Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
66. Tuduhan


__ADS_3

Polisi datang lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan. Sehingga sebelum jam pelajaran terakhir selesai aku sudah kembali dipanggil ke ruang BK. Kali ini Bu Yuna sendiri yang menjemputku ke kelas. Tentu saja, teman kelasku bertanya - tanya. Apalagi Sarah, ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.


Aku dilanda rasa gugup yang berlebihan, sehingga tanganku tak henti mengeluarkan keringat. 


Seorang pria berbadan tegap, dengan wajah sangar sudah duduk menungguku di ruang BK. Sepertinya ia polisi yang di maksud oleh pak Yahya tadi. Pria itu memakai kaos oblong warna hitam dilapisi jaket kulit , bawahannya ia memakai celana jeans. Sekilas ia tidak terlihat seperti polisi melainkan preman.


Belum lama aku mendaratkan pantatku di sofa, Tiara pun datang. Ia duduk di sebelahku.


Suasana hening mencekam.


" Apa anak - anak ini tidak didampingi orang tua mereka," suara bariton polisi itu memecah kesunyian.


" Karena kasus ini terjadi di lingkungan sekolah, jadi kami sebagai guru yang menjadi wali mereka," jawab Bu Yuna.


" Baiklah, saya mulai saja, tadi guru kalian sudah menjelaskan secara ringkas persoalan ini. Dan sekarang saya mau bertanya langsung pada kalian sebagai korban," polisi itu menatap tajam aku dan Tiara bergantian.


" Bisa ceritakan bagaimana kronologinya,?" tanya Polis itu.


Aku tak tau polisi itu bertanya pada siapa. Aku dan Tiara saling pandang. 


" Tiara kamu duluan yang jelaskan," ujar Bu Yuna.


Tiara mengusap telapak tangannya diatas paha. Aku yakin ia juga gugup sepertiku. 


" Semua berawal dari…" 


Tiara mulai menceritakan bagaimana awalnya ia bisa kenal dengan Gilang, sampai ide untuk mengerjaiku itu tercetus di kepalanya. Sampai akhirnya ia menerima teror dan ancaman dari Gilang ,jika Tiara tidak mau memberi uang pada laki - laki itu. Sesekali Tiara tampak menghela nafas panjang, di sela ceritanya. Aku termangu mendengar semua penjelasan Tiara. Dan dari penjelasan Tiara jugalah aku tahu kalau Dion turut andil dalam hal ini.


Jadi Dion banyak berbohong padaku belakangan ini. Awas saja nanti. 


" Begitu pak,," ujar Tiara mengakhiri ceritanya.


Polisi itu manggut - manggut, ia tampak menuliskan beberapa hal di buku catatannya. 


" Lalu kamu, ceritakan bagaimana kejadiannya sampai dia melecehkanmu," ucap Polisi itu menatapku.

__ADS_1


Dadaku sesak, lagi - lagi aku harus kembali menceritakan kejadian buruk itu yang sudah susah payah aku lupakan. Tapi kalau ini bisa membuat laki - laki brengsek itu menerima hukuman atas perbuatannya, akan aku kuatkan hatiku untuk kembali membuka ceritaku.


Aku melirik satu per satu guru yang ada di ruangan, semuanya sama mereka menganggukkan kepala meyakinkanku untuk menjelaskan pada polisi itu.


Aku menghela nafas sejenak kemudian mulai menceritakannya. Tak hanya kejadian di gedung belakang , tapi beberapa kejadian dimana aku melihat Gilang di sekolah ini. Kejadian saat upacara yang sudah di ceritakan Tiara tadi, lalu aku yang terkurung di toilet sesaat setelah tak sengaja bertemu dengan Gilang. Lalu saat aku hampir saja bertemu dengannya saat sedang membersihkan Toilet. 


Polisi itu menatap tajam Tiara, membuat Tiara gemetar ketakutan.


" Apa betul kau tidak tau apa - apa soal kasus pelecehan itu,?" tanya polisi itu pada Tiara.


" Tidak pak, saya tidak tau." 


Polisi itu tampak berpikir sejenak. Ia memukul - mukul pelan bolpoin di pelipisnya. 


" Tadi kau bilang, ada yang menukar isi suratmu. Mana surat itu, apa masih ada,?" tanya polisi itu padaku.


" Oh ada pak, surat itu sama saya, sebentar saya ambilkan," Pak Reza menimpali seraya bangkit dari duduknya.


Pak Reza kembali dengan surat itu, ia meletakkan surat itu di atas meja. Polisi yang sampai detik ini aku belum tau namanya itu mengambil surat itu dan membacanya sekilas. Aku melihat polisi itu tersenyum tipis. 


" Coba tulis nama kamu di kertas ini," polisi itu merobek satu lembar kertas bukunya dan menyerahkannya pada Tiara lengkap dengan pena. 


Tangan Tiara gemetar meraih pena dan kemudian ia menulis namanya di atas kertas. Setelah selesai polisi itu mengamati tulisan Tiara dan mencocokan dengan tulisan di surat itu.


" Tidak sama," gumamnya.


" Apa tidak ada CCTV, di ruang kelas atau diluar kelas,?" 


" Tidak pak, CCTV hanya ada di bagian - bagian terpenting gedung sekolah saja," jawab Pak Yahya.


Polisi itu membuang nafas berat. Sepertinya ia cukup kesulitan untuk memecahkan misteri itu.


" Bisa jadi si Gilang itu sendiri yang menulis surat ini. Mungkin dia terobsesi denganmu setelah Tiara tanpa sengaja memperkenalkan kamu padanya." ujar polisi itu.


" Tapi…" ucapku meragukan kesimpulan polisi itu.

__ADS_1


" Tapi kenapa,?" 


" Bagaimana ia tahu kalau hari itu Dion datang ke kelas saya meletakkan surat itu. Pasti ada seseorang yang memberinya info." ujarku mengemukakan pendapat.


Polisi itu kembali berpikir.


" Coba panggil anak yang bernama Dion itu," ucap polisi itu kemudian. Bu Yuna langsung bangkit dari duduknya, dan melaksanakan perintah polisi itu.


" Dalam kasus ini, siapa saja bisa jadi tersangka," 


Ucapan polisi itu membuat darahku berdesir. Kenapa dia jadi mencurigai Dion. Itu sangat tidak masuk akal. Beberapa saat kemudian Dion datang.


" Kamu yang namanya Dion,?" tanya polisi itu.


" Iya pak,"jawab Dion.


" Jadi kalian berdua pacaran,?" Polisi itu bergantian menatapku dan Dion.


" Iya pak," jawab Dion gugup.


" Sudah lama,?" 


" Sekitar 5 bulan pak," 


Polisi itu tersenyum simpul. 


" Kalian mengingatkan saya pada masa lalu saya. Saya juga dulu punya pacar  saat sekolah, tapi sayangnya hubungan kami tak bertahan lama karena ia selingkuh dengan sahabat saya sendiri," ujar polisi itu terkekeh.


Para guru yang mendengar ikut tertawa mendengar celotehan tak berguna polisi itu. 


Suasana yang tadinya tegang sedikit lebih santai. 


" Ok kita lanjut, kenapa jadi bahas mantan saya ya," ucap polisi itu.


" Belum bisa move on ya pak dari mantannya," Bu Yuna menimpali.

__ADS_1


Gelak tawa kembali terdengar, aku jadi sedikit lebih rileks.  Namun ketika polisi itu kembali ke mode serius, aura sekitar mendadak kembali mencekam.


__ADS_2