
Wanita dengan rambut di sasak itu menatap pemuda di depannya keheranan. Siapa dia,? Pikirnya. Untuk sesaat ia tak mengenali, setelah pemuda itu kembali memanggilnya dengan sebutan bunda , satu nama terlintas di benaknya.
" Dean,?"ucapnya ragu.
Dean yang perasaannya sudah membuncah langsung memeluk wanita itu dengan hangat.
"Iya, bunda. Ini Dean,"jawabnya dengan suara bergetar.
Tangis wanita itu seketika pecah, ia membalas pelukan hangat pemuda itu sambil mengusap lembut punggungnya.
"Ya Allah, anakku. Lama sekali bunda tak melihatmu,"lirih wanita itu.
Beberapa saat kemudian mereka mengurai pelukan. Saling tatap dengan mata berkaca - kaca. Wanita yang di panggil Bunda itu mengusap pucuk kepala pemuda yang sudah ia anggap anak sendiri itu.
"Bunda pikir tidak akan melihatmu lagi, terakhir kau kesini saat kau masih SMP,"ucap Bunda dengan pikiran menerawang pada masa itu.
" Maafkan Dean bunda, seharusnya Dean sering mengunjungi bunda,"sesal Dean.
Bunda tersenyum sembari mengusap lengan Dean.
" Ayo masuk, kita bicara di dalam,"ajak Bunda.
Dean mengangguk, mereka berjalan beriringan memasuki panti. Sementara para bocah kembali melanjutkan main mereka.
Kedatangan Dean disambut hangat oleh semua orang di panti. Siapa sangka bayi merah yang ditinggal ibunya beberapa tahun silam itu telah menjelma menjadi pemuda yang gagah dan tampan.
Dean bercerita panjang lebar tentang hidupnya setelah di adopsi oleh keluarga angkatnya. Dean juga menceritakan hal buruk yang dialaminya belakangan ini.
"Jangan terlalu menyalahkan ibu angkatmu, mungkin dia panik dan tidak tau harus bagaimana,"nasehat Bunda setelah mendengar cerita Dean.
Dean hanya menghela nafas pelan.
"Pulanglah ke rumah, bicarakan baik - baik. Mungkin mereka bisa mengerti."
"Bukan untuk sekarang bunda, aku akan pulang setelah mama mencabut semua perkataannya. Setelah ia minta maaf dan menyadari kesalahannya,"
"Untuk malam ini, bolehkan aku menginap disini. Besok aku akan kembali ke kota,"ucap Dean.
"Kenapa tidak, tempat ini selalu terbuka untukmu,"jawab Bunda sambil tersenyum.
***
Karena keadaan nenek semakin membaik akhirnya hari ini ia dibolehkan pulang. Setelah mengurus segala sesuatunya Dea berserta nenek dan Sifa meninggalkan rumah sakit. Dea menyewa sebuah taksi untuk mengantar mereka pulang.
"Nenek istirahatlah di kamar,"ucap Dea saat mereka sudah sampai di rumah.
Nenek mengangguk.
"Biarku antar," Sifa memapah nenek menuju kamarnya.
Sementara Dea menuju ke dapur, memeriksa kulkas mencari apa yang ia bisa masak untuk hari ini.
__ADS_1
"Sedang apa kau,?"tanya Sifa melihat Dea tampak sibuk.
"Tak lihat aku sedang memasak, aku akan membuat bubut untuk nenek,"
Sifa manggut - manggut memperhatikan Dea. Ia duduk di meja makan, matanya mengikuti setiap gerakan Dea membuat Dea risih dan jengkel.
"Kalau kau tidak mau membantu, lebih baik kau ke kamarmu saja,"ketus Dea.
Sifa mendengus, ia bangkit menuju westafel dan mencuci piring.
"Dia belum punya pacar kan,?"tanya Sifa disela kegiatannya.
Dea menghentikan gerakan tangannya sejenak, ia menoleh pada Sifa yang tampak memainkan busa sabun pencuci piring.
"Bukannya kau sudah punya nomornya, tanya saja pada orangnya langsung,"jawab Dea.
"Kalau dia sudah mempunyai pacar aku tidak akan menghubunginya lebih dulu, kau pasti tau sesuatu kan,?"
"Aku tidak tau,"jawab Dea singkat.
Mendengar itu Sifa mendengus, ia melempar spons pencuci piring ke dalam westafel lalu mencuci tangannya.
"Kenapa tidak diselesaikan,"tanya Dea.
"Malas, kau saja,"
Sifa memutar badannya dan meninggalkan dapur. Dea hanya bisa menghela nafas dan membuangnya kasar.
Pintu kamar nenek terbuka lebar, tampak Sifa sedang memijit kaki nenek.
"Nek, aku akan kembali sore ini,"ucap Dea berdiri di ambang pintu.
Nenek tak segera menjawab, ia meminta Sifa berhenti memijit kakinya.
"Nenek belum sembuh kau sudah mau pergi,"jawab Sifa.
"Aku baru dua minggu kerja, mana mungkin aku mengajukan cuti secepat ini. Lagian nenek sudah terlihat lebih baik,"
Dea melangkah masuk mendekat ke ranjang nenek.
"Maafkan aku, aku harus kembali,"ucap Dea.
Nenek menghela nafas panjang.
"Ya sudah, jaga dirimu baik - baik,"jawab nenek kemudian.
Dea mengambil tangan nenek dan mencium punggung tangan wanita tua itu. Saat Dea akan berpamitan pada Sifa gadis itu melengos.
"Tolong jaga nenek, kalau ada apa - apa hubungi aku,"
Sifa tak menjawab.
__ADS_1
"Aku pergi, Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam,"sahut nenek.
Dea meninggalkan rumah dengan perasaan tak menentu, sebenarnya ia tak tega meninggalkan neneknya yang masih belum benar - benar pulih. Tapi ia tak punya pilihan. Mengingat hutangnya pada Dion yang begitu banyak, bagaimana ia akan mebayar semuanya jika ia sampai di pecat dari pekerjaannya.
***
Penampilan Dea yang agak berbeda membuat ia jadi pusat perhatian di kantor. Pasalnya dua minggu ke belakang ia hanya mengenakan setelan yang sama setiap harinya. Yaitu baju kemeja lengan panjang berwarna putih dipadukan dengan celana panjang kain berwarna hitam. Tapi hari ini Dea tampil beda dengan memakai rok selutut memperlihatkan kaki jenjangnya dengan atasan blus warna pink lembut. Gadis itu tampak lebih fresh dan juga lebih cantik.
"Apa dia mau merayu pak bagas,?"bisik Tika pada Sari saat melihat penampilan Dea.
"Bukannya penampilannya jauh lebih baik dari biasanya,"jawab Sari apa adanya. Tika mencebik.
Penampilan Dea yang berbeda juga mendapat perhatian dari Dean saat mereka akan pergi keluar seperti biasa.
"Kenapa kau memakai rok,?"tanya Dean mematut Dea dari ujung kepala sampai kaki.
"Kenapa memangnya,?"
"Pekerjaanmu itu bukan duduk manis di kantor, bagaimana kau akan berboncengan kalau memakai rok seperti itu,"
Melihat Dean yang begitu kesal membuat Dean mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kau kelihatan kesal begitu, aku bisa duduk menyamping,"jawab Dea.
"Apa kau tak sadar, semua orang memperhatikanmu,?"
Dea menggedikan bahu tanda tak peduli. Ia juga terpaksa memakai rok karena celananya belum sempat ia cuci.
Dean semakin kesal karena sikap acuh Dea. Entah kenapa dia tak suka saat ada karyawan pria yang memandang Dea dengan mata berbinar.
"Kenapa masih berdiri disitu,?"Sentak Dean melihat Dea bergeming di tempat saat dirinya sudah naik ke atas motor.
"Kenapa dia mendadak galak,"gumam Dea seraya melangkah mendekat.
Ternyata memakai rok bukanlah hal baik, Dea merasa tak nyaman duduk menyamping di atas motor. Ia juga enggan berpegangan pada Dean. Entah kenapa ia juga merasa Dean membawa motor sedikit ngebut.
Sampai disebuah persimpangan. Sebuah mobil menyerempet mereka sehingga membuat kedua terjatuh. Seketika jalanan jadi macet. Beberapa orang terlihat menghampiri Dea dan Dean untuk membantu mereka.
"Dea, kamu baik - baik saja,?"tanya Dean panik membantu gadis itu berdiri. Dea meringgis menahan perih di kaki dan tangannya. Wajahnya juga pucat karena syok.
Kaki dan tangan Dea mengalami lecet. Sementara Dean tidak mendapatkan luka yang berarti hanya goresan di punggung tangannya.
Pria paruh baya yang ada di balik kemudi mobil yang menyerempet motor Dean tersentak kaget. Tangannya gemetar. Klakson berentet panjang di belakangnya membuatnya semakin panik. Setelah menetralkan detak jantungnya ia pun turun dari mobil.
Bersambung....
...----------------...
Tinggalkan jejak...
__ADS_1