
"Kenapa Alice bisa kumat lagi, Sam?" tanya seorang pria berpostur tubuh kurus jangkung, di samping Daddy.
"Sudah beberapa hari ini ia menolak minum obat lagi, Bim. Semenjak bertemu gadis mirip Selena itu Alice begitu membaik. Akupun tidak bisa memaksanya minum obat itu terus.
Gadis mirip Selena? Siapa? Apakah aku yang Mister Sam maksud?
Mister Sam membuka pintu kamar. Mereka berdua lalu masuk mendekati Mommy. Daun pintunya dibiarkan terbuka lebar, hingga aku bisa leluasa mengamati dari balik sofa, di ruang tengah yang gelap.
"Lihatlah Bim! Tadi dia mengamuk tak terkendali. Aku sampai kewalahan menghadapinya," ujar Mister Sam.
"Itu karena kamu tidak mengikuti saranku, agar Alice dirawat lagi di rumah sakit."
"Ah, Bim. Dia sudah terlalu lama dirawat. Saat ini dia satu-satunya yang aku miliki. Selena sudah pergi. Jangan lagi isteriku kemudian harus dijauhkan dariku. Itu sama halnya dengan membunuhku," sahutnya dengan nada sedih.
Selena pergi? Pergi kemana?
"Alice tampak begitu normal kemarin. Ia sangat yakin kalau gadis itu adalah Selena. Aku tak mungkin tega merusak kebahagiaannya," ujar Mister Sam lagi.
Aku menajamkan pendengaran. Berusaha terus menyimak dengan baik perbincangan mereka.
"Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" tanya pria yang dipanggil Bim. Ia meletakkan tas yang dibawa di atas sebuah meja. Membuka, kemudian tampak mengeluarkan beberapa alat.
Mulut Madam Alice yang sedang terbaring itu terus meracau tak jelas. Kadang tersenyum entah pada siapa.
"Kondisinya membaik. Ingatannya pun masih belum kembali. Kami akan merawatnya sebagai Selena," sahut Mister Sam.
Mereka membicarakan aku.
"Kalau begitu tetap yakinkan gadis itu, kalau ia adalah Selena. Obat yang kuresepkan beri teratur padanya. Tiga hari lagi, bawa dia ke tempat praktekku. Otaknya harus dicuci dari memori masa lalu."
Apa? Otakku mau dicuci! Konspirasi macam apa ini?
Orang yang bernama Bim, memeriksa Madam Alice dengan stateskop serta alat lainnya yang ia bawa. Sepertinya dia seorang dokter.
Sekarang tangan pria itu terlihat sibuk, menyedot cairan dari dalam vial dengan sebuah jarum suntik.
"Permisi Madam Alice, sebentar lagi Madam akan mengantuk," ujar dokter itu seraya menusukan jarum suntik ke lengan Madam Alice.
__ADS_1
Wanita itu tak bereaksi. Kedua matanya menatap kosong bagai tubuh tak bernyawa. Menakutkan. Ternyata orang yang mengaku Mommyku adalah wanita sakit jiwa.
"Satu lagi, Sam. Kau harus membatasi gerak gadis itu. Jangan biarkan ia terlalu bebas keluar rumah. Jangan biarkan ia tahu terlalu banyak!"
"Ya, aku sudah memikirkan itu. Semua pekerjaku pun telah mengerti apa yang harus dilakukan."
"Bagus kalau begitu," sahut Bim sambil membenahi alat-alatnya.
Tak berapa lama kemudian pintu kembali ditutup. Kedua pria itu melangkah keluar menuruni tangga. Aku terdiam mematung. Duduk jongkok di belakang sofa. Menelan ludah gugup. Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menolong diri sendiri.
Aku bukan Selena. Lalu ... siapa aku? Tiga hari lagi mereka akan mencuci otakku. Apa yang harus kulakukan?
Ternyata Mister Sam akan mengorbankan hidupku untuk kebahagiaannya. Dia orang jahat.
Mungkin saat ini keluargaku yang sebenarnya sedang mencari keberadaanku.
Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari sini. Bagaimanapun caranya. Jika mereka berhasil mencuci otakku. Maka, nasibku tak lebih baik dari mayat hidup.
Bersambung
Beberapa menit aku masih diam terpaku dalam kegelapan. Berusaha berpikir dengan kondisi otak yang buntu.
Mengingat siapa diri sendiri saja ... aku tidak mampu.
Seandainya nanti aku bisa kabur dari tempat ini. Kemana tujuanku? Bagaimana kalau aku malah bertemu orang yang lebih jahat lagi dari Mister Sam?
"Aaakh!" Kuremas rambut frustasi.
Hawa di lantai dua ini terasa berubah lebih dingin. Membuat tubuhku yang sudah mengenakan piyama hangat jadi menggigil.
Wuuussshhh ....
Seperti ada angin yang berembus dan berputar dalam ruangan yang remang ini.
Aneh. Dari mana datangnya angin ini? Semua jendela besar yang berjajar pada satu sisi ruangan tampak tertutup rapat. Tidak ada satupun yang terbuka. Tirai-tirai jendela bergerak berkibaran. Sebagian tersingkap. Hingga langit malam yang diterangi sinar bulan bisa kulihat. Cahaya bulan di luar membuat ruangan menjadi terang.
Aku menatap sekeliling terheran-heran. Dada berdebar. Mataku menemukan letak saklar. Tapi, jika lampu kunyalakan, akan berbahaya. Mungkin saja Mister Sam tiba-tiba datang dan menemukan aku berada di sini.
__ADS_1
Tiba-tiba ... brak!!
Salah satu pintu terbuka begitu saja. Daun pintu itu bergerak-gerak seperti tertiup angin. lampu di dalamnya kemudian menyala berkedip-kedip.
Aku terperanjat memegangi dada. Kutajamkan pandangan. Barangkali ada orang lain yang berada di ruangan itu. Kutunggu beberapa saat.
Sepi. Tak tampak seorang pun.
Ragu-ragu kuseret kedua kaki mendekati ruangan yang telah terbuka itu. Mataku terus nyalang mengawasi sekitar. Seolah ada yang sedang mengamatiku.
Di depan pintu sejenak aku terpukau. Ruangan itu ternyata sebuah kamar yang cukup luas dan mewah. Didominasi warna ungu muda. Tempat tidur serta bed cover pun bernada sama. Semua tertata rapi. Beberapa boneka beruang yang lucu terongok dekat bantalnya. Melihat ini semua, dapat kutebak kalau kamar ini dimiliki oleh seorang gadis.
Walau dada terus berdebar. Rasa ingin tahu yang besar mendorongku untuk memasuki kamar itu. Aroma bunga mawar begitu jelas tercium begitu aku telah berada di dalamnya.
Tiupan angin dari ruang tengah sudah tak ada lagi. Kini berganti sepi dan senyap. Hanya terdengar bunyi hela napasku serta bunyi tetesan air dari arah wastafel, dekat pintu kamar mandi.
Lampu terus berkedip hingga aku harus menajamkan pandangan. Tampak sebuah bingkai foto di atas nakas dalam keadaan menelungkup. Tanganku terulur meraihnya. Foto siapa gerangan? Pelan kubalik foto itu.
Kupandangi wajah di foto seukuran buku tulis itu. Terlihat seorang gadis cantik tersenyum manis. Perawakan tubuhnya sangat mirip denganku. Berkulit putih serta rambut hitam yang panjang. Apakah ini Selena yang sebenarnya? Sekilas ia memang mirip denganku. Tapi tetap saja kami bukan orang yang sama.Kuletakkan kembali foto itu pada tempatnya.
Apa lagi yang bisa kutemukan di sini? Mataku memindai seluruh ruangan. Lalu tertuju pada sebuah meja tulis di samping tempat tidur. Kemungkinan barang-barang pribadi ada di situ.
lekas kutarik bagian laci. Ada beberapa buku bacaan. Kebanyakan majalah mode. Tanganku mengais-ngais lagi ke bagian bawah. Lalu berhenti ketika menemukan sebuah benda yang tampak istimewa. Benda itu berupa buku mungil yang cantik bertulis 'My Story'. Cover buku berwarna dasar ungu muda. Mungkin inilah warna favorit pemilik kamar.
Baru lembar pertama yang kubuka, sebuah foto terjatuh dari dalamnya. Pada foto ada dua orang muda dengan jenis kelamin berbeda. Saling merangkul mesra, memamerkan senyum bahagia. Wanitanya adalah orang yang sama dengan foto yang tadi kutemukan. Gadis yang mirip denganku. Sedang yang lelaki berwajah asia. lumayan tampan dengan warna kulit kecokelatan. Mereka berfoto dengan latar belakang sunset.
Bola mataku melebar ketika membaca tulisan di balik foto; 'Selena and Aris in love.'
Jadi benar ini adalah Selena yang asli?
Lalu ... kemana dia sekarang?
Kenapa Mister Sam ingin aku menggantikan Selena?
💕💕
__ADS_1