
Henry mengambil dua kaleng minuman dingin yang ada di show case, membawanya padaku. Dia kemudian membuka lalu menyodorkan satu kaleng ke arahku. Tenggorokan memang terasa kering setelah puas berteriak lepas di area gurun pasir.
Safari Desert telah dipenuhi para pengunjung yang menunggu dimulainya atraksi sebentar lagi. Aku dan Henry masih menikmati minuman dingin. Beno dan kroconya tiba-tiba saja sudah ada di belakang kami.
Usai menghabiskan minuman dingin, Henry berdiri menarik tanganku.
"Kemana?"
"Acara belum mulai. Kita pacaran dulu," sahutnya.
"Kalian tunggu di sini saja," ujar Henry pada Beno, ketika para body guard itu ikut bergerak mengikuti kami. Beno dan teman-temannya tak berkutik. Mereka mengangguk patuh.
Henry menuntun lenganku berjalan menjauh dari keramaian.
"Kenapa, pasukan Beno gak boleh ikut?"
"Kamu mau mereka ngintip kita pacaran?"
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Henry melingkarkan lengan di bahuku. Tanganku memeluk pinggangnya. Kami berdua mulai melangkahkan kaki menyusuri gurun berpasir. Menjauh dari orang banyak. Menepi ke tempat yang lebih privasi.
Setelah menemukan tempat sepi yang tertutup pohon-pohon palm, Henry mengeluarkan gawai dari saku jasnya yang tebal. Memasang sebuah earphone pada gawai, lalu mengutak atik layar. Aku menunggu penasaran. Henry mau apa?
Salah satu earphone sekarang sudah menempel di telingaku, satunya lagi telah terpasang di telinga Henry.
Sebuah lagu yang telah familiar terdengar di telinga dengan volume kecil. 'You Still The One' nya Shania Twain.
Kami berdiri berhadapan dengan posisi yang sangat rapat. Mata saling menatap mesra, penuh cinta.
When I first saw you ... I saw love
And the first time you touch me ... I feel love
And after all this time ... you still the one I love ... hmm ... yeah ....
"Kamu ingat lagu ini? Lagu ini sangat berarti buat aku. Dan ... aku mau, lagu ini juga punya arti buat kamu."
"Lagu favorit Opah kamu, kan?" tanyaku polos.
Henry terkekeh lalu menggeleng. "Aku bohong."
Dahiku berkerut mendengar pernyataannya. Henry meraih kedua tanganku. Meletakan pada dadanya.
"Aku mau cerita sama kamu. Waktu itu aku sengaja pulang ke Indonesia untuk menemui kamu. Sebenarnya aku mau menyatakan perasaan yang sudah lama kusimpan. Tapi keberanian belum cukup. Jadinya cuma menyampaikan pesan lewat lagu. Harapanku kamu bisa membaca isi pesan dari lagu itu."
Alisku bertaut, menyimak kata-kata yang mengalir dari mulut Henry. Mengingat peristiwa bertahun yang lalu ketika kami menghabiskan waktu di pantai. Henry sengaja menjemput aku yang masih bekerja di hotel Queen. Kami berdua menghabiskan senja hari, memandangi sunset yang berkilauan memantul di air laut. Ketika itu aku terlalu polos untuk memahami perasaan seorang Henry.
"Itu yang pertama aku gagal menyatakan cinta." Henry terkekeh, matanya kian menyipit.
Mulutku membulat. "Lalu yang kedua?"
"Yang kedua waktu kamu ninggalin aku ke Kalimantan."
"What?" Kelopak mataku melebar.
"Hmm." Henry mengangguk. "Waktu terakhir jemput kamu di kampus. Aku sudah menyiapkan sebuah cincin buat melamar kamu. Tapi, kamu sudah menghilang."
Aku menggeleng pelan. Kedua tanganku membekap mulut. Kasihan banget Henry. Aku ... jadi merasa jahat.
"Ma-af." lirihku.
Pria bermata sipit itu menarik kedua sudut bibirnya.
Saat ini sunset yang sangat indah menghiasi langit di Desert Safari Dubai. Matahari kemerahan bersiap berganti gelap. Lagu dari gawai Henry terus mengalun lembut di telinga kami.
You' re still the one I run too ....
The only one I dream too ....
You' re still the one I want for love ....
__ADS_1
"Kalau saat itu kita berada di tengah sunset pasir pantai, sekarang kita berada di tengah sunset pasir gurun." Henry berhenti bicara sejenak. Kedua netra itu menyusuri manik mataku. Ia menghela nafas, lalu bicara lagi.
"Lagu itu sebuah bukti kalau saat itu aku sedang mengejar cinta kamu. Dan aku tidak akan pernah berhenti, Ken. Aku akan terus mengejar cinta kamu sampai kapan pun. Meski aku sudah memiliki kamu."
Lidahku terasa kelu. Tak mampu berkata apa-apa. Mataku terasa hangat.
"Saat ini kita sudah saling memiliki. Kamu telah jadi belahan jiwaku. Mungkin saja akan ada onak duri di depan sana menunggu kita. Please, apapun yang terjadi. Jangan pernah meragukan aku."
Henry mengambil kedua tanganku untuk memeluk pinggangnya. Sedangkan tangannya sendiri merengkuh tubuhku. Wajah Henry merunduk, mendaratkan kecupan hangat di bibirku.
Mataku terpejam. Kalau saja aku sebuah lilin, mungkin saat ini aku sudah meleleh.
You' re still the one that I love ....
The only one I dream off ....
You' re still the one I kiss good night ....
Cinta akan menemukan jalannya sendiri. Seperti aku yang telah menemukan cintaku. Ada perasaan kehilangan, perasaan kekurangan ketika aku berada jauh dari pria ini. Dan perasaan yang sangat nyaman ketika berada di dekatnya. Rasa membutuhkan yang sangat kuat.
Betapa indah. Berpelukan di tengah kemilau sunset. Kubenamkan wajah di dadanya. Menikmati bait demi bait yang mengalun lembut. Beruntung sekali aku memiliki pria seromantis Henry. Ia membuat aku merasa jadi wanita yang paling diinginkan.
.
.
Kriuuuk ... perutku tiba-tiba berbunyi.
Henry melepas pelukannya. Kami saling melempar senyum.
"Hmm ... ternyata cinta saja tak bisa membuat perut isteriku kenyang. Pantas kalau ada orang yang bilang ... Makan tuh cinta!" ledeknya seraya terkekeh. Aku ikut terkekeh geli.
Tangan kami saling menggenggam. Berjalan kembali ke pusat berkumpulnya para pengunjung. Dari jauh terdengar alunan musik bernuansa arab memecah gurun maha luas dengan warna pasir kemerahan.
****
Usai magrib aku dan Henry langsung menuju tempat jamuan makan malam.
Mister Malini, Beno dan yang lain entah di mana. Biarlah mereka menikmati waktu sendiri.
Atraksi api di mulai. Di tengah lapangan berdiri seorang pria bertelanjang dada. Postur tubuhnya tinggi dengan otot-otot yang menonjol. Mulut pria itu berteriak nyaring setelah kemudian menyemburkan api. Berkali-kali ia mempertontonkan atraksi memuntahkan api. Membuat ngeri. Api itu kemudian memutari tubuhnya, membentuk banyak konfigurasi yang indah. Decak kagum serta riuh tepuk tangan pengunjung terdengar setiap kali pria itu beraksi.
Tak lama kemudian, ada seorang pria lainnya lagi datang menghunuskan pedang. Seolah menantang pria pertama untuk bertarung. Mereka berdua lalu bertarung menggunakan pedang dengan api yang berkobar di tangan, saling menyemburkan api, saling memamerkan kekuatan. Semakin orang-orang yang menonton terpekik histeris.
Kedua pria itu saling menyerang dengan tatapan bermusuhan. Mereka saling membidik kelemahan lawan, dengan gerakan yang indah. Pertarungan ini tampak sebagai suguhan pertunjukan seni tingkat tinggi. Inilah yang disebut sebagai Fire Dance. Beberapa kali aku tanpa sadar terpekik ngeri menyaksikan.
"Aaakh ... itu nanti temennya mati, Hen!" ujarku, sambil menarik-narik baju Henry.
"Aaakh ... sudah ... sudah. Pisahin!!" Aku berteriak tak karuan. Tubuh Henry kuguncang-guncang.
"Serius amat, Non, nontonnya. Sudah kayak nonton sinetron. Mereka kan cuma akting." Henry menowel pipiku. "Makan dulu, yuk, Sayang! Perut kamu kan sudah bunyi dari tadi." Dia sekarang menarik lenganku. Aku masih saja melotot-lotot melihat atraksi api itu.
Di pinggir lapangan asap barbeque membumbung tinggi, aroma daging bakar yang sedap merambat terbawa angin padang pasir. Membuat perutku semakin berdendang minta diisi. Kami pun ikut masuk ke dalam antrian untuk mengambil hidangan makan malam.
Berbagai kuliner khas tanah arab terhidang di meja prasmanan. Aku yang sedari tadi tergiur daging bakar memilih makanan itu. Piring kami berdua sekarang sudah penuh. Tinggal mencari tempat makan yang nyaman.
Membawa piring berisi daging bakar dan nasi hangat khas padang pasir, kami memilih tempat makan yang ada di pinggir lapangan agak jauh dari keramaian. Nikmat sekali menikmati makan malam di tengah gurun pasir terbuka. Apalagi bersama orang yang disayang. Kami makan sambil saling menyuapi.
****
Usai makan malam ternyata ada atraksi lagi. Kali ini sesuatu yang memanjakan mata kaum lelaki. Atraksi tari perut. Musik padang pasir mulai terdengar lagi.
Beberapa wanita cantik menari meliuk-liuk masuk ke tengah lapangan. Diiringi musik timur tengah yang menghentak. Ditingkahi bunyi gemerincing dari gelang di kaki para penari itu. Perut-perut telanjang terekspose dengan sexynya. Pusaran di tengah perut mereka menghipnotis para pria untuk terus memandang. Riuh tepuk tangan penonton semakin membuat wanita-wanita cantik itu bersemangat.
Gerakan tarian liar yang indah membuat kaum adam diam-diam menahan nafas. Gerakan para penari itu begitu erotis mengudang birahi. Tapi, tidak untuk suamiku. Karena dengan posessiv kedua tanganku telah menutup matanya, sejak awal para wanita penari itu muncul. Henry pasrah dengan ulahku. Ia tertawa terbahak sambil berjoget menggoyangkan tubuh. Walau bagaimanapun suamiku laki-laki normal. Aku tak rela kalau Henry tergoda.
Setelah wanita-wanita setengah bugil itu berlalu, tangan kulepaskan dari mata Henry.
"Bekap aja terus, Non! Gak papa, Abang rela, kok. Yang penting hati kamu adem," ledeknya sambil memamerkan sederet giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
Bibirku mengerucut. "Untung tadi sempat nutupin. Klo enggak ...."
Henry mencubit gemas hidungku.
.
"Maaf Tuan, Nyonya. Saya kehilangan jejak kalian." Mister Malini tersengal mendekati kami. Wajahnya tampak berkeringat.
Kasihan sekali. Kami berdua memang sibuk sendiri, sampai lupa padanya.
"It's okay. Kami sangat menikmati hari ini. Terima kasih," sahut Henry.
Pria itu mengangguk sungkan.
"Mister Malini sudah makan?" tanyaku.
"Sudah, Nyonya. Terimakasih."
Agenda selanjutnya kembali ke hotel untuk beristirahat. Saat perjalanan pulang Mister Malini memberi tahu tempat-tempat yang akan kami tuju besok.
Huh ... perjalanan hari ini cukup melelahkan. Tapi, aku sangat senang.
***
"Ternyata di sini dingin sekali, ya, Sayang. Aku kira panas," ucapku seraya menarik selimut hingga kepala.
Henry baru keluar dari toilet. Hawa di dalam kamar masih terasa dingin walaupun sudah dilengkapi penghangat ruangan. Tubuhku mulai menggigil.
"Karena kita ke sini saat musim dingin. Kalau musim panas, ya panas," sahut Henry. Ia kemudian ikut masuk ke dalam selimut.
Tubuhku telah masuk ke dalam pelukan Henry. Hari ini melelahkan. Mata terpejam. Tapi, mulut masih ingin bicara.
"Hen ...."
"Hmm?" Ia mengecup keningku.
"Kamu suka gak kalau aku bisa nari perut kayak cewek-cewek tadi?"
Bukannya menyahut, dia malah terkikik geli.
"Hen ...." Aku membuka mata menuntut jawabannya. Kulihat mata Henry terpejam.
"Narinya gimana emang? Aku kan gak liat." Ia membuka mata, menyibak anak rambut yang sebagian menutupi wajahku.
Oh, iya. Aku tertawa menang dalam hati. Syukur Henry gak sempat lihat. Hehe.
"Aku nanti mau belajar nari perut buat kamu." Aku mengecup pipinya.
"Hmmmpfth ...." Henry lagi-lagi terkikik geli.
"Kenapa? Gak percaya banget kayaknya, kalau aku juga bisa nari seksi seperti mereka?" tanyaku kesal.
"Apaan, sih, Non? Mending kita ikhtiar lagi aja. Bikin anak yang banyak. Ngapain repot-repot narik perut segala."
"Nari perut, Hen ... bukan narik perut."
"Hooh ... kirain narik perut. Seperti gini."
Tangan Henry tiba-tiba sudah menyusup masuk, mencubit-cubit perutku.
"Nih ... dah narik-narik perut."
"Geli!!" Aku berusaha mendorong tangannya.
Henry bertambah usil. Ia malah lanjut menggelitiki perutku. Gelitikannya maut. Membuat aku kewalahan.
Malam beranjak kian larut. Begitupun kami yang kemudian terlarut dalam lautan cinta yang melenakan. Menyelam hingga ke dasar asmara. Bersama gelora ombaknya yang memabukkan. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
****
__ADS_1
Maaf klo ceritanya garing ya kuy
Otornya lagi demen ngehalu.