
Dea merasa risih ketika pria yang duduk di sebelahnya terus mencuri pandang ke arahnya.
"Kamu tidak mengingat saya,?"ujar pria itu tiba - tiba.
Dea terkejut, ia menatap pria di sampingnya heran. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri memastikan kalau pria itu memang sedang berbicara dengannya. Pria itu tersenyum tipis.
"Iya, saya berbicara denganmu,"ucap Pria itu.
Dea memperhatikan dengan seksama wajah pria itu. Ia merasa tidak mengenal pria itu, atau pria itu kini sedang menggodanya.
"Dasar, belum tua udah pelupa,"gumam Pria itu namun masih bisa di dengar jelas oleh Dea.
"Maaf, saya sedikit buruk dalam hal mengingat. Apa kita pernah bertemu sebelumnya,?"tanya Dea.
Pria yang tampak berumur awal 20an itu tersenyum sambil menggaruk pangkal hidungnya.
"Sudah, lupakan saja. Itu tak terlalu penting. Buktinya kamu tidak mengingatnya,"tutur Pria itu.
Kening Dea berkerut dalam, ia benar - benar tak ingat pernah bertemu dengan pria itu dimana. Apa mungkin mereka pernah berpapasan di suatu tempat. Tapi apa itu bisa dijadikan acuan sebagai suatu pertemuan.
"Maaf, saya rasa anda salah orang. Saya baru tiga hari di kota ini, dan saya bukan berasal dari sini,"ungkap Dea.
Pria itu manggut - manggut.
"Saya juga tau kau bukan berasal dari sini, karena kita sama, sama - sama bukan berasal dari kota ini, jika kau tak ingat lupakan saja."ujar Pria itu dengan senyum tipis.
"Tapi.."
Belum sempat Dea meneruskan kata - katanya sebuah panggilan mengintruksikan kalau mereka harus berpindah ke ruangan untuk mulai proses interview.
Dea dan kedua wanita di ruang tunggu termasuk pria itu bangkit dari duduk dan mengikuti arahan seorang wanita yang merupakan karyawan disana untuk menuju ke sebuah ruangan.
Di dalam ruangan itu terdapat ruangan lain yang dibatasi dinding kaca yang tampak seperti ruangan kerja.Mereka disuruh menunggu di sofa tamu. Kemudian satu persatu di panggil masuk ke ruangan itu.
Dea mendapat giliran terakhir. Begitu namanya dipanggil, jantungnya mulai berdebar tak karuan.
"Selamat pagi,"sapa Dea begitu memasuki ruangan itu. Seorang pria dengan rambut klimis menyambutnya. Senyum tipis membingkai di wajah pria yang tampak berumur akhir 40an itu.
"Silahkan duduk,"sambut pria paruh baya itu ramah.
Dengan gugup Dea melangkah menuju kursi di depan meja kerja pria itu.
"Nama Saya Bagas Baskara, saya manager disini,"jelas pria itu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Selanjutnya pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan pria itu pada Dea. Tidak ada yang sulit karena hanya menanyakan tentang identitas.
Dea meringis saat Pak Bagas tersenyum melihat berkas surat lamarannya.
"Baiklah, kamu bisa mulai bekerja besok,"pungkas Pak Bagas mengakhiri sesi interviewnya.
"Saya,, beneran diterima pak,?"tanya Dea memastikan karena ia masih tak percaya.
Pak bagas mengangguk. Dengan tampang masih terkejut Dea bangkit dari duduknya.
"Terima kasih pak,"ucap Dea setengah membungkuk sebelum meninggalkan ruangan itu.
Dea tak menyangka, ia akan diterima bekerja. Seperti ada yang aneh, bagaimana tamatan SMA dengan nilai pas - pasan sepertinya bisa di terima diperusahaan itu. Tapi Dea tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Begitu sampai diluar gedung ia melompat kegirangan.
"Yes, yes..aku terima."
Dea tak sadar kalau pria yang tadi mengaku pernah bertemu denganya itu memperhatikan tingkah konyolnya.
" Ekhem,"
Mata Dea membulat mendengar deheman dari balik punggungnya, ia pun menoleh. Dea terkejut melihat pria itu masih disini dan sedang mencoba menahan tawanya. Seketika Dea menjadi salah tingkah, pipinya merona karena malu.
"Selamat ya," Pria itu mengulurkan tangannya.
"Oh, perkenalkan nama saya Dean, mulai besok kita akan menjadi rekan kerja karena saya juga diterima," Dean tersenyum lebar.
Cukup lama Dea terdiam sebelum ia menyambut uluran tangan pria itu.
"Saya Dea, senang berkenalan dengan kamu,"balas Dea sopan.
Dea buru - buru menarik tangannya kembali. Pria yang mengaku bernama Dean itu tersenyum simpul, ia memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Kamu tinggal dimana, kalau mau biar saya antar,"tawar Dean.
Dea menggeleng kencang, ia juga melambaikan tangan di depan dadanya tanda penolakan.
"Tidak perlu, terima kasih,"tolak Dea halus.
"Hem, baiklah. Kalau begitu saya duluan ya, sampai ketemu besok,"ucap Dean sambil berlalu ke arah motornya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dea mencuri pandang pada Dean yang sedang memasang helm, begitu Dean melihat ke arahnya Dea buru - buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Melihat itu, Dean tersenyum tipis.
__ADS_1
Dean membunyikan klakson motornya begitu melewati Dea. Saat melihat motor Dean yang menjauh keluar dari pekarangan gedung itu, barulah sekelebat ingatan masa lalu muncul di kepala Dea, namun samar.
"Motor itu tampak tak asing, apa benar kita pernah bertemu sebelumnya,?" batin Dea.
Dea menggeleng pelan, ia masih tak begitu mengingat dimana dia bertemu dengan pria itu.
Dea melupakan sejenak tentang ingatannya yang hilang, ada hal yang lebih mendesak. Ia harus mencari tempat tinggal, tidak mungkin ia terus tinggal di motel karena biayanya lebih besar.
Dea merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi Dion.
Tak butuh waktu lama, Dion datang. Melihat wajah Dea yang tampak berseri membuat Dion tersenyum sumbringah.
"Cobaku tebak, kamu pasti diterima kan,?"
Dea mengangguk, tanpa sadar Dea memeluk Dion saking senangnya. Sadar kalau mereka sedang di tempat umum, Dea dengan cepat melepaskan pelukannya. Ia tersenyum kikuk.
"Aku harus menemukan kos - kosan, karena besok sudah mulai kerja," ucap Dea.
"Ok, ayo pergi,"
Mereka mulai mencari kos - kosan yang dekat dengan tempat kerja Dea. Banyak kendala yang mereka temui, mulai dari segi harga, fasilitas dan jarak tempuh. Namun semua berakhir ketika mereka menemukan sebuah kos - kosan yang memenuhi kriteria yang Dea inginkan. Letaknya tak jauh dari kantor tempat Dea akan bekerja nanti, dan kosan itu juga dilengkapi fasilitas seperti kasur dan lemari. Harganya juga terbilang murah.
"Setelah gajian, aku akan membayar semua uangmu kembali,"ucap Dea.
"Jangan pikirkan masalah uang, kamu fokus saja bekerja," jawab Dion.
Dea tertunduk, ia memilin jari tangannya. Ia merasa benar - benar tak enak hati telah menyusahkan Dion sejauh ini.
"Hei," Dion menyentuh dagu Dea.
Dea mengangkat wajahnya, matanya berkaca - kaca. Gadis itu mengigit bibirnya menahan agar air matanya tak tumpah.
Dion menghela nafas panjang, ia meraih kepala Dea dan menjatuhkan di pundaknya.
"Jangan merasa terbebani, aku senang bisa membantu kamu, karena aku sayang kamu Dea,"ucap Dion tulus. Ia mengecup lama pucuk kepala gadis yang begitu dicintainya itu.
Dea semakin membenamkan wajahnya, tak lupa tangannya memeluk erat tubuh Dion. Bibirnya tak mampu lagi berucap, dia sungguh beruntung memiliki laki - laki itu.
Bersambung..
...----------------...
Kira - kira ada yang tau, siapa Dean,?
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir juga ke karya kakak yang satu ini..