
"Bagaimana keadaan Dea,?" Dean malah balik bertanya.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan gadis yang telah dimiliki orang lain,"Sindir Dion halus.
Dean tersenyum miring. Ia melangkah menuju tempat motornya terparkir. Untung saja tidak ada kerusakan pada motornya, hanya goresan di body motor tersebut. Jadi ia tak perlu membawa motor itu ke bengkel.
"Aku tunggu di cafe seberang,"ucap Dion yang juga kembali menaiki motornya.
Disinilah mereka berdua berada, di sebuah cafe di seberang jalan tak jauh dari kantor Asuransi itu.
"Apa yang ingin dibicarakan,?"tanya Dean memulai percakapan.
Dion tak segera menjawab, ia menyesap minumannya terlebih dahulu.
"Tolong jauhi Dea,"ucap Dion tegas.
Dean diam saja dengan wajah datarnya sepertinya ia sudah tau tujuan Dion mengajaknya bicara.
"Kami sudah pacaran sejak SMA, dan jangan berpikir untuk menjadi orang ketiga,"lanjut Dion.
Dean tertawa sumbang. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari sakunya.
"Mau merokok,?"tawarnya pada Dion.
"Aku tidak merokok,"
"Baguslah, karena merokok tidak baik bagi kesehatan,"ujar Dean seraya menyulut sebatang rokok.
Dean menghirup dalam rokoknya, lalu menghembuskan asapnya kehadapan Dion. Dean menyeringai melihat Dion terbatuk sambil menghalau asap rokok yang menerpanya.
"Kenapa kau takut sekali aku akan mengambil Dea darimu, apa kau meragukan kekasihmu itu,?"ujar Dean.
Dion mengertakan giginya. Tangannya terkepal geram di bawah meja.
"Aku tidak akan merebut gadis itu darimu, tapi jika dia sendiri yang berlari ke pelukanku aku tidak akan menolaknya,"ucap Dean.
"Ck, percaya diri sekali,"
"Kenapa tidak, jika kau menyakitinya tidak menutup kemungkinan dia akan lari padaku,"
Dion semakin geram.
"Jika kau meminta aku menjauhinya, aku tidak bisa. Kami bekerja satu team. Setiap hari kami selalu bersama. Bersikaplah dewasa, jika kalian saling mencintai tidak satupun orang bisa memisahkan kalian. Kunci dari hubungan itu adalah kepercayaan." Dean menatap rivalnya itu dengan tajam. Ia sadar Dion masih labil, dan anak itu belum bisa mengontrol emosinya dengan baik.
"Kau memang sudah lebih dulu mengenalnya, tapi bukan berarti aku yang baru mengenalnya kemarin tidak bisa bersamanya," kelakar Dean. Entah kenapa ia senang melihat wajah kesal Dion. Pemuda itu tampak mengemaskan jika marah.
"Langkahi dulu mayatku, baru kau bisa mengambilnya dariku,"sembur Dion.
__ADS_1
Dean hanya tergelak, sepertinya pemuda di depannya ini benar - benar takut ia akan merebut wanitanya. Ia bukanlah tipe orang yang seperti itu. Meskipun ia menyadari perasaan yang di milikinya pada Dea.
Dion membuang pandangannya ke arah lain. Urat - urat di dahinya tampak menonjol menandakan ia sedang menahan geram.
"Jika tidak ada yang akan kau katakan, aku akan pergi."ucap Dean seraya bangkit dari duduknya.
Dion bergeming. Hanya deru nafasnya yang kasar terdengar
"Ah satu lagi, aku harap kita bisa berteman,"pungkas Dean.
Dean melangkah keluar dari cafe itu. Sementara Dion masih duduk termangu di kursinya. Cukup lama ia terdiam sebelum kemudian juga beranjak pergi.
***
Keesokan harinya Dea kembali masuk kerja. Ia tak mau mengambil libur, meski ia mempunyai alasan untuk itu.
"Dea, gimana keadaanmu. Aku dengar kemarin kamu sama Dean keserempet mobil,"tanya Sari.
"Aku baik - baik saja kak, hanya luka kecil,"jawab Dea.
Tika yang melewati mereka acuh tak acuh. Jangankan bertanya menoleh saja tidak. Dea tidak ambil pusing, karena ia bukan orang yang haus akan perhatian.
Pak Bagas melarang Dea untuk tugas luar seperti biasa. Ia diminta untuk stay di kantor membantu karyawan yang lain.
"Eh, bantu bawakan berkas - berkas ini ke ruang pak Bagas,"perintah Tika pada Dea.
"Baik kak,"jawab Dea mengambil setumpuk map dari tangan Tika.
"Ih apa sih kamu, bairin dia yang bawa. Terus dia mau kerja apa,"sinis Tika.
"Nggak usah kak, aku aja. Bisa kok,!". Dea segera berlalu tak ingin memancing keributan.
Ternyata berada di kantor seharian membuatnya yak nyaman. Apalagi tidak ada Dean sebagai teman bicaranya. Dea masih canggung dengan karyawan lainnya.
Ponsel di sakunya bergetar, ia merogoh ponselnya. Dea sumbringah membaca pesan dari Dion.
📩Jangan lupa minum obat, biar lukamu cepat sembuh.
📩Baik pak dokter,,,
Setelah membalas pesan Dion, Dea melenggang menuju pantry. Ia mengeluarkan beberapa bungkus obat dari tasnya. Saat ia akan membuka sebuah obat pil dari bungkusnya, tak sengaja obat itu terjatuh ke samping lemari. Disamping lemari ada sedikit ruang. Dea berjongkok untuk mengambil obatnya. Karena tangannya tidak menjangkau, ia semakin masuk ke dalam sehingga tubuhnya tak terlihat karena terhalang dispenser.
Dea meraih obat itu dengan telunjuknya, saat ia hendak berdiri. Terdengar dua orang memasuki pantry.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa sih sama Dea,?"tanya Sari.
"Kenapa memangnya,?"ketus Tika.
__ADS_1
Dea mengurungkan niatnya untuk berdiri. Ia tetap di tempatnya bersembunyi di samping lemari.
"Dia itu kemarin habis jatuh dari motor, tapi kamu kayak nggak ada rasa kasian sama dia, nyuruh ini itu,"
"Orang seperti dia tidak butuh dikasihani."jawab Tika.
"Maksud kamu," Sari mengernyitkan keningnya.
"Apa kamu nggak merasa aneh, atau curiga. Kenapa dia bisa bekerja disini,?"
"Ya mungkin, dia lagi beruntung aja. Kenapa sih kamu nggak terima banget ia bisa bekerja disini,?"tanya Sari semakin tak mengerti.
"Gimana bisa terima, dia itu cuma lulusan SMA dengan nilai pas - pasan bisa diterima kerja. Sementara adikku, yang jelas lulusan sarjana ditolak. Kenapa coba, pasti karena ia punya hubungan khusus sama pak Bagas, atau jangan - jangan,_" Sari dengan cepat membungkam mulut Tika sebelum ada orang yang mendengarnya.
Deg..
Darah Dea berdesir. Sekarang ia mengerti kenapa Tika begitu membencinya.
"Jangan asal bicara kamu,"sentak Sari marah.
"Aku bicara sesuai fakta, apa alasan pak Bagas menerima dia coba,"kekeuh Tika tetap pada pendiriannya.
Dea menelan kasar ludahnya, ia semakin tak berani keluar. Ia ingat saat interview ada dua wanita lain juga yang datang selain ia dan Dean. Jadi salah satu dari wanita itu adalah adik dari Tika.
"Aku tidak melihat gelagat aneh antara dia dan pak Bagas, apalagi Dea juga jarang di kantor,"bantah Sari.
"Ya mana mungkin mereka menunjukan kedekatan mereka di kantor,"
"Sudahlah, jangan menuduh tanpa bukti." Sari memutar badannya dan keluar dari pantry.
Tika mendengus kesal, kemudian ia juga menyusul Sari.
Begitu dirasa tak ada orang lagi, Dea keluar dari tempat persembunyiannya. Ia terduduk lemas di atas kursi. Obat yang susah payah ia ambil tadi tidak segera ia minum melainkan memainkannya. Setelah itu Dea melempar obat itu ke tong sampah.
Dea bergegas keluar pantry menuju ruang tenpat penyimpanan file. Ia penasaran dengan biodata dua pelamar wanita itu. Cukup lama Dea mencari sampai akhirnya ia menemukan bekas surat lamaran. Dea mengecek tanggal masuk surat itu, lalu membuka isinya.
Matanya melebar, membaca daftar riwayat pendidikan kedua pelamar itu. Yang satunya lulusan Sarjana dari sebuah universitas negeri. Dan yang satunya lagi Diploma tiga dengan pengalaman kerja di bidang marketing satu tahun. Dilihat dari berkas yang dikirim, tentu dua wanita itu yang seharusnya diterima.
"Tapi kenapa aku,?"batin Dea.
Ia menyandarkan tubuhnya ke lemari. Pikiran Dea mulai kalut, sebenarnya ia juga penasaran apa alasan pak Bagas menerimanya. Tentu saja tuduhan Tika itu tidak benar. Ia sama sekali tak mengenal pak Bagas sebelumnya ,apalagi sampai memiliki hubungan yang tidak pantas.
"Apa yang kamu lakukan disini,?"
Lamunan Dea seketika buyar, melihat Dean muncul di ruangan itu. Dea gelagapan, ia mengembalikan berkas surat lamaran itu kembali pada tempatnya.
Bersambung....
__ADS_1
...----------------...
Tinggalkan jejak...