Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 82


__ADS_3

Dengan langkah tergesa Dea memasuki ruangan IGD, Ia celingukan mencari keberadaan sang nenek. Setelah menemukannya, Dea langsung menghampiri.


Tampak nenek sedang tertidur di atas ranjang dengan infus di tangannya.


"Bagaimana nenek,?"


Sifa yang sedang duduk membelakanginya sontak menoleh. Jelas sekali gurat kekhawatiran tergambar di wajah Sifa.


"Belum ditangani dokter,"jawab Sifa tertunduk.


"Kenapa,?" Mata Dea melebar.


"Katanya nenek sudah lama tidak membayar kartu jaminan kesehatannya, jadi kita harus melunasi itu dulu,"


Dea mengusap wajahnya gusar, bagaimana ia akan melunasinya sementara ia tidak punya uang sama sekali. Hutangnya sama Dion juga sudah banyak.


"Dea,"


Dea tersentak ketika Sifa memanggilnya.


"Gimana,? Apa kamu punya uang,?" Dea menggeleng lemah.


"Lalu kita harus bagaimana?" Mata Sifa mulai berkaca - kaca.


"Aku juga tak tau,"


Dea menatap nenek yang terbaring lemah itu, terlepas dari bagaimana sikap neneknya selama ini tetap saja wanita tua itu mempunyai andil yang besar dalam membesarkannya. 


"Memangnya berapa biayanya,?"tanya Dean yang dari tadi menguping pembicaraan mereka.


Dea dan Sifa sontak menoleh ke sumber suara. Dea terkejut melihat Dean ada disana. Tadi setelah sampai di rumah sakit, ia langsung turun dari motor tanpa berkata apa - apa pada Dean. Ia pikir, Dean sudah pergi.


" Kau mengikutiku sampai sini,?" tanya Dea.


" Jadi kau tidak menyadarinya,?" Dean tampak sedikit kecewa.


" Maaf, aku tadi terlampau panik,"


"Siapa dia,?" bisik Sifa menyikut lengan Dea.


" Oh kenalkan, dia Dean teman kerja. Tadi dia yang mengantarku kesini "ucap Dea memperkenalkan Dean.


Sifa tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


" Dean,"jawab Dean menjawab tangan Sifa.


" Jadi berapa biayanya, siapa tau aku bisa membantu," 


Dea menggeleng menolak maksud baik Dean. Baginya Dean masih orang asing. Ia baru mengenal pria itu sekitar dua minggu.


" Tidak usah, kami akan memikirkan caranya,"


" Tapi, nenek kamu harus ditangani, bagaimana kalau ada masalah serius,?"

__ADS_1


Dea menelan kasar ludahnya. 


" Mas Rangga, apa kamu sudah menghubunginya?" Tiba - tiba Dea ingat dengan sepupunya yang jauh itu.


"Belum, kamu tau sendiri kan bagaimana hubunganku dengannya,"jawab Sifa.


Dea mendengus kesal, di saat genting seperti ini Sifa masih saja memikirkan perasaannya sendiri.


Dea melangkah ke luar ruangan IGD, lalu ia menelpon Rangga dan menceritakan apa yang sedang terjadi. Beruntung Rangga bisa membantu. Dea bernafas lega, ia tak perlu menyusahkan orang lain untuk masalah keluarganya.


"Bagaimana,?" tanya Dean.


"Alhamdulillah, mas Rangga bisa membantu,"


Dean mengangguk mengerti.


"Makasih ya, sudah mengantar aku. Aku akan masuk lagi, mengurus administrasi nenek."


Dea kembali masuk ke IGD, dan mengurus administrasi neneknya. Ia mengubah status neneknya menjadi pasien umum, karena kalau pasien dengan kartu jaminan kesehatan ia harus mengurus ke kantor jaminan kesehatan dulu esok harinya. Sementara neneknya harus segera ditangani.


***


Dean duduk termangu di bangku taman rumah sakit. Ia bingung akan kemana malam ini. Pulang ke rumah orang tua angkatnya tidak mungkin. Ia juga malas kalau harus mencari hotel untuk menginap. 


Setelah cukup lama memikirkanya, Dean memutuskan untuk kembali ke dalam rumah sakit. Sebelumnya ia membeli makanan untuk alasan ia menemui Dea lagi. 


Saat ia sampai di IGD, ternyata nenek Dea baru saja dipindahkan ke ruang inap. Dean langsung menuju kamar rawat inap nenek Dea.


Awalnya ia ragu untuk masuk ke kamar nenek Dea, tapi melihat makanan yang sudah terlanjur dibelinya akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk.


"Loh, kamu belum pulang,?" Dea terkejut melihat Dean.


"Belum, aku membelikan makanan untuk kalian,"Dean meletakan bungkusan yang dibawanya di atas nakas.


" Bagaimana nenekmu?" tanya Dean mengamati nenek Dea yang tertidur.


"Tidak ada masalah yang serius, untung saat jatuh kepalanya tak terbentur. Tekanan darahnya rendah mungkin karena syok habis jatuh,"jelas Dea diiringi helaan nafas lega.


Sifa tak henti memperhatikan Dean sejak pria itu masuk ke dalam kamar.  Dean menyadari itu, tapi ia memilih untuk pura - pura tidak tau.


"Aku akan menemani kalian disini," ucap Dean ragu, takut Dea akan menolak.


Dea memutar kepalanya menatap Dean dengan kening berkerut. 


"Tidak,_"Kata - kata Dea terputus saat Sifa menyela dengan cepat.


"Tidak masalah, kami akan sangat berterima kasih kalau mas Dean bisa menemani kami. Jujur kami tidak punya siapa - siapa yang bisa diharapkan. Dan ini juga pertama kalinya nenek masuk rumah sakit,"tutur Sifa.


Dean tersenyum senang, tidak dengan Dea ia melotot tajam pada sepupunya itu.


"Kalian makanlah dulu, mumpung makanannya masih anget,"ucap Dean.


Dean meraih kantong plastik dan mengeluarkan isinya. Aroma dari nasi padang  langsung menyentil penciuman Dea. Karena ketiganya memang sedang lapar, tanpa berkata apa - apa lagi mereka langsung makan.

__ADS_1


***


Dion mondar - mandir di kamarnya, sejak tadi ia menghubungi nomor Dea tapi gadis itu tak menjawab panggilannya. Bahkan pesannya di WA hanya ceklis dua tanpa dibaca. Padahal ia sempat melihat Dea online. 


Tadi sore saat ia mengunjungi kantor Dea, salah satu karyawan disana mengatakan kalau Dea tadi pulang dengan tergesa - gesa sambil menangis. Dia pun mendatangi kos Dea, tapi dia tak menemukan Dea disana.


"Kenapa dia masih tidak mengangkat teleponku,"


Ditengah kegundahannya itu, pintu kamarnya di ketuk. Nayla sang adik masuk ke kamar.


"Kak, besok jadi pacar kakak main ke sini,?"tanya Nayla mendudukan diri di ranjang Dion.


"Belum tau,"


"Loh,kemarin kakak bilang kalau besok pacar kakak mau kesini,"


Dion menghela nafas, ia kemudian ikut duduk di samping Nayla.


" Kenapa memangnya,?"


"Aku cuma mau bilang, kalau iya, kesini nya agak sorean aja, tunggu aku pulang sekolah dulu. Aku juga pengen ketemu dengan calon kakak iparku,"ucap Nayla mengedipkan sebelah matanya.


"Lihat aja besok, udah sana, keluar,! Kakak mau tidur,"


Nayla merenggut saat diusir kakaknya. Begitu Nayla meninggalkan kamarnya, Dion kembali mencoba menghubungi Dea. Sialnya nomor Dea malah tak aktif.


***


"Kenapa kamu tidak pulang,?"tanya Dea pada Dean.


"Besok pagi aja,"jawab Dean.


"Terus mau tidur dimana?" Dea melihat satu ranjang yang kosong sudah ditempati Sifa, setelah makan tadi Sifa langsung tertidur.  Sementara ranjang kosong satunya ditempati keluarga pasien lain.


"Aku bisa tidur di lantai, atau kalau nggak di bangku luar,"ucap Dean santai seolah itu bukan masalah besar.


Dean bangkit dari duduknya.


"Aku mau merokok dulu di luar,"ucap Dean.


Dea mengangguk. 


"Kalau ada apa - apa telepon saja aku,"ucap Dean sambil melangkah keluar.


Tiba - tiba Dea teringat kalau dia belum mengabari Dion. Dea bergegas mencari ponselnya. Ternyata benda pipih itu kehabisan daya. Dea menepuk jidatnya ketika ingat dia meninggalkan charger ponselnya di kos. 


Bersambung....


...----------------...


Jangan lupa like dan komentarnya..


Mampir juga ke karya teman aku dibawah ini...

__ADS_1



__ADS_2