Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
69. Melupakan.


__ADS_3

DEA


Dion tidak mengindahkan teriakanku. Ia terus berlari menyusuri selasar. Aku tak kuat lagi mengejarnya. Nafasku tersengal. Aku berhenti berlari dan bersandar pada tiang selasar. Di ujung sana Dion juga berhenti, ia memilih duduk selonjoran di lantai.


" Kenapa kau berlari menghindariku?" tanyaku. Karena lorong yang sepi aku tak perlu berteriak, Dion pasti akan mendengarnya.


" Aku tidak menghindarimu, aku hanya sedang berolahraga," sahutnya. 


Aku tertawa terbahak. Bisa - bisanya ia berdalih sedang berolahraga. Dion bangkit dari duduknya dan menghampiriku. Begitu ia berdiri di hadapanku, aku berhenti tertawa dan melayangkan tatapan tajam padanya.


" Dasar tukang boong," Aku memukul dada bidangnya. Ia meringgis menyentuh dadanya.


" Dasar pria jahat, kenapa kau membohongiku," sentakku marah. Sekali lagi aku memukul dadanya. Dion hanya diam dan menerima pukulanku.


" Kenapa,?" teriakku. Dion menahan lenganku ketika aku hendak memukulnya lagi.


" Aku tidak bermaksud untuk membohongimu, aku hanya tidak ingin kau merasa khawatir," ujar Dion.


" Jadi kau melakukan semua itu untuk siapa,? Untuk aku atau dia,?" Mataku mulai berkaca - kaca.


Perlahan Dion melepaskan tanganku. Ia menatapku tajam.


" Aku melakukan semua itu untukmu, Dea. Aku akan terus merasa bersalah, jika aku tidak bisa membuat orang - orang yang jahat padamu itu dihukum."


" Aku mencemaskanmu. Setiap hari aku tidak henti memikirkannya," tutur Dion.


Satu bulir bening lolos dari pelupuk mataku. Dengan cepat aku menghapusnya.


" Tapi, aku tidak suka jika kau harus terluka karena aku," ucapku. 


Dion menarik sudut bibirnya. Ia lalu merengkuh tubuhku, mendekapnya erat.


" Aku minta maaf, karena sudah berbohong," lirih Dion.


Aku membenamkan wajahku di dada bidangnya. Menghirup dalam - dalam aroma tubuh Dion yang selalu membuatku merasa nyaman dan tenang.


" Sampai kapan kita akan begini," ucap Dion tiba - tiba.


Mendengar itu wajahku langsung bersemu. Dengan cepat aku melepaskan diri dari dekapannya.


" Bukannya kau yang memelukku duluan," ketusku.


" Iya, tapi kamu tidak mau melepaskannya setelah itu kan," tudingnya.


Aku melayangkan pukulan ke lengan Dion, tapi ia lebih dulu menghindar sehingga tanganku hanya menyentuh angin. Dion tergelak. Karena tidak tahan diledek, aku kembali memukulnya, lagi - lagi ia menghindar membuatku semakin jengkel.


Karena tidak berhasil memukulnya, aku memilih untuk pergi saja.

__ADS_1


" Hei, kau mau kemana,?" tanya Dion.


" Mengambil tasku," jawabku tanpa berbalik.


Dion berlari menyusul ku, ia mensejajarkan langkah kami. Kami berjalan beriringan, tapi kemudian berpisah dan menuju kelas masing - masing untuk mengambil tas. 


Sampai di kelas aku langsung menuju mejaku, untukku mengambil tas. Saat mengemasi buku dan alat tulis ke dalam tas, aku tiba - tiba kepikiran Bobby. Seketika kilatan bayangan dirinya muncul di kepalaku. Saat pertama kali ia memberikan kotak makannya padaku, ia juga menemaniku makan kala itu. Saat ia duduk menemaniku menulis surat permintaan maaf. Saat kami makan berdua di kantin . Suaranya memanggil namaku juga terngiang di telingaku.  Aku memutar kepalaku menatap meja paling belakang di barisan tengah. Mulai besok meja itu akan kosong. 


Aku tidak percaya Bobby melakukan semua itu. Kami baru saja menjadi teman dekat akhir - akhir ini. Tapi semua itu hanya akan menjadi kenangan yang menyakitkan. Dan alasannya itu yang membuatku tak habis pikir. Apa sikapku seburuk itu, sehingga orang menjadi benci dan memiliki dendam padaku.


Sejujurnya aku tidak bermaksud mengacuhkannya saat ia duduk di belakangku saat semester lalu. Tapi karena aku tipe orang yang susah bersosialisasi dengan orang baru malah membuatnya berpikiran aku ini gadis yang sombong. Kami baru sekelas saat kelas 11, saat kelas 10 aku tidak begitu mengenalnya.


Aku menghela nafas panjang. Mungkin setelah ini aku akan belajar menjadi orang yang lebih ramah dan terbuka. 


" Dea," 


Suara Dion menyentakan lamunanku. 


" Kenapa lama sekali,?" tanya Dion berdiri di ambang pintu.


Aku mengulas senyum, sembari menyampirkan tas di punggungku. Lalu melangkah keluar kelas.


" Ayo, kita pulang," ajakku.


Dion tersenyum manis dan meraih tanganku menautkan jari - jari kami. Aku balas tersenyum. Kami melangkah meninggalkan gedung sekolah. 


Hari berlalu, berita tentang Bobby menyebar di seantero  SMA N 1. Semua tak menyangka Bobby akan melakukan hal se hina itu. Banyak yang merasa prihatin dan kasihan denganku. Sementara Tiara, ia di skors dan juga harus menulis surat permintaan maaf.  Tak hanya itu, ia juga dihukum membersihkan toilet sekolah. Selain itu tak ada yang berubah dengan hari - hariku di sekolah. Aku tetap menjalani hariku seperti biasa. Aku berusaha untuk melupakan semua kenangan buruk itu.


Siang ini aku dan Sarah duduk di tepi lapangan basket melihat Dion dan teman - temannya latihan.


" Dion…semangat " aku menyerukan namanya memberi semangat dengan senyum mengembang di wajahku. Dion melirikku sambil mengerlingkan matanya.


Bagiku Dion terlihat keren saat main basket. Aura kejantanannya terpancar saat mendribel bola. Dengan sekali shoot ,ia berhasil memasukan bola ke dalam ring.


" Yeeeeay....," Aku bersorak girang sambil bertepuk tangan.


Sarah memutar malas bola matanya. Ia mendesis.


" Norak,"


"Biarin," Aku menjulurkan lidah.


Aku kembali memperhatikan Dion dan teman - temannya.


" Eh, jangan lupa ya janji kamu," ujar Sarah tiba - tiba.


" Janji apa,?" aku mengernyit.

__ADS_1


" Ih, tu kan lupa," sarah merenggut. 


Janji apa yang sudah aku lupakan,? Aku berpikir keras mengingatnya.  Sarah semakin keki karena aku tak kunjung mengingatnya.


" Lupakan saja," kesal Sarah.


" Ah, aku ingat. Janji pergi ke festival lomba dayung perahu itu, kan?" 


Sarah mendengus sambil mengerucutkan bibirnya. Sejurus kemudian ia mengangguk.


" Iya..iya kita akan pergi. Acaranya besok kan,?" tanyaku.


" Kalian mau pergi kemana,?" tiba - tiba saja Dion sudah selesai main dan duduk di sampingku.


" Hem, itu.." aku ragu untuk menjawab. Takut jika nanti aku bilang kalau aku akan pergi ke acara festival dengan Sarah, Dion malah minta ikut. 


Aku melirik Sarah. Tapi ia hanya mengedikan bahunya. 


" Bukan apa - apa. Hanya acara cewek - cewek.," jawabku kemudian.


Dion menatap curiga.


" Acara apa,? Kok aku nggak boleh tau,?" ujar Dion.


Aku menyikut lengan Sarah. Memintanya untuk menjawab.


" Kami mau pergi ke acara festival lomba dayung perahu besok," Jawab Sarah mewakili.


" Oh, acara itu. Aku sama Rey juga berencana pergi ke festival itu. Gimana kalau kita pergi bareng aja," ujar Dion.


Aku tak menjawab, sejujurnya aku senang kalau Dion juga ikut. Tapi aku tidak tahu apa Sarah akan merasa nyaman atau tidak.


Sarah meliriku, dari sorot matanya jelas ia meminta pendapatku.


" Aku tergantung Sarah saja," jawabku cepat.


" Gimana Sarah, kita pergi bareng aja ya,?" ucap Dion sedikit memaksa.


Sarah menghela nafas berat. Cukup lama ia berpikir sebelum menganggukan kepala tanda setuju.


Aku tersenyum senang, sepertinya besok akan menjadi hari spesial. 


Bersambung….


...----------------...


Hai ,,, jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komentar.

__ADS_1


__ADS_2