
Alun-alun kota sudah ramai oleh pengunjung. Dengan antusias aku menarik lengan Henry menuju letak panggung yang berada di sisi alun-alun.
Sebuah pertunjukan drama teater musikal tengah berlangsung. Tampak seorang talent pria di atas panggung dengan penampilan bak seorang pangeran. Pria itu menyanyikan lagu untuk wanita di depannya dengan suara lantang.
"Engkau laksana bulan ... tinggi di atas kahyangan. Cintaku dah kau tolak hidupku tak keruan. .... Ooh ... kau tinggalkan diriku. Oh kekasih mengapakah kau campakkan diriku ... Oh, Tuhanku. Mengapakah pahit nian nasibku ...."
Lagu melayu dengan tempo lambat itu berhasil membuat penonton hening sesaat. Aku dan Henry berdiri di antara ratusan penonton. Henry selalu berada di belakang punggungku. Tepuk tangan membahana, begitu talent pria itu usai memamerkan bakatnya. Suaranya memang bagus. Aku pun ikut bertepuk tangan dengan semangat.
"Apa liat-liat?! Gitu amat liatin isteri orang!" Suara Henry membuatku tersentak menengok ke arahnya. Mata sipit Henry menatap tajam ke satu arah dengan dagu terangkat. Akupun mengikuti arah tatapan Henry. Ada seorang pria yang berdiri beberapa meter dari kami. Pria itu balas menatap Henry.
"Kenapa, Yang?" tanyaku terheran-heran.
"Dari tadi dia ngeliatin kamu terus. Mana boleh begitu!" sahutnya ketus.
"Mungkin aku mirip temennya atau sodaranya, atau ...."
"Tatapan laki-laki," sahutnya lagi sambil mendengkus. Ia masih memberi tatapan menghunjam pada orang itu.
"Mata ... mata gue. Suka-suka gue lah mo liat kemana." Orang itu bicara dengan nada menantang.
Henry maju mendekatinya. "Silakan kamu liat kemana saja. Tapi bukan menatap isteriku lama-lama."
"Terus lo mau apa?" ujarnya melotot-lotot.
"Menurut kamu aku mau apa?"
Suasana semakin panas. Orang-orang mulai memperhatikan kami.
Wah ... gak bener, nih. Gawat kalau sampai Henry baku hantam sama orang. Bisa kacau malam minggu ceriaku.
"Cari minum dulu. Haus." Sengaja kugandeng tangannya keluar dari kerumunan.
Tidak kusangka, Henry bisa juga bersikap seperti jagoan. Tak ada lagi Henry culun yang waktu SMA sering dibully. Mungkin sudah digodok sama Beno.
***
"Aaa ... aaa." Mulutku ikut menganga. Tanganku mengarahkan cilok yang telah berlumur bumbu kacang ke mulut Henry.
Kami duduk berhadapan di sebuah bangku panjang dekat pedagang cilok depan alun-alun. Saat ini aku sedang mendinginkan hatinya. Menikmati sebungkus cilok berdua.
"Besok, kita cari kacang rebus lagi," ujarnya dengan mulut penuh cilok.
"Hari ini udah kenyang banget. Udah gak mikirin kacang rebus lagi," sahutku, dengan mulut mengunyah cilok juga.
"Besok aku janji kamu bisa makan kacang rebus."
__ADS_1
"Apa-an, sih. Mungkin memang gak lagi musim. Gak usah dicari. Kalau ada yang jual baru beli."
"Gak. Aku gak mau kalau anakku nanti ngeces."
Ya, Ampun ini laki. Masih saja ia mengira aku lagi ngidam. Entar kalau ternyata tidak, nanti dia kecewa.
"Aku gak lagi ngidam, Sayang." Kusodorkan ujung sedotan minuman dingin ke bibirnya yang memerah kepedasan.
"Mana kamu tau. Kan belum di cek." Alisnya bertaut saat menyedot minuman dari dalam kaleng.
"Aku gak mau ngecek kalau belum yakin. Telat aja belom."
"Makanya nanti pulang ke rumah langsung kita cek."
Gak segitunya juga kali suamiku.
Aku memutar bola mata. Malas berdebat dengannya. Puas makan cilok kamipun kembali berada di atas motor.
"Jadi mau ke angkringan?" tawar Henry setengah berteriak.
Motor melaju kencang di antara kendaraan lainnya. Bicarapun harus kencang biar kedengaran.
"Enggak, ah. Taunya udah kenyang. Ciloknya gede-gede kayak Gaban." Suaraku tak kalah nyaring dari Henry.
"Oke Tuan Putri. Kita pulang."
"Sama-sama, Sayang."
"I love you."
"Gak jelas. Bisa lebih nyaring suaranya?"
Siapa takut? Kuhirup udara sebanyaknya. Bersiap untuk ....
"I LOVE YOUUU. Niken cinta mati sama Henry. Henry suami paling tampaaan seduniaaa!!!" teriakku lepas.
Peduli amat sama orang-orang di sekitar yang terbengong menatap kami Toh tidak kenal juga. Hihi.
Pria di depanku tertawa terbahak. Ia tak menyangka kalau urat malu isterinya sedang putus demi menyenangkan hatinya. Malam ini terasa dunia milik berdua. Tak perlu usaha keras untuk menyenangkan hatiku. Begini saja sudah cukup.
***
Tubuhku menggeliat. Ari-ari terasa penuh. Harus segera ke kamar kecil. Mata terasa berat. Kuhela napas mengumpulkan nyawa. Kelopak mata pelan terbuka. Jam di tembok menunjukan kalau waktu masih tengah malam. Kuturunkan pelan sebuah tangan kekar yang melilit di perut.
Dengan mata setengah terpejam, satu tanganku meraba-raba ke bawah tempat tidur. Mencari lingeri yang kupakai tadi malam. Malah bra yang kudapatkan. Netraku memandangi under wear kami yang berceceran di lantai.
__ADS_1
Udara di dalam kamar sangat dingin. Henry selalu mengatur suhu ruangan pada angka terkecil. Kukenakan lagi bra sebelum menemukan lingeri yang entah melayang kemana. Tak menemukan juga, akhirnya kaos Henry yang kukenakan. Lumayan hangat setelah memakainya.
Terkantuk-kantuk aku bangkit dari tempat tidur, lalu berlari kecil menuju pintu toilet.
****
Hhh ... dasar pikun! Kupukul-pukul pelan kepala.
Aku lupa memeriksa air seniku tadi. Karena buru-buru, kubuang begitu saja. Padahal Henry sengaja meletakan sebuah alat tes peck di depan kaca toilet. Agar aku ingat. Ah, besok sajalah lagi.
Kembali ke tempat tidur. Wajah bening itu tampak sangat pulas. Suara dengkurnya berkejaran dengan detik jarum jam. Mulutnya sedikit terbuka.
Tubuhku masuk lagi ke dalam bed cover. Kupandangi fisiknya yang sekarang mulai berubah. Alisku mengernyit.
Iya ... betul. Kenapa baru sekarang aku menyadari? Semakin hari tubuh Henry kian berisi.
Memang ia mulai rajin olah raga. Setiap pagi dan sore selalu ke lapangan di belakang rumah. Latihan bela diri bersama para pria berbadan besar itu. Pulangnya dalam keadaan penuh keringat.
Pernah ia bilang kalau suatu saat tidak butuh body guard lagi. Kupikir Henry hanya bicara kosong. Apa mungkin ini yang ia maksud?
Ujung telunjukku menekan otot-otot lengan Henry yang mulai tampak bertonjolan. Tubuhnya sekarang lebih keras. Jariku berpindah ke bagian dadanya. Kutekan-tekan. Keras juga. Kusibak sedikit selimut. Perutnya juga mulai kotak. Mirip roti sobek. Mulutku seketika mencucu. Bola mataku membulat.
Suamiku berubah.
"Kenapa gak tidur?" Ia tiba-tiba terbangun.
Aku terkesiap. Khawatir tertangkap basah sedang memperhatikannya. "Barusan dari kamar mandi. Pipis."
"Pipis? Sudah ditampung pipisnya?" Mata sipit itu melebar menatapku.
Tuh kan ... Henry lebih ingat dari aku.
"Lupa."
"Entar jangan lupa lagi. Nanti kalau mau pipis bangunin aku."
"Buat apa?"
"Buat ingetin kamu lah."
Bibirnya tampak menahan senyum. "Kok pake kaos aku?" Ditarik-tariknya baju kaosnya yang telah kupakai.
"Pinjem," sahutku singkat sambil memejamkan mata lagi.
"Memangnya baju cantik yang kamu pake tadi malam mana?"
__ADS_1
"Seharusnya aku yang tanya. Kamu taroh dimana baju cantikku," sahutku gusar.