Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH


__ADS_3

"Hai," sapa Henry. Dia telah menungguku di depan gang.


"Hai," balasku tersipu.


Sebelumnya aku harus menunggu ibu kos pergi dari rumah. Agar bisa keluar dengan aman. Setiap jam delapan pagi dia berangkat ke tokonya untuk berdagang.


"Maaf lama," ujarku lagi


"Gak masalah. Yang penting bisa ketemu." Bibirnya mengulas senyum.


Hari ini ia berpenampilan santai. Mengenakan kemeja biru motif kotak dan celana jeans.


"Yuk!" Ia meraih tanganku.


"Emh." Aku terkejut dengan perlakuannya. Segera menarik tangan.


"Owh sorry. Kebiasaan," ujarnya kemudian.


Sebuah motor yang dikendarai seseorang mendekat, lalu berhenti tak jauh dari kami.


"Motornya, Bos." Pria berbadan besar turun dari motor itu. Ia bicara pada Henry.


"Makasih. Tinggal aja!" ujar Henry.


"Siapa?" tanyaku heran begitu orang itu menjauh.


"Kamu sebenarnya kenal dia. Tapi gak penting. Yang penting sudah ada motor buat kita jalan."


Sebuah helm kemudian ia lekatkan pada kepalaku. "Kamu itu paling suka kalau kuajak jalan naik motor," ujarnya lagi.


"Oh, ya?"


Beberapa detik mata kami bertemu. Kemudian sama-sama salah tingkah.


"Naik, Non!" Kepala Henry meneleng. Dia sudah duduk di atas motor.


"Kata kamu namaku bukan Nona. Kenapa masih memanggilku Non?" protesku.


"Non ... itu panggilan kesayanganku buat kamu sejak kita belum nikah," terangnya.


Alisku mengernyit. Sejak sebelum nikah? Manis sekali.


.


.


Udara pagi bertiup sejuk. Cahaya hangat matahari menimpa pucuk dedaunan. Henry memacu motor dengan pelan. Menyusuri jalan sepi yang masih basah oleh hujan semalam.


"Sekarang kemana?" tanyaku.


"Kemana aja, Non. Yang penting bisa ngajak kamu pacaran."


"Pacaran?" Alisku bertaut lagi.


"Iya ... sementara kita pacaran lagi. Kamu mau kan pacaran sama suamimu ini?" Ia bicara padaku sambil mengarahkan letak spion ke arahku, hingga kami bisa saling tatap.


Aku tak tahu harus menjawab apa. Semua masih terasa abu-abu.


"Kapan aku bisa liat buku nikah kita?"


"Beno orang kepercayaanku masih di perjalanan. Butuh waktu beberapa hari untuk bolak balik mengambilnya. Karena akses ke sini cuma bisa lewat laut," jelasnya.


Aku manggut-manggut. Apa yang ia sampaikan masuk akal. Kepercayaanku padanya bertambah.


Motor yang kami naiki sudah memasuki area pantai. Deburan ombak mulai terdengar. Burung-burung camar beterbangan di langit biru.


Henry memarkirkan motor. Kami lalu berjalan bertelanjang kaki menyusuri sisi pantai. Setelahnya duduk di atas bebatuan menghadap laut.


"Bisa kau jelaskan kenapa aku bisa terpisah dari kamu?" tanyaku dengan pandangan jauh ke depan.


"Malam itu aku membawamu keluar dari pulau. Menggunakan jet ski. Untuk menghindar dari perampok yang menyerang pulau kita."


Dia menghela napas sebelum melanjutkan bicara. "Cuaca tiba-tiba berubah buruk. Aku tidak mampu mengendalikan jet ski. Kita sama-sama terpental digulung ombak."


Pria itu meraup wajah. "Maafkan aku, Ken. Aku tidak bisa menjagamu. Kamu pasti mengalami hal yang sangat sulit, saat terpisah dariku." Suaranya berubah serak.


Matanya berkaca menatapku. "Aku terus berusaha mencarimu. Setiap hari tak putus doaku agar Tuhan mengembalikan kamu padaku."


Kali ini kubiarkan pria itu menggenggam tanganku. Merasakan aliran hangat sentuhan telapak tangannya.


"Bagaimana dengan kamu? Apa saja yang sudah terjadi padamu?" tanyanya.


"Aku ... aku terbangun dalam keadaan bingung. Tidak bisa mengingat apapun. Tidak bisa mengingat siapa aku," sahutku. Memandangi pasir yang ada di bawah kaki.


"Mereka mengaku mengenalku. Mereka bilang namaku Selena."

__ADS_1


"Siapa nama orang itu, Sayang? Aku akan menghajarnya." Suara Henry terdengar geram.


"Mister Sam. Dia orang yang kuhindari saat di penginapan kemarin."


"Berarti benar apa yang dikatakan Beno. Mereka menutupi keberadaan kamu di sana."


"Aku bisa keluar dari situ berkat bantuan Tobi."


"Tobi?"


"Namanya Tobias. Kami berhasil keluar dari pulau itu dengan perahu motor. Tapi ... dia kemudian tertangkap oleh anak buah Mister Sam. Aku berhutang budi padanya."


"Apa ... Tobias itu pria yang tampan?" Wajah Henry tampak menegang.


Apa yang ia pikirkan? Aku menatapnya heran.


"Tobias pemuda yang baik."


"Kamu suka padanya?"


"Dia masih kecil, Hen."


"Astaga ...," Henry menyugar rambutnya. "Kamu sempat membuatku cemburu."


"Dari dia aku tahu, kalau Mister Sam ingin, aku menggantikan Selena anaknya yang sudah meninggal."


"Kenapa bisa?" Dahi henry berkerut.


"Isteri Mister Sam mengalami gangguan jiwa sejak anak mereka meninggal. Saat melihatku dia mengira aku adalah Selena. Keadaannya membaik. Dan kebetulan aku dalam keadaan tak ingat apapun."


"Aku akan membuat perhitungan dengan orang itu." Wajah Henry memerah.


Aku menggeleng. "Jangan! Dia orang berbahaya. Kamu bisa celaka."


"Serahkan semua padaku!"


"Saat ini yang paling aku pikirkan adalah keselamatan Tobias. Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku."


Henry manggut-manggut menyimak.


"Aku sudah berjanji pada anak itu. Untuk membantu bertemu ibunya yang berada di Flores."


"Begitu?"


"Tobias akan segera bertemu ibunya. Aku yang akan mengurus semuanya."


"Benarkah?" Mataku berbinar menatap pria itu.


"Hmm," ia mengusap puncak kepalaku.


Perlakuan ini rasanya sering kuterima. Elusan pada puncak kepala.


***


Aku, Roro dan Ayu masih rebahan menikmati acara televisi sore itu. Saat tiba-tiba dikejutkan oleh suara seorang wanita yang tengah menaiki tangga.


"Rorooo ... Ayuuu!!!" Suaranya melengking nyaring.


Kami bertiga saling tatap, menelan ludah gugup.


"Cilaka ... itu ibu kos! Cepetan sembunyi, Non!" Roro segera lari ke arah tangga menyambang ibu kos.


"Sembunyi dimana?" bisikku panik pada Ayu.


"Bawah ranjang."


"Kan tidak ada ranjang?" Saran Ayu membuatku bingung


"Ssshh ..." Ayu tak kalah kebingungan.


Kamar ini hanya berisi kasur tanpa ranjang, lemari kabinet dan televisi mungil. Tak ada perabot besar yang bisa dijadikan alat untuk sembunyi. Dari arah tangga kudengar suara Roro yang terus berusaha mencegah Ibu kos naik ke atas.


"Sembunyi di belakang pintu!" ujar Ayu kemudian.


Baru akan lari untuk sembunyi. Ibu kos sudah berhasil menerobos barikade yang dibuat Roro. Apes! Aku kepergok.


"Ho ho ... siapa ini? Ternyata ini yang kalian sembunyikan dariku," ujarnya dengan mata mendelik padaku.


Perawakan wanita setengah baya itu tak kalah bongsor dari Ayu. Dandanan menor gincu merah menyala. Perhiasan berwarna kuning berkilau memenuhi kedua lengannya. Menurut Roro juga Ayu, wanita ini seorang janda kaya yang hidup seorang diri.


"M-maaf. Saya yang yang salah. Bukan Roro maupun Ayu," ujarku gugup.


"Huum ...." Dia menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Tangannya mengibas-ngibas kipas yang dipegang.


"Nama kamu siapa?"

__ADS_1


"Sa-saya ... saya Nona."


"Maksud aku asal-usul kamu." Tangannya menunjuk bahuku.


"Dia artis korea," sahut Roro asal.


"Semprul. Aku gak nanya kamu," semprotnya pada Roro


Kami bertiga diam menunduk. Merasa bersalah.


"Jangan salahin Roro sama Ayu, Buk. Saya akan keluar dari sini," ujarku.


"Kasian, Buk. Nona gak punya siapa-siapa. Huhuhu." Ayu menangis memelukku.


"Gak punya siapa-siapa? Lalu tadi siapa yang ngaku kalau isterinya tinggal di sini? Bukannya suaminya dia?" tunjuknya padaku.


Kami bertiga celingukan bingung.


"Rumah ini sudah lama mau kujual. Tapi baru sekarang bisa laku. Dibeli sama orang yang ngaku suaminya. Mustahil suami Roro atau Ayu kan?"


Kami bertambah bingung.


"Aku ke sini cuma mau ngasih tau itu. Kenapa kalian pada nangis-nangis. Hahaha." Wanita itu tertawa girang. "Rumah ini sudah dibeli dengan harga tinggi. Aaaku Kayaaa," ujarnya lagi sambil menggoyang pinggul.


"Jadi sekarang rumah ini bukan punya ibu lagi?"


"Iya. Tuh lihat di depan! Barang-barangku sudah masuk mobil," ujarnya sumringah. "Makasih ya Ro, Yu. Berkat kalian menyembunyikan dia di rumah ini. Rumahku cepat laku."


Dia kemudian menuruni tangga. Meninggalkan aku, Roro dan Ayu yang masih terbengong-bengong.


***


Tok tok tok! Sebuah ketukan di pintu.


"Siapa ngetuk pintu malam gini?" Bola mata Roro membesar.


Wajah kami menegang. Waktu belum begitu larut. Azan isya baru terdengar.


"Permisi!" Suara laki-laki.


"Buset! Seumur-umur gak ada cowok yang sampe naik ke sini! Jangan-jangan ..." Wajah Ayu memucat.


"Permisiii!" Bertambah nyaring suara di depan pintu.


"Mau apa ke sini?" Roro akhirnya menyahut.


"Nganter pesanan."


"Pesanan apa?"


"Pesanan makanan, Mbak. Saya dari Resto seafood Tepi Pantai."


"Makanan?!" Mulutku membulat.


"Kami gak ada pesan makanan," sahut Roro lagi.


"Yang mesan Pak Henry Santoso yang tinggal di seberang. Tapi, diminta anter ke sini," jelas orang itu dengan sabar.


"Babang Siwon!" seru Ayu semangat. "Buruan buka pintu, Ro!"


"Roro lari membuka pintu."


Ternyata ada dua orang pria berpakaian seragam restoran yang membawa nampan berisi makanan. Mereka segera pamit setelah meletakkan nampan itu di lantai kamar.


"Babang Siwon orang kaya, Non. Tadi sore beli ni kosan. Sekarang ngirim makanan dari restoran," gumam Ayu menatap takjub makanan mewah yang berada di depan kami.


Sebuah nampan berukuran besar berisi berbagai lauk seafood lengkap dengan nasi dan sayurannya.


"Non ... kalau kamu gak mau sama Babang Siwon. Biar buat aku ajah," celetuk Roro.


Pletak! Kepala Roro kena jitak.


"Benerin akhlakmu Ro! Mau jadi pelakor?!" omel Ayu.


"Astaga ... becanda, Yu. Cius amat." Roro mengusap bekas jitakan.


"Ngomong-ngomong ini makanan mau kita liatin doang?" Ayu mulai ngeces.


Akupun sedari tadi sebenarnya juga sudah ngeces.


"Hayuk dimakan! Laper," ujarku.


"Sikaaat." Roro semangat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2