Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

.


.


.


Mataku tercengang dengan mulut menganga. Henry kulihat bergulat saling piting dengan seorang pria berbadan besar, berambut setengah botak. Banyak pria lain berpenampilan sangar berdiri mengelilingi. Mereka hanya melihat tanpa melerai. Pria besar bertato itu menyerang Henry. Tubuh Henry terus dipiting. Tulang suamiku bisa patah olehnya.


"Jangaaaan!!" Aku berteriak histeris.


Kaki berlari kencang ke arah pria besar yang menyakiti suamiku.


"Hentikaaaan!!" Kujambak rambut gondrongnya yang cuma setengah kepala itu.


Apa dia mau membuatku jadi janda?


"Aaaghk!!" Pria itu menjerit kesakitan. "Ampun Nyonya Bos!"


"Hiaaah!" teriakku berang.


Kakiku masih menendang-nendang saat sepasang lengan merengkuh dari belakang. Menarik menjauhkan aku dari pria itu. Kedua sendal di kaki sampai terlempar. Anehnya pria yang kuaniaya sama sekali tidak melawan. Malah berteriak minta ampun.


"Niken Sayaaang! Kita cuma latihan." Suara Henry dari belakang punggung. Ternyata lengannya yang menarikku.


"Awas kamu!" Kuacungkan lagi kepalan tangan ke arah pria itu.


"Dengerin Ken! Tadi itu olah raga gulat."


"Hah?" Napasku tersengal menoleh ke wajah Henry.


"Kamu kenapa nyerang dia? Dia cuma melatihku." Napas Henry juga tersengal.


Glekh! Kutelan saliva.


"Oowh ...."


Aku salah?


Mata menyapu pria-pria besar yang dari tadi hanya berdiri menyaksikan Henry berkelahi. Mereka menatapku heran. Sebagian malah tampak menahan senyum.


Satu orang dari mereka memunguti sendalku yang tadi terlempar.


"Ini sendalnya Nyonya Bos." Ditaruh sendal itu tepat di depan kakiku.


"Mereka semua siapa? Aku takut," bisikku di telinga Henry. Henry malah terkekeh-kekeh.


"Kalian semua bubar! Isteriku takut liat tampang kalian," ujar Henry masih dengan terkekeh.


Pria-pria besar itu segera beringsut menjauh. Mereka berjalan ke arah belakang. Ada bangunan lagi yang tampak tertutup di sana.


"Kamu nyari aku, Sayang?" Henry melepaskan kekangannya dari tubuhku.


"Hu' um," sahutku mengenakan kembali sendal pada kaki. "Sekalian pingin lihat-lihat halaman belakang."


"Sudah sarapan?" Tangannya merapikan jilbabku yang mungkin berantakan.


"Sudah minum susu."

__ADS_1


"Kalau gitu kita balik ke rumah aja, yuk! Sarapan."


Aku mengangguk. Henry melingkarkan lengan pada bahuku. Tubuhnya terasa basah oleh keringat. Tapi baunya tetap enak. Kami berjalan menuju rumah.


"Nanti di taman ini aku mau bikin tempat bermain untuk anak kita. Ada perosotan, ayunan, kolam renang kecil ...." Tangannya menunjuk-nunjuk lahan yang tampak masih kosong.


"Bagus." Daguku manggut-manggut. "Orang-orang tadi siapa?" tanyaku.


"Owh ... mereka kerja untuk jaga keamanan kita. Semua anak buah Beno."


"Sebanyak itu? Mereka tinggal di sini?"


"Gantian kok nginapnya. Mereka juga punya keluarga. Kalau giliran libur boleh pulang."


"Kamu ngapain belajar gulat segala?" Alisku bertaut menatapnya.


"Bukan cuman gulat. Bela diri yang lain juga. Biar bisa jagain kamu," ujarnya seraya mendaratkan kecupan di dahiku. Keringatnya ikut menempel. Tak apalah. Sama-sama belum mandi.


"Tapi aku gak suka liat kamu seperti tadi. Kalau tiba-tiba cedera kan bahaya," sungutku.


"Mereka profesional kok. Kamu gak usah khawatir," sanggah Henry.


"Tanganmu tadi bisa saja patah. Badan orang itu besar sekali."


"Hmm ...," Henry kehabisan kata. "Aku sudah buat janji sama dokter. Nanti sore kita ke klinik buat therapy kamu sama baby," ujarnya mengalihkan pembicaraan.


"Therapy aku?"


"Iya therapy amnesia kamu sama kehamilan kamu," jelasnya.


***


"Usia kehamilan masih enam minggu. Kondisi ibu sama janin saat ini baik. Perkembangan janin sesuai umur kehamilan."


Seorang dokter pria setengah baya, menggeser-geser alat pemantau janin di atas perutku. Alat itu terhubung dengan layar monitor USG di depan kami.


"Wow ...." Mata Henry menatap tak berkedip pada satu titik yang tampak di layar monitor. Kami bisa melihat sebuah tanda kehidupan baru di rahimku.


"Ada yang mau ditanyakan?" tawar dokter itu seraya membenarkan letak kaca mata di wajah.


"Boleh tanya jenis kelamin bayi kita dokter?" tanyaku.


"Trimester pertama kehamilan belum bisa dilihat, Buk. Nanti kita lihat ulang diatas usia kehamilan empat bulan. Pingin laki apa perempuan?" Dokter itu terkekeh.


"Apa aja gak masalah. Yang penting sehat," sahut Henry tersenyum simpul.


.


.


.


Sore ini aku dan Henry hanya jalan berdua tanpa supir. Henry mengemudikan mobil sendiri. Kami sudah kembali dari klinik.


"Habis ini mau jalan kemana, Sayang?" tawar Henry.


Mobil meluncur di atas aspal. Melalui jalan yang tidak terlalu ramai. Aku sangat suka suasana sore kota kami.

__ADS_1


"Kemana, ya?"


Tidak menyangka kalau Henry akan membawaku jalan-jalan sore ini.


"Kamu ngidam makan apa?" tanya lagi.


Aku menggeleng. "Enggak ngidam apa-apa.


"Masa gak ngidam sih? Aku kan pingin nyenangin kamu. Ayo ... mau makan apa?" desaknya.


"Dih ... masa ngidam maksa?"


"Masih pingin kacang rebus gak?"


"Enggak."


Tangan kiri Henry meraih tanganku. "Peluk Abang dong Non! Ngapain kita jalan gak pake supir kalau kamu gak mau nempel." pintanya.


Aku tersenyum geli. Akhirnya melingkarkan tangan pada perutnya. Menyandarkan kepala pada bahu kokoh itu. Mesra sekali posisi kami. Bucin ketemu bucin jadi makcin. Tau makcin? Makcin itu maniak cinta. Hihi.


"Biasanya kamu itu punya banyak ide kalau di ajak jalan. Pingin nyari martabak lah. Mau makan cilok, somay, kacang rebus lah. Segala cemilan mau dibeli. Kenapa pas hamil malah gak mau apa-apa?" tanyanya heran.


"Tau ... bawaan orok kali," jawabku seraya mengendikan bahu.


Henry terkikik. "Iya, bisa jadi. Hmm ... biar asik jalan ke mana, ya?" gumamnya.


"Jalan ke mall?" saranku tiba-tiba.


"Belanja baju bayi?" sahutnya.


"Hum." Aku menggeleng. "Belanja buat aku dulu, Sayang. Bentar lagi badanku bakal melar."


"Siap," sahutnya.


Eits ... aku barusan bilang apa? Badanku sebentar lagi akan melar? Huhuu ... jadi jelek dong.


"Hen ...."


"Hum?"


"Bentar lagi aku bakal gendut. Perutku buncit. Aku jelek." Bibirku mengerucut membayangkan penampilanku beberapa bulan ke depan.


"Siapa bilang jelek? Kamu kalau hamil bisa tambah seksi. Ada darah dagingku yang tumbuh di perut kamu." Satu tangannya di lingkarkan ke bahuku. Mengecup puncak kepala.


"Kamu lagi mengibur aku kan?"


"Liat aja nanti! Apa aku cuma menghibur kamu," gumamnya.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2