
Hanya karena Dea salah menyebutkan nama, suasana kembali canggung. Dea melirik Dean ,pria itu terlihat cemberut. Karena kepala Dea hanya dipenuhi oleh Dion, lidahnya sampai keseleo.
"Maaf," lirih Dea hampir tak terdengar.
Dea cepat - cepat menyelesaikan makannya. Berharap setelah itu Dean akan pulang. Tapi justru alam menahan Dean untuk tetap disana, ditandai dengan tetes air mulai turun dari langit yang gelap mencekam. Tidak ada tanda akan turun hujan sebelumnya. Tapi sepertinya Tuhan sengaja membuat Dean lebih lama disana.
Mereka makan dalam diam, sambil memperhatikan tetes air hujan yang turun.
"Pantas saja tadi hawa terasa panas, sampai aku tak memakai jaket, ternyata karena mau hujan," Dean yang tidak tahan dengan keheningan memulai percakapan.
" Hem, iya. Aku tadi juga mandi dua kali karena gerah," jawab Dea, kalau ia juga merasakan hal yang sama.
Keduanya telah menghabiskan nasi goreng. Dea mengumpulkan sampah makanan mereka dan membuangnya ke tong sampah.
Karena hujan, tak ada anak kost yang keluar kamar atau sekedar duduk di beranda kamar mereka. Berdua dengan Dean di suasana seperti ini membuat Dea merasa tak nyaman. Menyuruh Dean pergi pun ia tak tega.
" Bagaimana pekerjaanmu disana,?" tanya Dean melirik Dea yang tampak sedikit gelisah, tampak dari posisi duduk gadis itu yang selalu berubah.
" Hem, baik, aku sangat menyukainya. Semua orang juga baik. Jauh berbeda dari saat aku bekerja di tempat asuransi itu," jelas Dea tersenyum lebar.
Dean juga ikut tersenyum. Ia sangat senang bisa merekomendasikan Dea tempat kerja yang sesuai dengan keinginan gadis itu.
Dea mulai bercerita kesehariannya di tempat kerja. Suasana kembali mencair seiring gelak tawa keduanya saat Dea menceritakan hal lucu. Tak hanya Dea, Dean juga berbagi cerita di tempat kerjanya. Hingga sebuah bunyi krasak krusuk mengejutkan Dea.
" Apa itu,?" tanya Dea sambil merapatkan tubuhnya pada Dean. Karena hujan, suasana terasa horor bagi Dea.
Dean menoleh ke sumber suara, ia melihat seekor tikus baru saja masuk ke tong sampah di depan kamar sebelah.
" Nggak tau, ada bayangan hitam," jawab Dean berbohong sambil pura - pura takut.
Dea semakin merapatkan tubuhnya, bahkan kini ia tidak segan memeluk erat lengan Dean. Bunyi itu kembali datang dan lebih keras karena tikus itu membuat jatuh tong sampahnya.
" Aaaa," Dea menjerit takut, ia membenamkan wajahnya ke dada Dean. Dea benar - benar terkejut, apalagi sejak kematian Tari yang tak wajar membuat Dea jadi penakut.
Dean berusaha menahan tawa, ia memeluk Dea dengan tangannya yang satu lagi. Dean bisa mendengar nafas berat Dea dan badan Dea yang sedikit gemetaran. Ia jadi tak tega.
" Itu cuma tikus, kenapa kamu penakut sekali," ujar Dean.
__ADS_1
Dea mendongak, mencari kejujuran dari sorot mata Dean. Saat bersamaan, Dean juga menatap Dea. Mata mereka beradu pandang. Dean merasakan jantungnya kembali berdebar, dilihat dari jarak sedekat itu, Dea sangat cantik dengan wajah polos tanpa embel - embel apapun. Bibir pink merona Dea kini jadi fokus penglihatannya.
" Dea, aku menyukaimu," ucap Dean tanpa sadar.
Dea menelan ludahnya, badannya terasa kaku. Saat ia mencoba melepaskan diri, Dean menahan tubuhnya. Dalam hitungan Detik Dean mengecup bibir Dea tanpa permisi.
Dea tertegun dan kaget saat bibir Dean menyentuh bibirnya. Sontak ia mendorong tubuh Dean sekuat tenaga sampai pria itu hampir terjengkang ke belakang.
Seketika itu Dean kembali menguasai dirinya. Wajah Dea sudah memerah seperti tomat. Dean hanya bisa menggigit bibirnya, tentunya ia juga malu karena kebablasan.
"Aku masuk dulu karena sudah larut," ucap Dea memalingkan wajahnya.
" Baiklah, aku akan pulang. Sepertinya hujan akan sampai pagi, tidak mungkin di tunggu lagi," jawab Dean menatap hujan yang lebat tadi sudah menjadi gerimis.
Dea tak menjawab, ia segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Dea menyentuh dadanya yang terasa berdenyut.
" Ya, ini karena aku kaget, bukan karena aku juga menyukainya," gumam Dea.
Dea mendengar langkah Dean mulai menjauh dari depan kamarnya.
Dea merasa tak tega membiarkan Dean pergi dengan keadaan diluar masih hujan, apalagi pria itu tak memakai jaket. Meski hujan tidak lagi lebat, tapi Dean pasti akan basah juga sampai di rumahnya.
Dea kembali membuka pintu, dilihatnya Dean sudah hampir mencapai tangga untuk turun.
" De..Dean," seru Dea ragu.
Merasa dipanggil, Dean pun menoleh. Ia tersenyum melihat Dea berjalan ke arahnya dengan sebuah jaket di tangan gadis itu.
"Pakailah, gerimisnya lumayan rapat," ucap Dea tanpa mau menatap ke arah Dean.
"Terima kasih," ucap Dean mengambil jaket itu.
Dea segera berbalik dengan setengah berlari kembali ke kamarnya. Dean tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia tersenyum lebar. Ia mencium jaket itu sebelum memakainya.
Malam itu Dea tidak bisa tidur, bukan karena cerita horor yang beredar di kosannya tapi karena kejadian tadi. Perasaannya menjadi tak menentu.
Tetes air hujan semalam masih tersisa di dedaunan. Matahari bersinar cerah pagi ini. Di dalam apartemennya seorang pria tampak begitu bersemangat, bibirnya tak henti mengukir senyum. Ia juga sesekali menyanyikan lagu kesukaannya. Ya, dialah Dean. Meski hari ini hari minggu, ia tetap bangun pagi. Karena pagi ini ia akan ke kosan Dea untuk mengembalikan jaket gadis itu.
__ADS_1
Sebenarnya itu hanya kedoknya saja, padahal niat sebenarnya ingin bertemu Dea. Dean benar - benar terlihat tampan pagi ini dengan balutan kaos putih dipadukan dengan kemeja berwarna lembut. Bawahannya ia memakai celana jeans. Dean juga menata rambutnya, biasanya ia membiarkan rambut menutupi keningnya kali ini Dean menyisir rambut ke belakang sehingga terlihat klimis.
Dean melirik jam tangannya, sudah saatnya ia berangkat. Dean meninggalkan apartemennya dengan hati berbunga - bunga.
Tak seperti semalam Dean langsung menuju kamar Dea di lantai dua. Pagi ini ia memilih untuk menunggu di bawah saja.
📩Dea, kamu belum berangkat kerja kan,? Aku ada di bawah, untuk mengembalikan jaketmu.
Dea yang sedang berdandan bersiap untuk berangkat kerja melihat lampu notifikasi ponselnya menyala. Ia mengambil ponsel dan membukanya. Mata Dea membulat membaca pesan dari Dean.
" Astaga, kenapa harus dikembalikan sekarang sih. Aku benar - benar tidak ingin bertemu dengannya,"
Dea ingin menghindar tapi, itu tidak mungkin. Karena ia juga harus segera berangkat kerja. Mau tak mau ia pasti akan bertemu dengan Dean di bawah.
Dea berusaha menunjukan sikap yang biasa saja, seolah apa yang terjadi semalam antara mereka tidak berarti apa - apa baginya.
"Maaf ya, aku tidak sempat mencucinya," ujar Dean saat mengembalikan jaket Dea.
"Kenapa tidak dicuci dulu , kau kan bisa mengembalikannya kapan - kapan."
" Ya udah, sini aku cuci dulu," Dean meminta jaket itu kembali.
" Tidak usah, aku cuma bercanda,"
"Serius nih, " Dean memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Dea. Karena dari tadi gadis itu terus memalingkan muka.
"Hem," Dea terus mengelak. Ia membuang pandangan ke arah lain.
Sudut mata Dean menangkap bayangan seseorang yang tengah bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dean tau betul siapa orang itu, ia pun terus menggoda Dea. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut gadis itu. Dea yang kesal karena rambutnya berantakan memukul lengan Dean.
"Kamu itu manis banget kalau lagi kesal," ucap Dean sambil mengelus lembut pipi Dea.
Dea terpaku. Wajahnya berubah datar. Ia kemudian berbalik untuk meletakan jaket itu ke kamar kostnya.
bersambung...
__ADS_1
...----------------...
Jangan marah,, ataupun kesal ya kalau author lagi pro ke Dean..😁😁