Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 81


__ADS_3

Menjelang jam makan siang Dean dan Dea sudah kembali ke kantor. Dea yang kegerahan dan juga haus langsung menuju pantry untuk minum. Kebetulan disana ada Sari yang sedang menyeduh kopi. Dea bersikap biasa saja dan menyapa Sari seperti biasa.


 "Udah balik ,dek,?"tanya Sari berbasa - basi.


" Udah kak,"jawab Dea singkat.


Sari mencuri pandang saat Dea menuang air ke gelas. Dea yang menyadari Sari sedang memperhatikannya pun menoleh. Sari jadi salah tingkah.


" Hemm,, Dea soal yang tadi pagi,_" Sari memperhatikan mimik wajah Dea sebelum ia melanjutkan kata - katanya. Ia menghela nafas sejenak.


"Kami tidak ada maksud apa - apa, jadi jangan terlalu di ambil hati ya,"


Dea tersenyum tipis.


"Lupakan saja kak, udah biasa,"ucap Dea penuh penekanan.


"Saya mau ke depan dulu, permisi," Dea meninggalkan Sari di pantry begitu saja. Sejujurnya ia masih kesal jika teringat obrolan mereka tadi pagi. Tapi apa daya, yang mereka katakan memang benar adanya.


Lain hal dengan Tika, ia bersikap seperti biasa. Sama sekali tak ada niat untuk maaf.


"Dea tolong bantu fotokopikan ini 10 lembar ya,"pinta Tika. 


"Baik kak,"


Begitu Tika membalik badan, Dea melayangkan tinjunya ke udara dengan mimik wajah marah. Ternyata kelakuannya itu tertangkap oleh mata Dean.


" Beraninya cuma di belakang,"bisik Dean.


Dea terjingkat, ia sontak langsung menoleh. Jarak wajah Dean yang begitu dekat membuat Dea mengambil langkah mundur. Saat tubuh Dea hampir menabrak seseorang Dean dengan cepat meraih pinggang Dea sehingga gadis itu sekarang ada di dekapannya. Sepersekian detik pandangan keduanya terkunci. 


"Hei, apa yang kalian lakukan,?" teriak Tika dari meja kerjanya. 


Keduanya terkesiap dan buru - buru memisahkan diri. Keduanya jadi kikuk dan salah tingkah. Teringat dengan tujuannya untuk memfotokpoi berkas yang diberikan Tika ,Dea bergegas berlalu menuju mesin fotokopi.


"Astaga, apa tadi. Kok aku berdebar,?"batin Dea. Ia menggeleng pelan menepis apa yang sedang dipikirkannya.


Dea hilang fokus karena kejadian tadi. Entah apa yang ia tekan, mesin fotokopi tak berhenti beroperasi. Seketika Dea langsung panik. Ia menekan sembarang tombol untuk menghentikan mesin itu. Tapi yang ada mesin sama sekali tak berhenti. Kepanilkan Dea terlihat oleh Tika, ia segera menghampiri.


Mata Tika membulat saat melihat hasil kopian yang sangat banyak. Ia langsung mencabut kabel mesin itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan hah,?"bentak Tika. Suara Tika menggema di ruangan itu sehingga membuat semua orang menatap ke arah mereka, termasuk Dean.


"Maaf kak,"cicit Dea dengan kepala tertunduk dalam.


Tika mengeram, tangannya terkepal.

__ADS_1


"Kamu itu bisa kerja nggak sih, masa cuma fotokopi aja nggak bisa. Lihat,! Semua kertas ini," Tika mengambil tumpukan kertas yang jumlahnya hampir menghabiskan satu rim itu dan mengangsurkannya ke depan wajah Dea.


Dea tidak menjawab lagi, ia menundukkan kepalanya semakin dalam.


Kerena kejadian itu, Dea di panggil Pak Bagas keruangannya.


"Jika kamu tidak mengerti lebih baik bertanya, jangan sok tau,"ucap Pak Bagas.


Dea meremas roknya, menyesali kelalainanya.


" Lain kali, jangan begitu lagi. Ini peringatan pertama. Saya memaklumi karena kamu masih baru,"


"Baik pak, saya minta maaf,"lirih Dea.


Wajah Dea yang tampak kusut saat keluar dari ruangan pak Bagas mengundang rasa kasihan Dean. Ia menghampiri Dea yang tengah duduk merenungi nasibnya di pantry.


"Aku dulu pernah tidak sengaja menghilangkan uang hasil tagihan dari nasabah, sampai aku dikira menyalahgunakan uang itu oleh atasanku di Bank tempat aku bekerja sebelumnya," ujar Dean.


Dea menoleh sesaat, kemudian ia kembali menatap lurus kedepan.


"Kesalahan dalam berkerja itu biasa, semua orang pasti pernah mengalami. Yang tidak biasa itu kalau kita melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya,"


Dea mendesah, tanpa berkata apa pun.


"Dan satu lagi, jangan segan untuk menolak permintaan Tika, karena itu bukan tanggung jawabmu, kita ini bagian marketing, lebih banyak bekerja di luar dari pada di kantor. Jangan biarkan orang bersikap semena - mena sama kamu, meskipun kamu masih baru,"


***


Sebuah cafe bergaya modern terselip di antara deretan gedung megah di sampingnya. Malam ini cafe itu penuh dengan pengunjung. Di salah satu meja paling sudut tampak Dea dan Dion sedang menyesap minumannya.


"Gimana kerja kamu,?"tanya Dion.


Dea tak segera menjawab, ia mengaduk ice tea di depannya. Dea menghela nafas panjang, lalu membuang pandangan ke luar jendela menatap kendaraan yang lalu lalang di jalan.


"Ya begitulah,"jawab Dea sekenanya.


"Apa kamu kesulitan di tempat kerja,?"


"Tidak juga, mungkin ini pertama kalinya bagiku jadi aku sedikit kesulitan,"ucap Dea kembali menatap Dion.


Dion mengulas senyum. Ia kembali menyesap minumannya. Dion mematut Dea cukup lama sehingga Dea merasa keheranan.


"Kenapa,? Ada yang ingin mau kamu katakan,?" tanya Dea melihat gestur tubuh Dion yang seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Hem,,iya,"

__ADS_1


"Apa,?"


"Akhir pekan datanglah ke rumah, mama ingin bertemu sama kamu,"ucap Dion.


Dea tersentak kaget. Ia sampai terbatuk.


"Ke rumah,?"


"Iya,bisa kan,?"ucap Dion penuh harap.


Dea menelan ludah, mendadak jantungnya berdebar tak karuan. Meski hubungannya dengan Dion sudah berlangsung lama, tapi sekalipun ia belum pernah bertemu dengan keluarga pacarnya itu.


"Please, mama selalu nanyain kamu. Saat aku bilang kamu kerja di sini, mama semakin mendesak aku untuk ajak kamu main ke rumah,"


Dea tersenyum kaku. Di satu sisi ia belum siap untuk bertemu dengan keluarga Dion ,tapi disisi lain ia tak tega menolak permintaan Dion.


"Tapi ini bukan akal - akalan kamu aja kan,?" selidik Dea.


Dion melayangkan tatapan tajam.


"Kalau kamu tak percaya, aku akan telepon mama sekarang,"ucap Dion sembari mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat Dea menahan tangan Dion.


" Baiklah, aku akan ke rumah kamu akhir pekan,"


Dion tersenyum senang. Ia mengelus pipi Dea dengan ibu jarinya.


Ketika sore hari juma'at tepat sebelum Dea pulang kerja ia mendapatkan kabar yang mengejutkan dari rumah. Sifa mengabari Dea kalau neneknya terjatuh di kamar mandi dan dilarikan ke rumah sakit. Hal itu membuat Dea panik.


"Ada apa,?"tanya Dean mendapati Dea menangis sehabis menjawab telepon.


"Nenekku masuk rumah sakit, aku harus pulang,"jawab Dea mengemasi tasnya.


" Ya udah biar aku antar,"tawar Dean.


" Tidak usah, aku naik bus saja,"tolak Dea.


"Kalau dengan motor akan lebih cepat sampai, lagian aku juga ingin pulang, jadi sekalian aja kita bareng,"kekeuh Dean.


Dea mempertimbangkan tawaran Dean. Dea yang takut hal buruk terjadi pada neneknya memutuskan untuk menerima tawaran Dean.


Sebelumnya ia meminta Dean mengantarnya ke kost untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya.


Bersambung....


...----------------...

__ADS_1


Tinggalkan jejak, like ,komentar , hadiah atau vote,,,,


__ADS_2