
Episode ini khusus dewasa lagi ya. Berhubung mereka sudah nikah sekarang. Di bawah 21 gak usah baca. Gak bakalan ngerti. Walaupun tidak vulgar tapi tetap menjurus. Saya hanya menggunakan prosa ungu. Selebihnya biarkan imajinasi anda mengembara.
👇👇👇
.
.
.
Tubuh menggelambir. Perut yang buncit. Pipi berubah menjadi chubby. Seperti itulah penampakanku beberapa bulan ke depan. Hanya baju-baju lebar yang bisa muat di tubuhku.
Kepala menggeleng-geleng memandangi diri sendiri di depan sebuah cermin besar di dalam kamar. Melebarkan bagian perut baju hamil di tubuhku yang masih langsing. Nanti mungkin baju selebar ini malah terlihat kekecilan saat usia kehamilanku bertambah besar.
Aku masih mencoba baju-baju hamil yang baru kubeli dari mall tadi sore. Henry ikut memilihkan untukku. Dia begitu antusias ingin membelikan banyak baju hamil. Seolah isterinya akan berbentuk hamil selamanya.
"Mikirin apa, sih? Tidur, Yuk!"
Henry baru keluar dari toilet. Hanya mengenakan boxer. Otot-otot bisep mirip roti sobek itu seakan sengaja dipamerkan padaku. Bikin mata jengah.
Dia ikut berdiri di belakang memandang wajahku di cermin.
"Mukanya kenapa sedih gitu? Mestinya kamu bahagia." Kedua lengan Henry memeluk pinggangku. Meletakkan dagu pada bahu. "Hmm?" Alisnya naik beradu mata denganku.
"Coba kamu pikir hal-hal yang lebih menyenangkan! Gak usah mikir yang sedih-sedih!"
Suamiku ini mirip cenayang. Tau aja aku sedang mikir apa.
"Apa?" tanyaku.
"Pikirkan nanti mukanya mirip siapa? Mirip aku atau kamu. Atau perpaduan dari wajah kita," ujarnya sambil mengelus perutku yang masih rata. "Bayangkan ... kaki kecilnya nanti berlari ke sana kemari. Kamu akan kewalahan mengejar. Kita akan sibuk mengurusnya."
Mataku menerawang membayangkan kata-kata Henry. Seorang balita lucu. Wajahnya imut mirip Henry. Rumah ini akan ramai oleh tingkahnya. Itu ... menyenangkan sekali.
"Dari pada mikir yang bikin kamu pusing. Mending persiapkan nama buat anak kita dari sekarang," usulnya.
"Hum ... boleh juga." Aku mulai terpengaruh.
Tangan Henry aktif bergerak. "Baju ini baru dari mall. Harusnya dicuci dulu sebelum dicoba." ujarnya.
Baju hamil ditubuhku ditarik ke atas hingga lepas. Tersisa under wear yang melekat.
"Tapi kita belum tahu jenis kelaminnya apa. Gimana mau persiapkan nama?" tanyaku bingung.
"Pesiapkan nama yang banyak. Untuk anak cowok ada, untuk cewek juga kita pikirkan dari sekarang. Biar nanti gak bingung lagi." Tubuhku diputar ke arahnya.
"Aku pingin anak cowok yang mirip kamu," sahutku sumringah. "Kamu punya usul nama untuk anak cowok, Hen?"
"Hmm ...." Henry hanya menggumam.
Tatapannya mulai berbeda. Jakun pria itu bergerak menatap intens tubuhku. Aku baru menyadarinya.
"Ish ... aku nanya." Kucubit gemas kedua pipi tomat Henry.
"Kita cari referensi nama bayi aja, Non. Kan bisa cari di internet." Rambutku disibaknya ke belakang. Dia mulai mengendus bagian belakang telinga.
"Oh, iya. Bentar aku ambil hape," ujarku semangat ingin mengambil gawaiku di atas nakas.
__ADS_1
"Mau kemana, Sayang?" Pinggangku dipegangi.
"Ngambil hape. Mau liat internet."
"Nanti kan bisa." Semakin kedua tangannya mengekang tubuhku.
"Ah, aku gak sabar mau liat nama-nama bayi yang bagus."
"Nanti, Sayang. Besok aja please!" Henry memelas.
"Kenapa?" Aku menatapnya heran. Bukankah dia yang tadi memberi saran.
Henry mendekap tubuhku. Mendekatkan mulutnya di telinga.
"Kamu lupa? Kamu sudah berhutang banyak malam padaku."
Hutang? Alisku bertaut tak mengerti.
"Maksud kamu?"
"Sudah hamil masih saja polos." Henry tersenyum penuh arti.
"Malam ini aku ingin bercinta," ucapnya lagi seraya membopong tubuhku. "Aku sudah menahan diri dari kemarin, Non. Jangan suruh suamimu harus bersabar lagi. Kesabaranku terbatas," bisiknya.
Aku menggigit bibir pasrah. Dada berdebar seakan ini adalah malam pertama kami. Henry membaringkan tubuhku. Mata kami saling menatap penuh cinta.
"Kangen ... kangen banget bisa menikmati malam sama kamu lagi," ucapnya sambil menggosokkan ujung hidung kami.
"Ken ... aku cinta kamu. Ucapkan kalau kamu juga cinta padaku, Ken!" tatapnya sendu penuh harap.
Tanganku mengusap lembut rahang yang mulai ditumbuhi bulu halus itu.
"Makasih sayang." Senyum pria itu mengembang manis.
Napas hangatnya semakin dekat. Aroma mint mulut pria itu melebur di mulutku. Saling menyesap penuh perasaan. Hawa dingin dalam kamar tiba-tiba terasa hangat. Aku dan dan dia kini telah menjadi satu. Melepaskan hasrat dalam gemuruh cinta. Napas kian memburu. Menikmati setiap helai rindu membuncah beterbangan ke langit tinggi. Berpacu dengan malam yang semakin larut.
****
Wajah tampan di sampingku tampak tenang. Dengkur halus miliknya kini terasa familiar. Bibir itu tersenyum dalam tidur. Aku telah membuatnya puas malam ini. Bercinta memang sebuah kebutuhan untuk setiap pasangan.
Kepingan-kepingan memori satu per satu kembali ke tempatnya. Seperti bagian dari puzle yang kembali tersusun rapi dalam sebuah bingkai. Kamar ini penuh dengan kenangan kebersamaan kami. Menghabiskan malam-malam yang manis penuh dengan cinta.
Aku ingat aroma harum lavender kamar ini. Ingat kalau akulah yang menata semua interiornya. Memilih warna gold yang berpadu silver untuk tirai kamar kami. Corak wall paper berbentuk hati ini pun pilihanku.
Mataku beralih pada wajah tenang Henry. Jari-jariku tanpa dikomando bergerak menjelajah pipi tomat itu. Aku ingat ... bagaimana seringkali dia berusaha menggoda setiap menginginkanku. Biasanya diawali dengan obrolan ringan, lalu dia mulai usil mengajak bercanda. Setelah itu ada saja cara Henry membuat malam kami berakhir dengan bercinta.
Ya Tuhan beruntung sekali aku memilikinya.
Kriuuuk .... tiba-tiba terdengar sebuah bunyi dari arah perutku.
Aneh. Kenapa tiba-tiba aku membayangkan sepiring mie tek-tek buatan Mang Udin, yang biasa mangkal depan komplek rumahku dulu. Mulutku mengecap seraya mengusap perut.
Di atas kepalaku seolah ada bayangan awan. Ada mie tek-tek goreng gurih dengan asap masih mengepul. Di atasnya ditaburi suwiran daging ayam, daun sawi dan bawang goreng.
Hmm ... pasti enak. Liurku mau ngeces rasanya.
Kudekati Henry. Mengecup pipi tomatnya. "Sayang ...."
__ADS_1
Henry menggeliat sejenak. "Hmm." gumamnya seraya memeluk hingga wajahku menempel di dada berotot itu. "Kamu mau lagi?" tanyanya dengan mata terpejam.
Ngomong apa sih?
"Aku lapar?" Telunjukku memencet pusar Henry.
"Lapar? Kamu mau makan apa? Nanti aku aja yang bikinin. Buk Min kasian kalau bangun malam-malam," ujarnya dengan suara serak, mata masih terpejam.
Sebenarnya aku kasihan melihatnya sangat mengantuk.
"Aku ... pingin mie tek-tek Mang Udin yang mangkal di depan komplekku," sahutku sambil menelan ludah, merasa bersalah.
Mata sipit itu seketika terbuka. Melirik ke arah jam dinding. Pasti dia tak menyangka kalau sekarang sudah jam dua malam.
"Kamu ngidam, Yang?" tanyanya.
"Gak tau. Tiba-tiba pengen aja."
"Memang jam segini yang jualan mie tek-tek masih ada?"
"Dulu ... aku sama ayah suka beli malam-malam depan komplek dekat pos kamling. Mang udin jualannya memang sampai subuh. Tau deh sekarang," jawabku ragu.
"Oke, Sayang. Bentar aku telpon Beno buat ke sana." Henry menggapai Telepon genggam miliknya di atas nakas.
"Tapi, Hen ...."
"Kenapa?"
"Aku maunya makan di situ."
Mulut Henry langsung membulat menatapku. Aku nyengir meringis sambil menunjuk perutku. Kode kalau itu bukan mauku. Tapi, mau si orok. Hehe.
***
Embun mulai bejatuhan mengaburkan kaca mobil. Tubuhku sedikit menggigil duduk memeluk tubuh yang dibalut sweater tebal. Henry tampak konsentrasi menatap jalan di depan.
Jam dua malam kami nekad keluar rumah menuju komplek perumahan yang dulu pernah jadi tempat tinggalku. Sebelum bunda menikah dengan Om Anwar. Tempat yang penuh dengan kenangan manisku bersama ayah.
Aku masih ingat saat-saat itu. Ayah sering pulang hingga larut malam karena harus lembur di kantornya. Tengah malam aku sengaja bangun setiap mendengar bunyi mobil ayah memasuki pekarangan rumah. Sebagai anak kesayangan selalu ingin menyambut kedatangannya. Menyempatkan diri bersenda gurau walau hanya sebentar.
Ayah masih memperlakukanku seperti gadis kecil padahal aku sudah sekolah SMA. Dia masih mau menemaniku ngobrol sebelum tidur. Kadang saat asik bercanda Mang Udin lewat di depan rumah kami. Keliling membawa dagangannya. Jika kebetulan lapar maka kami akan jajan mie tek-tek tengah malam.
Mie tek-tek Mang Udin memang jajanan murahan. Tapi menurutku rasanya enak luar biasa. Rasa yang mengingatkanku pada kebersamaan dengan ayah.
"Moga masih jualan Abangnya," gumam Henry seraya memegangi stir. Satu tangan mengusap puncak kepalaku.
"Kalau gak ada gak papa, Hen. Aku tahan kok," sahutku.
"Kalau Abangnya masih jualan. Aku beli sama gerobaknya, Sayang. Kubayar tiga kali lipat."
Aku meringis mendengar kata-kata Henry. Khawatir yang bakal kecewa berat bukan aku, tapi dia.
Sudah bertahun-tahun yang lalu komplek itu kutinggalkan. Mungkin sudah banyak yang berubah sekarang.
.
.
__ADS_1
.Bersambung