
Dea menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, ia berusaha tersenyum meski disisi hatinya yang lain ia merasa kecewa.
"Maaf, kalau kedatanganku kesini mengganggumu. Aku akan menunggumu disini sampai kau selesai,kembalilah ke dalam,"
"Hem, maafkan aku. Acaranya hampir selesai, aku tidak akan lama," Dion mengelus pucuk kepala Dea kemudian berbalik.
Dea kembali mendudukan dirinya sembari menatap punggung Dion yang menjauh.
"Semakin kesini aku semakin tak yakin dengan hubungan ini," gumamnya.
Dion menepati janjinya, tidak sampai 10 menit ia sudah kembali.
"Ayo pergi," Dion mengulurkan tangannya.
Dea mengangguk dan meraih tangan Dion. Mereka berjalan bergandengan menuju motor Dion terparkir.
Dea tampak memberi jarak, biasanya ia akan menempel dan memeluk pinggang Dion tapi kali ini ia menjadikan Dion bagai tukang ojek. Menyadari perubahan sikap Dea, Dion hanya membuang kasar nafasnya.
"Kita akan kemana,?"tanya Dion.
"Terserah,"
"Mau makan,?"
"Terserah,"
Jawaban Dea yang hanya terserah meyakinkan Dion ,jika pacarnya itu sedang merajuk. Ia pun menepikan motornya.
"Kok berhenti,?" tanya Dea heran.
Dion melepas helm dan segera turun. Dea pun mengikuti.
"Apa kamu marah karena aku tidak memberitahumu tentang Tiara,?" tebak Dion menatap lekat kedua bola mata Dea.
"Tidak, untuk apa aku marah,"jawab Dea cuek.
Dion mencengkram kedua lengan Dea.
"Mulut kamu bisa bohong tapi tidak dengan mata kamu, aku tau kamu kesal karena hal itu. Aku nggak mau kita berantem karena hal sepele,"
Dea tersenyum miring, ia menjauhkan tangan Dion dari lengannya.
"Aku hanya lelah dan juga lapar," Dea kembali memasang helm dan naik lebih dulu ke atas motor.
Dion yang tak ingin Dea lebih marah lagi , hanya bisa menurut. Ia kembali melajukan motornya mencari tempat makan terdekat.
Mereka makan disebuah warung tenda di pinggir jalan. Saat selesai makan, Dea berdiri lebih dulu.
"Aku yang akan bayar,"ucap Dea melangkah menuju kasir.
Selama perjalanan pulang mereka saling diam sampai akhirnya motor Dion berhenti di depan kosan Dea.
Sebelum Dea masuk ke kosannya, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop coklat.
"Maaf,aku belum bisa mengembalikan semuanya,"
Dion tertegun, ia menatap amplop itu dengan perasaan lain. Karena tak kunjung diambil, Dea meraih tangan Dion dan meletakan amplop itu ke atas tangan pacarnya itu.
"Sebenarnya aku tak minta,_"
__ADS_1
"Tidak ada penolakan," Sela Dea. "Kita sudah sepakat, kalau aku akan membayar kembali uangmu."
Dion tak tau akan berkata apa lagi, selain ucapan terima kasih. Ia memasukan amplop itu ke dalam kantong jaketnya.
"Aku masuk dulu," Dea berbalik hendak pergi.
Namun Dion dengan cepat menahan lengan Dea.
"Kenapa,?"
"Kau masih punya janji yang belum kau tepati,"
"Janji,?" Kening Dea mengerut.
"Hem iya, janji untuk datang ke rumahku."
Dea mendelik, ia pikir Dion sudah melupakan hal itu.
"Hem, aku tidak maksud untuk ingkar janji, waktu itu.."
"Aku tau, oleh sebab itu, akhir pekan ini aku mau menagihnya. Oke,!"
"Baiklah,"jawab Dea.
Dion tersenyum senang, ia segera memeluk Dea. Mengecup pucuk kepala gadis itu.
***
Akhir pekan pun datang.
Pagi ini Dea tampak gelisah, ia mondar mandir di kamar kosnya. Memikirkan baju apa yang akan dia pakai, buah tangan apa yang akan ia bawa, serta bagaimana reaksi keluarga Dion nanti saat melihatnya.
"Ya,"
"Aku boleh masuk,?"suara Tari terdengar dari luar, teman sebelah kamar Dea.
"Masuk kak,"
Tari membuka pintu kamar Dea dan menyembulkan kepalanya.
"Lagi apa,? Sibuk nggak,?"
"Hem, nggak kak, cuma bentar lagi mau keluar,"jawab Dea.
Tari membulatkan bibirnya seraya melangkah masuk.
"Mau kemana,?"tanyanya kepo.
Dea mengulum senyum, lalu menceritakan pada Tari perihal ia akan pergi ke rumah sang pacar.
"Kesan pertama itu penentu kedepannya loh," komentar pertama Tari setelah mendengar penjelasan Dea serta kegelisahan gadis itu.
"Terus aku harus gimana kak,?"
"Nggak harus gimana - gimana, tunjukan saja diri kamu apa adanya. Nggak perlu berlebihan. Jadilah diri kamu sendiri,"
Dea mengangguk setuju dengan kata - kata Tari. Berkat Tari Dea merasa percaya diri. Tak ada lagi kecemasan di wajahnya. Tari juga membantu memakaikan sedikit riasan di wajahnya.
Dea sudah rapi dengan gaun selutut, rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Dea memakai jepit rambut untuk menghiasi kepalanya.
__ADS_1
Dion sudah menunggunya di bawah.
Melihat Dea datang, mata Dion tak berkedip memandang kekasihnya itu. Dea terlihat berbeda, sangat cantik.
"Kamu cantik sekali,"puji Dion.
Dea tersipu malu. Ia menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya.
"Mana motormu,?"tanya Dea tak melihat motor Dion terparkir di halaman kosnya.
Dion tak menjawab, ia sibuk memperhatikan Dea yang terlihat begitu cantik.
"Kita naik taksi,?"tanya Dea lagi. Dion kembali menguasai dirinya.
"Bkan, aku pinjam mobil papa," Dion menunjuk sebuah mobil terparkir di luar gerbang.
Dea terperangah. Seketika ia merasa ada perbedaan status sosial diantara mereka. Dion menarik tangan Dea menuju mobil lalu membukakan pintu untuk Dea.
Dea menatap Dion merasa tak yakin. Namun sebuah anggukan kepala dari Dion membuatnya tak punya pilihan selain menurut.
Jantung Dea berdebar tak karuan selama perjalanan ke rumah Dion. Ia takut keluarga Dion tak bisa menerimanya. Berkali - kali Dea menarik nafas dalam - dalam untuk menenangkan hatinya. Dion menyadari kegelisahan Dea, ia mengenggam erat tangan Dea yang lembab karena keringat.
"Mama itu sangat baik, jangan berpikir yang aneh - aneh,"ucap Dion.
Dea mengulas senyum. Sesaat kemudian ia kembali tenggelam dengan pikirannya sampai tak menyadari kalau mereka sudah sampai.
"Ayo turun," Dea tersentak, matanya melebar melihat bangunan di depannya. Rumah dua lantai dengan design minimalis.
Dion tertawa kecil melihat tingkah Dea.
Mereka segera turun dari mobil. Dea menelan kasar ludahnya sembari merapikan baju dan rambutnya.
"Ayo masuk," Dion merangkul pundak Dea.
Dea menghela nafas dan melangkahkan kakinya dengan yakin.
Dion membuka pintu utama rumahnya, dan mempersilahkan Dea masuk. Seketika Dea berdecak kagum, melihat pemandangan di depannya. Rumah Dion benar - benar diluar ekspetasinya. Ia tak menyangka laki - laki yang sudah dipacarinya selama hampir dua tahun itu ternyata anak orang berada. Dea semakin merasa rendah diri.
" Duduklah, aku akan panggilkan mama," Lamunana Dea seketika buyar, ia mengangguk dan menuju sofa ruang tamu.
Dea menatap paper bag yang dibawanya sebagai oleh - oleh. Ada perasaan takut menyeruak di hatinya, takut mama Dion tak menyukainya.
Tak lama berselang, Dion datang bersama seorang wanita yang masih tampak muda di usianya. Dea bangkit dari duduknya dan tersenyum.
Ketika wanita itu semakin dekat, darah Dea berdesir. Wanita itu tampak tak asing.
Wanita yang tak lain mama dari Dion juga terkejut. Keningnya berkerut dalam. Selama ini ia hanya melihat Dea dari foto yang ditunjukan Dion. Setelah dilihat secara langsung, wajah Dea seperti bukan wajah baru bagi mama Dion. Keduanya saling pandang sambil mencoba mencari secuil ingatan di kepala mereka.
"Mama, ini Dea. Dea ini mamaku," Dion memutuskan pandangan keduanya.
Dea mengulurkan tangan sambil sedikit menunduk tanda hormat.
" Dea, tante," ucap Dea memperkenalkan dirinya..
" Siska, panggil aja mama Siska,"
Mendengar nama siska, mata Dea melebar. Sekarang ia ingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita itu.
Bersambung...
__ADS_1