Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
59. Tiara tidak masuk sekolah.


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, aku mengamati wajahku yang lebam. 


" Sial, ternyata parah juga." 


Aku mengambil salep lalu mengoleskan pada lebam di wajah. Sesekali aku meringis menahan perih. Tapi bagaimana kabar si brengsek itu, aku tidak mematahkan hidungnya kan,?. Masa bodoh, wajahku saja dibuat begini olehnya.


Begitu keluar dari kamar mandi, Rey tampak duduk di sisi ranjang menunggu aku menjelaskan sebab musabab aku pulang dengan keadaan babak belur. Tadi aku tidak sempat menjawab pertanyaannya dan langsung menyelonong masuk ke kamar.


" Jadi kenapa bonyok begitu,? Berantem sama siapa lo,?" tanya Rey serius.


" Sama preman," jawabku datar.


" Preman mana,?" Rey mengernyit.


Aku menghela nafas sejenak, lalu menarik kursi dan mendudukan diri.


" Orang yang sudah melecehkan Dea," aku menatap lurus kedepan mengatupkan gigiku rapat - rapat. 


Mata Rey membulat, dia tampak begitu terkejut. 


" Bagaimana bisa,? Lo beneran nyari tu orang untuk balas dendam,?" 


Aku menggeleng. Aku memang pernah mengatakan pada Rey untuk mencari laki - laki brengsek itu. Tapi sebelum aku mencarinya dia lebih dulu muncul ke hadapanku.


" Gue nggak sengaja ketemu dia," 


" Bagaimana ceritanya,?" Rey masih tampak tak percaya kalau aku benar - benar bertemu dengan laki - laki itu.


" Mungkin lo bakal nggak percaya dengan apa yang gue katakan, tapi asal lo tahu dia kenal dengan Tiara. Tadi gue melihat dia naik mobil Tiara, lalu gue membuntuti mereka. Tapi belum lama dia naik mobil Tiara ,ia turun lagi. Karena penasaran gue terus mengikutinya diam - diam sampai berakhir seperti ini," jelasku.


" Hah,??? Tiara,?"


" Iya,"


" Lo yakin itu Tiara, bisa jadi lo salah lihat." ucap Rey berusaha menyangkal.


" Mata gue masih normal, gue nggak mungkin salah lihat," bantahku.


Rey terhenyak. Ia mengusap wajahnya gusar. Sama halnya dengan Rey, aku pun juga tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi itu tak bisa dipungkiri kalau yang aku lihat itu memang Tiara.


" Tapi, bisa jadi ini cuma kebetulan aja kan mereka saling mengenal,"ujar Rey.


" Besok gue akan tanyakan langsung pada Tiara apa hubungan mereka." ucapku kemudian beranjak dari duduk.


" Mau kemana lo,?" tanya Rey begitu aku melangkah keluar kamar.

__ADS_1


" Lapar, mau makan.,"


***


Parkiran sekolah masih sepi, itu artinya belum banyak orang yang datang. Setelah memarkir motor, aku tidak meninggalkan parkiran dan masih duduk di atas motorku. Aku akan menunggu Tiara disini. Hari ini aku terpaksa memakai masker untuk menutupi lebam di wajahku. 


Satu per satu orang mulai berdatangan. Parkiran yang tadi hanya ada motorku dan satu motor lainnya kini sudah mulai penuh. Tapi yang di tunggu tak kunjung datang. 


Aku melihat Dea baru saja memasuki kawasan sekolah. Tidak ingin dia melihatku seperti ini aku segera turun dari motor dan bersembunyi di balik mobil. Setelah dipastikan Dea memasuki gedung sekolah barulah aku keluar.


" Mana sih, kok belum datang juga," aku melirik jam tangan. Lima menit lagi bel berbunyi.


" Apa si brengsek itu memberi tahu Tiara kalau aku bertemu dengannya," 


Kalau Tiara tidak datang ke sekolah untuk menghindar, sudah dipastikan Tiara ada sangkut pautnya dengan masalah video itu. Aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.


Aku merogoh ponsel dari saku celana, lalu mengirim pesan pada Rey.


📩Kirim alamat Tiara, sepertinya dia tidak datang hari ini.


Tak butuh waktu lama, Rey membalas pesanku.


📩Perumahan telaga indah, No 145 B. Lo mau ke sana sekarang,? Kita ada ulangan Fisika pagi ini. Jangan bilang lo mau bolos.


Aku kembali membalas pesan Rey.


Setelah membalas pesan Rey, aku bergegas memasang helm dan menaiki motorku. Aku tidak peduli kalau ada ulangan, aku harus bertemu Tiara. 


Aku meluncur ke alamat yang dikirim Rey. Hanya butuh waktu lima belas menit aku sampai di alamat yang dituju. Aku menepikan motorku di depan gerbang sebuah rumah mewah. Rumah bercat krem itu tampak lenggang. Aku mengintip di sela pagar. Tidak ada siapa - siapa. Pos satpam juga tidak ada yang jaga.


" Kok sepi amat," Aku menekan bel di tembok sebelah kiri.


Tapi tidak ada tanda - tanda orang akan membukan gerbang ini. Aku kembali menekan bel berkali kali. Tak lama berselang seorang wanita paruh baya tampak keluar dari arah samping rumah, ia berlari tergopoh - gopoh menuju gerbang.


" Cari siapa," tanyanya begitu pintu gerbang itu terbuka.


" Tiaranya ada, bi," tanyaku pada wanita yang aku yakini seorang ART itu.


" Oh, non Tiara," ia tampak ragu.


" Saya teman sekolah Tiara, kenapa dia tidak masuk,?" tanyaku.


" Hem, " wanita itu memilin jemarinya. Wajahnya terlihat cemas.


" Jadi begini, dari kemarin Non Tiara tidak keluar kamarnya. Kemarin bibi dengar ia sempat bertengkar dengan papanya minta pindah sekolah. Nggak tau kenapa, padahal ia baru saja pindah sekolah." tutur ART itu.

__ADS_1


Aku tertegun mendengar penjelasan ART itu, untuk apa Tiara pindah sekolah,?. Apa karena aku sudah tau kalau ia memiliki hubungan dengan laki - laki brengsek itu. Dan ia takut kedoknya terbongkar lalu berusaha melarikan diri.


" Boleh saya masuk ,Bi. Biar saya coba bicara dengan Tiara. Kami teman dekat di sekolah," ucapku menyakinkan ART itu.


Tanpa ragu dan curiga, ia mempersilahkan aku masuk.


" Orang tua Tiara mana bi,?" tanyaku saat kami sudah ada di dalam rumah.


" Bapak sama Ibu kerja, den. Pulangnya sore." 


Aku membulatkan bibir. Mataku menelisik setiap sudut rumah Tiara. Mewah dan elegan. 


" Kamar nona ada di atas paling ujung," ART itu menunjuk anak tangga yang menuju ke lantai dua.


Aku mengangguk dan mengulas senyum, lalu kemudian menaiki undakan tangga hingga sampai di lantai dua. Sampai disana aku langsung menemukan kamar Tiara. Di depan pintunya ada name tag bertuliskan, Tiara Room. Perlahan aku mulai mengetuk pintu itu.


" Tiara, ini aku Dion." 


Tak ada sahutan dari dalam. Aku kembali mengetuk lebih keras.


" Tiara, buka pintunya,! Aku tau kamu ada di dalam. Aku perlu bicara sama kamu," teriaku di depan pintu.


" Kalau kamu nggak mau buka, aku akan dobrak pintunya.," kataku mengancam.


Beberapa saat kemudian terdengar anak kunci diputar, dan pintu itu terbuka. Dia menjulurkan kepalanya. 


" Ngapain kamu ke sini,?" tanyanya.


" Mau ketemu kamu, ada yang ingin aku bicarakan," ujarku dingin.


Tiara membuka pintu kamarnya lebih lebar dan mempersilahkan aku masuk. Ia lalu menuju tempat tidurnya dan duduk disisinya.


" Kenapa tidak masuk ?" tanyaku bersidekap. 


Tiara tidak menjawab. Aku mendekatinya dan membuka maskerku. 


" Wajah kamu kenapa,?" Tiara terkejut melihat wajahku yang lebam. Ia berdiri dan bermaksud untuk menyentuh wajahku, tapi dengan cepat aku menepis tangannya.


" Kamu nggak tau atau pura - pura nggak tau," ujarku sinis.


Alis Tiara bertaut. Seolah dia tidak paham maksudku.


" Ada hubungan apa kamu sama cowok dalam Video yang membuat Dea hampir saja dikeluarkan dari sekolah,?" aku langsung bertanya pada intinya.


Wajah Tiara berubah pias, ia juga tampak kesusahan menelan ludahnya sendiri. Aku menatap tajam manik matanya dengan rahang mengeras.

__ADS_1


...----------------...


Tinggalkan jejak...


__ADS_2