Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

*Rasa memang tak pernah bisa bohong. Aku sendiri membuktikannya. Perasaanku tak berubah pada Henry walaupun aku tak mampu mengingat siapa dia. Henry tetaplah pria yang sanggup membuatku bertekuk lutut. Dia satu-satunya orang yang mampu memindahkan duniaku.


Cinta adalah sebuah misteri kehidupan. Aku yakin, Tuhanlah yang telah menghidupkan rasa cinta di hatiku. Karena Dialah pemilik hati manusia. Sang pembolak balik hati*.


.


.


.


"Pipi tomat!!!" seruku nyaring seraya memandangi layar hape.


"Pipi siapa tomat?"


Kepala Henry yang terkantuk di sampingku langsung terangkat. Dia ikut menatap layar hape yang kupegang. Jariku sigap menggeser permukaan hape. Mata sipit itu kian menyipit. Tak sempat melihat foto jadulnya di hapeku.


"Laper ..." Aku mengalihkan perhatiannya.


"Mau makan apa?" Dia segera duduk lagi.


"Apa aja."


***


"Benerkan piling aku. Babang Siwon emang suaminya, Nona." Ayu menyentil pipi Roro yang duduk di sampingnya.


Roro meringis. "Maafin aku, ya, Non. Sudah menghasut kamu yang enggak-enggak," ujarnya dengan raut menyesal.


"Apa, sih. Akunya aja yang labil. Kita sama-sama gak tau," jawabku.


Pintu kamar dalam keadaan terbuka. Roro dan Ayu siang ini menemaniku di kamar. Sedang Henry sedang mengurus kepulangan kami dari klinik. Nanti sore kami akan berangkat pulang. Selang infus yang tadinya melekat di lenganku sudah dilepas.


"Jadi ... kalian hari ini langsung balik pulang, Non? Kita bakalan pisah, dong." Ayu tampak sedih memegangi tanganku.


"Hu' um. Kata suamiku. Kami sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Lagian aku harus istirahat banyak karena sedang hamil muda."


"Kamu lagi hamil?" Mata Roro membeliak lucu.


Aku tersenyum mengangguk.


"Ya ampun, Non. Kesian banget, ya suami kamu. Kemaren sampe gak diakuin. Tau-tau sekarang bininya hamil aja." Roro terkikik. Akupun ikut tertawa kecil.


"Wah ... selamat, ya, Non. Calon ibu muda. Taunya demam hamil," seloroh Ayu pula.


Kami bertiga begitu asik ngobrol dalam kamar itu.


"Aku pasti bakal kangen sama kalian. Makasih, ya. Sudah mau jadi sahabatku." Kugenggam tangan kedua gadis itu.


"Hu' um. Kita juga bakalan kangen sama kamu, Non. Lain waktu datang lagi ke sini liburan. Biar kita bisa ketemu lagi. Bawa baby kamu. Biar kita bisa ikutan nimang." Ayu menggerak-gerakan tangannya seolah sedang menimang bayi.


"Kalau kalian mau. Ikut aku aja pulang," ujarku.

__ADS_1


Sebenarnya akupun berat berpisah dengan Roro dan Ayu. Kami sudah sangat akrab.


"Yah ... kita kan pada kerja, Non. Gak mungkin ambil libur semaunya. Entar toilet penginapan pada teriak." Roro berdiri, siap untuk bergaya. "Toilet-toilet itu bakalan horor teriak kaya tarzan. Roroooo ... Ayuooo ....!" ujarnya dengan kedua tangan di depan mulut. Menirukan gaya tarzan yang berteriak memanggil penghuni hutan.


Gadis ini tak pernah kehabisan bahan untuk menghibur kami. Mungkin sebenarnya dia berbakat jadi komedian. Aku dan Ayu dibuatnya terkikik geli.


"Ehem ... ehem." Beno tiba-tiba sudah ada di depan pintu. "Siang Nyonya Bos," ujarnya.


"Uhuk ...uhuk." Roro langsung tersedak karena kaget dengan kedatangan Beno. Ayu mengetuk-ngetuk punggung temannya karena wajah Roro tampak memerah.


"Maaf kalau saya mengganggu. Sama Bos disuruh beliin cemilan buat embak-embak," ujar Beno seraya melangkah masuk meletakkan bungkusan di atas meja yang tak jauh dari kami.


"Gak papa, Mas. Dia emang sudah sering begini. Biasanya kalau lagi kumat malah sampai kejang-kejang," tambah Ayu diakhiri semburan tawa.


Beno hanya manggut-manggut tersipu.


"Rame betul. Aku sudah ketinggalan apa nih?" Henry muncul di depan pintu.


"Ada yang bikin ulah," sahut Ayu pelan.


Henry duduk di sampingku.


"Kita lagi kangen-kangenan sebelum berpisah," ujarku masih dengan sisa tawa.


"Sekali lagi makasih banyak Mbak Ayu, Mbak Roro. Apa jadinya isteri saya kalau tidak ditolong sama kalian." Henry mengusap pundakku.


"Sama-sama," jawab Ayu malu-malu.


Beno masih berdiri kaku di depan pintu. Seperti prajurit yang sedang menunggu komando.


"Dibongkar doang, Non?" kelakar Roro lagi. "Ugkh!" Dahinya disentil Ayu


Henry mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Kamu mau mereka ikut kita?" bisiknya.


"Boleh?" Aku balik bertanya dengan mata berbinar.


"Terserah kamu, Sayang. Mereka bisa saja kurekrut jadi karyawan."


"Mau ... aku mau. Tapi merekanya mau gak?" Mataku melirik ke arah Ayu dan Roro yang mengeluarkan isi bungkusan. Menata makanan ke dalam piring.


"Tapi ada syaratnya, Non," bisik Henry lagi dengan tatapan mengintimidasi.


"Apa?"


"Jangan sampai aku gak diperhatiin. Gara-gara kamu keasikan berteman."


Astaga ... suamiku.


"Apaan sih. Jadinya boleh, gak?"


"Iya ... boleh."

__ADS_1


Jawaban Henry membuat kedua lenganku memeluk senang bahunya.


"Roro, Ayu. Ikut aku pulang, ya ... ya!" bujukku.


Mereka serentak saling pandang.


"Gak usah kuatir, Mbak. Semua akomodasi kita yang tanggung. Mbak berdua bisa kerja di perusahaan kita juga." Henry menambahkan.


"Kerja apa?" tanya Roro dengan mulut membulat.


"Kerja kantoran."


"Gimana?" Aku menatap mereka penuh harap.


"Kerja kantoran? Gak gosrek toilet lagi?" Kaca mata Roro seketika melorot. Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Aku mengangguk meyakinkannya. Ayu tampak takjub memandangku. Ia diam tak berkata-kata.


"Kalau aku, sih. Ikut apa kata Ayu, Non. Kita sepaket. Di mana ada Roro di situ ada Ayu," ujar Roro lagi.


"Yu?" Kedua alisku terangkat. Menunggu jawaban dari Ayu.


Ayu masih diam beberapa saat. Mulutnya seakan sulit untuk bicara.


"Kita berangkat, Ro. Udah bosen gosrek toilet," sahut Ayu akhirnya.


"Horeee ... bisa temenan sama Nona lagi." Roro melompat memeluk Ayu. Mereka tampak sumringah.


Aku tahu dari Ayu. Dia pernah cerita kalau keduanya sengaja merantau dari Jawa untuk mengadu nasib. Terpaksa harus jauh dari keluarga. Pergi hanya dengan berbekal ijasah SMA.


Penghasilan yang pas-pasan seringkali membuat mereka tidak bisa pulang mudik, meskipun itu hanya satu tahun sekali. Miris mendengarnya.


Ayu punya keinginan besar bisa mengumpulkan uang untuk modal usaha, Sedang Roro punya masalah yang lebih pelik. Ayah Roro mengidap sakit paru-paru menahun. Sebagian penghasilan Roro harus ia kirim untuk biaya hidup keluarganya.


Menurutku Roro adalah sosok yang hebat. Pintar menutupi masalah hidupnya dengan tetap ceria. Orang lain tidak akan ada yang menyangka masalah di balik hidupnya.


"Temen kamu antik-antik," ujar Henry dekat di telingaku.


"Antikan mana sama pasukan kamu?" balasku.


Henry terkekeh. Kami berdua memperhatikan mereka. Beno yang berdiri tegak tanpa ekspresi di sudut ruang. Roro dan Ayu yang berceloteh sambil menata minuman kaleng di atas meja.


"Sama antik kayanya." Henry tertawa kecil seraya geleng-geleng.


"Ben, siapkan segala sesuatu untuk mereka. Bantu mereka berkemas!" ujar Henry pada Beno.


"Siap, Bos." Pria itu seperti biasa membungkuk patuh.


Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar tempat aku di rawat. Tinggal Aku dan Henry yang semakin merapatkan tubuhnya padaku.


"Kangen," bisiknya sambil meniupkan udara ke telingaku.

__ADS_1


Tubuhku seketika bergidik.


__ADS_2