?"tanya Dion.


"Bukan," Dea menggeleng.


"Mungkin karena tidur di tempat baru,"jawab Dea.


Dion manggut - manggut. Ia lalu mengeluarkan isi kantong kresek yang dibawanya.


"Ayo kita sarapan, aku bawakan bubur ayam,"


Dion mengangsurkan kehadapan Dea sebungkus bubur ayam.

__ADS_1


"Terima kasih,"


Mereka mulai melahap bubur ayam masing - masing.


"Apa rencanamu setelah ini,?"tanya Dion disela makannya.


Dea menghela nafas panjang. Mendadak selera makannya jadi hilang. Ia meletakan sendoknya dan meneguk air mineral.


"Kenapa tidak dihabiskan,?"tanya Dion melihat Dea yang menyudahi makannya.


"Aku sudah kenyang,"


Keheningan panjang terjadi. Dion melanjutkan makannya, sementara Dea tenggelam dengan pikirannya.


"Mungkin aku akan pulang saja,"ucap Dea tiba - tiba.


"Pulang,? Bukannya kamu akan mencari kerja disini,?" sahut Dion.


Dea tersenyum getir. Ia menggeleng lemah diiringi helaan nafas keputusasaan. Dion memutar badannya menghadap pada Dea, mencengkram bahu gadis itu.


"Dea yang aku kenal, bukan gadis yang mudah putus asa seperti ini. Kemana perginya Dea yang pantang menyerah dan kuat," ucap Dion.


"Aku harus bagaimana, uang sepeser pun aku tak punya. Bagaimana aku akan hidup disini dengan keadaan seperti ini, yang ada aku hanya akan menyusahkanmu lagi,"


"Kamu bisa memakai uangku berapapun yang kamu butuhkan, jika kamu merasa tidak enak hati, anggap saja aku meminjamkan uang padamu. Aku tegaskan kamu sama sekali tidak menyusahkan, justru aku senang kamu ada disini,"


"Baiklah, aku akan tetap disini," ucap Dea tanpa keraguan.


Dion tersenyum sumringah, sontak ia merengkuh tubuh Dea memeluknya erat.


***


Dea kembali mencoba melamar kerja di beberapa tempat yang direkomendasikan oleh Dion. Ia juga memperpanjang masa menginapnya di motel itu. Sudah hari ketiga Dea berada di kota itu tanpa tujuan yang jelas. Tiga lamaran yang diajukannya kemarin masih belum ada kabar. Entah berapa uang Dion yang ia habiskan, ia tak berani bertanya. 


"Sepertinya aku salah mengambil jalan," monolog Dea sambil memasukan baju - bajunya ke dalam ransel. 


Sudah cukup, ia tidak mau menyusahkan Dion lagi. Sudah waktunya ia pulang,meskipun tanpa hasil. 


Baru saja Dea akan menyandang ransel bersiap meninggalkan kamar hotel itu, ponselnya berdering. Ia merogoh saku melihat siapa yang meneleponnya. Sebuah nomor asing.


Dengan jantung berdebar, Dea menjawab panggilan itu.


"Halo, selamat siang," suara lembut wanita terdengar di seberang sana.


" Iya, selamat siang,"jawab Dea gugup.

__ADS_1


Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.


"Betul ini dengan Dea Ananda,?"tanya wanita itu.


"Iya, dengan saya sendiri,"


"Lamaran anda di PT Asuransi Future diterima, dimohon anda untuk datang ke kantor esok pukul 8, untuk interview," 


Dea mematung seketika, seperti mimpi ia tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana ia bisa diterima di perusahaan asuransi sedangkan lamarannya di toko swalayan saja ditolak.


" Halo, anda masih disana,?" 


"I..iya.." Dea tergagap.


"Baiklah, jangan sampai terlambat,"


" Iya, saya akan datang tepat waktu,"ujar Dea. Wanita di seberang sana lebih dulu mengakhiri panggilan itu.


Dea menepuk pipinya pelan, tidak ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata. Gadis itu melonjak kegirangan. Ia melepaskan ranselnya kembali. Dengan senyum melebihi lebar mukanya, Dea mengabari Dion tentang berita diterimanya ia bekerja.


Keesokan harinya dengan diantar Dion ia mendatangi kantor asuransi itu untuk interview.


"Semoga berhasil,"ucap Dion sebelum Dea melangkan kakinya masuk ke dalam gedung dua lantai itu.


"Hem, nanti aku kabari kalau sudah selesai,"balas Dea. 


" Oke, jangan gugup. Kamu pasti bisa," ujar Dion memberi semangat.


Gadis manis itu melenggang masuk ke dalam gedung itu. Begitu pintu kaca itu dibuka, mendadak ia jadi gugup. Jantungnya berdebar kencang.


Di ruang tunggu tampak dua orang wanita dan seorang pria, dari penampilannya sepertinya mereka juga akan melakukan interview. Dari tampangnya mereka tampak lebih tua darinya. Dea mendekati ruang tunggu dan mendudukan diri di salah satu bangku.


Seorang pria yang sedang asik memainkan ponselnya menoleh menyadari ada orang lain yang duduk di sebelahnya. Pria itu tampak terkejut begitu Dea melempar senyum padanya.


"Diakan gadis yang waktu itu,?"batin pria itu.


Tak hanya pada pria di sampingnya, Dea juga tersenyum ramah pada dua wanita yang duduk di seberangnya.


Bersambung....


...----------------...


Setelah ini akan ada konflik baru... dukung terus cerita ini supaya Author rajin up...


Sembari menunggu, mampir juga ke karya di bawah ini...

__ADS_1



__ADS_2