
Dea sudah membulatkan tekadnya, ia akan mencari pekerjaan di kota tempat Dion berada. Dea memasukan beberapa lembar pakaian ke dalam tas dan tak lupa berkas - berkas untuk melamar pekerjaan.
Pagi - pagi sekali Dea sudah bangun, Nenek dan Sifa terkejut melihat Dea yang sudah tampak rapi.
"Mau kemana kau, pagi - pagi sudah rapi?"tanya Nenek keheranan. Biasa jam segini Dea masih bergelung dengan selimutnya.
"Ke luar kota,"jawab Dea singkat. Ia menyendok nasi goreng ke piring dan mulai melahapnya.
Nenek dan Sifa saling pandang. Sifa mengangkat tangannya menyentuh kening Dea, barangkali gadis itu sedang mengigau karena demam. Dea mendesis menepis tangan Sifa.
"Dia tidak demam Nek,"ucap Sifa.
"Untuk apa kau keluar kota,?"tanya Nenek.
"Nyari kerja, bukannya nenek ingin aku segera mendapatkan pekerjaan Nasi goreng ini tidak gratis kan, jadi aku akan cari uang untuk membayarnya,?" tutur Dea menirukan gaya neneknya berbicara.
Nenek dan Sifa tertegun. Nenek tidak tau akan berkata apa. Apa Dea tersinggung dengan kata - katanya tempo hari saat ia menyuruh Dea minum air kran.
"Ngapain kau jauh - jauh keluar kota. Kau pikir nyari kerja itu gampang,? Disini saja kau tidak mendapatkan pekerjaan apalagi di kota besar, persaingan lebih ketat,"ujar Nenek.
"Kamu serius,?"ucap Sifa masih tak percaya.
Dea tidak menjawab, ia meneguk segelas air putih. Lalu bangkit dari duduknya.
"Nek, aku pamit, aku tidak akan pulang sebelum aku mendapatkan pekerjaan dan menunjukan pada nenek kalau aku bisa," ucap Dea yakin,kemudian ia berlalu dari meja makan.
Dea menyandang ransel ukuran sedang di punggungnya. Saat akan keluar rumah ia melihat sekilas ke arah dapur, Nenek dan Sifa masih melanjutkan sarapan mereka.
"Aku pergi, Assalamualaikum," ucap Dea setengah berteriak.
Tanpa menunggu sahutan dari dalam, Dea melangkah keluar rumah. Ia berjalan menuju jalan utama untuk menaiki angkot ke terminal.
Dea sengaja tidak memberitahu Dion kalau ia akan kesana, niatnya ingin memberi tahu Dion jika ia sudah mendapatkan pekerjaan.
Bus yang dinaiki Dea melaju perlahan meninggalkan terminal. Dea menghela nafas panjang. Ia menatap keluar jendela. Ia menghembuskan nafas ke arah kaca, jarinya menulis sebuah nama di atas uap dari nafasnya yang menempel di atas kaca.
"Aku akan datang,mengejar impian sekaligus cinta," gumam Dea tersenyum simpul.
Tidak sampai tiga jam perjalanan Dea sampai di kota yang ia tuju. Saat menginjakan kakinya di kota itu disitulah nyalinya menciut. Kota ini lebih besar dari kota asalnya. Tapi ia sudah terlanjur sampai, mau tak mau ia harus tetap menjalankan niatnya.
"Aku pasti bisa,"ucap Dea penuh tekad.
Dea mengayunkan langkahnya menyusuri jalanan di kota itu. Berbekal google map Dea mencari alamat tempat ia akan melamar kerja yang Dea dapatkan dari situs pencari kerja.
"Nanti akan dikabari lagi,"
Hanya kata itu yang Dea dengar setiap ia memasukan surat lamaran. Hatinya mencelos, semangatnya yang tadi mengebu - gebu perlahan surut seiring dengan matahari yang semakin condong ke barat.
Dea mendudukan diri di sebuah bangku taman, meregangkan otot kakinya yang terasa kram. Ia memijit pelan betis kakinya. Matanya mulai berkaca - kaca. Mau pulang pun rasanya malu. Ia kembali teringat bagaimana tadi pagi ia pergi dari rumah dengan pongahnya.
"Aku memang pecundang,"lirih Dea mengusap bulir bening yang meleleh membasahi pipinya.
Tak terasa malam menyapa, perutnya mulai keroncongan. Dilihatnya sekitar tidak ada yang menjual makanan. Dea bangkit dari duduk, dan kembali meneruskan langkahnya. Sebuah warung tenda tampak baru saja buka di seberang jalan. Dea bernafas lega, badannya mulai lemas karena belum makan seharian.
__ADS_1
Sepiring nasi goreng sudah berpindah ke perutnya. Saat akan membayar disitulah Dea baru menyadari kalau dompetnya tidak ada.
"Sebentar mas"ucap Dea mendapat tatapan tajam dari penjual nasi goreng.
Ia menelan kasar ludahnya, memberikan senyum kaku pada penjual nasi goreng itu. Dea memeriksa ranselnya, barangkali ia salah meletakan benda itu. Tapi naas, dompet itu tidak ada dimana - mana. Dea mengigit bibirnya, memasang tampang memelas.
"Maaf mas, sepertinya saya kecopetan,"ucapnya pelan dengan kepala tertunduk.
Mas penjual nasi goreng itu mendengus kesal.
"Gimana sih dek, makanya pastikan ada uang dulu kalau mau makan,"sentak penjual nasi goreng itu.
"Sa..saya akan menghubungi teman saya sebentar mas,"ucap Dea dengan suara bergetar.
Dea merogoh sakunya mengeluarkan ponsel. Hanya Dion yang bisa menolongnya saat ini. Dea sedikit menjauh dari gerobak penjual nasi goreng, lalu ia menghubungi Dion.
" Halo Dea,"sapa Dion diseberang sana dengan penuh semangat.
Suara Dea tercekat, ia bingung akan menjelaskan seperti apa.
" Dea,,"Dion kembali memanggil Dea.
"Ha..halo.." sahut Dea lirih.
"Kamu baik - baik saja kan,?"
Sesaat kemudian Dea mulai terisak.
Dengan terbata Dea menjelaskan apa yang sedang dialaminya.
" Ya udah kamu shareloc aja ya, aku akan kesana, udah jangan nangis. Tunggu aku,"
Panggilan itu terputus. Dea membuang nafas berat. Kenapa semua tidak ada yang berjalan baik. Kenapa jalan hidupnya begitu terjal dan penuh kerikil.
Tak berapa kama Dion sampai di tempat dimana Dea berada. Ia melihat gadisnya duduk melamun di tepi trotoar dengan tampang kusut di depan gerobak penjual nasi goreng. Hati Dion berasa teriris, memilukan.
" Dea,"panggil Dion.
Dea yang sedang larut dengan pikirannya tidak menyadari kalau Dion sudah sampai. Dion melangkah mendekat, ia mendudukan diri di samping Dea. Dea tersentak saat menyadari ada orang yang duduk disebelahnya, ia pun menoleh.
Tangan Dion terulur menyentuh pucuk kepalanya. Dea tersenyum meski sangat amat dipaksakan.
"Kamu baik - baik saja,?"tanya Dion lembut.
Dea mengangguk pelan, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak tumpah.
" Ya udah, aku bayar makan kamu dulu,"ucap Dion. Kemudian ia bangkit dan menemui penjual nasi goreng dan membayar makan Dea.
Dea masih duduk di tepi trotoar. Ketika Dion menghampirinya ia buru - buru menghapus air matanya yang sempat meleleh.
" Ayo pergi,"
Dion mengulurkan tangannya. Dea menyambut tangan itu kemudian berdiri.
__ADS_1
"Kemana,?"tanya Dea.
" Ke rumahku,"
Dengan cepat Dea menggeleng, ia menarik tangannya dari genggaman Dion. Bagaimana mungkin ia akan ke rumah Dion dengan keadaan seperti ini.'
"Kenapa?Kamu tidak mungkin pulang kan,? Sudah tidak ada bus kalau jam segini," ujar Dion.
"Aku tidak bisa jika itu ke rumah kamu,"ucap Dea.
" Lalu, kamu mau istirahat dimana malam ini,?"
"Dimana saja, asal tidak di rumah kamu,"tegas Dea.
"Baiklah, aku akan carikan hotel untuk kamu menginap,"
Disinilah Dea sekarang berada di sebuah hotel melati yang terselip diantara bangunan megah disampingnya.
"Nggak apa kan kamu menginap disini,?"tanya Dion merasa tak enak hati karena hanya bisa memberikan penginapan berupa motel, bukan hotel bintang lima.
Dea memandangi sekeliling, tempatnya tidak buruk. Sebuah single bad dan nakas disampingnya. Di sudut ruang ada kamar mandi, kamar hotel itu juga dilengkapi AC.
Orang sepertinya tentu harus bersyukur mendapatkan tempat seperti ini dari pada ia tidur dijalanan.
"Bagus kok, nyaman,"ucap Dea melangkah menuju ranjang.
"Kamu baik - baik saja kan sendirian disini,?"tanya Dion.
Dea tersenyum, ia melepaskan ransel yang dari tadi ia sandang. Punggungnya terasa lebih ringan.
"Hem,"
"Kalau gitu aku pulang ya, besok pagi aku ke sini jemput kamu,"ucap Dion.
Ada perasaan tak rela yang Dea rasakan, tapi tidak mungkin juga Dion menemaninya menginap. Saat Dion sudah berbalik hendak keluar dari kamar itu, Dea setengah berlari menghampiri dan memeluk Dion dari belakang.
"Terima kasih sudah membantuku"bisik Dea. Ia mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Dion.
Dion tertegun sesaat. Ia kemudian melepaskan tangan Dea yang melingkar di pinggangnya, dan membalik badan.
"Sudah seharusnya aku membantu kamu, kamu itu kan pacar aku,"ucap Dion menegaskan tentang hubungan mereka.
Tangan Dion meraup kedua belah pipi Dea. Seketika pandangan mereka terkunci.
bersambung....
...----------------...
Tinggalkan jejaknya...
Mampir juga ke novel yang satu ini...
__ADS_1