Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 90


__ADS_3

 " Panti asuhan," ucap mama Siska dan Dea serentak.


Dea tersenyum malu. Sementara mama Dion segera memberikan Dea sebuah pelukan. 


"Mama tidak menyangka, gadis yang mama temui di Panti Asuhan adalah pacar Dion,"


Mereka merenggangkan pelukan itu. Mama Siska tersenyum sembari membelai lembut kepala Dea. Hati Dea menghangat, ia seperti merasakan kembali belaian seorang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan.


Sekarang Dea tau mata teduh yang dimiliki Dion berasal dari ibunya. 


Mama Siska mempersilahkan Dea untuk kembali duduk, ia lalu meminta ART nya membuatkan minuman untuk Dea.


Meski mama Dion sangat ramah, dan menerima kehadirannya dengan baik. Namun Dea tetap saja merasa canggung dan salah tingkah. Ia lebih banyak diam dan menundukan kepala.


"Dion bercerita banyak tentang kamu sama mama," Mama Siska memandang Dion yang ikut salah tingkah.


Dea melirik Dion, sorot matanya seolah menyiratkan sebuah pertanyaan. Apa yang kamu ceritakan tentangku pada mamamu,? Begitulah kira - kira arti tatapan Dea.


" Kamu tenang aja, aku cerita yang baik - baiknya aja kok," balas Dion seakan mendengar suara hati Dea.


Dea menunduk malu.


"Kata Dion kamu kerja ya, kerja dimana?"tanya Mama Siska.


" Saya kerja sebagai marketing di salah satu perusahaan asuransi," 


"Oh ya, dimana itu,?" 


" Di,_"


"Ma, papa mana sama adek - adek, kok nggak kelihatan," sela Dion. 


Mama Siska yang tadi menatap Dea kini beralih pada Dion.


" Oh, tadi katanya keluar sebentar mau beli makanan. Paling bentar lagi datang,"


Dion menganggukan kepalanya.


" Oh ya, tadi kamu bilang apa,?" mama Siska kembali menatap Dea.


Baru saja Dea akan membuka mulutnya, Dion kembali menyela. Dea mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan sikap Dion.


Saat bersamaan, Papa Dion dan ketiga adiknya datang. Dea bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat. 

__ADS_1


" Pacar kak Dion ya ma," tanya Nayla. Mama Siska mengangguk.


Papa Dion tersenyum hangat, begitu juga dengan ketiga adik Dion. Mereka ikut duduk bergabung di ruang tamu. Saling menyapa dan berkenalan. Kehadiran Dea disambut baik oleh semuanya. Terlebih Nayla, ia sangat senang bisa mengenal Dea. Selama ini Nayla begitu mendambakan seorang kakak perempuan. Dan itu bisa didapatkannya dari sosok Dea.


Perlahan Dea mulai merasa nyaman. Kehangatan keluarga Dion membuatnya merasa menemukan keluarga baru. 


" Maaf ya Dea, mama sama papa harus pergi. Kamu nggak apa - apa kan kami tinggal?"  Mama Siska merasa tak enak hati, karena harus pergi karena urusan pekerjaan sementara ada Dea di rumah mereka.


"Iya ma, nggak apa - apa,"


"Kan ada Nayla sama Kak Dion ma," ucap Nayla menimpali.


"Mama mau mengantar pesanan pelanggan, kebetulan hari ini janjinya. Maaf mama gak bisa menemani kamu," ucap Mama Siska mengusap lengan Dea.


" Iya ma, aku mengerti kok,"


Mama dan Papa Dion pun berpamitan, dan kedua adik Dion,  Naya dan Dava minta ikut dengan orang tuanya. Jadinya tinggalah mereka bertiga di rumah.


Mereka bertiga hanya duduk di ruang tamu ,tak tau akan melakukan apa. Nayla yang mulai bosan mengajak Dea untuk berenang, kebetulan siang ini cuaca sangat terik. Tentu saja Dea menolak dengan alasan tak bisa berenang. Selain itu, ia masih segan untuk bersikap lancang di rumah Dion. 


Nayla yang kekeh tak mengindahkan penolakan Dea, ia menarik tangan Dea menuju ke bagian belakang rumah dimana disana ada kolam renang. 


" Aku nggak bisa berenang, serius," ucap Dea disela langkah mereka.


" Tapi aku nggak punya baju ganti," Dea terus mencari alasan.


" Pakai baju aku, atau kak Dion aja nanti," 


Dea menoleh ke belakang berharap Dion akan menghentikan aksi adiknya. Tapi laki - laki itu hanya mengedikan bahu sambil tertawa terkekeh.


Di depan mata Dea terbentang kolam renang yang tak terlalu luas. Airnya sangat jernih membuat siapa saja ingin nyebur ke dalamnya.


Nayla sudah lebih dulu melompat ke dalam kolam, sementara Dea masih berdiri di pinggirnya.


" Ayo kak ,seger tau," Nayla mencipratkan air ke arah Dea.


Dea menahan dengan tangan seraya menjauhkan wajahnya.  Tapi tiba - tiba satu dorongan dari belakang membuatnya berteriak histeris. 


Byurrr…


Dea masuk ke dalam air. Ia yang kaget jadi gelagapan. Dea melambaikan tangannya saat ia merasa akan tenggelam sambil berteriak tolong. 


Dion yang tadi mendorong tubuh kekasihnya ke air, malah tertawa terbahak. Bagaimana tidak, kaki Dea menyentuh dasar kolam dan air hanya sebatas dada orang dewasa. Tapi gadis itu setengah mati ketakutan seperti  ia akan tenggelam. Nayla juga cekikikan melihat tingkah konyol Dea.

__ADS_1


"Tolong, aku tenggelam," Dea tetap melambaikan tanganya. Ia tak menyadari kakinya yang berdiri tegak di dasar kolam. 


Dion yang tak tega,ikut masuk ke dalam kolam. Ia mendekati Dea dan memegang kedua tangan gadis itu.


"Kamu baik - baik saja, kaki kamu aja menyentuh lantai," 


Dea mencoba merasakan kakinya. Benar saja, ia sama sekali tak tenggelam. Melihat Dion yang terus tertawa ia jadi kesal dan memukul dada bidang Dion.


Pada akhirnya ,Dion dan Nayla mengajari Dea berenang. Tawa riang ketiganya terdengar dari dalam kolam. Dea tak peduli lagi, jika bajunya sudah basah. Ia begitu menikmati kebersamaannya dengan Dion dan Nayla.


Waktu berlalu begitu saja sampai mereka memutuskan untuk keluar dari air. 


" Ganti bajumu ,nanti masuk angin," Dion menyerahkan baju kaos dan celana training miliknya pada Dea.


Dea melesak masuk ke kamar mandi, Ia mengganti bajunya yang basah dengan baju yang tadi Dion berikan. Bibirnya melengkung mengingat kejadian di kolam renang tadi.


Sementara Dion mengganti bajunya di kamar mandi luar.


Begitu keluar dari kamar mandi, Dea tak mendapati Dion di dalam kamar. Kesempatan itu digunakan Dea untuk melihat - lihat isi kamar Dion. 


Di lemari pajang, berbaris rapi piala dan berbagai penghargaan yang pernah diterima Dion. Dea berdecak kagum. Kini matanya beralih pada pigura kecil di atas meja belajar, dimana disana terpampang foto dirinya berdua dengan Dion memakai seragam sekolah. Dea ingat betul, kapan foto itu diambil. Saat mereka selesai membersihkan toilet. 


" Kenapa kau senyum - senyum sendiri," Dea tak menyadari Dion masuk ke dalam kamar.


" Aku hanya ingat kenangan tentang foto ini," Dea menunjukan foto itu lalu kembali meletakan pigura di atas meja.


Dion melangkah menghampiri, ia juga menatap foto itu sekilas. Kemudian beralih menatap Dea. Mata keduanya saling bertemu pandang.


" Apa kau menyukai keluargaku,?"tanya Dion.


Dea mengangguk sambil tersenyum. 


"Sangat suka, aku seperti menemukan keluarga baru,"


Dion tersenyum lebar. Ia menatap Dea lekat - lekat, tangannya terulur merapikan anak rambut Dea. Dion semakin merapatkan tubuhnya mengikis jarak antara mereka. 


Dea membeku seketika, ia tak bisa lagi mundur karena bokongnya sudah menyentuh tepi meja.


Perlahan tapi pasti Dion mulai mendekatkan wajahnya. Sehingga Dea bisa merasakan nafas Dion menyapu wajahnya. Jantung keduanya berdebar kencang seiring dengan bibir keduanya yang kemudian saling bertaut.


Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


Tinggalkan jejak...


__ADS_2