
Kedua tungkai terus kupacu menuju pulang. Napas tersengal. Tapi, hatiku terasa lebih lapang setelah pulang dari pantai.
Langit mulai temaram. Dari kejauhan kulihat ada Bibi Betty yang tengah sibuk menyirami mawar di halaman belakang rumah. Lampu di lantai dua telah menyala. Terlihat siluet bayangan tubuh Daddy yang sedang duduk di balik jendela kamar, yang berada di lantai dua.
Selama ini aku belum sempat menjelajah ruangan-ruangan di rumah. Rumah bercat putih dengan desain eropa ini menurutku sangat besar. Kasihan Betty. Tentu ia sangat kerepotan merawatnya.
"Mommy dimana, Bi?" tanyaku pada Bibi Betty. Kakiku menaiki lima undakan anak tangga beranda.
Bibi Betty sudah berpindah dari halaman belakang ke beranda samping. Menyirami pot-pot bunga gantung yang berjajar bergelantungan di situ.
"Madam di kamar. Dia sedang kurang enak badan," sahutnya dengan suara pelan.
"Aku akan menemaninya." Kugosok-gosok kedua telapak kaki yang berpasir di atas keset beranda.
"Ja-jangan!!" jawabnya cepat, satu tanganku dipegangi.
"Kenapa? Aku ingin menjaga Mommy," ujarku heran.
"Tidak perlu. Mister Sam melarang siapapun ke kamar Madam."
Alat penyiram tanaman berbentuk corong itu Betty letakkan, kemudian menyapukan kedua telapak tangan pada celemek yang melekat di tubuh kecilnya.
"Siapapun? Termasuk aku?" tanyaku, menunjuk dada sendiri.
Aneh. Bukankah aku anaknya? Seharusnya kehadiranku diharapkan saat ia sakit.
"Astaga Selena. Kamu baru datang main dari pantai. Mandipun belum. Sana mandi dulu!" Ia tertawa hingga giginya yang rapi dan kecil-kecil terlihat.
"Oh, iya." Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Betty benar juga.
"Mommymu hanya perlu waktu istirahat. Ia memang sering begitu."
"Mommy sakit apa?"
"A-aku tidak bisa menjelaskan tentang itu Selena. Aku sendiri kurang tahu. Masuk saja ke kamarmu! Bersihkan tubuhmu!"
Jawabannya tidak memuaskan.
"Baiklah Bibi."
"Tobi tidak bersamamu?"
"Tadi dia tergesa-gesa pergi. Katanya mau mendatangi Om Teo. Mengembalikan kunci villa," terangku.
__ADS_1
"Jadi kau pulang sendirian?" Mata kecilnya membulat.
"Hum." Aku mengangguk.
"Dasar bodoh anak itu! Nonanya dibiarkan pulang sendirian. Akan kumarahi dia kalau pulang," ujarnya gusar.
"Jangan, Bi! Kasian Tobi. Lagipula aku hanya jalan di sekitar sini saja. Tidak jauh," sahutku. Aku tak mau kalau Tobi selalu jadi sasaran kesalahan.
Bibi Betty menghela napas panjang.
"Cepat sana mandi! Nanti luntur cantikmu," ujarnya lagi menepuk pipiku pelan.
****
Tubuhku tiarap di atas tempat tidur. Menghadap televisi. Tangan memencet-mencet tombol pada remot. Berusaha mencari tontonan yang menarik. Kartun lagi ... kartun lagi yang ada di layar. Memangnya aku anak kecil? Hhh ...
Klik. Kupencet tombol off hingga layar televisi menjadi gelap.
Aku membalik tubuhku menjadi telentang. Memandangi langit-langit kamar. Semembosankan inikah hidupku? Begitu malam menjelang tidak banyak yang bisa kulakukan. Seperti ada sesuatu yang terasa hilang dari rutinitasku. Entah apa itu. Aku sulit untuk mengungkapkannya.
Aku ... merasa kesepian.
Air mata tanpa terasa meleleh jatuh satu per satu. Ada apa denganku? Perasaan macam apa yang sedang kurasakan ini?
Lamat-lamat kudengar suara mesin mobil dihidupkan. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Berlari kecil ke arah jendela. Mobil doble cabin yang berada di dalam garasi rumah beranjak keluar menuju gerbang. Sepertinya itu Daddy.
Daddyku yang misterius. Mau kemana dia? Bukankah Mommy sedang sakit?
Lebih baik aku liat keadaan Mommy di kamarnya. Kasihan Mommy sendirian di sana.
Satu persatu kakiku menaiki anak tangga yang berbentuk memutar menuju lantai dua. Lampu di tangga dalam keadaan mati. Tapi, cahaya dari lantai satu masih bisa membantu penglihatanku.
Tiba di atas. Lantai dua dalam keadaan gelap juga. Aku tidak menemukan saklar lampu. Tapi mataku masih bisa hawas mengamati sekitar. Ada beberapa pintu di sini. Pada salah satunya tampak cahaya terang menerobos dari bawah daun pintu.
Kudekati pintu itu. Terdengar suara orang bergumam tak begitu jelas. Kadang berganti dengan senandung nyanyian.
"Twingkle .... twingkle ... litle star. How I ... wonder ... what you are ...."
Senandung suara wanita yang lembut dengan tempo lambat.
Tanganku menggenggam handle pintu. Tapi, pintu itu ternyata terkunci dari luar. Anak kunci tampak masih menancap di lubangnya.
Daddy mengunci Mommy di dalam kamar!
__ADS_1
Dahiku berkerut, menggeleng tak mengerti. Untuk apa Daddy mengunci Mommy sendirian di dalam kamar? Bagaimana kalau Mommy kenapa-napa?
Baru saja tanganku akan memutar anak kunci. Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak dari dalam kamar.
"Haaahahaha .... Haaaahahaha!!"
Apa itu suara Mommy?
"Selena ... come in, Dear!"
Mommy tahu aku ada di luar? Aku berdiri di depan pintu kebingungan. Hati menjadi ragu untuk membuka pintu.
"Jangan bermain terlalu jauh dari Mommy, Selena!"
Mommy bicara dengan siapa? Aku semakin tidak paham. Tubuhku kemudian merunduk. Mencoba mengintip dari lubang kunci. Sulit sekali melihat keadaan dalam kamar.
"Huhuhu ... jangan lakukan itu, Selena! Maafkan Mommy! Huuu!" Sekarang ia menangis.
Ah, aku tidak tahan lagi. Aku harus tahu ada apa dengan Mommy. Pintu itu pun kubuka.
"Jangaaaan ... jangan pergi! Jangan tinggalkan Mommy!" Sekarang ia berteriak histeris.
Mataku membulat sempurna. Menyaksikan kondisi Mommy di atas tempat tidur. Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat. Rambut acak-acakan. Pakaian yang kusut. Ia tampak sangat berantakan. Kulihat bibirnya berdarah.
Kondisi kamarpun tak kalah berantakannya. Seperti kapal pecah. Isi bantal berhamburan di atas lantai. Alat-alat make up yang harusnya tersusun rapi di meja rias, berceceran di sana sini.
"Mommy kenapa?" tanyaku.
Tapi, wanita itu seakan tidak melihat keberadaanku. Apalagi mendengar suaraku. Ia seperti berada di dunia lain. Berbicara pada orang yang tak tampak di mataku.
"Mommy!" kusentuh lengannya hati-hati.
Sia-sia. Ia sama sekali tidak mengindahkan aku. Ia membuatku takut. Tergesa aku keluar dari kamar.
Brak!! Pintu kamar kututup dan kukunci lagi.
Tubuhku menggelosor bersandar pada daun pintu. Menghela napas yang tersengal. Menormalkan detak jantung yang mendadak tidak beraturan. Benak dipenuhi banyak pertanyaan. Tentu ada sebabnya Daddy mengunci Mommy di dalam kamar. Semua semakin tidak jelas.
Beberapa menit kemudian terdengar langkah-langkah kaki menaiki anak tangga. Aku segera beringsut menyelipkan tubuh di antara perabot yang ada di ruang tengah.
Muncul dua orang pria dari tangga. Walau remang aku bisa mengenali salah satunya adalah Mister Sam.
"Kenapa Alice bisa kumat lagi, Sam?" tanya seorang pria berpostur tubuh kurus jangkung, di samping Daddy.
__ADS_1