

BEBERAPA READER MINTA VISUAL HENRY DAN NIKEN.
KALAU HENRY KAN DALAM NOVEL MIRIP SIWON. GAMPANG ... OTOR COMOT GAMBAR BABANG SIWON.
NAH SI NIKEN AGAK SUSAH. SOALNYA DALAM NOVEL CANTIK BANGET. SAMPAI BIKIN HENRY KLEPEK-KLEPEK. KASIH MASUKAN DONG!
Yuk simak cerita sambungannya.
👇👇👇
****
Sedih setiap mengingat wajah polos Tobias. Bagaimana keadaannya sekarang? Aku sangat mencemaskan anak itu. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Aku yakin aku masih punya keluarga. Hati kecilku mengatakan begitu. Entah apa yang sudah kualami sebelumnya sampai aku terjatuh ke laut, lalu terdampar ke pantai.
****
Hari ini aku akan ikut Roro dan Ayu kerja sebagai clening servis. Sebelum berangkat, mereka mendandaniku agar tidak mudah dikenali. Mister Sam tentu saat ini masih berusaha mencariku.
.
"Hmm ... aku mikir sesuatu, Ro." Ayu mengetuk-ngetukan jari telunjuk di dagu. Menyipitkan matanya ke arahku. "Coba kamu perhatikan, Ro! Si Nona ini selalu memilih pakaian yang tertutup. Terus kepalanya juga selalu ditutup pake tudung jaket."
"Suka-suka dialah. Mungkin memang nyaman begitu," sahut Roro cepat.
"Makanya itu ... aku curiga dia ini cewek berhijab. Do you understand?" Ayu mencubit pipi Roro yang berdiri di sampingnya.
"Hu'um ... bisa jadi kamu benar. Dari pertama kupinjemin baju. Dia milih kaos lengan panjang sama rok panjang. Sekarang juga. Dia lebih milih baju kedodoran punya kamu. Dari pada baju keren punyaku." Roro melipat tangan di dada.
"Ish ..." Ayu mencebik sebal pada temannya itu.
Seperti kemarin, mereka bicara bersahutan seolah aku sebuah manekin.
"Ya udah klo gitu, Yu. Pakein jilbab kaos kamu yang besar biar gak mudah dikenalin. Kalo ada sekalian kasih cadar!"
"Dasar Markonaaah! Gak usah pake cadar juga kale! Masker kain kan kita punya banyak. Pake itu aja."
"Wo iya." Roro menjentikan jari. Membuka laci pada nakas.
Jilbab kaos yang cukup besar dan masker penutup wajah kini sudah ditambahkan pada penampilanku.
"Mantap Non. Mister Sam gak akan nyangka kalau ini kamu." Ayu memutar tubuhku.
"Satu lagi. Ini bukan kaca mata minus. Gak bikin pusing, kok. Tapi cuma pelundung debu." Roro memasang sebuah kaca mata pada wajahku. "Sempurnalah penyamaranmu, Nona." Dia terkikik senang.
"Lihat! Kami mirip kan?" Roro mendekatkan wajah di samping wajahku. Matanya berkedip-kedip. Minta pendapat Ayu.
"Iya deh mirip. Asal kamu senang, Ro," sahut Ayu mendelik.
"Tapi, ngomong-ngomong. Entar kamu tatar Nona dulu, Yu! Cara jadi cleaning servis yang baik dan benar. Urusan sama Bos, aku yang handel."
"Iya, gampang. Entar Nona aku yang ngajarin. Kamu urusan ngerayu Bos. Biar lancar." Ayu mengacungkan jempol kanan.
"Sip! Aku duluan turun ke bawah. Kalau dengar siulan baru kalian pada turun," titah Roro sebelum keluar kamar.
Beberapa menit kemudian terdengar suara siulan dari bawah. Aku dan Ayu segera menuruni tangga. Ini kami lakukan agar keberadaanku tidak kepergok yang punya kos. Kata Roro yang punya kos galak. Mirip Kanjeng Mami yang main sinetron sama Sule. Hihi. Ada-ada saja.
***
"Permisi mau bersihin toilet," ujar Ayu, pada dua orang pria di depan sebuah pintu kamar penginapan.
Ini sudah kamar kesekian yang akan kami masuki. Untuk dibersihkan toiletnya.
__ADS_1
"Silakan. Ketuk dulu pintunya, Mbak!" sahut salah satu pria itu.
"Iya, baik."
Tok tok tok! Ayu mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar suara pria dari dalam kamar.
Tangan Ayu membuka pintu.
"Permisi, Pak. Mau bersihin toilet." Ayu minta ijin pada penghuni kamar.
"Silakan," sahutnya singkat tanpa memandang ke arah kami.
Seorang pria berkulit putih dengan mata yang sipit tampak duduk sendirian di atas sofa. Pria itu memandangi layar pada gawai yang ia pegang. Aku sedikit membungkuk hormat saat melewatinya.
Kakiku membuntuti langkah Ayu dari belakang. Berjalan menuju toilet. Satu tangan menjinjing sebuah ember berisi alat-alat dan cairan pembersih toilet. Hari ini sementara aku di temani Ayu bekerja. Besok aku harus sudah bisa bekerja sendiri.
Berkat kemampuan Roro berkomunikasi. Bos mereka tak keberatan, kalau aku menggantikan satu teman pekerja yang baru saja berhenti. Kata Ayu, itu karena Bos mereka memang ada hati sama Roro. Gak heran kalau urusan jadi gampang.
.
.
"Udah pinter kerjamu, Non." Ayu berbicara berbisik.
"Mungkin kerjaan aku memang cleaning servis, Yuk," sahutku juga berbisik, sambil menyemprotkan cairan pembersih pada kaca toilet.
"Ah ... gak mungkin!" Ayu menoyor bahuku pelan.
Apanya yang tidak mungkin? Aku begitu mahir memegang sikat WC. Tidak merasa jijik saat mengerjakannya. Lantai dan kaca toilet bisa kubersihkan dengan cepat. Sepertinya pekerjaan ini sudah sering aku lakukan. Ah, entahlah.
Setiap membersihkan satu toilet, kata Ayu, paling tidak membutuhkan waktu lima belas menit. Kami harus pintar mengatur waktu. Agar semua toilet selesai dibersihkan sebelum siang.
"Toiletnya sudah selesai dibersihkan. Kami permisi," ucap Ayu pada pria itu lagi.
Kami berjalan melewatinya.
Huuuft ... hidungku mengendus aroma wangi yang ... entahlah.
Mataku terpejam beberapa detik untuk menyesapnya. Aku tidak mengerti ini perasaan apa. Sepertinya berasal dari parfum pria itu. Sempat aku menoleh sebentar ke arahnya. Pria itu masih dengan posisi yang sama. Seperti orang yang sedang sakit kepala.
Keluar dari kamar itu, Ayu senyum-senyum gak jelas.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Kamu gak merhatiin yang di dalam kamar tadi? Rugi pokoknya si Roro gak ikut. Hihi."
Alisku mengernyit. "Emang ada apa di dalam?" tanyaku masih tak mengerti.
"Dih. Kalau gak salah. Yang dalam kamar tadi itu Babang Siwon!" Tubuh subur Ayu bergidik senang. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Eh, Tapi, kalau Babang Siwon. Masa dia tadi bisa nyahut pake bahasa Indonesia, ya?" Ayu kebingungan sendiri dengan asumsinya.
"Kamu suka cowok korea, Yuk?" tanyaku.
"Suka bangeeet. Jangan kasih tahu Roro, ya, Non. Kalau di penginapan ini ada Babang Siwon. Bisa-bisa dia penasaran. Tu, anak ngefans berat sama Siwon. Bakal malu-maluin kalau dia tahu. Buat kita bedua aja. Entar kita bagi dua," ujarnya.
"Emangnya kue dibagi dua? Udah, buat kamu aja, Yu. Aku ngalah deh," sahutku terkekeh geli.
"Beneran?"
"Hu' um." Aku mengangguk, senyum-senyum.
"Bener ya. Asyiiik!" Ia bertepuk girang. "Oppaah tunggu aku esok datang lagi ... Oppaah!" Ayu bergaya seolah pria tadi ada di depannya.
__ADS_1
"Tapi kamu harus siap mental, Yu."
"Apa tuh?"
"Orang ganteng jarang ada yang jomblo. Gimana kalau dia sudah punya pacar?" godaku
"Gak penting ituh buat akuh. Aku sudah biasa ditolak, Non. Kamu gak usah kuatir. Mentalku sebesar badanku," sahutnya sambil memegangi otot lengannya sendiri.
Kami sama-sama tertawa geli. Punya teman seperti Ayu dan Roro sangat menghibur.
"Masih empat toilet lagi kan, Yuk?" Aku menyadarkannya tentang pekerjaan kami.
"Hais ... sampai asik ngobrol, gara-gara Babang Siwon." Dia menepuk kepala sendiri.
Kami kembali memasuki kamar-kamar yang akan kami bersihkan toiletnya.
Penginapan ini sangat asri. Menurut Roro dan Ayu penginapan ini salah satu yang terbaik di sini. Semua pintu kamarnya menghadap taman yang berada pada bagian tengah penginapan. Hingga udara lebih segar. Jumlah kamar cukup banyak. Ada ratusan. Bos kami bekerja sama dengan pihak penginapan khusus untuk kebersihan toilet.
****
"Apa perlu kita ke klinik, Yu?" Roro memandang cemas pada sahabatnya yang tampak lemas.
"Lebay! Aku kan emang gini tiap tamu bulanan. Cuman sekarang mules banget." Ayu meringis memegangi perutnya. "Entar habis minum obat juga hilang sendiri," sambungnya lagi.
Kasihan. Wajah gadis itu tampak pucat berkeringat, menahan sakit.
"Gak papa kalau kami tinggal?" tanya Roro lagi.
"Suer gak papa. Udah ... sana! Nanti kalian kesiangan. Bisa mencak-mencak si Bos," sahutnya.
"Kalau gitu kami berangkat ya, Yu. Moga nyeri haidnya cepet hilang," ujarku.
Ayu tersenyum mengangguk. Tangannya melambai pelan. Aku dan Roro keluar dari kamar. Siap untuk membersihkan toilet lagi. Hari ini karena Ayu absen, pekerjaanku dan Roro akan lebih banyak. Harus lebih cepat membersihkan toilet agar selesai sebelum siang.
***
Kamar-kamar penginapan yang akan aku bersihkan toiletnya, sama dengan kamar yang kemaren. Tapi, sekarang aku tidak ditemani Ayu lagi.
Seperti kemaren juga, aku berpenampilan tertutup. Memakai jilbab lebar, masker penutup wajah dan kaca mata.
Setelah memasuki beberapa kamar. Aku harus masuk ke kamar yang dijaga ketat dua orang itu lagi.
"Permisi," ucapku pada mereka.
Entah orang penting macam apa yang menginap di kamar ini. Hingga harus selalu dikawal.
"Mau bersihin toilet ya, Mbak?" tanya seorang dari mereka. Pria itu melirik ember di tanganku yang berisi alat dan cairan pembersih.
Aku mengangguk.
"Langsung masuk aja! Gak usah diketuk! Bos kita lagi istirahat. Jangan berisik! Tadi malam dia gak tidur," ujar pria bertubuh besar itu, dengan suara pelan.
Aku mengangguk lagi. Handle pintu kugenggam, lalu menariknya pelan. Berusaha tidak menimbulkan suara. Hawa sejuk pendingin ruangan menyambut tubuhku begitu di dalam kamar itu.
Pria berkulit putih yang menurut Ayu mirip bintang korea Siwon, tampak terbaring di atas sebuah tempat tidur berukuran king size. Suara dengkuran halusnya dapat kudengar. Aku membuang muka begitu menyadari, kalau pria itu tidur dengan bertelanjang dada. Sebagian tubuhnya tertutup selimut tebal.
Saat berjalan melewati tempat tidurnya.
Shuuuut ... aroma wangi itu kembali membuatku seperti terbetot.
Langkahku terhenti tanpa dikomando. Mata terpejam menyesap dalam. Ada apa denganku? Apa hubunganku dengan aroma parfum pria ini?
Mungkinkah di masa laluku, ada seseorang yang juga memakai wangi parfum yang sama? Hingga aku merasakan sesuatu yang sulit kupahami.
Aku menggeleng. Kepala mulai pusing. Jangan terlalu memaksa untuk mengingat, Non! Biarkan memorimu mencari jalan sendiri!
__ADS_1
Bergegas masuk ke dalam toilet. Memulai aktifitasku bergumul dengan sikat, kanebo dan lainnya.
Bersambung