
Sepanjang sholat air mataku bercucuran, dengan isak yang berusaha kutahan. Anehnya aku bisa mengikuti setiap gerakan sholat juga bacaannya.
Apakah ini pertanda bahwa aku sering melakukan ini sebelumnya?"
"Kamu ada masalah?" tanya gadis yang tadi mengajak sholat.
Dia menatapku iba. Aku mengusap wajah yang ternyata telah basah.
"Oh iya, nama kamu siapa? Boleh kita berkenalan? Panggil saja aku Ayu!" Gadis itu mengulurkan tangan.
"Aku ... aku Nona?" jawabku ragu. Harus tetap hati-hati walaupun ia terlihat baik.
Kami bersalaman.
"Senang bisa kenal kamu Nona. Semoga kita bisa jadi teman. Kamu tinggal dekat sini? Kalau aku di sini kebetulan cuma kos. Biar deket sama tempat kerjaan." Ia berbicara dengan ceria sambil merapikan alat sholatnya dalam tas kain.
"Kebetulan aku di sini juga mau cari kerjaan. Bisa kamu menolongku?"
Ayu menatapku heran. Mengamati penampilanku sejenak.
"Kenapa?" tanyaku risih.
"Ah, enggak. Maaf. Aku ini cuman kerja cleaning servis. Kerjaan kotor. Emang kamu mau?" tanyanya merendah.
"Mau ... yang penting halal."
"Aku bisa bantu, sih. Tapi kalau jam segini kantornya sudah tutup. Gimana besok siang aja kita ketemu lagi di sini? Pas sholat zuhur," tawarnya.
Aku mengangguk cepat. "Kamu baik banget." Kupegangi lengan gadis bertubuh subur itu.
"Cuman bisa bantu kamu ketemu HRD. Diterima atau enggak aku gak janji."
"Iya gak papa."
"Kalau gitu aku duluan ya. Besok kita ketemu lagi Nona. Jangan lupa namaku."
"Hum ... makasih Ayu."
Ayu beranjak keluar dari tempat itu. Akupun kemudian merapikan mukena yang kupakai. Mengembalikan lagi ke tempatnya.
Sudah sangat sore. Sebaiknya aku kembali ke perahu menemui Tobi. Mumpung langit masih terang. Aku kuatir lupa jalan kembali ke sana. Semoga besok Bosnya Ayu mau menerimaku bekerja padanya.
****
Dasarnya emang pelupa. Atau kondisi otakku memang lagi jongkok. Setelah lumayan lama berputar-putar. Baru ingat lagi jalan ke arah perahu. Huh ... akhirnya ketemu juga. Napasku sudah tersengal karena berjalan cukup jauh.
Langit mulai merona sunset. Sebentar lagi gelap. Semoga Tobi sudah pulang. Walaupun perahu itu tak seberapa besar. Tapi, bisa sementara sebagai tempat tinggal kami. Karena ada atap yang bisa melindungi dari hujan.
Semakin dekat, suara deburan ombak menghantam batu karang semakin jelas terdengar. Tobi menancapkan sebuah tongkat kayu yang cukup panjang di antara batu karang yang melingkupi perahu. Bentuknya seperti goa kecil yang mengarah ke laut.
Aku berjalan dengan santai. Menikmati warna langit serta tiupan angin senja yang mulai terasa dingin.
"NONAAA ... CEPAT LARIII!!" Suara Tobias dari arah belakang punggungku.
Aku tersentak, berpaling ke belakang mencari suara pemuda itu.
__ADS_1
Glekh! Kutelan gugup saliva.
Kusaksikan Tobi berdiri beberapa puluh langkah dariku. Kedua tangannya telah dipegangi dua pria berbadan besar, berkulit gelap.
"LARI NONAAA!!! JANGAN PIKIRKAN AKU! MEREKA ORANGNYA MISTER SAAAM! LARIII!!!"
Salah satu dari mereka melepaskan cekalannya pada tangan Tobi. Berlari cepat ke arahku.
"LARIII!!!" Tobi berteriak lagi mengingatkanku.
"JANGAN LARI!!!" Satu di antara mereka berteriak keras. Wajahnya terlihat garang.
Seperti dikejar setan. Aku lari pontang-panting menyelamatkan diri. Tak peduli arah ke mana kaki ini menuju. Tak berani menoleh ke belakang lagi.
Lari ... lari ... dan terus berlari.
Walau sudah lelah kupaksa kedua tungkai untuk terus bergerak cepat.
Hosh ... hosh ... napas kian tersengal. Aku tidak tahu apa saja yang telah kulewati.
Langit tanpa terasa kian menggelap.
Maafkan aku Tobi. Maafkan aku. Pada saatnya nanti aku akan kembali memenuhi janjiku padamu.
Maafkan aku.
Bersambung.
Tersengal-sengal napasku. Mau tak mau harus berhenti. Jongkok memegangi kedua lutut yang sudah ngilu. Kuatur napas lagi. Mata berpendar. Pria yang tadi mengejarku tak terlihat.
Huuufht ... kuatur napas lebih teratur. Meraba degub jantung pada dada.
Di mana ini? Aku berada di sebuah jalan sempit sebuah pemukiman. Keadaan sepi. Tak tampak orang lalu lalang.
Haus. Tenggorokan kering. Tak sepeserpun uang yang kumiliki. Bagaimana nasibku?
Aku duduk bengong di depan pagar sebuah rumah, dengan penerangan minim. Semua terlihat remang.
"Heh ... mau maling, ya?!" Suara nyaring wanita mengagetkanku.
Aku celingukan mencari asal suara.
Byuuurrr!!! Tiba-tiba air dari atas tumpah ke tubuhku.
"Aaaakh!!" Spontan aku berteriak nyaring. Seluruh tubuhku telah basah kuyup.
Sial!
"Lha ... kok suara cewek? Kamu maling bukan?" Suaranya dari arah atas.
Astaga, jadi yang dikira maling tadi aku.
"Saya bukan maling. Cuman numpang duduk." jawabku. Menyapu wajah yang basah dengan telapak tangan.
"Ngapain duduk di tempat gelap gitu? Kamu lagi ngincer kosan yang kosong kan?" Seorang gadis seumuranku sudah berdiri dekat.
__ADS_1
"Sumpah ... saya bukan orang jahat. Tadi saya ketakutan dikejar orang. Kecapean numpang istirahat sebentar. Kalau Mbak terganggu saya akan segera pergi," terangku.
Mulut gadis berkaca mata itu membulat.
"Owh ... gitu." Ia menatap bersalah. "Maaf deh kalau gitu. Kamu sudah basah kuyup."
"Saya permisi saja kalau Mbak terganggu." Kakiku akan melangkah.
"Tunggu dulu!"
"Iya?" Aku menoleh.
"Masuk dulu deh ke dalam. Aku pinjemin baju buat ganti. Masa kamu pulang basah kuyup begitu?"
"Gak ngerepotin?"
"Enggak. Ayo masuk. Kamu kok gak marah aku sudah nyiram kamu?" ujarnya seraya menggandeng tanganku.
.
.
"Ini kosanku. Ayo naik!"
Aku membuntutinya menaiki anak tangga yang berada di bagian belakang rumah.
"Maaf, ya. Aku sempat ngira kamu maling. Soalnya baru kemaren, kamar kos yang lain dibobol sama maling pas ditinggal kerja."
"Hum." sahutku sembari memeluk tubuh, mulai menggigil kedinginan.
"Aku sama temenku tinggal di kamar lantai dua ini. Yang punya rumah tinggal di bawah. Orangnya gualak. Untung dia lagi gak ada di rumah sekarang. Biasanya dilarang sama dia, bawa orang lain masuk kamar kosan." Gadis berkaca mata itu terus mencerocos. Bicaranya cepat.
.
.
"Muat gak bajunya?" tanyanya dari luar kamar mandi.
"Muat kok."
Bajuku telah berganti dengan yang kering. Kaos lengan panjang dengan bawahan rok lebar miliknya, yang kupilih sendiri. Selesai ganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi.
"Emang gak takut, kamu malam-malam begini jalan sendirian? Di sini kalau malam sepi. Maklumlah cuma kota pinggiran. Ramenya cuma karena banyak wisatawan. Itu juga kalau siang." Ia kemudian terdiam menutup mulut sendiri.
"Maaf, ya. Aku kalau ngomong susah ngerem. Gak tau kenapa. Bisa dibilang kelainan kebiasaan ngomong. Ayu aja suka bete kalau ngomong sama aku. Moga kamu enggak. Hehe," sambungnya lagi.
Aku ikut terkekeh melihat tingkah lucu teman baruku ini.
"Makasih ya."
"Sama-sama. Nama aku Roro. Nama kamu siapa?"
"Nona," ujarku mengulurkan tangan.
"Besok aja kamu balikin bajunya. Baju kamu yang basah biar dimasukin kresek." Ia menuju nakas kemudian kembali dengan sebuah kresek.
__ADS_1