
Tiara ( Flashback)
Aku menepikan mobil yang terasa aneh. Saat turun aku mendapati ban belakangnya kempes.
" Aish, kenapa meski kempes sih, bisa telat nih,"
Aku celingak celinguk memperhatikan sekitar, sekiranya ada orang yang bisa dimintai tolong untuk menggantikan ban mobilku.
" Coba telpon papa, ah"
Saat aku akan mendial nomor papa, aku melihat seorang cowok berjalan ke arahku. Ku urungkan niat untuk menelpon papa.
" Permisi," sapaku ketika ia melewatiku.
" Lo ,manggil gue,?"tunjuknya pada dirinya sendiri.
" Iya, bisa tolong gue nggak. Ban mobil gue kempes, bisa tolong gantiin. Di bagasi ada ban serep," aku menjelaskan keadaan yang sedang menimpaku.
Tapi ia tidak segera menyahut dan malah memandangku dari atas sampai bawah. Seperti ada sesuatu yang dicarinya disana.
" Berani bayar berapa lo, gue nggak mau bantuin cuma - cuma," ucapnya kemudian.
Ternyata aku minta tolong pada orang yang salah. Tapi mau gimana lagi, aku sedang terdesak.
" Berapa aja, bisa kan?" kataku.
Ia lalu mengangguk. Lalu aku membukakan bagasi untuknya.
" Ini ban cadangannya, alat - alatnya juga,"
Ia lalu mengeluarkan ban serep, kunci roda dan dongkrak. Aku bersandar di kap mobil memperhatikannya mengganti ban mobilku.
" Siapa nama lo,?" tanyaku sekedar basa basi.
" Gilang," jawabnya datar.
" Oh,"
Tak tahu akan membahas apa karena dia juga orang asing, aku memilih diam. Sesekali aku mencek jam, takut aku akan telat sampai di sekolah.
" Bisa dipercepat gak, takut telat nih," kataku merasa ia terlalu lama mengerjakannya.
Ia mendongak menatapku sesaat. Sorot matanya tajam, membuatku sedikit takut.
" Ke sekolah lo cuma butuh lima menit dari sini kalau lo tau jalan pintas," ujarnya.
" Emang lo tau gue sekolah dimana,?"
" SMA N 1 kan, kelihatan dari seragam lo." sahutnya.
" Oh iya, benar juga," balasku menyadari ada atribut logo sekolah di seragamku.
Ia sudah selesai membuka ban yang kempes dan kemudian menggantinya dengan yang baru.
" Gue juga sekolah disana dulu," tiba - tiba saja ia membeberkan fakta tentang dirinya.
__ADS_1
" Hah, serius?" aku sedikit tak percaya. Dilihat dari tampilannya, ia tidak seperti orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah itu. Secara SMA N 1 itu sekolah dengan akreditasi A.
" Berarti lo senior gue dong, gue juga baru pindah sekolah ke sana."
Ia sudah selesai mengganti ban mobilku dan mengembalikan alat - alat itu ke bagasi mobil. Ia menepuk tangannya yang berdebu lalu menengadahkannya di hadapanku.
" Mana," katanya.
" Oh," aku gelagapan mencari uang untuk membayarnya. Aku tersenyum kaku ketika menyadari aku tidak punya uang cash.
" Kenapa,?" tanyanya.
" Aduh gimana nih, gue nggak punya uang cash."
Wajahnya langsung berubah masam. Aura kemarahan langsung terpancar dari sorot matanya.
" Gini aja, nanti gue transfer. Berapa nomor rekening lo," ucapku buru - buru sebelum ia menunjukan taringnya.
" Gue nggak punya rekening, lo bayar nanti aja. Gue tunggu lo di depan sekolah lo siang ini,"
" Ok, " Aku mengangguk setuju.
" Nomor ponsel lo," katanya seraya menyodorkan ponsel butut miliknya.
Aku meraih ponsel itu, dan mengetikan nomorku disana, lalu mengembalikannya.
" Siapa nama lo,?" tanyanya.
" Tiara,"
Ia kembali mengantongi ponselnya.
Aku memutar malas bola mataku. Kemudian kembali naik ke mobil dan beranjak pergi.
Siangnya, aku mendapat telepon dari nomor asing. Begitu ku jawab ternyata dari cowok yang tadi pagi. Ia benar - benar menungguku di depan sekolah.
" Jadi berapa,?" tanyaku begitu menemuinya di seberang jalan.
" 200 ribu," jawabnya tanpa dosa.
" Apa,? Mahal amat, lo mau meras gue ya," tolakku marah.
Ia mendengus kesal. Aku mengeluarkan pecahan 50ribu dari saku dan memberikan padanya. Menurutku 50 ribu aja sudah kemahalan.
Dengan sedikit kesal ia mengambilnya.
" Kalau lo butuh batuan lagi, bisa hubungi gue," ucapnya sebelum pergi.
Hari berlalu, aku sudah melupakan pertemuan pertama dengan cowok yang bernama Gilang itu. Hingga suatu hari aku kembali teringat dengannya. Aku merasa butuh batuannya. Karena aku yakin dia orang yang mau melakukan apa saja demi uang.
Siangnya sepulang sekolah aku menghubunginya. Kami pun janjian bertemu di sebuah cafe.
" Ada apa,?" tanyanya.
" Gue butuh bantuan lo," jawabku langsung pada intinya.
__ADS_1
Gilang menyipitkan matanya, lalu ia mengeluarkan rokok dari saku celananya.
" Gue nggak bisa kena asap rokok, sesak," kataku sebelum ia membakar rokoknya di depanku.
Gilang mendengus kesal,ia kembali mengantongi rokoknya.
" Bantuan apa,?"
Aku memperbaiki posisi duduk, sebelum mengutarakan maksud hatiku.
" Jadi gini, ada cewek yang nggak gue suka di sekolah. Ia pacaran dengan cowok yang gue suka. Gue pengen ngerjain dia, gue mau bikin ia dipermalukan dan kalau bisa ia jadi ingin pindah sekolah," ujarku.
Gilang manggut - manggut.
" Terus gue harus apa,?"
" Jadi gini, gue dengar senin depan dia jadi perangkat upacara. Jadi gue mau dia dipermalukan di depan semua orang saat upacara, terserah lo caranya gimana. Asal jangan sampai berlebihan sampai membuat dia cidera."
" Jadi maksud lo ,gue harus ke sekolah lo gitu,"
" Ya, lo kan alumni disana, jadi nggak masalah kan kalau lo datang ke sekolah."
Gilang terkekeh, entah apa yang lucu dari kata - kataku.
" Gue perjelas ya, gue bukan alumni, gue di DO dari sana sebelum menjadi alumni," ujarnya.
Aku melongo. Pantas saja ia terlihat seperti orang yang tidak sekolah, ternyata ia berandal yang dikeluarkan dari sekolah.
" Karena apa,?" tanyaku penasaran.
" Ada lah, lo nggak perlu tahu,"
Apa pun alasannya aku tidak peduli. Yang penting ia mau melakukan apa mauku.
" Jadi gimana, lo bisa nggak. Tenang saja soal bayaran nggak bakal mengecewakan lo," Aku menaik turunkan alis.
Ia mengulurkan tangannya tanda kalau ia bersedia. Kami pun saling berjabat tangan.
" Jadi apa rencana lo?" tanyaku ingin tau.
" Tenang aja serahkan sama gue." ucapnya menepuk dada.
" Tapi ingat jangan sampai melukainya, cuma mempermalukan saja," sekali lagi aku menekankan.
Ia mengangguk setuju. Aku menyerahkan beberapa lembar uang untuk DP, selebihnya aku akan berikan setelah ia menjalankan misi.
Aku penasaran apa rencana Gilang untuk mempermalukan Dea. Pada hari senin, aku sengaja berbaris paling depan untuk melihat. Dan apa yang aku saksikan benar - benar sempurna. Ide Gilang sangat brilian.
Tapi siapa sangka karena hal itu aku malah dijerat oleh Gilang. Sejak hari itu Gilang terus meminta uang padaku, jika aku tidak mau maka ia akan mengancam akan membeberkan percakapan kami waktu di cafe itu yang sengaja ia rekam. Aku yang takut nama baikku tercemar karena sudah melakukan kejahatan terpaksa menurutinya.
Dan sampai saat berita video syur itu tersebar. Aku terkejut begitu melihat Video Gilang dan Dea melakukan tindakan tidak senonoh di sekolah. Sialnya, Gilang justru memanfaatkan keadaanku. Ia akan membuat tuduhan palsu kalau aku yang menyuruh dia melakukan itu pada Dea. Aku terpaksa memberinya uang untuk tidak berbuat macam - macam.
Hingga kemarin ia kembali meneleponku meminta uang. Aku benar - benar terancam olehnya.
...----------------...
__ADS_1
Yang minta double up, udah ya. Kasih bunga dong , biar terus semangat update.
Like dan komentarnya jangan ketinggalan ya...