
Dea begitu bersyukur bisa memenuhi janjinya pada sang nenek untuk mencari pamannya dan membawanya pulang. Meski ia tidak benar - benar mencari, karena takdir yang mempertemukan mereka.
Ia tidak lagi bekerja di toko kue milik Meylani. Karena Dea memilih untuk kembali memulai usaha rumahannya. Berbekal ilmu yang didapatkan dari bekerja di toko Meylani, Dea bisa membuat berbagai jenis kue. Kini tak hanya di warung - warung Dea menitipkan kue dagangannya. Tapi juga ke beberapa toko kue dan minimarket. Ia juga mempromosikan usahanya lewat media sosial.
Berkat kegigihan dan dukungan modal dari Meylani kini Dea sudah bisa memiliki tokonya sendiri meski harus memakan waktu yang cukup lama. Tentu ini pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ia bisa membuktikan pada semua orang kalau ia juga bisa menjadi orang sukses meski ia hanya lulusan SMA.
Hari ini adalah peresmian Toko kue milik Dea. Ia mengundang semua teman dan kenalannya.
"Kini tibalah saatnya untuk pengguntingan pita oleh owner tanda toko ini resmi dibuka," Begitu suara MC terdengar.
Dengan jantung berdebar, Dea melangkah mendekat. Tangannya bergetar memegang gunting. Pelupuk matanya menggenang menahan haru.
"Bismillah," Dea berhasil menggunting pita dan diiringi tepuk tangan para tamu undangan.
Dari kerumunan orang - orang seorang pria berbalut setelan jas mendekat dengan sebuah buket bunga di tangannya. Dea tersenyum hangat menyambut pria itu.
"Selamat ya sayang, atas peresmian toko kamu," ucap Dion tulus sambil menyerahkan buket bunga.
" Terima kasih kamu sudah menyempatkan datang di tengah kesibukan kamu," balas Dea.
"Tentu aku harus datang, aku ingin menjadi orang pertama yang memberi selamat,"
Dion tak segan memeluk Dea di tengah ramainya orang yang menatap pasangan kekasih itu. Wajah Dea merona, ia sangat malu.
Sementara di pojokan seorang pria menatap sendu pasangan yang tengah berpelukan mesra itu. Dialah Dean. Ia juga turut hadir untuk mengucapkan selamat. Dean menatap buket bunga yang dibawanya. Ia tersenyum kecut. Meski buket bunga yang dibawanya lebih besar dari punya Dion, tapi tetap saja tak ada artinya bagi Dea.
Dean melihat Sifa melintas di depannya, sontak ia memanggil.
"Ini buat kamu," Dean menyerahkan buket bunga itu pada Sifa.
Sifa melotot tak percaya, selama ini Dean mengacuhkannya. Bahkan dengan terang - terangan Dean mengatakan kalau ia tidak menyukainya.
"Apa maksudnya ini," tanya Sifa.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu bunga. Kalau tidak mau ya udah, biar di buang saja,"
__ADS_1
Dengan cepat Sifa mengambil bunga itu dari tangan Dean. Ia menghirup aroma harum dari bunga itu. Lalu tersenyum manis.
"Makasih ya,"
"Hem,"
Dean berlalu begitu saja, ia menemui Dea untuk memberi selamat. Dadanya bergemuruh, melihat tangan Dea dan Dion saling bertaut dan senyum bahagia di wajah keduanya.
"Dea, selamat ya," ucap Dean mengulurkan tangannya.
" Terimakasih," Dea menyambut hangat tangan Dean.
Dean tersenyum lebar berusaha menyembunyikan kepedihan dihatinya. Sampai kapan pun ia tidak akan bisa memiliki Dea. Sudah saatnya ia mundur. Membuka hatinya untuk wanita lain. Membiarkan Dea bahagia dengan Dion. Tak bisa Dean pungkiri, mereka tampak sangat serasi.
Setelah berbincang sedikit, Dean pun pamit. Ia tidak bisa berlama - lama disana. Ia harus pergi untuk mengobati luka di hatinya. Cinta bertepuk sebelah tangan ini sungguh menyiksanya.
***
Dea berdiri di balkon lantai dua rukonya. Ia menatap bintang yang kebetulan malam ini bertaburan menghiasi pekatnya langit malam.
Dea menoleh, Dion datang membawa dua kaleng cola di tangannya.
" Dibawah terlalu ramai," jawab Dea.
Di Hari peresmian tokonya, Dea memberi diskon besar - besaran. Dan juga bonus untuk pengunjung yang berbelanja di angka tertentu.
Dion membuka kaleng cola, dan menyerahkan pada Dea.
"Terima kasih,"
Mereka meminum cola masing - masing sambil menikmati suasana.
"Aku bangga sama kamu, di usia kamu yang masih mudah kamu udah sukses, sementara aku masih saja sibuk kuliah,"ucap Dion.
Dea meletakan kaleng colanya di tembok pembatas, ia memiringkan badannya untuk menatap Dion.
__ADS_1
"Aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan sukses,"
Dion beralih menatap Dea, ia tersenyum sambil mengusap pucuk kepala gadis yang sudah dipacarinya bertahun - tahun itu.
"Aku ingin secepatnya menyelesaikan kuliahku, supaya aku bisa memenuhi janji untuk menikahi kamu,"
Kini keduanya saling berhadapan. Bahkan Dion sudah merengkuh pinggang Dea. Pandangan keduanya terkunci. Dion perlahan mendekatkan wajahnya. Mengecup sekilas bibir Dea.
" Aku mencintaimu," Lirih Dion.
" Aku juga mencintaimu, Malaikat tak bersayapku," balas Dea.
Sesaat kemudian Dea mengalungkan tangannya di leher Dion. Dan yang terjadi selanjutnya, mereka saling membalas ciuman satu sama lain.
Begitulah hidup, tidak ada yang tau kemana takdir akan membawa kita. Yang perlu dilakukan tetap berusaha dan bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan.
"Hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi belajar menari di tengah hujan,"
END
...----------------...
Halo semua, cerita Malaikat Tak bersayap end sampai disini. Semoga suka dengan endingnya.
Terimakasih untuk semua dukungan sobat Reader..
Terimakasih untuk yang setia menemani Author dari awal hingga novel ini tamat.
Kalau ada ada penyampaian author yang dirasa salah, author mohon maaf. Mohon maaf juga bagi yang komennya nggak sempat balas.
Salam sayang untuk semuanya.. Semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu.
Jangan lupa baca juga karya author lainnya. Bisa di cek di profile aku..
Untuk novel baru, nanti aku akan kabari. Sementara mau rehat dulu. Lagi banyak acara jelang Ramadhan ini. Semoga kita semua disehatkan dan bisa menyambut bulan Ramadhan yang tidak akan lama lagi dengan suka cita..
__ADS_1
By by...😘😘😘😘