
Lelah sudah menangis. Lelah sudah meronta. Bunyi berisik guyuran hujan yang menimpa atap mobil. Semakin membuatku tenggelam dalam pelukan pria itu. Hanya bisa pasrah bersandar di bahunya. Tersisa segugukan yang menyesak di dada.
Aroma parfum yang menguar dari tubuhnya bagai candu memabukan. Mataku terpejam. Merasakan jari-jari yang mengusap lembut kepala.
"You're stil the one that I love .... The only one I dream off ....You're still the one I kiss good night ...." Ia membisikan lagu di telingaku seraya terisak.
Alam bawah sadarku terbuai. Ada hangat yang terasa mengalir ke seluruh aliran darah. Damai, menenangkan, melenakan. Pelukannya kemudian mengendur karena aku tak lagi meronta.
Waktu terasa merambat pelan.
"Kamu siapa?" desisku kemudian.
"Aku Henry Santoso. Lelaki yang kamu cintai," sahutnya serak.
Wajahku mendongak. Mata kami saling mengunci. Tatapannya sendu. Kupindai wajah itu inci demi inci. Jarak wajah kami hanya sejengkal.
"Kamu mengenalku?"
"Tentu saja aku mengenalmu, Sayang. Kamu isteriku. Namamu Niken Amalia bukan Nona."
"Aku isterimu?" Kelopak mataku melebar.
"Hmm." Ia mengangguk.
"Apa buktinya? Bisa kau tunjukan foto pernikahan kita?"
"Emm." Wajahnya tiba-tiba berubah panik. "Banyak foto kita selain foto nikah."
Dikeluarkannya tergesa benda pipih ke hadapanku. Menggeser-geser layar.
"Ini foto-foto kita." Handphone itu di dekatkan ke depan wajahku.
Dia benar. Dalam foto yang ada di layar hape itu banyak fotoku bersamanya. Kami tampak begitu dekat. Pose yang mesra. Penuh senyum dan pelukan.
"Mana foto pernikahan kita?" tanyaku menggeser-geser layar.
"Kita tidak punya foto pernikahan, Non."
Alisku mengernyit. Mataku menyelidik wajah tampan itu. Dia memang tampan. Tapi bukan berarti ketampanannya bisa membuatku buta.
"Kamu bohong kan? Kalau pernah menikah kita pasti punya foto pernikahan."
"Astaga, Ken! Kita tidak punya foto pernikahan karena kamu memang tidak mau diadakan resepsi," kilahnya.
"Tidak mungkin. Itu bisa-bisa kamu saja."
Aku menarik tubuhku darinya.
Pria itu meraup wajah gusar.
"Kemarin ada yang mengaku orang tuaku. Sekarang ada yang mengaku suamiku." Aku tersenyum getir.
"Pulang ikut aku, Ken! Kamu baca surat nikah kita di rumah!" Suaranya mulai terdengar gemas.
"Gak! Aku mau pulang ke kosan." Kusentak tangannya yang memegangi lenganku.
"Please, Ken! Jangan siksa aku seperti ini! Aku kangen kamu."
Wajahnya memelas.
"Aku capek. Mau pulang."
"Pulang bersamaku."
Aku menggeleng.
Ia menghempaskan napas kasar. Memejamkan mata seakan berpikir keras. "Oke, Sayang. Kamu boleh pulang ke kosan hari ini. Aku antar sampai ke dalam."
Pria yang mengaku suamiku itu melepas jaket. Keluar dari pintu. Berjalan mengitari mobil untuk membuka pintu di sampingku. Hujan mulai reda. Tersisa gerimis tipis.
"Ayo turun!" ujarnya sambil mengembangkan jaket di atas kepala untuk memayungi.
__ADS_1
Kami berjalan bersisian memasuki jalan sempit itu. Berpayungkan sebuah jaket. Diam-diam kuamati wajah pria bertubuh tinggi di sampingku. Merekam baik-baik setiap lekuk wajahnya. Sikapnya begitu tulus padaku.
"Sampai di sini saja!" pintaku.
"Kosan kamu yang mana?"
Kutunjuk bagian lantai dua sebuah rumah yang masih beberapa puluh meter dari kami berdiri. Pintu-pintu rumah tampak tertutup rapat karena cuaca dingin dan berangin.
"Pulanglah. Jaga dirimu baik-baik!"
"Hum."
Aku melanjutkan langkah.
"Aku akan jagain kamu," ujar pria itu lagi.
Berlari kecil aku meninggalkannya. Di depan kosan kusempatkan menoleh ke belakang. Dia masih berdiri di bawah gerimis memandangiku. Berjingkat-jingkat aku kemudian melewati pintu depan. Takut kepergok ibu kos.
***
Malam itu di kamar. Tubuhku gelisah mencari posisi tidur yang nyaman. Pikiran berkelana. Mengingat pertemuanku tadi, dengan pria bernama Henry Santoso.
Benarkah pria itu suamiku? Foto-foto yang ia tunjukan memang membuktikan kalau kami pernah dekat. Tapi tidak cukup sebagai bukti kalau dia suamiku.
"Jadi tadi siang Mister Sam ketemu kamu di penginapan?" tanya Roro dengan posisi tiarap di sampingku.
"Iya. Hampir saja aku berpapasan. Untung sempat liat dari jauh. Jadi sempat lari," sahutku.
"Pantesan kami cari-cari kamu gak ada. Taunya pulang duluan. Hoaaah ...." Ayu yang baring di sisiku bicara sambil menguap.
"Ck ... ck ...ck." Roro berdecak. "Gak bisa ngebayangin aku, Non. Kalau itu Mister Sam bisa ngejar kamu."
"Orang baik itu selalu ditolong Tuhan," celetuk Ayu dengan mata yang sudah terpejam.
"Untung tadi ada yang nolongin." Aku berbaring miring ke arah Roro.
"Siapa?" tanya Roro seraya membenarkan letak kaca mata.
"Babang Siwon," sahutku kalem.
"Ceritakan dengan jelas dan terperinci, Non!" Roro pun mengikuti Ayu, mengatur posisi siap menyimak.
"Serius amat sih?" Aku mengulum senyum menatap mereka bergantian, lalu duduk di tempat tidurku.
"Ya elah. Pantesan aku gak nemu Siwon di kamarnya. Udah bela-belain gosrek closet sampe lecet." Roro sengaja bangun memperagakan gerakan menyikat closet dengan kepala ikut berputar.
Ayu terbahak memegangi perut. "Itu gosrek kloset, apa goyang trio macan, Ro? Ngoahahaha!"
Aku turut terpingkal melihat tingkah kocak Roro.
"Rejekimu emang kurang lancar, Ro," ledek Ayu lagi.
"Hais." Roro mengacak rambutnya sendiri dengan bola mata dibuat juling.
"Dia tadi siang nganterin aku pulang," ceritaku, setelah bisa meredakan tawa.
"Hooh .... terus?" Mata Ayu berkedip-kedip.
"Aku ... butuh pendapat kalian."
"Dia naksir kamu, Non? Sikat aja!'" tebak Roro semangat.
"Bukan."
"Dih. Bikin penasaran." Ayu menatap gemas padaku
"Dia bilang ..." Kalimatku menggantung. Menelan ludah.
Kedua pasang mata sahabatku menunggu dengan sabar.
"Dia bilang kalau dia itu ... suamiku."
__ADS_1
"APA?!" Sekali lagi mereka kompak terkejut.
"Mungkin gak ya?" tanyaku lemah.
"Mungkin aja sih. Tapi, kenapa kalian sampai terpisah?" Ayu memegangi bahuku.
Aku menggeleng. "Aku tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara banyak."
"Duh ... Kesian Babang Siwon," ucap Ayu dengan mata menerawang.
"Terus dia punya bukti apa kalau dia tuh suami kamu?" Roro kembali tiarap di tempat tidurnya.
"Foto-foto. Tapi, tak ada satupun foto pernikahan."
"Buset! Kalau aku, Non. Mungkin gak mungkin, langsung *****. Gak urusan." Roro memajukan bibir.
Pletak! "Awuch!" Kepala Roro kena jitak tangan besar Ayu.
"Kamu tuh emang gak ada aklaknya!" umpat Ayu. Roro cuma melet diperlakukan begitu.
"Pernah bertemu orang seperti Mister Sam bikin aku gak mudah percaya," keluhku.
"Ya udah. Liat aja nanti. Sampai di mana dia bisa buktiin kalau benar kalian itu suami isteri," saran Ayu.
****
"Geng ... coba pada kesini deh!" Roro duduk jongkok di depan pintu kamar.
Aku dan Ayu yang masih malas-malasan di tempat tidur terpancing mendekat. Hari masih sangat pagi. Mandipun aku belum.
"Liat! Pintu kosan yang ada di seberang kita terbuka. Padahal udah lama kosong. Kok tiba-tiba ada orangnya?" Roro menunjuk sebuah pintu kamar yang tepat berada di seberang kamar kami.
"Ma ...." Belum selesai Ayu bicara, seorang pria keluar dari pintu kamar berdiri di depan pagar pembatasnya.
"Babang Siwon?" Mulut Ayu membulat.
Kami bertiga terkesima menyaksikan pria itu tersenyum melambaikan tangan ke arah kami.
"Kalau benar dia itu suamimu, Non. Dia pasti pria romantis."
"Gila ... ganteng banget lakimu, Non."
"Bela-belain ngekos juga deket sini."
"Berasa drama korea hidupmu, Non."
Roro dan Ayu bersahutan bicara.
"Cepetan balas lambaian tangannya, Non!" Ayu menggerakan tanganku.
Aku tersipu menyadari pria itu tak berkedip menatapku.
Astaga! Kupegangi rambut yang belum memakai hijab. Mungkin ini penyebabnya. Aku segera sembunyi di balik jemuran.
***
Atas saran Ayu dan Roro. Hari ini aku tidak masuk kerja. Khawatir Mister Sam akan kembali mencariku di penginapan.
Bunyi siulan dari seberang membuatku menoleh. Masih beberapa potong cucian lagi harus kutata pada tali jemuran.
Dia pria yang mengaku suamiku. Memegang sebuah kertas karton bertulisan besar.
SURAT NIKAH KITA DALAM PERJALANAN KE SINI
Dia menulis lagi pada kertas dengan spidol besar. Memperlihatkan padaku.
JALAN YUK!
Aku menggigit bibir. Ragu harus menjawab apa. Kalau dia mau berbuat jahat. Bisa saja dia lakukan saat kemaren di mobil.
PLEASE! Satu tulisan dibuatnya lagi.
__ADS_1
Aku mengangguk. Dia melompat senang seraya mengacungkan kepalan tangan di udara.
Bersambung