
DION
Tiara mengakhiri ceritanya. Ia menghela nafas panjang, seolah ada kelegaan dalam hatinya. Ia menatapku, menunggu respon apa yang akan kuberikan.
" Dion," Tiara menyentuh lenganku melihatku terdiam.
Rahangku mengeras, kalau saja dia laki - laki mungkin sudah aku hajar habis - habisan. Tapi yang bisa kulakukan mengepalkan tangan menahan geram.
" Apa salah Dea sama kamu, sehingga kamu tega berbuat seperti itu padanya,?"
Tiara mengatup bibirnya rapat - rapat. Ia lalu membuang pandangan ke arah lain. Sejurus kemudian aku bangkit, dan melangkah ke arah pintu tanpa berkata apa pun.
" Salahnya karena dia memiliki kamu," suara Tiara begitu lantang dan menggema di dalam kamar itu.
Aku menghentikan tanganku yang sudah memegang handle pintu.
" Aku sudah menyukaimu dalam waktu yang lama , tapi saat kita bertemu lagi kamu malah pacaran dengannya. Aku tidak bisa menerima itu. Aku tidak bisa kalah dengan orang seperti dia."
Aku menggertakkan gigi menahan emosi, Aku tidak bisa menerima apa pun alasannya. Yang dilakukan Tiara tetaplah salah. Bagaimana aku bisa percaya kalau dia tidak terlibat dalam kasus video itu. Tak mengindahkan kata - katanya aku menekan handle pintu, namun langkahku tertahan tak kala tangan Tiara melingkar di pinggangku.
" Tiara, lepaskan" bentakku marah saat ia memelukku dari belakang.
" Tidak, aku tidak mau.," ia semakin mengeratkan pelukannya.
" Jangan memancingku untuk berbuat kasar," ucapku seraya berusaha memisahkan tangannya yang melingkar di pinggangku.
" Kamu sudah janji untuk bantu aku kan. Jika aku menceritakan semuanya kamu janji akan melepaskan aku dari si Gilang itu, jangan coba - coba mengingkari janji kamu sendiri,"
Aku membuang nafas kasar, berurusan dengan Tiara membuat kepalaku pusing.
" Ok, tapi tolong lepaskan aku dulu,"
Perlahan tangannya mulai melonggar dan akhirnya ia melepaskannya. Aku berbalik menatapnya.
" Hanya ada satu cara untuk kamu bisa lepas dari dia, kamu harus akui perbuatan kamu itu di depan Dea dan juga guru." ujarku.
Tiara menggeleng, ia tidak setuju dengan saran yang aku ajukan.
" Aku tidak mau dibenci semua orang, aku nggak mau,"
" Itu sudah resiko Tiara, karena perbuatan kamu itu kamu sendiri yang kena batunya kan,"
Tiara bergeming, aku yakin ia sedang mempertimbangkan kata - kataku.
" Aku harus pulang sekarang, kamu pikirkan baik - baik. Aku pasti akan bantu kamu jika kamu mau mengakui perbuatan kamu itu,"
" Tapi.." ucap Tiara ragu.
" Tapi apa,?"
" Bagaimana kalau orang mengira aku dalang di balik kasus Video itu jika aku mengaku,? Aku takut Dion," renggek Tiara.
Aku menghela nafas, memijit tengkukku yang terasa kaku.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu takut jika kamu benar - benar tidak terlibat. Kebenaran pasti akan menemukan jalannya sendiri," pungkasku.
Aku segera meninggalkan kamar Tiara. Menuruni anak tangga, dan keluar dari rumah itu,menuju tempat motorku terparkir.
Sebelum aku menghidupkan motor, aku merogoh ponsel dalam saku, bermaksud untuk menghubungi Rey. Begitu ponselku nyalakan, ada panggilan tak terjawab dari Dea dan pesan masuk dari Rey. Mataku membulat membaca pesan dari Rey.
📩 Lo udah balik kan dari rumah Tiara,,? Tadi Dea nanyain lo sama gue, gue bilang aja lo sakit. Terus dia mau kerumah, gue bilang aja lo baik - baik saja nggak perlu datang ke rumah. Tapi gue kurang yakin dia nggak bakal datang.
" Astaga, " aku kembali mengantongi ponsel.
Aku bergegas menghidupkan motor dan tancap gas. Mumpung masih ada waktu satu jam lagi sebelum jam pulang sekolah aku harus cepat - cepat sampai di rumah. Tapi semua tak sesuai harapan, di tengah jalan ban motorku bocor. Sialnya tidak ada tempat tambal ban terdekat.
Waktuku terbuang hanya untuk mencari tempat tambal ban. Di waktu yang masih tersisa, aku berusaha untuk secepatnya sampai di rumah. Tapi sayangnya aku terlambat. Dea lebih dulu sampai. Ia tampak terkejut melihatku.
Tenggorokanku tercekat begitu ia berjalan menghampiriku.
" Kamu bolos sekolah,?"
Aku membuka kaca helm. Tersenyum kaku dibalik masker yang kupakai.
" Masuk dulu, nanti aku ceritakan di dalam,"
Dea langsung menekuk wajahnya, ia pasti kesal karena dibohongi.
Aku turun dari motor dan menuntun motorku masuk ke pekarangan rumah, sementara Dea mengikutiku di belakang.
Kini, kami sudah duduk di ruang tamu. Aku jadi gugup ketika Dea menatapku dengan tajam.
Aku mengusap tengkukku. Bingung mau menjelaskan seperti apa. Dea berpindah duduk di sampingku, lalu tanpa diduga ia melepaskan maskerku. Dan nampak lah wajah lebamku yang tadi aku tutupi.
" Kamu berantem sama siapa,?" mata Dea terbelalak.
Aku menyeringai, menggaruk kepalaku yang memang gatal.
" Biasalah cowok, kalau nggak berantem ya nggak laki," selorohku.
Dea mendengus sembari memukul lenganku.
" Akh," aku meringis mengusap lengan.
" Kalau nggak mau cerita, aku pulang aja. Rasa kayak nggak di anggap aja sebagai pacar," ucapnya merajuk.
" Eeh, tunggu." aku menahan lengannya saat ia akan berdiri.
" Ok, aku cerita," jawabku pasrah.
Dea kembali duduk, wajahnya terlihat tegang. Aku jadi bingung akan mengatakan apa. Kalau aku bilang aku dihajar sama cowok brengsek yang sudah melecehkannya. Bakal seperti apa responsnya.
" Hei, kok malah bengong,"
Aku gelagapan.
" Jadi gini. Kemarin itu ada preman yang malak aku. Karena aku nggak mau ngasih uang ya gini jadinya," jelasku tertawa sumbang.
__ADS_1
Aku tidak bisa jujur padanya. Aku tidak mau ia merasa khawatir dan terus memikirkan lagi kejadian buruk itu. Untuk saat ini biarlah seperti ini.
Dea memicingkan matanya, tak percaya dengan apa yang aku katakan.
" Serius,?"
" Iya, kalau nggak percaya tanya aja sama Rey,"
Dea melipat tangannya di dada," Aku nggak bisa percaya dengan Rey. Kalian berdua sama aja, tukang boong,"
Tidak tahu akan menjawab apa aku memilih diam. Karena aku memang sedang berbohong.
" Terus kenapa meski bolos sekolah, "tanya Dea.
" Hah,? Itu.. itu karena aku malu kesekolah dengan wajah begini," jawabku asal.
" Kalau malu, ya seharusnya nggak usah pergi dari awal. Lalu kenapa aku melihat motor kamu di parkiran tadi pagi.
Aduh, kenapa Dea jadi banyak tanya gini. Bisa - bisa nanti ia malah tahu aku tidak masuk karena pergi ke rumah Tiara.
" Makan yuk, kamu pasti belum makan kan," kataku mengalihkan pembicaraan.
" Nggak lapar,"
" Tapi aku lapar banget, yuk..ayolah," ucapku dengan wajah memelas. Biasanya ini ampuh, Dea pasti akan menurut.
" Nggak mau makan disini, nggak enak sama orang tua Rey. " jawab Dea.
Cletak, aku menjentikan jari.
" Kalau gitu ayo makan di luar, dekat sini ada warung pecel enak banget. Sambel terasinya pedes bikin gerah," ujarku mengangkat kedua jempol.
Padahal aku sendiri belum pernah makan disana. Jadi tidak tahu apa sambelnya pedas atau tidak. Bagiku yang namanya sambel ya pedes.
Mendengar kata sambel, Dea langsung menelan ludahnya.
" Tapi kamu kan nggak bisa makan pedes,"
" Itu gampang, aku nggak usah pake sambel," jawabku sembari menarik tangannya.
Kami segera meluncur ke warung pecel yang letaknya tidak jauh dari rumah Rey.
Begitu sampai di sana, kami disambut senyum ramah dari pemilik warung. Setelah menyebutkan pesanan , kami mencari tempat duduk yang nyaman.
Tak butuh waktu lama, pesanan kami datang. Karena perut yang sudah meronta minta diisi, kami segera mulai makan.
" Eh, tadi Tiara juga nggak masuk lo," celetuk Dea tiba - tiba.
Mendengar itu aku langsung tersedak. Dadaku terasa terbakar, telinga dan hidungku jadi perih.
...----------------...
Tinggalkan jejak.
__ADS_1