Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

.



.


.


Derai air langit menghantam atap rumah. Membentuk ketukan irama damai menenangkan. Membawa angin basah yang menyelinap di antara sela ventilasi. Menyusup dalam ke ruang-ruang. Menyisakan dingin pada kulit yang meringkuk dalam selimut dekapan.


Terbanglah bersama embusan mimpi. Wahai asa. Biarkan tetesan angan berjatuhan di atas sungai-sungai kerinduan. Lalu larut terbawa arus menyentuh dinding-dinding kalbu. Melintasi palung-palung hati. Bermuara dalam pusaran telaga cinta.


.


.


.


.


Sedikit menggeliat. "Jam berapa sih ini? Udah laper," gumamku pelan dengan mata terpejam. Nyawa masih melayang berhamburan.


"Hmm ... entar aku pesan di resto yang kemaren, Sayang." Suara seorang pria menyahut.


Degh!


Mataku seketika membelalak. Kepingan nyawa yang tadi lepas berhamburan, sontak berebutan masuk.


Siapa yang bicara tadi?


Di mana ini?


Sesaat kemudian tubuh tiba-tiba ditarik ke arah belakang. Kurasakan jari-jari yang melekat di atas perut.


Glekh! Jantung melompat.


Ya Tuhan ... apa yang terjadi?


Kutatap tak percaya kondisi tubuh. Ternyata hanya ditutupi selimut. Ada satu lengan kekar yang tadi menarikku ke arahnya. Satu kaki seseorang sedang menyilang di atas kakiku. Punggungku terasa hangat.


Mukaku mengkerut. Mata memindai ruangan tempat diri berada.


Bibir kugigit frustasi. Baru tersadar. Aku masih berada di atas tempat tidur milik Henry Santoso. Pria bermata sipit itu lah yang sekarang ada di belakang punggungku. Napas hangatnya terasa menerpa tengkuk.


Astaga ... bodohnya aku!


Bagaimana ini?


Dasar murahan!


Aaargh!


Sihir apa yang ia punya hingga begitu mudah aku menyerahkan diri?


"Kamu sudah bangun, Sayang? Mau kupesankan sekarang makanannya?" Suara berat pria di belakang punggungku.


Ada sesuatu yang lembut bergerak di atas kulit tengkukku.


Hentikaaan!!!


"Mau kemana?" tanyanya melihat aku bangkit.


Kedua tanganku menarik selimut menutupi tubuh.


"Ken, tunggu! Kamu mau kemana?"


Aku tak berani menatap ke arah pria itu. Pasti kondisinya sama berantakannya denganku. Tergesa aku keluar dari pintu.


Brak! Pintu itu kubanting.


Dasar bodoh!


Aaargh!


Agaknya saat ini otakku memang sedang keropos. Seperti orang linglung aku keluar kamarnya hanya mengenakan selimut.


Kuempaskan napas kasar. Terpaksa membalikan badan, kembali masuk ke dalam kamarnya.


Brak! Kubuka lagi pintu kamar itu. Memunguti pakaian yang terongok di lantai.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanyanya heran.


Sekilas dari sudut mataku, dia tengah mengenakan pakaiannya. Tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Aku masuk ke kamar mandi. Memakai lagi bajuku.


.


.


.


"Ken ... kamu kenapa lagi?" Dia berusaha mengejar aku yang berlari keluar dari pintu rumahnya.


****


Huuufth ... napasku tersengal begitu masuk kamar kosan.


"Non ... kamu dari mana aja?" Roro menegur aku yang ngeloyor masuk tanpa mengucap salam.


Dua temanku menatap heran. Tergesa aku masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Byuuurr!! Guyuran air dingin dari centong membasahi seluruh tubuh.


Aku tak habis pikir dengan diriku sendiri. Kenapa begitu mudahnya luluh padanya?


Tatapan mata sendu pria itu telah menghipnotisku.


Harusnya aku tidak langsung percaya begitu saja kalau dia suamiku. Bagaimana kalau ternyata bukan? Bagaimana kalau ternyata ia bohong?


Bagaimana kalau ternyata ia hanya penipu yang memanfaatkanku?


Bagaimana kalau ....


Aaaargh!!! Kedua tanganku mengepal memukuli tembok kamar mandi.


"Bagaimanaaaa ... huhuhuuu!!"


Byuuurr!! Air dingin kuguyur lagi di atas kepala.


Apa aku sudah di guna-guna? layaknya kerbau yang dicocok hidung menuruti mau pria itu? Dia seolah memiliki kekuatan magic yang mampu membuatku lupa diri.


Bahkan mungkin ... diajaknya terjun dari gedung yang tinggi pun aku mau.


Aaaargh! Kau benar-benar sudah gila, Non!


Aku tidak akan mau lagi bertemu pria itu. Aku takut tak sanggup membendung pesonanya.


"Aaaargh!!!"


Aku jijik dengan tubuhku sendiri. Apalagi saat melihat tanda merah bekas ulahnya memenuhi dada dan perut. Puas sekali pria itu berbuat. Membabibuta kuguyurkan air dari atas kepala. Aku merasa kotor dan penuh dosa.


Byyuuurrrr ... byuuurrr .... entah sudah berapa lama aku mengguyur tubuhku. Keran air kubiarkan terus mengalir.


Aku kotor!


Aku telah berbuat dosa!


Tok tok tok! Ketukan di pintu kamar mandi.


"Nooon ... Cuacanya dingin. Jangan kelamaan mandinya. Entar kamu sakit." Suara Ayu dari depan pintu.


Ayu benar. Tubuhku sekarang sudah sangat menggigil. Bibir gemetar. Tangan yang memegang centong pun sudah gemetar.


***


"Cerita Non. Ada apa sama kamu? Kita berdua khawatir." Ayu menatapku cemas.


"Muka kamu pucat amat, Non. Diapain sih sama Babang Siwon?" selidik Roro.


"Hussh ... nanya tuh dipikir dulu!" bisik Ayu pada Roro.


"Emang salah aku nanya gitu?" Roro ikut berbisik.


"Kecurigaanku beralasan, Yuk. Dari pagi dia sama Babang Siwon. Pulang-pulang jadi aneh begini."


"Ah, berlebihan."


Roro dan Ayu duduk memperhatikan aku yang berbaring tanpa suara bergulung dalam selimut. Mataku terpejam rapat.


"Non ... kalau ada apa-apa bilang sama kita, ya! Aku sama Roro pasti berusaha bantu," ujar Ayu lagi.


"Aku capek ... mau tidur," sahutku pelan dengan mata terpejam. Tubuh masih menggigil.


Mereka akhirnya membiarkan aku sendiri. Bergulung dalam selimut di atas tempat tidur. Dengan air mata yang diam-diam meleleh. Dengan suara hati yang terus berperang. Dengan ketakutan pada diri sendiri. Aku yang terlampau jatuh dalam pesona pria yang tinggal di seberang rumah kos kami.


.


.


.


"Bangun, Non. Babang Siwon nyariin tuh di depan. Kamu juga belum makan dari pulang."


Ayu menepuk-nepuk tubuhku dari balik selimut.


Aku diam tak bergeming.


"Babang Siwon sudah dari tadi sore bolak balik ke sini nanyain kamu. Kami bilang kamunya tidur."


"Iya, Non. Katanya kalau kamu gak keluar juga. Dia bakal naik ke sini jemput kamu. Mau bawa kamu pulang katanya." Roro bicara di sampingku.


Apa? Membawaku pulang?


Mataku membuka. Roro dan Ayu menatapku lekat.


"Enggak! Aku gak mau ketemu dia. Aku gak mau liat muka dia lagi," sahutku dengan suara serak.


"Sebenarnya ada apa sih, Non? Aku sama Roro jadi bingung."


"Ho' oh. Kemaren kayanya kamu happy-happy aja. Kenapa jadi begini? Kalau Babang Siwon sudah bikin kamu sedih. Biar kita balas, Non. Kamu mau kita apain tuh si Babang? Mentang-mentang ganteng. Dia udah ***** kamu ya, Non?" Roro berdiri menyingsing kedua lengan bajunya.


Pletak!


"Awuch! Bisa gak sih gak usah main kekerasan padaku, Yu?" protes Roro kesal.


"Kita itu gak tau masalah sebenarnya seperti apa, Ro. Gak usah ikut campur! Kali aja beneran suaminya."


Ayu mengusap punggungku. "Piling aku nih, Non. Babang Siwon itu orang baik. Dia gak mungkin jahatin kamu. Keliatan kok dari cara dia ngeliat kamu. Perhatiin kamu. Kayanya sayang banget sama kamu. Baik sangka aja, Non!"


"Jangan gampang tertipu, Non. Wajah ganteng bukan jaminan. Tetap waspada, Non!"

__ADS_1


Dua sahabatku ini selalu punya pikiran yang berbeda. Tapi anehnya mereka bisa berkawan akrab. Dari cerita Ayu. Mereka berdua berteman sejak sekolah dasar. Mungkin itulah yang membuat pertemanan keduanya awet. Karena saling melengkapi.


"Permisiii!"


Tok tok tok!


Suara pria disusul ketukan pintu.


"Siapa?"


"Dari Resto Tepian Pantai, Mbak. Pesanan dari Pak Henry Santoso," sahut orang di depan pintu.


"Buruan buka, Ro!"


Kaki Roro berdentum berlari ke arah pintu.


Krieeek ... suara pintu dibuka.


"Mau ditaroh di mana, Mbak?"


"Taruh di lantai aja," jawab Roro.


Pekerja resto itu kemudian pamit. Roro dan Ayu lagi-lagi berdebat. Mataku terasa panas dan berat. Tubuh bergidik menggigil.


"Coba pikir! Sebesar ini perhatian Babang Siwon. Gak rela isterinya makan mie instan mulu kayak kita," celetuk Ayu.


"Ngomong-ngomong kita mulai makannya kapan?"


"Bentaran dulu! Itu Babang masih nunggu Nona di bawah. Kesian. Temuin dulu gih, Non!"


"Enggak mau ... aku gak mau ketemu dia," desisku. Tubuhku semakin menggigil.


"Ya ampun, Non. Kamu kenapa?"


Ayu memegangi dahiku. "Ro ... Nona demam!"


"Yah ... kok bisa?" Roro ikut memegangi dahiku. "Gimana dong?"


"Panas banget. Apa gara-gara kelamaan mandi tadi, ya?"


"Aku bikinin teh anget dulu." Roro akan beranjak.


"Kamu turun ke bawah aja, Ro! Kasih tau Babang Siwon kalau Nona lagi sakit. Gak bisa ketemu dia. Aku aja yang bikin teh buat Nona," atur Ayu.


"Iya deh. Aku turun ke bawah." Roro menurut.


Kaki Roro berdentum lagi lari menuju pintu. Tubuh Roro memang lebih gesit dari Ayu. Ia tak pernah keberatan paling sering naik turun tangga kosan. Tubuh mungilnya bisa bergerak cepat. Beda dengan Ayu yang butuh waktu lama untuk membawa tubuhnya yang berat.


"Minum dulu, Non! Biar enakan." Ayu menyodorkan segelas teh. Membantuku duduk.


"Ada yang sakit, Non?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Cuman pusing."


"Ya, udah. Tiduran lagi gih! Nanti aku suruh Roro beli obat ke apotek."


"Jangan! Aku gak papa. Cuman perlu istirahat," sahutku cepat. Aku tidak mau merepotkan mereka. Apalagi saat ini tahu kondisi keuangan keduanya yang menipis.


"Kenapa? Kita itu teman, Non. Teman adalah sodara. Gak usah takut ngerepotin kami."


Ia merapikan selimutku. Tangannya mulai memijat kakiku.


"Makasih, ya, Yu. Kalian baik banget."


"Ah, biasa aja. Gak usah sungkan."


.


.


"Assalamu' alaikum." Suara berat seorang pria di depan pintu.


Jantungku seketika berdebar. Aku mengenali suara itu.


"Wa' alaikum salam. Siapa, ya?" Dahi Ayu berkerut. Ia berdiri mendekati pintu.


Kutarik selimut menutupi seluruh wajah.


"Hehe ... masuk aja, Bang! Eh Mas ... eh manggilnya apa, ya?" Suara Ayu.


"Boleh aku liat Nona?" tanya pria itu.


"Bentar," sahut Ayu.


"Non, datang gak dijemput. Pulang gak dianter. Tuh laki nyelonong sendiri naik ke sini. Gak sabar pingin liat kamu." Roro berbisik di telingaku.


"Suruh keluar. Aku gak mau ketemu dia," ujarku pelan dari balik selimut.


"Kenapa gak mau ketemu aku?" Pria itu ternyata sudah berada di sampingku. Suaranya terdengar sangat dekat.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2