Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
LIMA BELAS


__ADS_3

Krieeek. Pintu terbuka dari luar.


"Astagfirulloh. Ketuk pintu dulu napa? Bikin kaget!" Roro mengomel pada orang yang baru masuk.


"Ayu?"


"Nona?"


Aku dan Ayu serempak kaget. Kami telah bertemu di sebuah mushola tadi sore.


"Kok kamu bisa ada di sini, Non?"


"Kalian saling kenal?" Roro menatap kami bergantian.


***


Roro dan Ayu keluar dari kamar. Mereka memintaku untuk menunggu di dalam. Tidak tahu apa yang sedang mereka rembukan. Aku telah menceritakan keadaanku pada keduanya. Kalau saat ini aku telah mengalami hilang ingatan dan hidupku sedang terancam oleh seseorang yang bernama Mister Sam.


Beberapa menit kemudian mereka kembali.


"Lihat ... dia beda. Kita harus tolong dia Ro!"


"Iya sih. Jangan-jangan dia artis korea yang lagi liburan di pulau ,terus kesasar. Terus kayak di filem-filem kena amnesia. Diculik orang jahat lalu dikejar-kejar. Lalu sampe di kosan kita." Roro bicara sangat cepat. Aku termangu menyimak.


"Hussh!! Artis korea apanya, Ro? Matanya gak sipit." Ayu yang bertubuh subur menoyor kepala temannya.


"Ah, gampang. Mereka kan tinggal oplas kalau mau bikin mata belok."


"Bahasa Indonesianya lancar ... Markonaaah," ujar Ayu gemas. "Gak mungkinlah. Dia bukan artis korea. Tapi orang Indonesia seperti kita. Cuman cantik bening kayak artis korea."


"Kalau beneran artis ... kita bisa terkenal, Yu!" Bola mata Roro membulat menatapku.


Mereka berdua mengamatiku. Berbicara bersahutan seolah aku hanya berupa foto yang terpajang.


"Ehem!" Aku berdehem agar mereka tersadar.


"Hehe ... maaf, ya. Kita memang suka ceplas ceplos gini. Aku sama Roro sepakat buat bantu kamu, Non. Kamu bisa tinggal sementara di kamar kami."


"Tapi, gini Non. Kamu gak bisa keluar masuk sembarangan dari kamar. Peraturan yang punya kamar. Satu kamar hanya boleh dihuni dua orang. Jadi keluar masuk harus hati-hati."


"Ini rahasia kita bertiga."


"Oh ... oke. Aku mengerti. Terima kasih atas kebaikan kalian. Terima kasih." Aku membungkuk berulang-ulang.


"Sudah ah. Gak usah sungkan begitu. Kami tidak mungkin membiarkan kamu di jalan dengan keadaan kacau begini," ujar Ayu mengusap pundakku.


Aku bersyukur bertemu orang baik seperti mereka. Semoga ingatanku cepat pulih. Bisa bertemu keluargaku lagi.


****


Kabar dari Beno, membuat wajah Henry seketika sumringah.


"Panjul berhasil melacak keberadaan Nyonya Bos."


"Kamu tidak sedang menghiburku kan, Ben?"


"Positif saya nyatakan. Nyonya masih hidup Bos. Terdeteksi berada dalam wilayah kekuasaan Mister Sam. Tapi, tempat itu sangat tertutup bagi orang luar. Nanti saya akan cari cara untuk bisa masuk ke sana."


"Ben. Kamu bilang isteriku positif ada di sana. Kenapa tidak sekarang saja kita datangi?"


"Saya mencium ketidak beresan Bos. Kita tidak bisa bertindak gegabah. Demi keselamatan Nyonya. Karena saat Panjul coba konfirmasi pada Mister Sam mereka menutupi keberadaan Nyonya."


"Maksud kamu apa, Ben? Jangan membuatku menjadi cemas!"


"Maafkan saya, Bos. Mister Sam orang kuat di tempat ini. Bukan berarti saya takut. Kita bisa saja datang ke sana. Mongobrak abrik. Mencari Nyonya. Tapi, saya perlu waktu untuk tau seluk beluk tempat itu. Malam ini saya sendiri yang akan ke sana."


"Aku ikut ke sana."


"Jangan dulu Bos. Malam ini saya akan bergerak diam-diam. Menyeludup masuk ke tempat Mister Sam."


"Ah, kamu Ben. Aku sudah tak sabar."


"Yang kita lakukan ilegal, Bos. Masuk ke wilayah orang lain tanpa ijin. Saya tidak mau Bos ikut terseret jika harus berhadapan dengan hukum."


"Astaga!" Mata Pria berkulit putih itu memejamkan. Menyugar kasar rambutnya.


Tersengal-sengal napasku. Mau tak mau harus berhenti. Jongkok memegangi kedua lutut yang sudah ngilu. Kuatur napas lagi. Mata berpendar. Pria yang tadi mengejarku tak terlihat.

__ADS_1


Ketakutan membuatku lari secepat atlet maraton. Sampai tak tahu sudah berapa jauh dan berapa lama aku berlari.


Huuufht ... kuatur napas lebih teratur. Meraba degub jantung pada dada.


Di mana ini? Aku berada di sebuah jalan sempit sebuah pemukiman. Keadaan sepi. Tak tampak orang lalu lalang.


Haus. Tenggorokan kering. Tak sepeserpun uang yang kumiliki. Bagaimana nasibku?


Aku duduk bengong di depan pagar sebuah rumah, dengan penerangan minim. Semua terlihat remang.


"Heh ... mau maling, ya?!" Suara nyaring wanita mengagetkanku.


Aku celingukan mencari asal suara.


Byuuurrr!!! Tiba-tiba air dari atas tumpah ke tubuhku.


"Aaaakh!!" Spontan aku berteriak nyaring. Seluruh tubuhku telah basah kuyup.


Sial!


"Lha ... kok suara cewek? Kamu maling bukan?" Suaranya dari arah atas.


Astaga, jadi yang dikira maling tadi aku.


"Saya bukan maling. Cuman numpang duduk." jawabku. Menyapu wajah yang basah dengan telapak tangan.


"Ngapain duduk di tempat gelap gitu? Kamu lagi ngincer kosan yang kosong kan?" Seorang gadis seumuranku sudah berdiri dekat.


"Sumpah ... saya bukan orang jahat. Tadi saya ketakutan dikejar orang. Kecapean numpang istirahat sebentar. Kalau Mbak terganggu saya akan segera pergi," terangku.


Mulut gadis berkaca mata itu membulat.


"Owh ... gitu." Ia menatap bersalah. "Maaf deh kalau gitu. Kamu sudah basah kuyup."


"Saya permisi saja kalau Mbak terganggu." Kakiku akan melangkah.


"Tunggu dulu!"


"Iya?" Aku menoleh.


"Masuk dulu deh ke dalam. Aku pinjemin baju buat ganti. Masa kamu pulang basah kuyup begitu?"


"Enggak. Ayo masuk. Kamu kok gak marah aku sudah nyiram kamu?" ujarnya seraya menggandeng tanganku.


.


.


"Ini kosanku. Ayo naik!"


Aku membuntutinya menaiki anak tangga yang berada di bagian belakang rumah.


"Maaf, ya. Aku sempat ngira kamu maling. Soalnya baru kemaren, kamar kos yang lain dibobol sama maling pas ditinggal kerja."


"Hum." sahutku sembari memeluk tubuh, mulai menggigil kedinginan.


"Aku sama temenku tinggal di kamar lantai dua ini. Yang punya rumah tinggal di bawah. Orangnya gualak. Untung dia lagi gak ada di rumah sekarang. Biasanya dilarang sama dia, bawa orang lain masuk kamar kosan." Gadis berkaca mata itu terus mencerocos. Bicaranya cepat.


.


.


"Muat gak bajunya?" tanyanya dari luar kamar mandi.


"Muat kok."


Bajuku telah berganti dengan yang kering. Kaos lengan panjang dengan bawahan rok lebar miliknya, yang kupilih sendiri. Selesai ganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi.


"Emang gak takut, kamu malam-malam begini jalan sendirian? Di sini kalau malam sepi. Maklumlah cuma kota pinggiran. Ramenya cuma karena banyak wisatawan. Itu juga kalau siang." Ia kemudian terdiam menutup mulut sendiri.


"Maaf, ya. Aku kalau ngomong susah ngerem. Gak tau kenapa. Bisa dibilang kelainan kebiasaan ngomong. Ayu aja suka bete kalau ngomong sama aku. Moga kamu enggak. Hehe," sambungnya lagi.


Aku ikut terkekeh melihat tingkah lucu teman baruku ini.


"Makasih ya."


"Sama-sama. Nama aku Roro. Nama kamu siapa?"

__ADS_1


"Nona," ujarku mengulurkan tangan.


"Besok aja kamu balikin bajunya. Baju kamu yang basah biar dimasukin kresek." Ia menuju nakas kemudian kembali dengan sebuah kresek.


Krieeek. Pintu terbuka dari luar.


"Astagfirulloh. Ketuk pintu dulu napa? Bikin kaget!" Roro mengomel pada orang yang baru masuk.


"Ayu?"


"Nona?"


Aku dan Ayu serempak kaget. Kami telah bertemu di sebuah mushola tadi sore.


"Kok kamu bisa ada di sini, Non?"


"Kalian saling kenal?" Roro menatap kami bergantian.


***


Roro dan Ayu keluar dari kamar. Mereka memintaku untuk menunggu di dalam. Tidak tahu apa yang sedang mereka rembukan. Aku telah menceritakan keadaanku pada keduanya. Kalau saat ini aku telah mengalami hilang ingatan dan hidupku sedang terancam oleh seseorang yang bernama Mister Sam.


Beberapa menit kemudian mereka kembali.


"Lihat ... dia beda. Kita harus tolong dia Ro!"


"Iya sih. Jangan-jangan dia artis korea yang lagi liburan di pulau ,terus kesasar. Terus kayak di filem-filem kena amnesia. Diculik orang jahat lalu dikejar-kejar. Lalu sampe di kosan kita." Roro bicara sangat cepat. Aku termangu menyimak.


"Hussh!! Artis korea apanya, Ro? Matanya gak sipit." Ayu yang bertubuh subur menoyor kepala temannya.


"Ah, gampang. Mereka kan tinggal oplas kalau mau bikin mata belok."


"Bahasa Indonesianya lancar ... Markonaaah," ujar Ayu gemas. "Gak mungkinlah. Dia bukan artis korea. Tapi orang Indonesia seperti kita. Cuman cantik bening kayak artis korea."


"Kalau beneran artis ... kita bisa terkenal, Yu!" Bola mata Roro membulat menatapku.


Mereka berdua mengamatiku. Berbicara bersahutan seolah aku hanya berupa foto yang terpajang.


"Ehem!" Aku berdehem agar mereka tersadar.


"Hehe ... maaf, ya. Kita memang suka ceplas ceplos gini. Aku sama Roro sepakat buat bantu kamu, Non. Kamu bisa tinggal sementara di kamar kami."


"Tapi, gini Non. Kamu gak bisa keluar masuk sembarangan dari kamar. Peraturan yang punya kamar. Satu kamar hanya boleh dihuni dua orang. Jadi keluar masuk harus hati-hati."


"Ini rahasia kita bertiga."


"Oh ... oke. Aku mengerti. Terima kasih atas kebaikan kalian. Terima kasih." Aku membungkuk berulang-ulang.


"Sudah ah. Gak usah sungkan begitu. Kami tidak mungkin membiarkan kamu di jalan dengan keadaan kacau begini," ujar Ayu mengusap pundakku.


Aku bersyukur bertemu orang baik seperti mereka. Semoga ingatanku cepat pulih. Bisa bertemu keluargaku lagi.


****


Kabar dari Beno, membuat wajah Henry seketika sumringah.


"Panjul berhasil melacak keberadaan Nyonya Bos."


"Kamu tidak sedang menghiburku kan, Ben?"


"Positif saya nyatakan. Nyonya masih hidup Bos. Terdeteksi berada dalam wilayah kekuasaan Mister Sam. Tapi, tempat itu sangat tertutup bagi orang luar. Nanti saya akan cari cara untuk bisa masuk ke sana."


"Ben. Kamu bilang isteriku positif ada di sana. Kenapa tidak sekarang saja kita datangi?"


"Saya mencium ketidak beresan Bos. Kita tidak bisa bertindak gegabah. Demi keselamatan Nyonya. Karena saat Panjul coba konfirmasi pada Mister Sam mereka menutupi keberadaan Nyonya."


"Maksud kamu apa, Ben? Jangan membuatku menjadi cemas!"


"Maafkan saya, Bos. Mister Sam orang kuat di tempat ini. Bukan berarti saya takut. Kita bisa saja datang ke sana. Mongobrak abrik. Mencari Nyonya. Tapi, saya perlu waktu untuk tau seluk beluk tempat itu. Malam ini saya sendiri yang akan ke sana."


"Aku ikut ke sana."


"Jangan dulu Bos. Malam ini saya akan bergerak diam-diam. Menyeludup masuk ke tempat Mister Sam."


"Ah, kamu Ben. Aku sudah tak sabar."


"Yang kita lakukan ilegal, Bos. Masuk ke wilayah orang lain tanpa ijin. Saya tidak mau Bos ikut terseret jika harus berhadapan dengan hukum."

__ADS_1


"Astaga!" Mata Pria berkulit putih itu memejamkan. Menyugar kasar rambutnya.


__ADS_2