
.
.
Pagi yang hangat. Halaman belakang rumah milik keluarga Henry tampak ceria dengan celoteh suara anak kecil.
Beno pimpinan body guard kepercayaan Henry, bersama beberapa pria bertubuh besar dibuat sibuk oleh anak-anak itu. Mereka berjalan menuju bagian belakang rumah. Rumah keluarga Henry memiliki lahan yang masih luas. Bagian paling belakang masih berupa hutan kecil.
"Om Ben. Buat yang Besar, ya, rumahnya!"
Anak lelaki berwajah mirip Henry bejalan di sisi Beno. Namanya Kenzo Santoso. Usianya kini sudah enam tahun.
"Siap, Bosku!" sahut Beno segera.
"Dapulnya ada Om?" tanya gadis kecil yang berpegangan pada lengan Beno.
Wajah cantik imut perpaduan kedua orang tuanya. Namanya Keyla Santoso. Usianya menginjak empat tahun. Walaupun cadel Keyla sangat lancar bicara.
"Dapurnya ...." Beno berpikir sejenak. "Sama papah kalian gak boleh dibikin dapur entar kebakaran."
Gadis kecil itu tergelak. "Om gimana cih? Kan macaknya cuman pula-pula. Gak mungkin kebakalan."
Keyla mentertawakan pria besar di sampingnya. Kenzo kompak terbahak.
"Oh iya ...ya." Beno ikut tergelak.
Mereka tiba di depan sebuah pohon besar. Beberapa anak buah Beno telah berada di situ. Membuat sebuah rumah pohon mungil untuk tempat bermain Kenzo dan Keyla.
"Wah ... bagus! Kenzo suka, Om." Kenzo tersenyum puas menatap rumah pohon yang telah dicat berbagai warna cerah.
"Keyla mau naik!" teriak Keyla.
"Opi!! Sudah bisa dipakai?!" tanya Beno nyaring pada anak buahnya yang berada di atas.
Opi pria yang berwajah mirip Hulk Hogan melongok ke arah bawah.
"Sudah bisa, Bang! Konstruksinya dari baja. Siap tempur!" sahut anak buah Beno itu.
"Huuu ... Keyla takut cama Om yang itu." Keyla menunjuk ke arah Opi sambil mewek.
Opi yang berada di atas mendengar suara Keyla. Dia dan Beno saling tatap.
__ADS_1
"Gak Mamahnya, gak anaknya. Takut liat kamu Opi," gumam Beno terkekeh geleng-geleng. "Pi ... kamu menyingkir dari situ! Princes Keyla mau naik!" titah Beno.
Tangga menuju rumah pohon dibuat kokoh agar aman bagi anak-anak. Kenzo dan Keyla bersama Beno menaiki undakan menuju ke atas.
"Waaw ... keren. Nanti Kenzo mau ajak teman ke sini. Boleh?" tanya anak lelaki itu dengan mata berbinar. Mereka sudah berada di dalam rumah pohon.
"Boleh ... tapi tanya sama Papah kamu dulu, ya!" jawab Beno.
"Kakak, Keyla boleh ikut main di cini, kan?" Keyla memeluk sayang pinggang abangnya.
Rumah pohon itu hadiah ulang tahun untuk Kenzo. Kenzo genap berusia 6 tahun hari ini.
"Iya ... tentu boleh Dedek cantik." Kenzo mendaratkan ciuman di pipi adiknya.
Keyla tersenyum memperlihatkan gigi susunya yang telah ompong di bagian depan.
"Sebentar lagi Mamah sama Papah kalian menyusul ke sini," ujar Beno. Ia duduk bersila memperhatikan kedua bocah yang begitu antusias melihat kondisi rumah pohon itu.
Rumah pohon itu terlihat mungil dan cantik. Sisi-sisinya telah dipagar dengan baik. Warna di dominasi warna oranye. Warna kesukaan Kenzo. Dinding telah diberi lukisan mural berbagai tokoh kartun. Beberapa mainan anak menghisasi sudut ruang.
Ada kuda-kudaan kayu lucu. Keyla segera menaikinya.
"Kenzo ... Keyla! Turun dulu, Sayang!" Suara Henry terdengar nyaring dari bawah.
"Rumah pohonnya bagus, Pah. Kenzo sukaaa!" Kenzo berteriak di depan pagar pembatas. Tangannya melambai pada Henry dan Niken yang menunggu di bawah.
"Kita makan-makan dulu, Sayang!" ujar Niken yang ada di samping Henry.
Hutan kecil yang berada di bagian belakang rumah mereka sekarang telah disulap Henry menjadi tempat yang nyaman. Seluas mata memandang tempat itu mirip taman rekreasi dengan sebuah danau di bagian tengah. Rumput hias yang menghijau menutupi permukaan tanah. Pohon-pohon pinus membuat udara menjadi segar.
Sebuah gazebo dibangun dekat danau. Khusus untuk mereka bersantai.
"Cepatlah turun Kenzo, Keyla ...!" Teriak Henry lagi dari bawah.
Niken dan Henry berdiri menatap ke arah rumah pohon dimana Kenzo dan Keyla tersenyum melambaikan tangan. Pasangan suami isteri itu masing-masing menggendong bayi kembar pengantin yang montok. Huza Santoso dan Ryumi Santoso. Keduanya bermata sipit dengan kepala bontak. Menggemaskan.
Henry dan Niken sudah memiliki empat anak sekarang. Keinginan keduanya tercapai untuk memiliki banyak anak. Niken sengaja tidak memakai kontrasepsi meskipun Henry tidak mau ia hamil lagi.
Proses persalinan anak kedua tidak sesulit yang pertama. Huza dan Ryumi lahir dengan cara cesar.
Kebahagian mereka kini semakin lengkap dengan hadirnya empat malaikat kecil itu.
__ADS_1
Roro sahabat Niken turut serta ada di situ. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun untuk Kenzo. Enam buah lilin sudah menyala di atas kue tart itu.
Namun, kondisi Roro sekarang berbeda. Perut wanita berkaca mata itu sekarang dalam keadaan hamil besar. Dia mengandung anak Beno. Beberapa kali pertemuan membuat keduanya saling jatuh cinta kemudian memutuskan untuk menikah dua tahun yang lalu.
Kalian mau tau kabar Ayu? Ayu kembali ke kampung halamannya untuk membuka usaha kuliner. Keinginannya untuk memiliki usaha sendiri sudah tercapai.
Kenzo dan Keyla akhirnya menuruni tangga. Beno mengiringi kedua anak itu.
"Cium Dedeknya, Mah!" pinta Kenzo begitu mendekati Niken. Pipi Ryu dan Huza lebih menggiurkan dari kue tart yang ada di pegangan Roro.
"Kita makan-makan dulu di gazebo!" ajak Henry pada semuanya.
Mereka kemudian bersama-sama berjalan menuju gazebo dekat danau. Beberapa meja telah tersusun rapi dekat gazebo. Pesta kebun dimulai.
Pria-pria berbadan besar ikut membaur. Asap barbeque membumbung tinggi. Aroma daging bakar tercium.
Kenzo duduk menghadapi kue ulang tahun berbentuk Sponge Bob kartun kesukaannya. Dikelilingi orang-orang yang menyayangi. Acara ulang tahun sederhana ini memang hanya untuk keluarga kecil mereka. Tidak mengundang orang banyak.
Lagu Selamat Ulang Tahun dinyanyikan bersama oleh orang-orang yang mengelilingi Kenzo, termasuk para body guard. Kenzo tersenyum senang.
"Tiup lilinnya, Sayang!" titah Niken begitu lagu usai berkumandang.
"Ucapkan doa dulu! Apa lagi yang kenzo inginkan selain rumah pohon?" tambah Henry.
Kenzo mengedip-ngedipkan mata. Seolah sedang berpikir.
"Ayo ... Kenzo! Kamu mau apa lagi? Tinggal bilang." Roro ikut bersuara seraya tertawa kecil.
"Apa ... ya?" Kenzo menggaruk-garuk kepalanya seraya melet. "Sebenarnya ada ... tapi Kenzo malu bilang," ujarnya dengan mimik yang lucu.
"Kok malu?" Niken tertawa geli melihat tingkah anaknya yang menggemaskan.
"Apa tuh?" tanya Henry penasaran. Kedua alis pria itu menyatu menunggu jawaban anaknya.
Kenzo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan beberapa saat. Semakin orang-orang di sekeliling penasaran.
"Kenzo pingin punya Dedek bayi yang banyaaaak!! Huuufh!" ujarnya tiba-tiba seraya meniup lilin yang sedari tadi menyala.
"Hah?!" Mulut Niken dan Henry serempak membulat sempurna.
Tawa pun berderai dari sekeliling mereka.
__ADS_1
T A M A T
Semoga tulisan saya bisa bikin yang baca happy. Aamiin.