
Embun membahasi dunia dan matahari perlahan menunjukan seberkas sinarnya. Kicauan burung mengawali pagi yang cerah ini. Secerah hati seorang gadis yang melenggang riang menuju ke tempat kerjanya.
Pertemuannya kemarin dengan keluarga Dion membawa energi positif bagi Dea. Gadis itu jadi lebih bersemangat menjalani harinya. Ia bersyukur dipertemukan dengan orang - orang yang bisa menerima kekurangannya.
Sesekali bibirnya mengukir senyum tipis, jika teringat kejadian kemarin. Saat Dion menciumnya. Langkah Dea terhenti ketika ia sampai di persimpangan. Ia menunggu dengan sabar traffic light berganti merah untuk menyeberang. Beberapa orang juga ikut berhenti di belakangnya.
Di seberang jalan juga sama, terlihat dua orang pria yang akan menyeberang.
Lampu merah menyala, kendaraan mulai berhenti, Dea melangkahkan kakinya menyeberang jalan. Dari arah berlawanan tampak seorang pria berumur akhir 40an berjalan terburu - buru sambil memainkan ponselnya, tanpa sengaja pria itu bersinggungan dengan orang yang berlawan arah dengannya. Ponsel di tangan pria itu terjatuh dan tepat di depan kaki Dea.
Dea berjongkok mengambil benda itu. Pria itu sempat marah pada orang yang membuat ponselnya jatuh.
"Ini ponselnya ,pak," Dea menyerahkan ponsel itu.
Pria itu menoleh, dengan wajah datar ia mengambil ponselnya dari tangan Dea.
Darah Dea berdesir, begitu ia melihat dengan jelas wajah pria itu. Dea mengerjapkan matanya bahwasanya apa yang dilihatnya tak salah.
"Makasih" ucap pria itu.
Namun Dea hanya diam mematung, dengan mata tak berkedip menatap pria di depannya.
"Apa aku nggak salah lihat,? Kenapa orang ini mirip om Ardi, atau hanya perasaanku saja," batin Dea.
Pria itu berlalu begitu saja, tak peduli dengan sikap Dea yang terpaku melihatnya.
Dea berbalik badan, pria itu sudah hampir mencapai pinggir jalan.
" Om Ardi," Dea menyerukan nama orang yang diyakininya adalah ayah dari Sifa itu.
Pria itu sontak menoleh merasa namanya disebut. Ia celingukan mencari orang yang memanggilnya, merasa tak melihat siapapun sosok yang dikenalnya ia kembali melangkah.
Mata Dea melebar, entah itu kebetulan nama orang itu Ardi atau memang dia adalah pamannya Dea , Dea bermaksud mengejar pria itu untuk memastikan, tapi sungguh disayangkan lampu hijau menyala. Ia terjebak di tengah jalan. Suara klakson mobil dan motor bersahutan, karena posisinya yang membuat jalan kendaraan jadi terhalang.
Dea masih berdiri membeku di tengah jalan, karena ramainya kendaraan. Hingga lampu merah kembali menyala, barulah ia melangkah ke pinggir jalan.
Kini kepalanya dipenuhi oleh bayangan pria yang dilihatnya tadi. Benarkah itu om Ardi atau hanya orang yang mirip dengan Pamannya,?.
Sampai akhirnya Dea tiba di tempat kerja ia tak henti memikirkanya. Sehingga ia tak mendengar Dean memanggilnya dari tadi.
"Dea, " Dean menyentuh pundak Dea saat gadis itu akan masuk ke dalam gedung kantor.
Dea menoleh, ia mendapati Dean tersenyum padanya.
" Kenapa,?" tanyanya polos.
" Aku memanggilmu dari tadi,"
" Oh ,maaf. Aku tidak dengar. Kenapa memanggilku,?" Sikap Dea masih sama seperti kemarin, menjaga jarak dengan Dean.
"Cuma mau memberikan ini," Dean mengangsurkan sebuah paper bag kedepan Dea.
__ADS_1
" Apa ini,?" Dengan ragu Dea mengambilnya.
" Hadiah untukmu"
Dea mendelik, ia bermaksud ingin mengembalikan karena tidak bisa menerimanya tapi Dean lebih dulu menggeleng.
"Itu bukan barang mahal, aku sudah niat ingin membelikanmu sesuatu saat gajian pertamaku. Aku mohon terimalah, anggap saja sebagai hadiah pertemanan kita," Dean tersenyum lebar, meski hatinya menyangkal untuk kata pertemanan.
"Kalau kau tidak suka, kau bisa membuangnya atau memberikan pada orang lain," ucap Dean lagi saat Dea akan membuka mulut untuk berbicara.
Ia terpaksa mengatakan itu, daripada ia harus mendengar kata penolakan dari Dea. Dean segera masuk mendahului Dea, sebelum Dea kembali berucap.
Dea terpaku menatap paper bag, yang isinya sebuah tas wanita. Ia merasa tak enak hati menerima hadiah itu. Dea menarik nafas dalam, kemudian menyusul Dean masuk ke dalam gedung.
Ternyata kejadian saat Dean memberikan hadiah pada Dea tak luput dari penglihatan Tika.
Tika menatap sinis pada Dea begitu mereka bertemu di pantry.
"Padahal sudah punya pacar, tapi di dekati sama pria lain tak menolak," ucap Tika entah pada siapa, karena di pantry ada Sari dan satu karyawan wanita selain Dea.
Dea yang sadar kata itu ditujukan padanya, berusaha cuek. Mulai hari ini, ia tak akan ambil pusing dengan sikap Tika. Toh, yang lain tak ada merasa keberatan dengan dirinya.
***
Karena sudah terlalu lapar, Dean memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran sebelum mereka kembali ke kantor. Kebetulan jam makan siang sudah terlewatkan.
"Makan disini aja ya,"
Restoran tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa memilih tempat duduk sesuka hati.
Seorang pelayan datang menanyakan pesanan mereka begitu mereka sudah duduk dengan nyaman.
Setelah pelayan itu pergi, keheningan mengambil alih. Dea semakin canggung, apalagi setelah Dean memberinya hadiah. Ia jadi tambah yakin kalau pria didepannya itu memiliki perasaan padanya.
" Apa kau suka tasnya,?"
Dea tersentak kaget. Ia tersenyum kaku sembari membenarkan posisi duduknya.
" Suka, terima kasih tasnya. Tapi sebenarnya kau tak perlu melakukan hal - hal seperti itu,"
" Kenapa,?" Tanya Dean.
Dea menggaruk alisnya, bingung akan menjawab apa.
"Lebih baik uangnya di tabung, karena itu pemborosan,"jawab Dea asal.
Dean mengulas senyum. Sejurus kemudian keduanya kembali diam, sampai pelayan datang membakan makanan mereka.
Dea yang sadar Dean terus mencuri pandang padanya berusaha mengalihkan rasa groginya dengan memperhatikan setiap sudut restoran.
"Kenapa melihatku terus, cepat habiskan makanmu. Kita sudah terlambat kembali ke kantor," Pada akhirnya Dea bersuara karena merasa tak nyaman diperhatikan saat ia makan.
__ADS_1
Dean hanya tersenyum, entah kenapa menggoda Dea terasa menyenangkan baginya.
Tanpa mereka sadari, Pak Bagas atasan mereka baru saja memasuki restoran dengan seorang pria dan mengambil tempat tak jauh dari mereka.
" Aku ke toilet dulu,"ucap Dea seraya bangkit dari duduknya. Dan dibalas anggukan oleh Dean.
Di Toilet, Dea berusaha menenangkan dirinya.
"Kenapa aku merasa canggung begitu di dekat Dean," gumamnya sambil mencuci tangannya di wastafel.
Ia menarik nafas dalam, lalu melepaskan perlahan seraya menatap bayangan dirinya di kaca.
"Bersikaplah seperti biasa, kamu tidak akan bisa terus menghindarinya," monolog Dea.
Setelah merasa lebih rileks, barulah ia keluar dari toilet.
Saat akan kembali ke mejanya mata Dea menangkap seseorang yang sangat ia kenali, duduk bersama pak Bagas atasannya. Mereka tampak akrab, tampak keduanya saling tertawa.
"Dion,?" Batin Dea.
"Kenapa dia bisa mengenal pak Bagas,?"
"Apa jangan - jangan,_"
Dengan langkah panjang Dea mendekati meja pak Bagas. Kedua pria itu terkejut melihat Dea ada disana. Apalagi Dion, seketika wajah ya berubah pias.
" Selamat siang Pak Bagas,"sapa Dea.
"Selamat siang,"jawab Pak bagas tampak gugup.
Dea beralih menatap Dion dengan sorot mata tajam dan penuh tanya. Ada hubungan apa antara mereka berdua.
"Kalian saling mengenal ya,"tanya Dea menatap keduanya saling bergantian.
"Kenapa kamu ada disini,?" Bukan menjawab, pak Bagas malah melemparkan pertanyaan.
" Kebetulan saya makan siang di sini dengan Dean," Dea menunjuk ke meja tempat ia dan Dean duduk.
Dion melihat ke arah yang ditunjuk Dea, benar saja disana ada Dean.
"Dion adalah keponakan saya," jawab Pak Bagas yang membuat Dea melebarkan matanya.
Deg.
Dada Dea bergemuruh, sekarang ia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Kenapa ia bisa diterima kerja disana. Semua karena Dion.
Bersambung....
...----------------...
Like dan komentarnya ya,, biar semangat buat up... lope segunung buat kalian yang setia baca cerita receh ini...
__ADS_1