Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
64. Tiara yang terancam.


__ADS_3

DEA


Beberapa hari yang lalu, saat aku menscroll video resep masakan di yutube, aku menemukan sebuah video resep cake yang menarik. Tercetus ide di kepalaku untuk mencobanya, karena bahan yang tergolong murah serta caranya yang mudah. Dan tadi pagi aku mempraktekannya.


Aku membawanya ke sekolah, untuk diberikan pada Dion. Berharap dalam hati Dion akan suka. Siang ini aku menunggunya di taman belakang.


" Hai," sapa Dion begitu datang.


" Hai, ayo duduk," 


Dion mendudukan diri di sampingku. Matanya melirik kotak yang ada di pangkuanku.


" Mau kasih apa,?" 


Aku menyodorkan kotak itu ke tangannya," mau kasih ini,"  kataku malu - malu.


Mata Dion berbinar, ia sumringah melihat kotak yang dia belum tahu isinya apa.


" Apa ini,? Makan siang,?" tebaknya.


" Buka aja," 


Dion membuka sedikit penutup kotak itu dan mengintipnya. Lalu ia tersenyum lebar kepadaku.


" Aku deg degan nih," ujarnya.


Aku menyenggol lengannya," Apaan sih, sini aku aja yang buka," 


Dion menjauhkan kotak itu," Biar aku aja, kan buat aku," 


" Ya udah buruan buka,"


Aku menunggu Dion membuka kotak tersebut dengan jantung berdebar.  Begitu melihat isinya, Dion menatapku.


" Kok kamu tau aku suka muffins," ujar Dion dengan mata berbinar.


" Ck, kamu bisa aja bikin aku senang," jawabku mengira Dion hanya menggodaku.


Dion mencubit gemas pipiku," Serius Dea, ini cake kesukaan aku, aku nggak lagi merayu kamu,"


Dion mencomot satu buah muffins dan memakannya. Matanya merem melek saat mengunyah. Ih, berlebihan.


" Gimana,?" tanyaku.


" Hem, coba satu lagi deh, belum jelas nih rasanya," Dion mencomot lagi kuenya.

__ADS_1


Aku merenggut memajukan bibirku , Dion balas cengengesan.


" Enak Dea, ini lebih enak dari yang biasa aku makan," pujinya.


Aku tersipu malu, entah ia jujur atau tidak melihatnya makan kue buatanku dengan lahap sudah membuatku senang. Ia bahkan sudah menghabiskan tiga buah kue muffin.


" Aku pikir kamu marah karena kejadian kemarin," ujar Dion.


" Awalnya ia aku kesal, tapi setelah dipikir - pikir nggak ada gunanya cuma buang - buang kalori saja," 


Dion mengulas senyum, sembari mengelus pipiku. 


" Makasih ya untuk kuenya, dan aku minta maaf ka.."


Aku menekan jari telunjuk di atas bibirnya," ssstts," Udah, ayo habiskan kuenya," 


Dion mengulum senyum, ia kembali menghabiskan kuenya sampai ludes tak tersisa.


_


_


_


Kami berjalan beriringan menuju ke kelas karena jam istirahat hampir habis. Sesekali kami saling melempar senyum. Di ujung koridor aku melihat ada kerumunan anak - anak.


Dion mengedikan bahunya," Samperin yuk,"


Kami melangkah cepat menuju kerumunan itu. Membelah orang - orang untuk melihat apa yang sedang terjadi.


" Permisi, ada apa,?" Dion bertanya pada salah satu dari mereka.


" Nggak tau, Tiara tiba - tiba nangis kejer,"


Dion menerobos kerumunan itu, sehingga ia telah sampai di depan. Hatiku mencelos melihat Dion yang tampak panik. Tak peduli apa yang terjadi, aku segera meninggalkan tempat itu. 


...----------------...


Tiara


Sebenarnya berat sekali untuk masuk hari ini. Semalam aku kembali mengutarakan maksud hatiku untuk pindah sekolah pada papa, tapi papa malah marah dan mengancam akan membekukan kartu kredit jika aku masih berniat untuk pindah sekolah.


" Belajar saja yang rajin, jangan banyak tingkah. Kamu pikir mudah mengurus pindah sekolah apalagi di akhir tahun pelajaran seperti sekarang. Kalau kamu ada masalah di sekolah selesaikan, bukannya minta pindah, cukup dulu kamu membuat masalah disekolah lamamu," kata - kata papa yang terus terngiang di telingaku.


Satu pesan masuk ke ponselku ketika aku baru saja sampai di kelas.

__ADS_1


📩Selamat ulang tahun, manis. Akan ada kejutan untukmu nanti. Semoga suka ya. 


Aku memutar malas bola mataku begitu membaca pesan dari Gilang. Dari mana dia tau hari ini aku ulang tahun. Cowok brengsek itu benar - benar meresahkan. Apalagi yang sedang dia pikirkan untuk mengancamku.


Sepanjang hari aku tidak tenang, aku terus memikirkan apa yang akan dilakukan si Gilang itu. Apa dia akan membocorkan rahasiaku,? Oh Tuhan, tolong jangan hari ini. Percuma aku minta waktu pada Dion kalau pada akhirnya semua akan terjadi hari ini.


Tapi sampai jam istirahat , tidak ada kejutan apa - apa yang aku dapat. Sesaat aku lengah, aku merayakan ulang tahun dengan mentraktir semua anak kelasku di kantin. Aku terbuai dengan pujian dari teman - temanku.


" Ayo, kita foto bareng - bareng," seruku.


Aku dan anak kelasku mulai mengambil tempat masing - masing. Kami membentuk setengah lingkaran, dan aku meminta anak kelas lain menjepret dengan ponselku. Jika setelah ini aku akan dikucilkan, setidaknya aku punya kenangan indah hari ini yang tersimpan di ponselku. Tak hanya itu aku juga mengambil video. 


Di tengah mengambil video, ponselku berdering. Darahku berdesir, begitu melihat nama Gilang terpampang di layar ponselku.


Buru - buru aku menolak panggilannya. Beberapa saat kemudian, pesan masuk ke ponselku.


📩Berani sekali lo menolak panggilan gue, lo lupa ya kalau gue masih memegang kartu As lo. Datang ke kelas lo sekarang juga karena ada hadiah untuk lo.


Aku menelan ludah, wajahku berubah pucat. Aku ingin mengabaikannya. Tapi demi melihat senyum yang terukir setiap wajah teman - temanku membuatku tak ingin merusak suasana hati mereka. Terpaksa aku menuruti kemauan si Gilang itu. Dengan alasan ke toilet aku meninggalkan kantin lebih dulu.


Jantungku tak henti berdebar sepanjang jalan menuju kelas. Sampai di kelas aku mendapati kelas masih kosong, ya iyalah, semua anak kelasku ada di kantin.


Sebuah amplop berwarna coklat terletak di atas mejaku.


Tanganku gemetar membukanya. Begitu melihat apa isinya, duniaku seakan runtuh. Sebuah kertas berisi berita tentang ku di sekolah lama. Dari Mana si Gilang mendapatkan berita itu, padahal sudah kututup rapat hingga tak ada yang tau alasanku pindah ke sini. 


Aku pindah sekolah karena tak tahan bullyan teman - temanku  karena aku ketahuan berciuman dengan salah seorang guru magang yang terekam CCTV sekolah. 


Dadaku terasa sesak, aku merobek kertas itu dengan penuh amarah. Saat membuangnya ke tong sampah di luar kelas, aku melihat Gilang tersenyum sinis di ujung koridor. Kemudian ia hilang di balik tembok.


Aku terduduk lemas, tak terasa air mataku tumpah. Aku benar - benar merasa ketakutan. Bagaimana aku akan menjalani sisa waktuku di sekolah ini, jika semua hal buruk tentangku itu menyebar. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi lagi. Mengingat itu aku menangis sejadi - jadinya sampai aku tak sadar telah dikerubungi anak - anak. 


" Tiara, kamu kenapa,?" suara Dion melewati telingaku. Aku mendongak. 


" Dion," lirihku dengan suara bergetar.


Dion meraih tanganku untuk berdiri.


" Ada apa,?" tanya Dion.


" Dia terus menerorku, aku takut," jawabku terisak.


Dion tampak berpikir sejenak, rahangnya mengeras. Aku bisa merasakan kemarahan Dion dari caranya menggenggam tanganku. Begitu erat. Sejurus kemudian Dion menarikku keluar dari kerumunan orang - orang.


" Ayo, ikut aku."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2