
Hari ini aku harus mengorek semuanya dari Tobi.
"Maksud kamu Toni dan Aris menyukaiku?" tanyaku dengan mata menyelidik.
"Seandainya kita seumuran. Akupun ingin menjadikanmu pacarku Selena. Bukan cuma mereka," ujarnya tersipu.
"Aku terlalu tua untukmu Tobi." Aku tertawa mendengar kepolosan pemuda berambut keriwil sebahu itu. Ia pun ikut tertawa.
"Iya aku tahu."
"Ayolah Tobi, kita memancing ke laut. Aku ingin sekali merasakan naik perahu."
Tobi mengangguk. Ia menunjuk ke arah dermaga.
"Tapi, kita tidak usah terlalu jauh ke tengah."
"Tak masalah. Alat pancingnya ada?"
"Ada. Toni selalu menyimpannya di gudang." Tobi menunjuk ke arah bangunan kecil yang berada di atas dermaga.
Di dermaga, kapal-kapal besar yang pernah kulihat tak tampak lagi. Hanya tersisa beberapa perahu motor kecil. Aku dan Tobias memasuki bangunan yang disebutnya gudang.
"Kemana kapal-kapal yang biasanya ada di sini?"
"Yang mana maksudmu?"
"Kapal sewaan yang ukurannya lebih besar bertulisan Samuel."
"Owh ... mungkin disewa turis asing. Kapal-kapal itu tidak pernah lama sandar di sini. Ini alat pancing untukmu," ujarnya menyodorkan padaku. Ia sendiri meraih sebuah tombak.
"Untuk apa kamu membawa itu?"
"Ini alat pancingku. Kau akan melihat bagaimana caraku memancing nanti," sahutnya terkekeh.
Aku meringis ngeri dengan kepala menggeleng.
Tobi melompat ke dalam perahu. Akupun ikut masuk ke dalamnya. Pria mentah itu begitu gesit melepaskan tali tambang yang mengikat perahu pada galangan.
"Kalau saja Mister Sam dan Madam tahu aku sudah pintar memakai perahu ini. Mereka mungkin tidak akan memperbolehkanmu lagi berteman denganku Selena?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku bisa saja membawamu kabur. Hahaha!" ujarnya tertawa renyah sambil menghidupkan mesin. "Makanya kamu harus menjaga rahasia kita."
"Tentu saja. Kita bisa saja kabur sekarang," sahutku pelan tertelan oleh suara mesin perahu yang nyaring. Aku tersenyum menatap Tobias dari belakang.
Perahu kami melaju di atas permukaan air laut. Suara berisik mesin dan deru tiupan angin laut membuat aku dan Tobi harus berbicara nyaring agar bisa saling mendengar.
Mesin perahu sekarang sudah dimatikan. Perahu motor yang kami naiki mengapung di tengah lautan dengan ombak yang tenang. Tobias melepaskan bajunya hingga tertinggal celana boxer di tubuhnya yang kurus berotot.
"Aku akan mencarikan umpan untukmu memancing sebentar." Tobias berdiri di buritan perahu dengan memegang tombak panjang yang tadi ia bawa dari gudang.
Tiba-tiba .... Byuuurrrr!! Belum sempat aku bicara, tubuh Tobias sudah melompat ke dalam air bersama tombak di tangan.
Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Burung camar beterbangan di atas langit. Tubuhku ikut bergoyang oleh gelombang yang mempermainkan badan perahu. Beberapakali kepala Tobi muncul di atas permukaan air untuk mengambil napas. Hebat sekali anak itu.
"Dapat!!" teriak Tobi.
Wajah basah kuyup Tobi tiba-tiba muncul ke permukaan air. Mengagetkan aku yang tengah melamun menunggunya. Satu tangan Tobi mengacungkan ujung tombak. Anak itu telah berhasil mendapat seekor ikan berukuran cukup besar.
Satu, dua, tiga, empat, lima. Tobias mendapatkan lima ekor ikan hanya dalam hitungan menit. Hebat! Aku bertepuk tangan menyemangatinya.
"Kalau semudah ini kamu mendapat ikan. Aku tidak perlu memancing lagi!" seruku padanya.
***
Rasanya empuk, gurih, sedap. Mataku meram melek menikmati. Tobi membakar beberapa ekor ikan lagi. Kami masih berada di atas perahu yang mengapung di atas air.
"Menyesalkan kamu? Dari dulu selalu kamu menolak tiap kuajak memancing," ucap Tobi sembari melirik padaku.
Aku menggeleng. "Aku tidak menyesal. Kamu memang tidak pernah mengajakku sebelumnya," sahutku terus mengunyah daging ikan.
Aku ingin memancing kejujuran Tobi. Anak itu belagak sibuk membolak balik badan ikan diatas panggangan yang terbuat dari panci bekas. Nyala arang semakin merah saat Tobi mengipas dengan robekan kertas kardus. Asap hasil pembakaran mengepul tertiup angin.
"Tobi ... katamu tadi, kamu bisa saja membawaku kabur. Kalau kamu mau membawaku kabur, kemana rencanamu kita akan pergi?"
"Selena ... aku kan hanya bercanda," sahutnya lemah.
"Tapi aku serius."
"Sudah matang semua. Ayo kita habiskan." Tobi memindahkan ikan yang ia bakar ke atas piring.
"Aku tidak suka pada orang-orang di rumah itu." Kutatap lekat wajahnya. "Jawab Tobi! Apa kamu tahu di mana tempat yang aman untukku?"
__ADS_1
"A-aku tidak mengerti maksudmu Selena. Sebaiknya cepat habiskan ikanmu. Setelah ini kita pulang. Nanti Madam marah padaku."
Panggangan yang masih menyala itu ia siram dengan seember kecil air, hingga terdengar bunyi berisik. Asap hitam mengepul beberapa saat.
Tobias menghela napas. Duduk di depanku mulai mencubit daging ikan yang masih hangat. Kami berdua kemudian sama-sama diam. Kubiarkan Tobi menikmati makanannya.
"Apa yang paling kamu inginkan saat ini Tobi?"
"Hmm ... apa ya?" Ia berlagak mikir dengan mulut penuh daging ikan.
"Seberapa besar keinginan kamu untuk bertemu ibu kandungmu?"
Sejenak ia terdiam. Mulutnya berhenti mengunyah.
"Aku sangat merindukan Mamah," sahutnya sedih.
"Mamahmu pun pasti merindukan kamu sekarang." Aku mencoba untuk mempengaruhi perasaan pemuda itu.
"Kenapa sekarang kamu suka sekali menutupi rambut? Padahal rambutmu bagus sekali, Selena." Tobias mengalihkan pembicaraan.
"Karena aku bukan Selena!"
Bola mata Tobias membulat.
"Aku sudah tahu kalau aku bukan Selena," tegasku lagi.
"Kamu ...."
"Tobias ... aku sudah tahu semuanya. Jangan bohongi aku lagi. Selena itu sudah mati. Kuburannya terlindung dalam tanaman mawar yang kamu siram tadi pagi."
"Selena ...."
"Berhenti memanggilku Selena! Aku memang sedang kehilangan ingatan Tobi. Tapi bukan berarti aku bodoh. Kalian semua telah menipuku," ujarku marah.
Tobias menatapku nanar.
"Aku tahu kalau Madam Alice itu gila karena kematian Selena. Mister Sam ingin menjadikan aku sebagai pengganti anaknya itu."
Air mataku kini jatuh satu per satu.
"Kau tahu Tobi?! Otakku sebentar lagi akan mereka cuci! Semua ingatanku akan mereka hapus!!" teriakku bergetar, sambil terisak.
__ADS_1
"Maafkan a-aku ...," sahutnya lemah.
Bersambung.