Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 93


__ADS_3

Dea duduk termenung di kantor polisi setelah tadi ia di introgasi sebagai saksi. Gadis itu masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Wajahnya masih sepucat tadi saat ia menemukan teman sebelah kamarnya mati bunuh diri. 


Ia tak menyangka, Tari yang baru dikenalnya sebulan yang lalu itu mengakhiri hidupnya dengan cara meminum obat tidur di ambang batas wajar. Sehingga wanita yang lima tahun lebih tua darinya tewas karena overdosis.


Dea memejamkan matanya, ketika ia terbayang tubuh kaku Tari saat ia temukan serta mulut wanita itu yang mengeluarkan banyak busa. 


Selama Dea mengenal wanita itu , Tari tak pernah tampak seperti orang yang banyak masalah. Ia selalu ceria dan juga begitu baik pada Dea. Tapi hari ini Dea mengetahui fakta baru,bahwa wanita itu hidup sebatang kara. Ia tak punya keluarga untuk tempatnya pulang.


Hal itu membuat mental Dea terpukul, apa nasibnya akan sama seperti Tari,? Meski ia masih mempunyai keluarga, tapi mungkin suatu saat ia akan sendiri. Bagaimana ia akan menjalani hidupnya jika itu sungguh terjadi padanya. Dea mengusap wajahnya gusar. 


Meski hidupnya sulit, dan selalu dihadapkan dengan kesialan setidaknya ia tak pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya.


Dea sudah diperbolehkan pulang, namun gadis itu terlalu takut untuk pulang ke kosannya.  Sehingga ia menghubungi Dean meminta pria itu menjemputnya di kantor polisi. Sebenarnya ia ingin menelepon Dion tapi ia masih kesal dengan kekasihnya itu.


Dean yang mendapat kabar mengejutkan itu langsung tancap gas. Begitu sampai di kantor polisi, ia melihat Dea duduk seorang diri di kursi tunggu dengan wajah pucat. 


" Dea, " Panggil Dean lirih.


Dea mendongak, begitu melihat Dean datang mata gadis itu mulai berkaca. Ia segera berdiri. 


" Dean," sahutnya tak kalah lirih.


Dean mendekati Dea ,dan membawa gadis itu ke pelukannya. Hatinya merasa tercabik, kenapa gadis itu selalu ditimpa hal buruk.


" Semua baik - baik saja, ada aku." Dean mengusap lembut punggung Dea memberi ketenangan pada gadis itu.


***


Dean tak bisa membiarkan gadis itu sendirian. Sehingga ia memutuskan membawa Dea ke apartemen studio miliknya yang baru ia tempati dua hari yang lalu. 


" Untuk malam ini, tidurlah disini," 


Dea mengangguk patuh. 


" Kau tidur di ranjang, biar aku tidur di lantai."


Dea mengamati apartemen milik Dean. Tidak terlalu besar. Dan tidak ada perabot kecuali kasur dan sebuah lemari kecil.


" Apa kau mau makan?"


Dea menggeleng. Mendadak selera makannya hilang karena kejadian mengerikan itu.  Dea duduk di sisi ranjang, kepalanya masih dipenuhi bayang - bayang Tari. Sementara Dean memilih duduk dilantai bersandar pada tepi dipan.


"Aku masih tak percaya dia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu." Dea buka suara.


" Sudahlah, jangan dipikirkan. Itu pilihannya. Meski pilihannya itu salah."


" Aku tau itu. Malang sekali nasibnya, bahkan ia tak punya keluarga yang akan mengurus jenazahnya. Mati dalam kesendirian. Hidupku masih jauh lebih baik darinya, tapi aku tak mensyukuri itu. Aku masih mengeluh dan beranggapan Tuhan tak adil." 

__ADS_1


Dean terdiam, kata - kata Dea terasa mengusik hatinya. Mendengar kata keluarga, ia jadi teringat pada orang tua angkatnya. Jika ia benar - benar memutuskan hubungan dengan mereka, tentu ia akan sebatang kara. Mati dalam kesendirian, kalimat itu membuatnya takut. Seketika ia tersadar, begitu berartinya sebuah keluarga. 


"Dean," Dea menyentuh pundak pria yang tampak sedang melamun itu.


" Ya,?"


" Apa yang kamu pikirkan?" 


" Bukan apa - apa. Aku hanya teringat orang tuaku,"


Hening. 


Keduanya larut dengan pikiran masing - masing. 


"Apa kau benar - benar berhenti bekerja,?" tanya Dean memecah kesunyian mengalihkan topik pembicaraan mereka.


" Iya, "


"Lalu, apa kau akan pulang kampung,?" 


" Entahlah, itu yang sedang aku pikirkan,"


Ada satu hal yang jadi pertimbangan Dea. Tentang pria yang tak sengaja ia temui di jalan tadi pagi. Entah kenapa ia ingin memastikan kalau pria itu pamannya atau hanya sekedar mirip. Untuk itu ia harus tetap ada di kota ini. Mencari pria itu. Jika itu benar paman nya, tentu neneknya akan senang mendengar kabarnya.


"Aku akan bantu kau mencari pekerjaan baru,"ujar Dean.


Dea menghela nafas.


Dean melirik Dea, ia mengulas senyum kecut.


" Apa kalian masih bertengkar,?" tanya Dean.


Dea tak memberi jawaban, hanya helaan nafasnya yang terdengar.


" Sepertinya iya, kalau tidak tentu kau tak mungkin minta aku yang menjemputmu di kantor polisi kan," Lagi - lagi Dea tak memberi jawaban.


Malam semakin larut, tapi mereka masih terjaga.  Dea mengubah posidi duduknya dengan bersandar pada kepala dipan, sementara Dean masih duduk di lantai tak berpindah sama sekali.Tak ada perbincangan, mereka saling diam hingga Dean meminta Dea untuk tidur.


" Istirahatlah, sudah larut," ucap Dean.


" Mana mungkin aku bisa tidur, setelah apa yang aku alami. Jika kau mengantuk tidurlah lebih dulu," jawab Dea.


" Tidak, aku tidak akan tidur kalau kau belum tidur,"


Dea tertawa kecil. 


" Cobalah untuk merebahkan badanmu, nanti pasti kau akan tertidur," perintah Dean.

__ADS_1


Dea menurut, ia mulai merebahkan tubuhnya 


" Nah ,sudah. Kau juga tidurlah,"


" Aku pastikan kau tidur dulu, baru aku tidur,"


" Astaga," Dea terkekeh melihat sikap Dean yang kekanakan.


" Kau besok harus bekerja, kalau aku mah bebas. Besok aku resmi jadi pengangguran. Aku punya banyak waktu untuk tidur siang," ujar Dea.


Dean hanya tergelak. Bagaimana ia bisa tidur, jika sekarang ia berada satu ruang berdua dengan gadis yang disukainya. 


" Baiklah, aku akan bantu kau untuk tidur," kata Dean seraya bangkit dari duduknya.


Mata Dea melebar. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru menyadari kalau sekarang dirinya berada satu kamar dengan seorang pria.


Dean mendekat ke arah ranjang. Dea beringsut mundur sambil membentengi dirinya.


" Jangan macam - macam , apa yang mau kau lakukan,?" tanya Dea panik.


Dean mengernyit, sejurus kemudian ia tertawa. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu sekarang, yang jelas wajah panik Dea begitu menggemaskan dimatanya.


Dean membuka laci nakas disamping tempat tidur dan mengeluarkan sesuatu.


" Aku cuma mau ambil ini, untuk membantumu tertidur," Dean menunjukan sebuah harmonika di tangannya.


"Apa yang kau pikirkan,?" Dean menggelengkan kepalanya menatap heran pada Dea.


Wajah Dea memerah karena malu, segera ia menutup wajahnya dengan bantal. Ia pikir Dean akan melakukan sesuatu yang negatif.


Dean kembali duduk dan bersandar pada pinggir dipan. 


" Dengarkan baik - baik. Setelah ini kau pasti akan tertidur," 


Pria berkulit sawo matang itu mulai memainkan harmonika. Entah lagu apa yang dimainkannya yang jelas terdengar enak di telinga. Alunan musik yang keluar dari alat itu terdengar mendayu mengundang rasa kantuk.


Dea menguap, matanya perlahan mulai berat. Di akhir permainan Dean, gadis itu sudah terlelap. Dean berpindah duduk di sisi ranjang.


Senyum terukir di wajah Dean melihat Dea yang sudah mulai terbuai mimpi. Ia tak bisa menahan diri, untuk tidak menyentuh gadis itu. Tangan kirinya terangkat menyentuh kepala Dea dan mengusapnya dengan sayang.


" Maaf, aku tidak bisa menahan perasaanku. Semakin hari aku semakin menyukaimu," bisik Dean. 


"Dan maaf juga untuk ini," Dean mendekatkan wajahnya, dan meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening gadis itu.


Kemudian Dean juga merebahkan dirinya di lantai di samping tempat tidur beralaskan selimut. Berharap ia juga bisa memasuki alam mimpinya. 


Bersambung...

__ADS_1


...----------------...


Jika masih menyukai cerita ini, tinggalkan jejak kalian....Like dan komentar yang membangun, sangat berarti untuk Author..


__ADS_2