
Getaran ponsel di saku celananya membuat Dea harus merogoh benda pipih itu. Matanya yang tadi menatap Dion beralih ke ponsel yang terus bergetar.
"Ya ce," Dea menjawab panggilan itu.
"Kok lama,? Nggak ada masalah kan?" Suara Meylani diujung sana terdengar cemas.
"Semuanya baik - baik saja, saya akan kesana sekarang,"
Dea kembali mengantongi ponselnya setelah panggilan itu terputus.
"Maaf, aku harus pergi,"ucap Dea berbalik.
Namun matanya mendelik serta badannya menegang saat Dion memeluknya dari belakang.
"Apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi,? Apa kesalahanku begitu membekas di hatimu,?" bisik Dion lirih.
Dea menelan saliva yang sudah terkumpul di mulutnya. Matanya memerah. Di dalam sana jantungnya berdebar tak karuan. Sadar mereka sedang di tempat umum, Dea segera melepaskan tangan Dion yang melingkar di lehernya.
"Aku harus pergi, bosku menunggu diluar," jawab Dea. Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pribadi. Ia masih dalam jam kerja.
Tak mau Meylani terus menunggu, Dea kembali mengayunkan langkah tanpa berbalik atau sekedar menoleh.
Dion menghela nafas berat. Ia belum siap jika harus kehilangan Dea. Apalagi Dea sampai di rebut Dean dari sisinya.
***
Sudut mata Meylani menangkap kegelisahan dari Dea yang duduk disampingnya. Sejak mereka bertolak dari kampus tadi, Dea terlihat murung dan tidak bicara apa pun.
"Kamu baik - baik saja,?"
Dea terkesiap, ia tersenyum kaku sambil memperbaiki posisi duduknya.
" Ya"
Sesingkat itu ia menjawab. Meylani tak lagi bertanya. Ia kembali fokus menyetir sampai mereka sampai di toko.
Begitu turun dari mobil Dea langsung masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti melihat seorang pria yang duduk di meja kasir sambil memainkan ponselnya. Ia terdiam mematung memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Hingga suara Meylani mengagetkannya.
" Kapan lu datang,?"
Meylani mendekat ke meja kasir. Pria itu melepaskan tatapannya dari ponsel dan menatap Meylani.
"Baru lima menitan kayaknya, dari mana,?"
Dea terus mengamati interaksi pria itu dengan bosnya. Mereka terlihat sangat dekat.
"Dia suaminya ce Meylan," sebuah bisikan melalui telinga Dea. Ia menoleh, Juni tersenyum padanya.
Pria itu sama sekali tak menyadari kalau ada mata yang sedang mengamatinya.
Juni menarik tangan Dea ke belakang. Karena gadis itu masih diam bengong di tempat.
__ADS_1
"Kamu kenapa,? Kok pucat begitu,?" tanta Juni.
" Hah,?" Dea tergagap.
"Kamu habis kena omel ce Meylan,?" tebak Juni. Dea menggeleng lemah.
" Siapa nama suami ce Meylan,?" tanya Dea.
Juni mengernyit menatap aneh pada Dea. Namun ia tetap menjawab pertanyaan gadis itu.
" Ardi,"
Deg…
Semua darah seakan mengalir kencang kembali ke jantung . Dadanya terasa nyeri. Takdir apakah yang sedang menimpanya,?.
Pria itu adalah pria yang tanpa sengaja bertemu dengannya saat menyeberang jalan. Pria yang ia yakini adalah pamannya. Mengetahui nama pria itu sama dengan pamannya, Dea semakin yakin kalau itu memang pamannya.
" Dea kamu kenapa,?" Juni menyentuh lengan Dea yang tampak melamun dengan wajah pucat.
" Bukan apa - apa kak,"
Kalau memang benar itu pamannya, apa yang terjadi dengan adik dari ibunya itu,? Kenapa dia tidak pernah pulang bertahun - tahun lamanya. Apakah pamannya mengalami amnesia?. Berbagai pertanyaan muncul di benak Dea, sehingga ia tidak bisa fokus dalam bekerja.
Saat ia kembali ke depan, ia sudah tidak melihat pria itu maupun Meylani.
***
Acara Hari jadi Universitas tempat Dion kuliah berlangsung sampai malam. Namun Dion pulang lebih awal. Bertemu dengan Dea tadi pagi mengganggu pikirannya. Ia mendatangi tempat kerja Dea. Ia ingin masalahnya dengan Dea cepat terselesaikan.
"Dion," lirih Dea.
Dion tersenyum tipis, ia segera turun dari motornya dan mendekati Dea.
" Tau dari mana aku kerja disini,?" tanya Dea.
"Bukannya tadi pagi kita bertemu di kampus,? Aku minta alamat toko ini dari rektorku yang tadi pagi bertemu denganmu,"
"Oh"
Dea hanya ber-Oh ria. Keduanya tampak kikuk dan canggung satu sama lain.
" Mau ikut denganku,?" tanya Dion setelah keheningan panjang terjadi.
" Kemana,?"
"Nanti kamu bakal tau,"
Cukup lama Dea terdiam memikirkannya sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk kepala.
Sebelumnya Dion mengantar Dea ke kosan gadis itu. Dea beralasan ia ingin mandi dan ganti baju. Sama halnya dengan Dea, Dion juga pulang ke rumahnya dan mengganti motor dengan mobil. Ia berencana membawa Dea ke tempat kenangan mereka. Mungkin itu bisa mengembalikan getaran di hati mereka dan mengingat bahwa jalan mereka sudah jauh untuk sampai di tahap ini.
__ADS_1
***
"Kita mau kemana,? Kenapa harus pakai mobil," tanya Dea saat mereka sudah diperjalanan.
Dion hanya tersenyum sebagai jawaban. Ia menyetel lagu romantis dari audio mobil. Dada Dea terasa sesak. Lirik demi lirik seperti menyiratkan akan hubungan mereka yang mulai merenggang. Apalagi saat Dea mengingat kejadian saat Dean bertandang ke kosannya dan meninggalkan sebuah kenangan. Dea merasa bersalah akan itu, tapi ia tidak mungkin juga jujur pada Dion. Yang ada hubungan mereka sampai tidak bisa diperbaiki.
Entah kemana Dion membawanya Dea tidak peduli. Yang jelas sekarang ia merasakan kantuk yang amat sangat. Matanya sampai berair saat menguap. Mungkin karena seharian ini di toko begitu banyak pekerjaan sehingga membuatnya lelah.
" Tidurlah, perjalanan masih jauh." ucap Dion.
Dea merebahkan kepalanya ke sandaran jok. Perlahan matanya tidak bisa diajak kompromi. Tanpa sadar Dea tertidur. Melihat Dea tertidur, Dion tersenyum. Ia kemudian menepikan mobilnya. Lalu dengan hati - hati menurunkan kursi supaya Dea terlihat nyaman. Dan benar saja beberapa saat kemudian dengkuran halus terdengar.
Dea tidak tahu kalau Dion membawanya pulang ke kota asalnya. Kini mobil itu menepi di dekat taman. Dion menggoyangkan pelan lengan Dea. Gadis itu mengerjapkan matanya.
Dilihatnya matahari sudah terbenam. Berganti dengan bulan yang menggantung di atas sana.
" Sudah sampai ,?" tanya Dea sambil mengumpulkan nyawanya.
" Hem, baru saja,"
" Ini dimana,?"
" Kamu benar - benar tidak tahu ini dimana,?"
Dea menyipitkan matanya, mungkin karena bangun tidur otaknya belum bekerja maksimal.
" Ayo turun dulu. Nanti kau akan tau," Dion melepaskan sabuk pengaman yang menghalangi badan gadis itu.
Dea memandangi sekitar, ia berada di sebuah taman. Taman ini memang tak asing.
"Masih belum tau ini dimana,?" tanya Dion menghampiri Dea dan menautkan jari mereka.
Dea menatap Dion penuh tanya.
" Ayo, keburu kembang apinya menyala," Dean menarik gadis itu untuk segera pergi.
Mata Dea melebar. Kini ia sudah tau dimana ia berada. Dia tidak menyangka Dion membawanya pulang ke kota asalnya. Dan kini mereka berada di tengah jembatan di yang membentang di tengah sungai.
"Kamu masih ingat saat pertama kita kesini, di jembatan ini aku mengucap janji memintamu untuk menungguku selama 6 tahun."
Mata Dea berkaca - kaca. Ingatannya melayang jauh saat ia dan Dion menghadiri acara festival dua tahun yang lalu. Seulas senyum terbit di bibirnya saat teringat Dion menciumnya dan berakhir di kejar orang.
Dion meraih bahu Dea untuk menghadap ke arahnya. Ibu jarinya mengusap air mata Dea yang sudah meleleh membasahi pipi gadis manis itu.
"Kembalilah padaku. Kita perbaiki hubungan ini, kita rajut kembali kisah itu sampai saatnya kau menjadi milikku seutuhnya. Maaf atas semua luka yang tanpa sengaja aku torehkan. Aku tidak bermaksud menyakitimu," Mata Dion berkaca - kaca.
Mulut Dea terkunci, ia tidak tau akan mengatakan apa. Hanya air matanya saja yang tumpah tanda rasa bersalah pada Dion, karena pernah goyah dengan kehadiran Dean. Kini ia sadar, Dion tetaplah laki - laki terbaik. Ia tetaplah Malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan padanya. Tidak seharusnya ia berniat untuk berpaling.
Dea menenggelamkan kepalanya di dada bidang Dion. Menumpahkan semua disana. Bersamaan dengan itu kembang api meledak di udara. Suara isak Dea tenggelam dengan suara ledakan yang menggetarkan jiwa.
Bersambung....
__ADS_1
...----------------...
Lanjut besok lagi.. tetap tinggalkan jejak ya man teman..