Malaikat Tak Bersayap

Malaikat Tak Bersayap
Bab. 79


__ADS_3

"Jadi kamu laki - laki yang menolongku waktu itu,?" 


Dean tersenyum tanpa memberi jawaban. Ia bangkit dari duduknya.


"Jam istirahat sudah habis, ayo kembali ke kantor,"ucap Dean seraya melangkah menuju kasir untuk membayar makanan mereka. 


Dea masih tertegun di tempat, saat Dean sudah menaiki motornya dan membunyikan klakson barulah gadis itu sadar dan bergegas menyusul.


"Dunia memang sempit,"gumam Dea.


Padahal ia sudah lupa dengan kejadian itu, tapi siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan pria yang menolongnya. 


Mereka pun kembali ke kantor untuk melanjutkan pelatihan terakhir sebelum terjun ke lapangan.


***


Dion baru saja selesai kelas terakhirnya hari ini. Ia memijat tengkuknya yang terasa kaku. Kebetulan hari ini ia kuliah sampai sore. Sejak hari pertama Dea masuk kerja ia belum bertemu dengan kekasihnya itu. Dion mengetik pesan di ponselnya dan mengirimkan pada Dea.


📩Aku sudah selesai kuliah, kamu masih di kantor. Aku jemput ya,?.


Tanpa menunggu balasan dari Dea ,Dion bergegas keluar dari kelas. Saat di parkiran  Dion melihat Tiara baru saja akan menaiki mobilnya, begitu melihat Dion gadis itu mengurungkan niatnya dan menghampiri Dion.


"Hai, nongkrong yuk, aku ada rekomendasi cafe yang bagus," ajak Tiara antusias.


"Lain kali deh, aku mau jemput Dea," Dion memasang helm dan memutar kunci kontak motornya.


Dahi Tiara berkerut, ia menahan tangan Dion saat laki - laki itu akan memutar gas.


"Dea,,?"


Dion baru menyadari kalau ia belum memberi tahu Tiara kalau Dea ada di kota ini. Dion kembali mematikan mesin motornya dan melepas helm.


"Sorry, aku lupa cerita sama kamu. Dea kerja di kota ini, baru semingguan dia disini,"ucap Dion.


Tiara tertegun sesaat, ia memasang wajah datar. Ada guratan kekecewaan dari sorot matanya. Tiara hanya merespon dengan membulatkan bibirnya.


" Kamu kok ekspresinya kayak gitu, kelihatan nggak senang kalau Dea ada disini,"ucap Dion menyadari perubahan mimik wajah Tiara.


Tiara tertawa sumbang, ia berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku cuma kaget aja," Tiara beralasan. 


"Oh yaudah, aku duluan ya," Dion kembali memasang helm dan menghidupkan motornya.


"Titip salam ya sama Dea,"ucap Tiara sebelum Dion memutar gas motor.


Begitu motor Dion hilang dari pandangannya, Tiara mengepalkan tangannya. 


"Kenapa dia harus mengikuti Dion sampai ke sini, menyebalkan,"gumam Tiara.


***


Dion sampai di depan gedung kantor Dea. Ia merogoh saku mengeluarkan ponselnya. Pesan yang dikirimnya pada Dea tadi belum dibaca oleh gadis itu. Ia kembali mengirim pesan pada Dea mengatakan kalau ia sudah ada di depan.  Dan pesan itu hanya terkirim seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Masih sibuk kali ya,"


Dion mengantongi ponselnya, ia menunggu Dea di parkiran gedung itu.


Sementara Dea masih mendengarkan pengarahan dari Pak Bagas. 


"Mulai besok kalian berdua sudah mulai kerja yang sesungguhnya,"ucap Pak Bagas.


Dea dan Dean mengangguk mengerti. 


"Baiklah, kalian boleh pulang,"pungkas Pak Bagas.


Dea dan Dean keluar dari ruangan Pak Bagas. Dean melirik Dea yang tampak kelelahan.


"Mau ku antar pulangnya,"tanya Dean.


"Nggak usah, jalan kaki aja, lagian dekat kok," tolak Dea.


"Kenapa,? kamu takut, aku bakal ninggalin kamu di tengah jalan kayak pacar kamu itu,?" sindir Dean.


Entah kenapa Dean berpikir kalau hari itu Dea ditinggalkan pacarnya di jalan karena bertengkar.


"Sok tau," Dea mendengus kesal. Ia melangkah lebih dulu meninggalkan Dean.


"Hei, tunggu. Kok kamu marah,"


Dean menyusul Dea yang sudah sampai di pintu keluar.


"Kalau bukan ditinggal pacar terus ngapain kamu di tepi jalan waktu itu,?" Dean terus bertanya karena penasaran.


Dea tak sadar kalau dari tadi Dion memperhatikannya dari parkiran. 


"Sampai jumpa besok, hati - hati pulangnya,"ujar Dean seraya melangkah ke parkiran.


Saat akan melambaikan tangan pada Dean, disitulah Dea melihat Dion.  Dea tersenyum kaku, ia melangkah menghampiri Dion.


"Hai, kok nggak bilang mau kesini,?"tanya Dea.


Dion tak menjawab pertanyaan Dea, ia justru sibuk memperhatikan Dean yang tengah menghidupkan motornya bersiap untuk pergi.


"Siapa dia,?" tanya Dion menunjuk Dean dengan dagunya.


" Oh, dia Dean. Rekan kerjaku,"jawab Dea apa adanya.


Dean yang tengah berusaha menghidupkan motornya yang tiba - tiba tidak bisa di starter mencuri pandang ke arah Dea dan Dion. 


"Oh,"jawab Dion datar. Ia beralih menatap Dea dengan wajah datar.


"Jangan terlalu dekat dengan laki - laki lain,"


Dea mengangguk pelan.


"Ya udah, ayo aku antar pulang," Dion menyerahkan helm pada Dea.

__ADS_1


Begitu Dea naik ke motornya ia langsung tancap gas meninggalkan gedung kantor itu. Dari kaca spion Dion sempat melirik Dean yang masih berusaha menghidupkan motornya.


***


Sejak hari itu, Dion selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Dea. Meski Dea sudah berulang kali mengatakan ia bisa pulang sendiri.


Sore ini Dea dan Dean baru saja kembali ke kantor setelah seharian berkeliling mencari customer untuk mendaftar di perusahaan asuransi tempat mereka bekerja.


Dea mendudukan diri di sofa, ia tampak sangat kelelahan, wajahnya juga tampak memerah karena terik matahari.


"Dea,"panggil Tika, karyawan senior di situ.


"Ya kak,"sahut Dea seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Tika.


"Bisa bantu aku ,input ini nggak." ujar Tika menyerahkan lembaran kertas pada Dea.


Meskipun ia sangat lelah, Dea tak bisa menolak. Ia hanya menganggukan kepala.


"Pakai komputer itu aja ya,"tunjuk Tika pada komputer di sudut ruangan.


Dea mengulas senyum, dan kemudian menjalankan perintah Tika. Begitu menghidupkan komputer, Dea mulai kebingungan. Ia celingukan mencari Tika, tapi wanita itu pergi entah kemana.


"Gimana caranya sih,"


" Apanya yang gimana,?"tiba - tiba Dean muncul dibelakang Dea.


"Kak Tika minta aku input  ini, tapi aku tidak tau caranya gimana,?" ujar Dea memelas.


Dean melirik kertas di tangan Dea. Kemudian ia menarik kursi dan menempatkan diri duduk disebelah Dea.


" Coba aku bantu," Dean meraih mouse dari tangan Dea. Tak sengaja tangan mereka bersenggolan.


Jarak duduk mereka yang terlalu dekat membuat Dea menahan nafas. Ia merasa gelisah berdekatan dengan Dean seperti itu.


"Kenapa,? Kamu berdebar duduk terlalu dekat dengan aku," ucap Dean terang - terangan.


Dea mendelik, ia yang ingin menggeser kurisnya tapi ditahan oleh Dean.


"Santai aja, aku nggak mungkin suka sama pacar orang," 


Dea hanya diam membeku, sementara Dean mulai sibuk membantu Dea mengerjakan tugas yang diberikan Tika. Bukannya memperhatikan komputer, Dea malah sibuk mengamati Dean dengan sudut matanya.


"Lihat komputernya, biar kamu ngerti. Kalau liat aku terus takutnya kamu nanti naksir, kan kasihan cowok kamu itu," 


Mendengar itu Dea mencubit pinggang Dean. Wajahnya bersemu karena ketahuan sedang mengamati Dean diam - diam.


"Loh aku kan minta kamu yang mengerjakan, kok malah Dean," sembur Tika yang tiba - tiba saja sudah ada di dekat mereka.


Dea gelagapan, ia mengambil mouse dari tangan Dean dan mengusir Dean dengan tatapan matanya. Sejak awal ia masuk kerja Dea paling takut dengan Tika. Sepertinya wanita itu tidak menyukai kehadirannya. Tika sering menatapnya sinis, atau kadang menyuruh ini itu seperti sekarang.


...----------------...


Jangan lupa like dan komentar guys,,

__ADS_1


Mampir juga ke karya teman aku ini...



__ADS_2