
Polisi itu meraih cangkir yang berisi teh, lalu menyeruputnya. Melihatnya minum, aku jadi haus. Tapi tidak ada minuman yang tersedia di depanku. Terpaksa aku hanya menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang mulai kering.
" Ok kita lanjut. Dion jawab pertanyaan saya dengan kooperatif," ujar polisi itu.
" Baik pak," Dion tampak tenang.
" Kenapa kamu menulis surat untuk janjian bertemu dengan Dea, kenapa tidak langsung saja bilang padanya, atau kamu bisa menelepon,"
Dion menggaruk pelipisnya, ia mulai terlihat gugup.
" Karena ponsel saya hilang pak, " aku menimpali.
" Bisa dijelaskan Dion," polisi itu tidak mengindahkan jawabanku.
" Hem,, kebetulan seharian itu saya tidak bertemu dengan Dea, jadi saya kepikiran saja untuk memberitahunya lewat surat." jelas Dion.
" Lalu saat kamu mengantar surat itu ada hal yang tampak mencurigakan,?"
Dion terdiam dengan dahi berkerut, mungkin dia sedang mengumpulkan kepingan ingatannya akan hari itu.
" Tidak ada pak, kelas Dea waktu itu kosong. Saya tidak merasa ada yang janggal."
"Hem,, apa ada teman kamu yang tau saat kamu ingin memberikan surat itu,?"
Dion menggeleng.
" Tapi, teman kelas Dea bilang dia melihat saya menaruh surat itu dan dia juga membaca isinya. Dari dia saya tahu kalau surat yang saya berikan pada Dea sudah berubah isinya,?"
" Oh ya, siapa,? Bisa panggil dia juga ke sini,?" ujar polisi itu.
Bu Yuna tampak memelas, lagi - lagi ia harus memanggil murid. Tentu sangat melelahkan bolak balik menaiki tangga dari tadi.
" Biar saya saja," pak Reza menawarkan diri.
Sembari menunggu Bobby, Polisi menanyakan beberapa hal lagi pada Dion. Ia juga menanyakan identitas Gilang pada pak Yahya.
Bobby dan pak Reza muncul di balik pintu. Wajah Bobby tampak pucat. Lalu ia mempersilahkan Bobby untuk duduk. Polisi itu mengamati Bobby sesaat kemudian ia mengulas senyum penuh arti.
" Kenapa kamu melihat isi surat orang lain,?" tanya polisi itu dingin. Cara bicaranya berbeda dengan saat ia menanyai Dion.
" Sa...saya cuma penasaran," jawab Bobby terbata. Aku jadi kasihan melihat Bobby, keringat mulai memenuhi keningnya.
" Hem, penasaran ya," polisi itu manggut - manggut. Tampangnya jadi tambah menakutkan.
__ADS_1
" Lalu apa yang kamu pikirkan setelah membacanya,?"
" Hah,?" Bobby kebingungan. Ia juga gelagapan.
Polisi itu kembali merobek lembar kertas buku catatannya. Ia lalu mengangsurkan kertas beserta pena ke hadapan Bobby.
" Coba kamu tulis ulang isi surat ini," perintahnya kemudian.
Bobby diam saja, ia hanya menatap kertas dan pena dihadapannya. Polisi itu mengetuk - ngetuk kulit buku catatannya dengan ujung jari.
" Cepat tulis, saya tidak bisa lama - lama disini," bentaknya. Aku terlonjak kaget begitu pun dengan yang lain.
Aku menatap Bobby, ia masih belum juga mengambil pena sesuai perintah polisi itu.
" Apa motif kamu melakukan itu,?" tanya polisi itu tiba - tiba.
Bobby masih bungkam. Polisi itu memajukan badannya ,untuk melihat lebih dekat wajah Bobby.
" Ada dendam apa kamu sama Dea,?" tanya polisi itu.
Tenggorokanku tercekat. Apa sekarang polisi itu menuduh Bobby yang menjebakku. Itu tidak mungkin. Ia pasti salah.
" Lebih baik kamu mengaku sekarang, daripada nanti di kantor polisi. Kamu tidak akan bisa berbohong, setelah Gilang nanti tertangkap pada akhirnya semua akan terbongkar juga."
" Karena saya tidak menyukainya," ucap Bobby.
Aku terbelalak, tidak.. aku pasti salah dengar. Yang lain juga tampak terkejut. Dion mengepalkan tanganya geram.
" Bobby, kamu sedang berbohongkan,?" ucapku menepis kenyataan itu.
" Tidak, aku memang tidak menyukaimu." ucap Bobby tanpa ragu.
Polisi itu menghela nafas, ia lalu menutup buku catatannya.
" Bagaimana kamu mengenal Gilang,?" tanya Polisi kembali.
" Dia.. dia sepupu jauh saya."
Bu Yuna tampak geleng - geleng kepala. Pak Reza mengusap wajahnya gusar. Aku sendiri masih tak percaya kalau Bobby yang menjebakku. Orang yang tidak pernah terbayangkan olehku. Pantas saja saat aku minta tolong membuat sketsa wajah Gilang, ia begitu mudah menggambarnya. Karena ia memang tau rupa orangnya.
" Tapi kenapa Bob, aku ada salah apa sama kamu,?" tanyaku dengan suara bergetar.
" Karena kamu sok kecantikan, sombong dan mengabaikan orang di sekitarmu yang menurutmu tidak penting. Semester lalu sebelum rolling tempat duduk, aku duduk di belakangmu, tapi kau sama sekali tak pernah mengajakku mengobrol. Padahal kau bukan gadis populer, temanmu saja hanya si Sarah itu," ujar Bobby sukses membuatku ternganga.
__ADS_1
Hanya karena alasan itu ia tega berbuat hal seburuk itu padaku.
" Mana surat yang aslinya,?" tanya polisi.
" Sudah saya buang," jawab Bobby.
" Baiklah, saya rasa cukup sekian. Bobby terpaksa harus saya bawa ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut, Dan untuk Tiara saya serahkan wewenangnya pada ibu sama bapak guru saja."
Polisi itu bangkit dari duduknya diikuti oleh Pak Yahya, Pak Reza dan Bu Yuna. Mereka saling menjabat tangan.
Entah kenapa aku sama sekali tidak merasa lega. Rasanya masih tak percaya kalau Bobby musuh dalam selimut. Aku terbayang bagaimana ia minta maaf dan begitu bersalah saat aku kembali ke sekolah. Aku pikir dia tulus. Nyatanya itu hanya untuk menutupi kedoknya. Tapi satu hal yang tidak aku mengerti, mengapa Bobby mengatakan pada Dion kalau ia melihat Dion masuk ke kelasku. Seharusnya ia diam saja. Dan menutupi ya rapat - rapat. Entahlah. Mungkin itu kekeliruan yang pada akkhirnya malah menjatuhkannya.
Tidak ada kejatahan yang sempurna, aku jadi teringat kata - kata yang sering diucapkan pembawa acara kriminal di TV.
Tak terasa dua jam sudah waktu berlalu. Sekolah pun sudah sepi. Aku menatap Bobby yang masuk ke dalam mobil polisi itu dengan perasaan tak menentu.
Aku tersentak ketika sebuah lengan melingkar di bahuku.
" Kamu baik - baik saja kan,?" ucap Dion.
Langsung saja aku menjauhkan badanku. Menatap masam pada Dion.
" Kenapa, ?" tanya Dion kebingungan.
" Kamu tidak senang karena semuanya telah terungkap,?"
" Bukan soal itu,"
" Lalu,?"
" Sekarang masalahnya antara kau dan aku, kenapa membohongiku,?" Aku menatap tajam Dion sambil bersidekap.
Dion tersenyum kaku, membentuk huruf V dengan jari tanganya. Sesaat kemudian ia berlari menghindariku. Karena tak terima aku mengejarnya.
" Dioonnn, kemari kau,"
Bersambung..
...----------------...
Like nya jangan dikurangi ya...
Pada nggak nyangka kan kalau Bobby pelakunya.
__ADS_1